“Soomin-a! Soomin-a!”
Yeonchan berusaha mengejar Soomin yang melangkah cepat di depannya. Sejujurnya, Yeonchan terkejut saat melihat Soomin keluar dari toilet sambil menangis. Melihat Soomin menangis membuat Yeonchan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan itu. Apa sebegitu marahnya Soomin karena ia terus mengganggunya?
Entahlah, Yeonchan sendiri tak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Karena merasa khawatir dan heran dengan sikap Soomin, Yeonchan memutuskan mengikuti Soomin tepat di belakang perempuan itu. Sesekali telinga besar Yeonchan bisa menangkap isak tangis dari Soomin, membuat d**a Yeonchan terasa sakit melihat dan mendengar Soomin menangis.
“Soomin-a, ada apa denganmu?” tanya Yeonchan saat Soomin akhirnya berhenti tepat di taman dekat lapangan basket sekolah Daekyung.
Soomin tak menjawab pertanyaan Yeonchan. Perempuan itu hanya menunduk dengan bahunya yang bergetar karena tangis. Perlahan, Yeonchan melangkah mendekati Soomin. Tangan kokohnya dengan lembut meraih lengan Soomin dan membalikkan tubuh Soomin agar menghadap ke arahnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau menangis, Soomin-a?” tanya Yeonchan dengan suara yang begitu lembut.
Dear Lord, melihat airmata dan mendengar tangis Soomin membuat d**a Yeonchan sakit bukan main. Yeonchan tahu, Soomin yang ia kenal bukan perempuan lemah dan cengeng. Yeonchan bahkan tak lupa di hari ia mencampakkan Soomin, perempuan itu bahkan tak menangis sedikit pun di hadapannya. Itu sebabnya, melihat Soomin menangis seperti ini pasti ada sesuatu yang sangat menyakiti hati perempuan ini.
“Soomin-a, ceritakan padaku. Apa yang membuatmu menangis? Hyunso akan membunuhku jika ia tahu kau menangis sekarang,” ucap Yeonchan berusaha membuat sebuah candaan.
Soomin mendongakkan wajah. Matanya terpaku tepat pada manik hitam Yeonchan. Bibir Soomin gemetar karena kemarahan yang menguasai dirinya. Beberapa minggu ini adalah masa yang paling berat untuk Soomin.
Park Yeonchan, pria yang sangat ingin Soomin enyahkan dari hidupnya, malah kembali mengacaukan hidupnya. Terlebih, Yeonchan terus menggodanya dengan mengingatkan kejadian memalukan saat ia mabuk. Soomin rasanya ingin mati saja karena selama beberapa minggu ini, hatinya terus mengalami pertentangan. Pertentangan antara ia yang menginginkan Yeonchan dan ia yang tak menginginkan Yeonchan. Soomin sadar, tubuh dan pikirannya tak bisa melupakan begitu saja sosok pria di depannya.
Meskipun Yeonchan pernah menyakitinya, menghancurkannya, tapi Soomin tak bisa berbohong, ia masih mencintai Yeonchan. Yoon Soomin begitu mencintai Yeonchan, sepenuh hatinya dan Soomin sadar, perasaan itu tak berubah. Tapi, Soomin tak siap dengan kembalinya Yeonchan di hidupnya meski hatinya menginginkannya, tapi akal sehatnya menolak.
“Kau! Jika saja kau tak muncul kembali di hidupku, tentu hidupku akan lebih mudah! Kenapa kau harus muncul di saat semua sudah kembali seperti semula! Kau datang dan dengan mudah menghancurkan segalanya! Jika saja kau tak muncul, semua ini tidak akan terjadi! Mereka tidak akan menghinaku dan juga ibuku!”
Rasa marah yang bergolak di hatinya kini Soomin muntahkan di depan Yeonchan. Mata cokelat Soomin menatap Yeonchan dengan penuh rasa putus asa, marah, dan juga sakit. Airmata Soomin kembali jatuh seiring dengan kemarahan yang menguasai hatinya.
Yeonchan terdiam mendengar kemarahan Soomin padanya. Sejenak pria itu menyadari bahwa dirinya tak marah mendengar kemarahan Soomin. Ah, Yeonchan lupa, ia telah menyiapkan diri selama lima belas tahun untuk mendengar caci maki dari Soomin. Yeonchan hanya diam mendengarkan semua kemarahan Soomin, tangannya memegang dengan lembut kedua lengan Soomin. Memaksa Soomin agar tetap menghadap ke arahnya. Yeonchan bahkan menatap Soomin tepat di maniknya, membiarkan dirinya membaca seberapa besar kehancuran yang ia sebabkan pada hidup Soomin.
“Jika saja kau tak pergi saat itu, tentu tidak pernah ada ucapan mereka yang mencibirku! Jika saja kau memilih tinggal, tentu semua tidak akan terjadi! Kau pergi begitu saja bahkan membiarkanku menderita hingga kehilangan semuanya! Jika semua tidak terjadi, putriku akan hidup dengan sehat sampai hari ini! Kau membuatku kehilangan semuanya! Aku membencimu dan juga diriku, Yeonchan!!!”
Tubuh Soomin meluruh, tapi kedua tangan Yeonchan dengan cepat menangkap tubuh Soomin yang melemah karena ledakan emosinya. Perempuan itu menangis tersedu di depan Yeonchan. Soomin tak peduli dengan apa yang akan dipikirkan Yeonchan mengenai dirinya. Kedua tangan Soomin mencengkram kuat bagian depan jas yang di pakai Yeonchan.
Hati Yeonchan seperti di remas kuat oleh tangan tak kasat mata mendengar emosi yang selama ini di simpan Soomin sendiri. Manik hitam Yeonchan tak kuasa menahan airmatanya melihat betapa besar kesalahan yang ia buat selama ini pada Soomin. Yoon Soomin, perempuannya yang begitu berharga, ia tinggalkan sendiri menghadapi kekacauan yang terjadi. Di luar kendalinya, Yeonchan meraih tubuh Soomin ke dalam pelukannya.
“Maafkan aku Soomin-a. Aku tahu aku begitu pengecut. Aku minta maaf karena menyebabkan kekacauan dalam hidupmu. Aku minta maaf karena aku tak ada di saat kau sangat membutuhkanku. Maafkan aku,” ujar Yeonchan seraya mengeratkan pelukkannya.
“Aku benci diriku dan juga kau, Park Yeonchan. Aku benci diriku yang tak bisa menyelamatkan putriku sendiri. Aku benci kau yang membiarkanku menanggung perasaan bersalah ini sendirian,” ucap Soomin di sela isak tangisnya.
Yeonchan tersedak oleh airmatanya sendiri. Rasa bersalahnya yang ia rasakan selama lima belas tahun kembali menyebar, meracuni dirinya, membuat dadanya terasa sesak. Yeonchan tak tahan melihat Soomin yang ternyata begitu hancur di balik benteng yang ia perlihatkan selama ini.
“Kau tak sendirian, Soomin-a. Aku juga membenci diriku sendiri. Lima belas tahun aku hidup dalam penyesalan. Saat aku di Inggris, tak pernah sekalipun aku tak melewatkan malam tanpa menangis. Kau bisa tanya Baekki, betapa hancurnya aku saat mendengar semua yang terjadi padamu. Aku ingin pulang, mencarimu, berlutut di depanmu. Tapi aku tak bisa secepat itu kembali padamu, Soomin-a. Ayah memberikan beban yang begitu banyak padaku. Aku minta maaf karena kau harus menanggung semuanya sendirian.”
Tangisan Soomin semakin kencang mendengar selama ini Yeonchan pun hidup dalam penyesalan, sama seperti dirinya. Hati Soomin semakin sakit mendengar siksaan yang dirasakan Yeonchan selama lima belas tahun, membuat Soomin membalas pelukan Yeonchan. Soomin berusaha mendengarkan apa yang selama ini terjadi pada Yeonchan saat ia pun merasakan rasa sedih dan sakit yang mendalam.
“Tak pernah seharipun aku lewatkan tanpa menyesali ucapanku saat di bandara. Jika saja aku tak mengatakan hal itu, tak meninggalkanmu, tentu putri kita akan selamat, ibumu masih ada denganmu. Aku terus mencarimu, berharap langit mempertemukanmu denganku, agar aku bisa menebus kesalahanku. Kau tak tahu betapa bahagianya aku saat kita bertemu kembali. Satu-satunya doa yang selalu kuucapkan selama lima belas tahun ini adalah bertemu denganmu dan menebus kesalahanku. Aku mohon biarkan aku menebus semuanya.”
“Tapi aku terlalu takut denganmu,” balas Soomin pelan sambil terisak perih.
Yeonchan melonggarkan pelukannya, membuat Yeonchan kini bisa melihat dengan jelas wajah Soomin yang mendongak ke arahnya. Sebuah senyuman tersungging di wajah Yeonchan meski pun airmata masih jatuh membasahi pipinya. Menggunakan salah satu ibu jarinya, Yeonchan menghapus jejak airmata di pipi pucat Soomin.
“Apa yang kau takutkan Soomin-a? Apa kau tak mau memberikanku kesempatan untuk memperbaiki semuanya?”
Soomin memalingkan wajah. Soomin terlalu takut memulai semuanya. Ia tahu, ia menginginkan pria di depannya kembali dalam hidupnya, tapi Soomin juga terlalu takut. Soomin takut kembali terluka. Soomin tak mau lagi terluka seperti dulu. Soomin lebih memilih mati daripada harus merasakan rasa sakit yang sama.
“Aku takut dengan semuanya.”
Yeonchan menyentuh dagu Soomin, membuat perempuan itu kembali menatap dirinya. Yeonchan menyentuhkan keningnya pada kening Soomin, membuat matanya menatap lekat manik cokelat Soomin, kedua manik yang selalu mampu membuat jantung Yeonchan berdegup begitu kencang.
“Please, Soomin-a. Let me in, biarkan aku membuktikan semuanya padamu. Biarkan aku menebus kesalahanku di masa lalu dengan membahagiakanmu sekarang,” ucap Yeonchan lembut dengan suara beratnya.
Soomin kembali menangis mendengar permintaan Yeonchan. Hatinya berteriak menginginkan Yeonchan kembali dalam hidupnya, membawa warna yang berbeda dalam hidupnya sama seperti dulu. Tapi, Soomin masih terlalu ragu dengan semuanya.
Yeonchan merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak karena terlalu cemas dengan jawaban yang akan diberikan Soomin padanya. tangan kokohnya kini meraih jari-jari lentik Soomin, menggenggamnya lembut, seakan menyalurkan keyakinan pada Soomin yang masih meragukan dirinya.
“Please, give us a chance. Jangan membohongi dirimu sendiri, Soomin-a,” bisik Yeonchan yang semakin dibuat gelisah dengan sikap diam Soomin.
Soomin menghela napas panjang. Dengan mata yang tak lepas dari mata Yeonchan yang mengurung perhatiannya, Soomin membiarkan hatinya mengambil keputusan. Kepalanya mengangguk pelan memberikan jawaban atas permohonan Yeonchan padanya.
Rasa bahagia meledak di d**a Yeonchan, menyebarkan energi positif pada dirinya. Yeonchan tak bisa menahan senyuman di wajahnya. Yeonchan kembali membawa Soomin ke dalam pelukannya. Memeluk erat perempuan yang ia rindukan kehadirannya selama ini.
“Terima kasih sudah memberiku kesempatan, Soomin-a.”
Soomin mengangguk di antara pelukan Yeonchan. Soomin tak tahu harus bersikap seperti apa setelah ini. Yeonchan melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Soomin. Senyum merekah di roman tampan Yeonchan menyadari Soomin kembali menjadi miliknya. Yeonchan terlalu bahagia malam ini.
Saat Soomin sibuk dengan pikirannya sendiri, sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Soomin terbelalak saat menyadari Yeonchan menciumnya dengan mata hitam yang menatap dirinya. Yeonchan menatap Soomin dengan jenis tatapan yang begitu lembut, membuat jantung Soomin sepertinya akan meledak setelah ini.
Bibir Yeonchan bergerak lembut sebelum kembali berhenti dengan hanya menempel pada bibir Soomin. Soomin bisa merasakan ada ratusan kupu-kupu menggelitik perutnya karena ciuman manis yang diberikan Yeonchan. Ciuman ini mengingatkan Soomin pada ciuman pertamanya dengan Yeonchan dulu di taman dekat lapangan basket.
Tanpa mereka sadari, mereka kembali berciuman di tempat mereka dulu merasakannya untuk pertama kali. Yeonchan dan Soomin kembali berciuman di taman dekat lapangan basket sekolah menengah Daekyung.
~FORGIVENESS~