Seoul di guyur hujan besar beberapa hari ini. Dan sialnya, mobil Soomin berada di bengkel untuk perawatan rutin. Seakan belum cukup membuat Soomin menderita selama beberapa hari ini, Yeonchan dalam urusan bisnis selama empat hari di Jakarta. Membuat Soomin harus berpuas diri mendapatkan kabar dari Yeonchan sebatas video call dan chat.
Seperti hari ini, Soomin keluar dari sebuah cafe kecil setelah selesai melakukan pertemuan dengan seorang klien Byun Media dan melangkah menuju halte terdekat sambil memegang erat payungnya. Soomin mendengar ponselnya berbunyi nyaring, membuatnya segera merogoh tas dan mengangkat video call yang ternyata dari Yeonchan.
“Annyeong!” sapa Soomin seraya melambaikan tangannya ke arah layar ponsel yang menampilkan wajah lelah Yeonchan.
[Kau sedang dimana Soomin-a? Apa kau sedang berada di halte bus?]
“Iya aku sedang berada di halte. Kenapa memangnya, Yeon?” Soomin balik bertanya.
[Kenapa kau berada di halte? Mobilmu ke mana?” tanya Yeonchan heran.
“Mobilku masih di bengkel. Jadi, beberapa hari ini aku menggunakan bus.”
[Kenapa kau tak minta jemput Hyunso?]
“Hari ini Hyunso Oppa tidak bisa menjemput karena ada jadwal operasi.”
[Hh kau ‘kan bisa pakai mobilku, Soomin-a. Lagi pula tidak ada yang memakainya selama aku berada di Jakarta. Besok aku suruh seseorang membawa mobilku ke apartemenmu,ya?]
“Tidak apa-apa, Yeon. Lagi pula besok mobilku sudah selesai. Kau tak perlu cemas. Aku akan baik-baik saja,” ujar Soomin seraya tersenyum menenangkan.
“Baiklah, jika itu maumu. Soomin-a nanti kutelepon lagi, aku harus melanjutkan pertemuan. Hati-hati di jalan, sayang. Kabari aku begitu sampai rumah.”
Soomin tersenyum dan mengiyakan permintaan Yeonchan sebelum mengakhiri video call tersebut. Hujan semakin deras dan berada di halte seperti ini tidak menjamin Soomin terhindar dari air hujan. Mata cokelat Soomin menyusuri pakaiannya yang mulai basah. Sambil menunggu bis atau taksi, Soomin memeluk dirinya berharap bisa segera sampai di rumah. Beberapa hari ini Soomin sangat lelah di tambah cuaca Seoul yang tak bersahabat. Soomin hanya berharap dirinya tidak jatuh sakit.
~FORGIVENESS~
Pesawat yang membawa Yeonchan dari Jakarta tiba pukul tujuh lewat dua puluh menit di Incheon. Begitu pertemuan bisnisnya selesai, Yeonchan segera memesan tiket pulang malam itu juga. Itu sebabnya, pagi ini Yeonchan sudah tiba kembali di Korea Selatan.
Meskipun badannya terasa lelah setelah menghabiskan tujuh jam berada di pesawat, Yeonchan merasa semua tak sebanding dengan rasa rindunya pada Soomin. Yeonchan tersenyum saat ia mengaktifkan kembali ponselnya dan wajah Soomin muncul memenuhi layar ponsel. Jari besarnya segera mengecek aplikasi chatnya, berharap ada pesan dari Soomin. Sayang, Yeonchan tak mendapatkan pesan apa pun dari Soomin sejak semalam.
Yeonchan tak ambil pusing, ia kembali menyimpan ponselnya dalam saku dan memanggil taksi. Yeonchan berencana memberi kejutan pada Soomin pagi ini.
~FORGIVENESS~
Yeonchan mengerutkan dahinya saat tak kunjung mendapatkan balasan dari bel yang ia tekan sejak sepuluh menit yang lalu. Beberapa kali, Yeonchan mengecek ponselnya dan ta ada balasan apapun dari chat yang ia kirimkan pada Soomin sejak ia tiba di Incheon.
Merasa heran, Yeonchan akhirnya berinisiatif masuk ke dalam apartemen. Ya, Yeonchan memang tahu kode keamanan apartemen Soomin, karena pernah secara tak sengaja melihat kode saat Soomin masuk ke apartemen. Kode apartemen terbuka, Yeonchan melangkah masuk ke dalam apartemen dengan perasaan was-was. Sejujurnya, Yeonchan merasa tak enak sudah masuk tanpa izin ke dalam apartemen Soomin. Meskipun Soomin adalah kekasihnya, tapi Yeonchan tahu tindakannya terkesan lancang.
Lampu meja di ruang duduk masih menyala begitupun dengan tirai yang masih tertutup. Hal ini membuat Yeonchan merasa aneh. Yeonchan sempat mengecek dan menemukan sendal rumah Soomin tak ada di tempatnya, itu berarti perempuan itu masih berada di apartemen. Perlahan, Yeonchan mematikan lampu meja dan membuka tirai, membuat cahaya matahari pagi dengan segera memenuhi ruangan.
Yeonchan mengarahkan langkahnya menuju kamar utama. Yeonchan mengetuknya perlahan memastikan Soomin berada di sana, tapi ia tak kunjung mendapat jawaban. Dengan jantung yang berdegup kencang, Yeonchan memberanikan diri membuka pintu dan menemukan Soomin masih tidur di kamarnya.
Yeonchan menghela napas panjang menemukan Soomin masih asyik di dalam mimpi. Perlahan, Yeonchan melangkah masuk ke dalam kamar Soomin, kemudian duduk di tepi ranjang. Senyuman merekah saat memandangi wajah Soomin yang terlelap.
Tangan Yeonchan bergerak menyingkirkan helaian anak rambut yang menutupi wajah Soomin, saat tak sengaja punggung tangannya menyentuh dahi Soomin. Suhu yang terasa di punggung tangan Yeonchan membuat mata pria itu terbelalak. Kenapa suhu tubuh Soomin begitu panas?!
Rasa panik merayapi hati Yeonchan. Sejenak, Yeonchan memperhatikan dengan lekat pipi Soomin yang merona merah dan perempuan itu berkeringat. Yeonchan semakin yakin kalau Soomin sakit. Saat tangannya menyentuh lengan Soomin, perempuan itu membuka kelopak matanya. Soomin terkejut mendapati Yeonchan berada di kamarnya.
“Yeonchan-a,” ucap Soomin dengan suara parau. Soomin hendak bangun dari tidurnya, tapi rasa pusing yang menyerang kepalanya membuatnya kembali merebahkan tubuhnya.
“Hei baby. Kau sakit?” tanya Yeonchan lembut seraya menyingkirkan anak rambut yang jatuh di wajah Soomin.
“Hanya kelelahan, Yeol. Kapan kau tiba?”
“Kau demam tinggi, Soomin-a. Menjawab pertanyaanmu, aku baru saja tiba,” ujar Yeonchan sambil kembali meletakkan punggung tangannya di atas dahi Soomin. “ Kau sudah sarapan?”
Soomin menggelengkan kepala pelan. Rasa malu menjalari Soomin karena Yeonchan menemukannya dalam keadaan seperti ini. Ia masih mengenakan piama dan baru saja bangun.
Yeonchan mengusap sayang kepala Soomin. “Aku akan membuatkanmu sarapan. Setelah itu, kita ke rumah sakit, okay? Aku takut demammu semakin buruk,” ujar Yeonchan sebelum akhirnya melangkah keluar kamar Soomin.
“Aku hanya kelelahan, Yeol. Aku akan baik-baik saja setelah minum obat.”
Yeonchan menggelengkan kepala dan menatap Soomin dengan tatapan tak setuju. “Kita akan bahas itu nanti setelah kau sarapan. Aku akan membuatkanmu bubur.”
Soomin menghela napas panjang setelah di tinggal Yeonchan. Perlahan Soomin memaksakan tubuhnya bangun meskipun ia merasa sangat pusing dan lemas. Mata Soomin membulat melihat pantulan dirinya yang begitu mengerikan di cermin meja riasnya. Apa yang lebih buruk dibandingkan Yeonchan melihatnya dalam balutan piama dan dalam keadaan demam seperti ini? Belum lagi, ya ampun rambutnya seperti rambut singa!
~FORGIVENESS~
“Soomin-a?”
Yeonchan masuk ke dalam kamar. Pria itu baru selesai memasak bubur dan mengecek Soomin. Yeonchan mengerutkan dahi saat tak mendapati Soomin di tempat tidur, pria itu kemudian bergerak mencari Soomin. Betapa terkejutnya Yeonchan saat mendapati Soomin duduk di karpet walk in closet, dengan tubuh bergetar kedinginan.
Yeonchan melotot melihat rambut Soomin yang basah. Di dalam hati, Yeonchan memaki tindakan Soomin yang sedang demam memaksakan diri untuk mandi. Dengan cepat, pria itu meraih handuk lain yang berada di dekat pintu kamar mandi dan membalut tubuh Soomin yang bergetar dengan handuk tersebut.
“Ya Tuhan, Soomin! Kau sedang demam, kenapa mandi segala sih?” decak Yeonchan sambil sibuk membantu Soomin berdiri dan mendudukkan perempuan itu di sebuah kursi kecil yang ada di walk in closet.
“A-aku merasa kepanasan,” bohong Soomin masih menggigil kedinginan.
Yeonchan menghela napas kasar mendengar alasan yang diberikan Soomin. “Kau sedang demam. Jangan bersikap egois seperti ini, pikirkan kesehatanmu!” omel Yeonchan yang kini berdiri dan membuka pintu lemari, mengambil beberapa pakaian kering agar Soomin bisa segera berpakaian.
Soomin menggigit bibir dalamnya mendengar omelan Yeonchan. Ketika Yeonchan berlutut di depannya, Soomin tak mampu lagi menahan airmatanya. Sontak, hal itu membuat Yeonchan kaget.
“Hei, kenapa kau menangis? Apa aku memarahimu terlalu keras?” tanya Yeonchan yang panik melihat Soomin menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Soomin menggelengkan kepalanya dan mengangkat sedikit kepalanya. “Kau melihatku dalam kondisi buruk seperti ini. Aku baru bangun, rambut singa dan... dan... dalam keadaan demam juga flu. Aku pasti begitu buruk,” isak Soomin.
Yeonchan diam beberapa detik sebelum akhirnya tertawa. Pria itu menyentuh dagu Soomin dan dengan kedua ibu jarinya mengusap pelan pipi Soomin. Di bawah telapak tangannya, Yeonchan bisa merasakan suhu tubuh Soomin yang begitu tinggi.
“Sayang, coba dengarkan. Aku tak pernah mempermasalahkan penampilanmu. Aku menyukaimu apa adanya. Sejujurnya, aku suka melihat wajah polosmu saat bangun tidur. Sangat menggemaskan. Sekarang, ayo pakai bajumu, atau kau akan semakin kedinginan,” ujar Yeonchan lembut.
Tangis Soomin mereda dan perempuan itu mengangguk lemah mendengar perintah Yeonchan. Yeonchan tersenyum dan hendak berdiri pergi memberi waktu Soomin untuk memakai pakaiannya. Ketika Yeonchan hendak menutup pintu walk in closet, manik hitamnya secara tak sengaja menangkap segaris luka di perut bawah Soomin. Di dalam hati, Yeonchan bertanya-tanya, bekas luka apa itu?
~FORGIVENESS~
Setelah menghabiskan bubur yang dibuatkan Yeonchan serta minum obat demam, kini Soomin berbaring memeluk Yeonchan. Keduanya kini berada di tempat tidur Soomin. Yeonchan yang juga merasa sangat lelah akibat perjalanannya, ikut beristirahat tanpa merasa terganggu dengan Soomin yang begitu nyaman berada dalam dekapannya.
Dengan sebelah tangannya yang bebas, Yeonchan memainkan rambut Soomin yang tergerai, mengusap lembut dan sesekali mencium puncak kepala perempuan yang ada dalam dekapannya.
“Soomin-a....”
“Hmm....”
“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Yeonchan dengan nada hati-hati.
“Tanyakan saja, Yeon,” balas Soomin pelan dengan wajah yang tersembunyi di d**a Yeonchan.
Yeonchan menghela napas panjang dan membenahi posisinya. Pria itu sedikit ragu untuk menanyakan sesuatu yang ia lihat secara tak sengaja. Tapi, karena begitu penasaran, Yeonchan memilih mengatakan pertanyaannya.
“Sebelumnya maaf jika aku bertanya seperti ini padamu, Soomin-a. Tadi aku tak sengaja melihat luka di rrr... perutmu. Boleh aku tahu itu bekas luka apa? Itu pun jika kau tak keberatan, chagiya,” ujar Yeonchan sambil mengecup pelan dahi Soomin.
“Luka ini aku dapatkan pada hari buruk itu, Yeon-a.”
Tubuh Yeonchan menegang mendengar ucapan Soomin. Tangan kokoh Yeonchan mengeratkan pelukannya pada Soomin. Yeonchan mengerti maksud jawaban Soomin. Sesuatu menggelitik hatinya seperti ingin mengetahui keseluruhan cerita Soomin pada hari buruk tersebut. Sebelum Yeonchan bisa mencegah, bibirnya sudah melontarkan pertanyaannya.
“Boleh aku tahu apa yang terjadi padamu saat itu? Jika kau merasa tak nyaman, kau tak perlu menceritakannya.”
Soomin tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada Yeonchan. Soomin sadar, Yeonchan pasti sudah mengetahui peristiwa yang terjadi pada dirinya di masa lalu. Tapi, Soomin ingin Yeonchan mendengar cerita itu dari dirinya. Soomin ingin membagi lukanya pada pria yang ia cintai ini.
“Tidak apa. Hari itu, aku dan Eomma bersiap pergi ke Pyeongchang karena aku ingin bersama halmeoni sampai aku melahirkan. Saat itu usia kandunganku sudah mencapai enam bulan.”
“Apa... Eomma-mu marah dengan keadaanmu?”
Soomin menghela napas panjang sebelum kembali melanjutkan ceritanya. “Eomma tidak marah, ia kecewa tapi ia tidak berhak menghakimi bayiku. Eomma bilang, satu- satunya cara menebus dosa adalah aku harus merawat bayiku dengan baik.”
Yeonchan merasakan dadanya seperti ditikam mendengar cerita Soomin. Kepalanya membayangkan wajah Ibu Soomin, wanita muda cantik yang pernah ia temui saat masih sekolah. Sosok single parents yang begitu lembut. Sosok yang membuat mengingatkannya akan ibunya. Lagi, rasa bersalah itu meracuni dirinya.
“Hari itu, Eomma memilih menyetir sendiri. Kami hampir sampai di rest area, ketika sesuatu terjadi pada mobil kami. Eomma kehilangan kendali mobil. Aku tak tahu apa yang terjadi hingga hal terakhir yang kuingat adalah mobil kami berputar dan menabrak dinding pembatas, setelah itu semua menjadi gelap. Aku terbangun dua minggu kemudian di rumah sakit dan mendapati Hyunso Oppa tengah menangis di samping ranjangku. Hal yang kudengar setelah aku bangun adalah Eomma tak bisa selamat dalam kecelakaan dan....” Soomin terdiam sejenak mengumpulkan keberanian, “putri kita tak bisa diselamatkan. Dokter mengatakan perutku terjepit dan aku mengalami pendarahan hebat. Sebuah keajaiban sebenarnya aku bisa selamat dari kecelakaan itu.”
“Kau selamat karena aku masih memiliki hutang padamu. Saat aku mendengar semua yang terjadi padamu setahun setelah di Inggris, rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri. Aku meninggalkanmu begitu saja dan membiarkan kau dalam kesulitan seperti itu sendirian. Aku... tak tahu harus berkata apa setelah mendengar semuanya darimu. Aku hanya bisa mengatakan maaf, Soomin-a. Maaf karena aku membuat hidupmu menderita seperti itu.”
Soomin menggenggam lembut tangan Yeonchan. Soomin menyadari Yeonchan mulai menangis, perempuan itu mendongak dan mengusap lembut airmata yang tengah mengaliri wajah pria tampan itu. Bibir Yeonchan masih menggumamkan maaf padanya.
“Semua sudah berlalu Yeonchan-a. Berhenti menyalahkan dirimu atas semua yang terjadi padaku, okay? Semua sudah menjadi takdir yang harus kulalui,” ucap Soomin seraya mengusap lembut kedua pipi Yeonchan.
Yeonchan tak mampu berkata-kata. Pria itu hanya bisa menangis mendengar cerita pahit yang meluncur dari bibir Soomin. Ya, cerita pahit yang membuat Yeonchan akhirnya terjebak dalam penyesalan.
Yeonchan mendengar peristiwa tersebut setelah setahun tinggal di Inggris. Cerita pahit yang dibawa ketiga sahabatnya saat mereka berlibur ke Inggris. Cerita yang meninggalkan luka dalam karena saat itu Yeonchan tak bisa berbuat banyak. Yeonchan terjebak di antara harapan tinggi sang ayah mengenai dirinya sebagai pewaris tunggal dan penyesalan akan tindakan yang sudah ia lakukan pada Yoon Soomin.
Meskipun tak bisa kembali ke Seoul, Yeonchan dibantu ketiga temannya, mencari keberadaan Soomin, berusaha mencari keadaan perempuan itu. Selama lima belas tahun, Yeonchan berharap menemukan Soomin, agar bisa berlutut meminta maaf. Tapi, tak semudah itu menemukan Soomin, hingga takdir sendiri yang membawa Soomin ke depannya. Yeonchan sangat bersyukur dengan kesempatan yang diberikan padanya.
Seiring dengan usapan lembut Soomin di pipinya, perlahan luka di hati Yeonchan terobati. Yeonchan memeluk erat Soomin, berharap perempuan itu tak lagi pergi dari hidupnya. Soomin dan Yeonchan tahu, mereka memiliki masa lalu yang menorehkan luka di hati keduanya. Membuat mereka rentan kembali terluka. Meski pun begitu, baik Soomin dan Yeonchan berusaha saling mengobati dan menyembuhkan. Dan obat terbaik untuk menyembuhkan semua itu adalah berdamai dan memaafkan segalanya.
Baik Yeonchan ataupun Soomin merasakan kekosongan yang sempat mereka rasakan di hati masing-masing kini telah terisi kembali. Keduanya sadar, mereka saling melengkapi satu sama lain. Lebih dari itu, mereka saling membutuhkan satu sama lain.
~FORGIVENESS~