Park Yeonchan tampak begitu segar pagi ini. Pria itu melangkah keluar dari walk in closet kamarnya sembari mengeringkan rambutnya. Seperti sudah menjadi kebiasaannya, Yeonchan melangkah mendekati pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan sebuah balkon.
Yeonchan menghirup sebanyak mungkin udara pagi yang terasa menyegarkan. Sesekali kelopak matanya terpejam saat menikmati sinar matahari pagi yang menerpa tubuh tingginya. Kegiatan seperti ini sudah Yeonchan lakukan sejak ia berusia delapan belas tahun saat ia tinggal sendirian di Inggris. Menghirup udara dan menerima kehangatan matahari pagi seperti sekarang membuat Yeonchan setidaknya merasakan perasaan lega di dadanya.
Puas melakukan kebiasaan paginya itu, Yeonchan kembali masuk ke dalam kamar dan membiarkan connecting door menuju balkon tetap terbuka. Yeonchan melangkah dan kemudian duduk di sisi ranjangnya yang sudah rapi. Tangan Yeonchan meraih ponselnya yang tergeletak di salah satu nakas dekat tempat tidurnya. Sebuah notifikasi pesan masuk menarik perhatiannya, segera saja Yeonchan membuka pesan tersebut.
Senyuman mengembang di wajah Yeonchan saat membaca pesan masuk itu. Pesan itu dari sahabatnya semasa kuliah, Baekki. Baekki menanyakan pertemuan yang akan mereka lakukan besok. Jika dilihat dari pilihan kata yang digunakan Baekki dalam pesannya, pria manis itu seakan begitu senang bisa bertemu lagi dengan Yeonchan. Yeonchan pun merasakan hal yang sama. Rasanya sudah begitu lama mereka berdua tidak bertemu dan mengobrol panjang seperti yang biasa mereka lakukan saat kuliah dulu.
Selesai membalas pesan Baekki, Yeonchan memasukkan ponselnya ke saku celana training hitam yang dikenakannya. Mata Yeonchan melirik jam yang ia letakkan di meja nakar. Pukul 07.30 pagi.
Hari masih begitu pagi dan udara pun masih terasa sejuk. Yeonchan beranjak dari duduknya. Pria itu memutuskan untuk berolahraga dengan melakukan jogging sekitar lingkungan tempat ia tinggal. Lagipula, ini hari minggu. Yeonchan tak akan melakukan banyak hal di hari libur seperti ini.
~FORGIVENESS~
Yeonchan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Suasana jalanan Seoul begitu ramai. Yeonchan tak menyalahkan semua itu karena ini hari Senin. Siapapun di dunia tahu jika hari Senin merupakan hari dari segala kesibukan di mulai. Tak peduli apakah itu senin pagi ataupun senin siang seperti sekarang. Seoul dilanda kemacetan dimana – mana.
Yeonchan menghembuskan nafas sedikit kasar saat mobilnya terpaksa berhenti setelah baru saja melaju sekitar satu sampai dua meter. Yeonchan mengetuk –ngetukkan jari – jarinya pada setir kemudinya. Sesekali Yeonchan bernyanyi mengikuti lagu yang tengah ia dengarkan dari audio mobilnya.
Baru saja Yeonchan hendak melajukan kembali mobilnya, ponselnya berdering nyaring. Dengan sigap, Yeonchan meraih handsfree yang selalu ia simpan di mobil. Menyematkan benda itu pada salah satu telinga besarnya sebelum akhirnya menggeser tanda hijau di layar ponselnya.
Senyuman menghiasi wajah Yeonchan begitu mendengar suara panik Baekki menyapa telinganya. Demi apapun, Baekki ternyata tak berubah sedikitpun meski sudah lama sekali Yeonchan tak bertemu langsung dengan pria itu. Tetap berisik.
“ Ada apa, Baekki ? Aku tak bisa mendengarmu dengan jelas. Kau terlalu berisik,” ucap Yeonchan sambil terkekeh geli membayangkan ekspresi panik Baekki sekarang.
“ Kau sedang dimana, Yeol ?”
“ Aku ? Tentu saja dalam perjalanan menuju tempat pertemuan kita. Ada apa ?” Sebelah alis Yeonchan terangkat tinggi mendengar pertanyaan yang diajukan Baekki setelah berhasil menguasai rasa paniknya.
“ Ah aku minta maaf sekali. Sepertinya aku tak bisa bertemu denganmu dan membahas proyek mediamu itu, Yeol. Istriku kontraksi dan aku harus menemaninya di rumah sakit.”
Sejujurnya, Yeonchan merasa kecewa mendengar penjelasan Baekki. Yeonchan merasa kecewa karena pertemuan yang akan membahas hal penting mengenai proyek kerjasama mereka harus tertunda. Tapi Yeonchan tak bisa egois. Baekki dan istrinya, Hyora, begitu menantikan kelahiran buah hati mereka. Yeonchan tak ingin membuat Baekki kehilangan momen penting tersebut.
Otak Yeonchan kini berpikir keras memikirkan proyek kerjasama yang harus ia atur ulang karena tertundanya pertemuan hari ini.
“ Aku bisa mengerti. Kita bisa mengatur ulang waktu pertemuan untuk membahas proyek tersebut, Baek. Aku akan....”
“ Tidak perlu diatur ulang, Yeol. Aku meminta salah satu asistenku untuk melakukan pertemuan ini. Jika kita menjadwalkan ulang pertemuan hari ini, aku tak yakin proyekmu itu bisa terlaksana sesuai waktu yang direncanakan.” Baekki memotong ucapan Yeonchan.
Yeonchan menghela nafas lega mendengar ucapan Baekki. Di dalam hati, Yeonchan lega karena tak perlu memikirkan berapa kerugian akibat pertemuan yang tertunda hari ini. Yeonchan bersyukur jika Baekki masih sempat memikirkan pekerjaannya. Yeonchan sangat berterima kasih dengan tindakan antisipasi yang dilakukan Baekki tersebut.
“ Wah aku tersanjung kau masih sempat memikirkan proyek ini di tengah kepanikan yang melandamu, Baek. Lebih dari apapun, aku sangat berterima kasih padamu.”
Yeonchan mendengar suara tawa kecil Baekki dari seberang sana. Setelah berbicara sedikit basa – basi dan mendoakan proses persalinan Hyora lancar, sambungan telepon pun terputus. Yeonchan melepaskan handsfree dari telinganya dan meletakkannya kembali di tempatnya semula, hingga akhirnya kembali memfokuskan perhatiannya pada jalanan yang semakin padat.
~FORGIVENESS~
Yoon Soomin duduk dengan gelisah di sebuah ruangan privat restauran yang berada di pusat kota. Berulang kali matanya melirik jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Bibirnya yang terpoles liptint berwarna merah muda itu berdecak kesal menyadari ia telah menunggu hampir setengah jam di ruangan tersebut.
Suara pintu ruangan yang terbuka membuat perhatian wanita itu teralihkan. Soomin kembali mendenguskan nafasnya sedikit kesal saat melihat seorang pelayan masuk ke dalam ruangan membawakan beberapa alat makan yang dibutuhkan. Sejenak, Soomin mengira jika itu adalah rekan bisnis bosnya yang harus ia temui hari ini.
Soomin tersenyum tipis pada pelayan yang kini meletakkan beberapa alat makan dan menuangkan air putih ke dalam gelasnya. Soomin tak bisa menahan diri untuk tak bertanya pada si pelayan mengenai seseorang yang tengah ditunggunya. Soomin tak bisa menunggu lebih lama dari ini. masih banyak pekerjaan yang terpaksa ia tinggalkan di kantor hanya untuk menggantikan pertemuan yang seharusnya dihadiri oleh atasannya.
“ Maaf, apa seseorang yang saya tunggu sudah datang ?”
Si pelayan mengangkat kepalanya dari pekerjaan yang sedang ia lakukan. Wajah pelayan itu tersenyum ramah pada Soomin. Kepalanya menggeleng pelan.
“ Saya belum mendapatkan pesan apapun. Sepertinya seseorang yang Anda tunggu memang belum datang,” balas si pelayan dengan nada sopan.
Soomin baru saja hendak mengatakan sesuatu lagi, ketika ia mendengar suara pintu tempat ia menunggu kembali terbuka. Sontak, wanita cantik itu menoleh ke arah pintu masuk dan matanya terbelalak lebar menatap sosok yang baru saja memasuki ruangan. Tubuh Soomin menegang melihat sosok tersebut. Ingin rasanya saat itu juga Soomin pergi dari ruangan. Sungguh, Soomin tak pernah mau lagi melihat sosok tersebut selama sisa hidupnya.
~FORGIVENESS~
Park Yeonchan berdiri mematung di tempat saat ia baru saja masuk ke dalam ruangan yang telah direservasi atas nama Baekki. Yeonchan seakan tak bisa mempercayai apa yang sedang dilihat oleh manik hitamnya. Sosok yang selama ini ia cari setelah ia kembali ke Korea Selatan, kini berada hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Tanpa melepaskan pandangan dari sosok tersebut, Yeonchan meneguk salivanya berusaha membasahi tenggorokkannya yang tiba – tiba terasa kering. Dan mengumpulkan keberaniannya untuk memanggil nama dari sosok tersebut.
“ Soomin-a ?”
Wajah Soomin memucat saat mendengar Park Yeonchan mengucapkan namanya. Soomin menatap tajam sosok Park Yeonchan yang terlihat tak banyak berubah dari pertemuan terakhir mereka bertahun – tahun yang lalu. Satu – satunya perubahan yang tampak dari sosok Park Yeonchan adalah bahwa pemuda dalam ingatannya kini telah berubah menjadi sosok pria tampan yang begitu kharismatik. Soomin merutuk dalam hati menyadari Yeonchan dewasa terlihat begitu tampan.
“ Park Yeonchan ?” balas Soomin berusaha memastikan jika sosok di depannya memanglah Park Yeonchan dari masa lalunya.
Tanpa berusaha memperkecil jarak yang terbentang diantara mereka, Yeonchan tersenyum di tempat ia berdiri, membalas keraguan yang terdengar dari nada suara Soomin saat menyebutkan namanya. Membuat senyuman perlahan terbit di wajah Yeonchan.
Mata hitam Yeonchan memperhatikan dengan lekat sosok Soomin yang seolah keluar dari pikirannya. Yoon Soomin masih seperti yang Yeonchan ingat, Soomin masih tetap terlihat memukau dan menarik perhatiannya. Hanya saja, Soomin yang ada di depannya telah bermetamorfosis menjadi sosok yang sangat menawan. Soomin menjadi wanita yang sangat anggun meskipun Yeonchan sadari, tatapan Soomin padanya begitu dingin.
Yeonchan tak peduli dengan tatapan dingin yang diberikan Soomin padanya. Yeonchan merasakan ledakan kebahagiaan menguasai dirinya. Di dalam hati, Yeonchan meneriakkan rasa syukur pada langit yang telah memberinya kesempatan untuk bertemu kembali dengan Yoon Soomin.
Yeonchan tak pernah menyangka pergerakan kosmik akan mengantarnya bertemu wanita yang membuat Yeonchan hidup dalam penyesalan selama lima belas tahun. Pergerakan kosmik memberikan Yeonchan kesempatan untuk meminta pengampunan pada sosok Yoon Soomin, seseorang yang menyimpan separuh diri Yeonchan di masa lalu.
~FORGIVENESS~