Netra gelap Yeonchan disuguhi sebuah pemandangan yang sangat indah. Hamparan rerumputan hijau dan sebuah sungai kecil yang mengalir tampak tak jauh dari tempat Yeonchan berdiri saat ini. Perlahan, Yeonchan melangkah mendekati aliran sungai yang tampak menggoda dirinya untuk mendekat.
Jalan setapak menuju sungai tersebut begitu mudah dilalui. Tak sampai lima menit, Yeonchan kini sudah berada di tepi sungai berair jernih tersebut. Yeonchan mencelupkan kedua tangan besarnya ke dalam air sungai. Hawa dingin yang menyegar langsung menyambut permukaan kulit Yeonchan, membuatnya merasa sangat bebas dan... lepas. Seakan tak ada lagi beban yang menghimpit hatinya.
Yeonchan memejamkan matanya menikmati kedamaian yang sudah lama tak ia rasakan. Hingga sesuatu yang menyentuh pundaknya membuat pria tampan itu membuka kelopak matanya dan memperlihatkan kembali manik hitamnya. Perlahan,Yeonchan menoleh dan menemukan seorang gadis kecil berdiri di belakangnya.
“Apa kau mau bermain denganku?” tanya gadis kecil itu pada Yeonchan.
Yeonchan tak mengenali gadis kecil tersebut. Entah kenapa, ada perasaan hangat yang mengaliri hati Yeonchan saat menatap dua manik gelap gadis kecil tersebut. Tanpa banyak basa-basi, Yeonchan pun menyanggupi ajakan gadis kecil tersebut.
Mereka berlarian di padang rumput hijau, berbaring di tengah hamparan bunga menikmati langit, hingga akhirnya mereka bermain air. Yeonchan dan gadis kecil itu tertawa saat saling bermain air. Yeonchan merasa sangat nyaman dan senang bermain dengan gadis kecil tak di kenal tersebut. ketika sedang asyik bermain, tiba-tiba saja arus sungai membesar. Suasana tawa riang Yeonchan dan gadis kecil tersebut berubah menjadi kepanikan.
Rasa panik dan takut kini merayapi hati Yeonchan tatkala aliran sungai yang secara tak terduga menjadi deras itu menghanyutkan gadis kecil tersebut. Yeonchan berteriak dan berusaha berenang sekuat yang ia bisa untuk bisa menggapai gadis kecil tersebut. Sayang, usahanya tak berhasil, gadis kecil itu hanyut dibawa derasnya air sungai.
Tak kuasa menahan airmatanya, Yeonchan menangisi gadis kecil tersebut. Pria itu duduk di tepi sungai yang alirannya sudah kembali tenang. Ketika sedang menangis, Yeonchan kembali merasakan sesuatu menyentuh lututnya, membuat pria itu mengangkat wajahnya. Yeonchan tersentak saat menemukan gadis kecil itu sudah berada di depannya.
Tapi, kali ini penampilan gadis kecil itu terlihat mengerikan. Wajah kecilnya bersimbah darah dan juga airmata. Hal itu membuat Yeonchan mundur menjauhi gadis kecil tersebut. Satu hal yang tak bisa Yeonchan lupakan dari gadis kecil itu adalah tatapannya yang begitu sedih dan penuh kekecewaan. Tatapan yang begitu familiar bagi Yeonchan. tatapan yang mengingatkan Yeonchan pada seseorang yang juga pernah menatapnya seperti itu. Tatapan itu mengingatkannya pada... Yoon Soomin.
“Appa, kenapa kau pergi meninggalkanku dan Eomma? Kenapa kau membiarkanku terbunuh begitu saja dan membiarkan Eomma hampir ikut bersamaku?”
~FORGIVENESS~
Yeonchan terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal-sengal. Jantungnya berdebar begitu kencang seakan baru berlari marathon. Yeonchan duduk di ranjangnya dengan keringat yang membasahi sekujur tubuh. Yeonchan baru saja bermimpi buruk.
Sambil menormalkan detak jantungnya, otak Yeonchan menganalisa mimpi buruk yang baru saja ia alami. Yeonchan mengambil napas dan menghembuskannya secara perlahan. Pria itu meyakini, mimpi buruk yang baru saja ia alami merupakan refleksi dari kesalahan yang ia lakukan di masa lalu.
Yeonchan menyugar rambutnya dengan frustasi, sudah sekian lama ia tak mengalami mimpi buruk seperti ini. Mimpi buruk itu kembali muncul sehari setelah pertemuannya dengan Yoon Soomin. Mimpi buruk tersebut mengingatkan Yeonchan akan rasa bersalahnya pada Yoon Soomin, bahwa pria itu telah menghancurkan hidup juga hati perempuan yang ia cintai.
Perlahan, tangan Yeonchan membuka laci nakas, mengeluarkan tube berisi obat penenang yang selalu ia minum sesuai anjuran dokter pribadinya. Yeonchan meminum obat tersebut sambil kembali diam memikirkan mimpi buruknya. d**a pria itu kembali di hinggapi perasaan bersalah yang menyesakkan.
Rasa bersalah itu membuat d**a Yeonchan semakin sakit, membuatnya sulit bernapas. Obat penenang yang ia minum tak membawa pengaruh untuknya. Kembali, tangan Yeonchan meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Dengan cepat, jari-jari besarnya dengan cepat menari di atas layar ponsel, sebelum akhirnya mendekatkan benda persegi panjang tersebut ke telinganya.
Bunyi nada tunggu segera menyapa gendang telinga Yeonchan. Yeonchan menunggu panggilan tersebut sedikit gelisah, pria itu merasa bahwa ia semakin sulit bernapas. Dan ia tahu satu-satunya orang yang membuat dirinya merasa tenang walau hanya sesaat. Beruntung, pada nada kelima, panggilan tersebut di angkat.
[Oh, Yeonchan-a. Tumben sekali kau menelpon Ibu jam segini. Apa terjadi sesuatu,nak?]
Sebuah suara lembut langsung terdengar dari seberang telepon. Lewat suaranya, Yeonchan bisa mendengar nada cemas dari ibunya, hal itu membuat pertahanan Yeonchan yang sejak tadi berusaha menahan airmatanya runtuh. Hanya dengan satu pertanyaan dari Sang Ibu padanya semudah itu pula pertahanan Yeonchan hancur. Yeonchan tak kuasa menahan airmatanya. Yeonchan menangis.
“Eomma...” panggil Yeonchan di tengah isak tangisnya. Suara berat Yeonchan terdengar sarat akan kesedihan.
[Ada apa, Yeonchan-a?]
Yeonchan berusaha menahan tangisnya untuk menjawab pertanyaan yang di ajukan sang ibu padanya. Yeonchan tahu, ia pasti sudah membuat ibunya khawatir setengah mati. Bagaimana tidak khawatir, Yeonchan menelpon ibunya tengah malam seperti sekarang sambil menangis. Ibu mana yang tak akan khawatir mendapat situasi seperti sekarang, terlebih Yeonchan sekarang adalah putra satu-satunya yang dimiliki Nyonya Lee dan Tuan Park.
“E-eomma, aku menemukannya. Aku menemukan Soomin-ku,” ucap Yeonchan dengan suara yang begitu lirih.
Terdengar keheningan selama beberapa detik. Yeonchan tahu ibunya pasti sangat terkejut mendengar berita yang ia sampaikan. Tak butuh waktu lama sampai Yeonchan kembali mendengar suara ibunya.
[Bagaimana kabarnya, Yeon-a? Katakan pada ibu, apa dia baik – baik saja? Lalu, apa berita yang kau dapat setahun setelah kau tinggal di Inggris benar ?]
Yeonchan tersenyum pedih mendengar pertanyaan ibunya. Otak Yeonchan kembali memunculkan sosok Yoon Soomin yang ia temui beberapa hari lalu. Yoon Soomin-nya yang manis sepenuhnya telah berubah menjadi seorang wanita dewasa yang begitu anggun dan mempesona. Dan sekali lagi, Yeonchan yakin hatinya tak pernah bisa melupakan Soomin, terlebih setelah pertemuan tak terduga tersebut.
“Ne, Eomma. Soomin-ie menjadi perempuan yang sangat cantik. Aku yakin Eomma pasti akan semakin menyukainya jika bertemu lagi dengannya. Mengenai berita yang aku dapat itu ternyata,” Yeonchan berhenti sejenak karena tenggorokannya terasa tercekik. Dadanya kembali merasa terhimpit sesuatu yang membuat Yeonchan sulit bernapas.
[Ceritakan pada ibu, Yeol-a. Ibu akan mendengarkannya.]
Suara lembut ibunya seakan menjadi sebuah kunci yang mampu memberikan sedikit rasa lega pada diri Yeonchan, membuat Yeonchan memiliki kekuatan untuk menceritakan peristiwa tragis yang dialami Soomin, tak lama setelah Yeonchan pergi meninggalkannya. Airmata terus jatuh seiring cerita yang terucap dari bibir Yeonchan.
Nyonya Lee tak banyak berbicara, wanita itu hanya diam mendengarkan setiap untaian kata yang terucap dari bibir putranya. Nyonya Lee paham, betapa tersiksa dan hancurnya hati putra semata wayangnya setelah mengetahui peristiwa menyakitkan yang menimpa Yoon Soomin, seseorang yang begitu berharga di hati Yeonchan.
“Eomma, bukankah aku begitu jahat? Aku sudah menghancurkan hidup Soomin-ie. Bagaimana bisa aku hidup jika seperti ini?” tanya Yeonchan sambil menangis pedih.
Di seberang sana, Nyonya Lee tak mampu menahan airmatanya. Sebagai seorang ibu, wanita itu merasa perih melihat penderitaan yang dirasakan putranya. Lima belas tahun, putra kesayangannya hidup dalam penyesalan. Meskipun dari luar Yeonchan terlihat baik-baik saja, tapi Nyonya Lee tahu, jauh di dalam dirinya, Yeonchan hancur lebur. Penyesalan itu menggerogoti Yeonchan dari dalam.
[Yeonchan-a, kau sudah bertemu Soomin-mu. Sekarang, apa yang ingin kau lakukan?]
Yeonchan terdiam sebelum akhirnya tangisannya berhenti dan tergantikan dengan sebuah senyuman penuh rasa kasih sayang. Kepala Yeonchan kini terus menampilkan sosok Yoon Soomin. Perasaan hangat perlahan mengaliri hati Yeonchan hanya dengan memikirkan Soomin. Detik itu juga, Yeonchan tahu apa yang ingin ia lakukan untuk dirinya juga Soomin.
“Aku akan menebus segala kesalahanku padanya, Eomma. Aku ingin melindungi Soomin. Aku ingin memastikan bahwa ia hidup bahagia. setidaknya itu yang bisa kulakukan sebagai bentuk permohonan maaf padanya,” tegas Yeonchan.
[Apa kau akan bahagia dengan semua itu, Yeonchan-a?]
“Ne, Eomma. Aku akan bahagia hanya melihat Soomin bahagia. lebih dari itu semua, aku membutuhkannya, Eomma.”
[Tapi, bagaimana dengan....]
“Aku tak ingin membahas apapun, Eomma. Prioritasku saat ini adalah Soomin. Aku tak peduli dengan apa yang akan di katakan Appa,” potong Yeonchan.
Helaan napas Nyonya Lee terdengar dari seberang telepon. Wanita itu seakan pasrah dengan keputusan yang diambil putranya. Di dalam hati, Nyonya Lee mengharapkan kebahagiaan untuk putranya. Berharap langkah yang diambil Yeonchan sekarang mampu menuntunnya pada kebahagiaan. Nyonya Lee ingin melihat putranya hidup bahagia.
[Ibu berharap apapun yang kau lakukan saat ini bisa membuatmu bahagia, Yeon-a. Ibu sangat mengharapkan kebahagiaanmu.]
Senyuman kini mengembang di wajah tampan Yeonchan menghapus mendung yang sempat menghiasi wajah tampan Yeonchan. Lagi, Yeonchan membayangkan wajah Soomin. Dan semudah itu, perasaan lega memenuhi dadanya, menyingkirkan rasa bersalah dan sesak yang sempat Yeonchan rasakan setelah bermimpi buruk tadi. Yeonchan bertekad, akan melakukan apapun untuk bisa membuat Soomin bahagia.
“Eomma tak perlu khawatir. Apa pun yang kulakukan untuk Soomin akan mengantarkanku pada kebahagiaan. Karena sejak awal, Soomin selalu berada di hatiku, eomma. Tidak ada yang bisa menggantikan tempatnya di hatiku. Aku mencintainya dan perasaan itu tak berubah hingga detik ini.”
~FORGIVENESS~