Didalam aula gedung yang mengadakan pesta Timo dan Miana orang tua Heyla tertawa sambil menuju meja tempat mereka duduk. Kegiatan berdansa susah selesai dan mereka langsung mencari keberadaan Heyla.
"Dimana Ela?"
"Perasaan tadi dia disini deh ma"
Timo mengeluarkan ponselnya dari saku jas dan melihat satu notifikasi pesan dari "Putri ku"
"Pa, Ela pulang diluan yah soalnya besok masih sekolah" (isi pesan Heyla)
"Dia sudah pulang diluan" ucap Timo
"Cepat sekali?"
"Besok dia mau sekolah kan. Lagian dia tidak ada kegiatan disini jadi biarkan saja"
Dengan wajah malas Miana menyetujui suaminya itu. Mereka duduk untuk istirahat sebentar sebelum pulang. Sesuai rencana mereka akan langsung pulang dengan pesawat jadwal terakhir ke London malam ini.
"Gue udah mau pulang" ucap Aland pada Zuke
"Sekarang?"
"Tahun depan. Gue duluan" ucap. Aland sambil menepuk bahu Zuke. Ia segera keluar dari sana dengan tatapan orang yang masih memperhatikan nya. Zico yang masih disana pun langsung menuju Aland ketika ia melihat laki-laki itu.
"Land!"
Aland yang merasa dipanggil langsung melihat ke arah sumber suara. Ia bisa melihat Zico dengan tampilan formalnya malam ini. Tapi tentu saja pesona Aland tidak bisa dikalahkan olehnya. Para perempuan sekolah pernah memberikan peringkat cogan sekolah yang dulunya nomor satu di raih oleh Zuke dan kedua oleh Zico. Tapi rasanya semenjak kedatangan Aland peringkat itu harus diubah dimana Aland menjadi nomor satu.
"Gue kira Lo gak datang. Nyokap bokap Lo mana?"
"Kebetulan gue ada jadi ngapain mereka jauh-jauh datang kemari?"
"Oohh.... Oh iya Lo mau gak jumpa sama orang tua gue? Orang tua gue pengen banget jumpa dan kenalan sama orang tua Lo, tapi karena Lo doang yang datang yah mending Lo aja"
Aland melirik ke sebuah meja yang diduduki sepasang kekasih yang sudah pasti orang tua Zico dan sedang melihat ke arah mereka.
"Sebenarnya gue lagi buru-buru, jadi gue gak bisa lama-lama. Lagian yang dicari kru nyokap bokap gue So gue cuman kenalan doang oke'
"Sip, ayo"
Orang tua Zico yang sudah menunggu pun beranjak berdiri untuk menyambut datangnya anak dari keluarga Delbert yang selama ini ingin mereka dekatin. Dan sudah jelas pergaulan dengan orang yang lebih diatas kita selalu didambakan semua orang. Keluarga Sondia sudah memiliki kerja sama dengan bisnis keluarga Aland, dan kerja sama itu menghasilkan banyak keuntungan.
"Malam Aland.... Kenalin nama Tante Dela"
"Aland" singkat Aland menerima jabatan tangan ibu Zico
"Nama om Maradi"
Setelah saling berkenalan orang tua Zico meminta Aland untuk duduk dalam meja mereka. Namun sesuai yang dikatakan Aland sebelumnya ia tidak bisa diskusi sama sekali. Karena sebenarnya ia tahu keluarga Zico akan basa basi kemudian membahas bisnis untuk menjalin kerja sama dan membahas saham.
"Maaf om, Tan, saya harus pulang sekarang karena ada urusan lain yang mendesak"
"Oh ya? Kalau begitu tidak apa-apa"
Aland senyum tipis dan menepuk bahu Zico, ia segera pergi dari sana melanjutkan perjalanan nya yang tertunda.
"Halo pa?"
Aland berjalan sambil menelfon ayah nya
"Bagaimana acaranya?"
"Lancar, tuan rumahnya hanya kecarian papa dan mama aja. Aland udah bilang papa sedang sibuk"
Aland terus berjalan sambil berbicara dengan sang ayah melalui telepon. Setelah beberapa meter ia berjalan dan mendekati tempat ia memarkirkan kendaraan nya Aland melihat paparazi yang sedang bersembunyi dibalik mobil. Dan sudah jelas target mereka bukan Aland karena mereka sama sekali tidak memperdulikan laki-laki itu.
"Siapa yang mereka incar?" Batin Aland
"Land?" Ucap sang ayah dalam telfon dan membuat Aland kembali pergi mengabaikan para paparazi itu.
Didalam mobilnya Heyla sudah berdiam diri selama 15 menit menunggu apakan ada pergerakan atau sesuatu yang akan terjadi. Misalnya jika ada yang mengikutinya mungkin orang tersebut akan heran kenapa belum ada mobil yang jalan disekitarnya. Lagian kaca mobil Heyla merupakan kaca hitam jadi tidak ada yang bisa mengetahui apakah ada orang didalam jika dilihat dari luar.
Dukkk
Heyla terkejut ketika terdengar suara benturan dibelakang mobilnya, karena didalam mobil gelap Heyla sudah melepas kacamatanya sejak tadi.
Posisinya yang tadinya dikursi kemudi sudah berpindah, dengan perlahan Heyla pindah ke kursi belakang untuk melihat apa yang ada dibalik mobilnya. Terlebih lagi setelah suara benturan pelan itu ia mendengar suara orang bisik-bisik.
"Wah... Sudah kuduga acara malam ini akan menjadi ladang mencari nafkah bagi mereka" batin Heyla melihat sepasang orang laki-laki dan perempuan sedang jongkok dibelakang mobilnya. Dibelakang mobil Heyla ada satu mobil lagi dan mereka berada diantaranya.
"Mereka tidak mengincar ku?" Herannya
Kedua orang itu terlihat saling beradu pendapat untuk menentukan siapa yang akan mengambil gambar, Heyla sama sekali tidak bisa melihat siapa incaran para paparazi itu.
Karena keasikan mengamati mereka Heyla menunggu salah satu mereka membuka kamera dan mengambil gambar, setelah beberapa kali jepretan kamera itu memperbesar gambar agar wajahnya terlihat jelas.
"Wah... Ada yang kencan buta diacara seperti ini, hahahha" ucap Heyla pelan
"Tunggu.... Itukan.... Sondia?"
"Dan.... Siapa laki-laki itu kenapa dia membelakangi kamera aku tidak bisa melihatnya"
Cekrek
Gambar yang terlihat sangat jelas itu sudah berhasil diambil. Kedua orang itu terlihat sangat puas dengan hasil kerja mereka.
"Kalian harus mengambil dua wajah jangan wajah Sondia aja" kesal Heyla
"Apa aku harus nolong dia? Tapi mereka melakukan ini karena pekerjaan. Tapi ini melanggar orivsi juga" batin Heyla
Para paparazi itu hendak pergi sambil tetap berjongkok. Heyla mengambil kunci mobil yang ada disaku nya.
"Tett....tetttt.....tet....tet......"
Suara alarm mobil Heyla berbunyi dengan keras dan dengan spontan paparazi yang masih disampingnya itu terkejut dan lari terbirit-b***t. Heyla langsung menutup mulutnya karena merasa lucu.
"Ahahah.... Astagaaa ekspresi mereka" ucap Heyla tertahan melihat beberapa orang mengejar mereka, termasuk laki-laki yang bersama sondia tadi. Bahkan Heyla tidak terpikir lagi untuk mengetahui siapa laki-laki itu karena ia masih terbahak.
Beberapa para penjaga acara tadi juga ikut mengejar para paparazi yang berpakaian pesta itu, karena privasi para undangan harus mereka jaga.
"Oke aku harus pergi sebelum ada yang kembali kesini" ucap Heyla dan segera merangkak kembali menuju kursi kemudi.
Setelah mesin mobilnya jalan Heyla langsung meluncur ke arah yang berlawanan dengan arah pengejaran para paparazi tadi.
"Astagaaa... Baru menolong orang satu kali aku sudah merasa menjadi makhluk paling baik di dunia. Hahaha" tawa Heyla
Dengan santai Heyla mengendarai mobil nya menuju rumah, musik ia setel dengan sedang untuk melengkapi moodnya yang tiba-tiba tersenyum dan senang sendiri.
Dilain tempat Sondia sudah terdiam membeku ditempat karena mengetahui ada yang mengikutinya dan mengambil fotonya. Sekilas ia teringat hal-hal yang ia lakukan dengan laki-laki tadi.
Meski hanya membiarkan laki-laki itu membelai pipinya tangannya juga bertengger pada bahu laki-laki itu. Dan tatapan yang sondia berikan tadi sungguh tidak baik jika terlihat di media sosial.
"Sondia!" Teriak sang mama yang datang ketempat kejadian. Ayahnya sudah terlihat berusaha menenangkan istrinya itu sebelum muncul gosip baru
"Ma"
"Sayang kamu tenang dulu.... Jika kamu emosi seperti ini nanti hal buruk yang lain nyusul" ucap papa Sondia berusaha menenangkan istrinya
"Sudah, aku tidak akan meluapkan emosi disini" risih sang mama
"Kenapa kamu ceroboh? Mama hanya menyuruh kami mendekati anak laki-laki pemilik PT perminyakan itu dan pada tahap pertama kamu sudah kena masalah" omel mama Sondia
"Ma! Sondia udah usaha dan lagi s**l aja ada sepasang paparazi gila yang ngikutin. Lagian mereka bahkan tertangkap dan foto-foto yang mereka dapat bakal di hapus. Dady kan udah biasa menutup mulut mereka.... Dady hanya tinggal melakukan nya Lagi kan?"
"Yaudah kamu masuk ada kedalam biar papa yang urus sisanya"
"Thanks Dad"
Dengan senyum puas seolah semua akan baik saja Sondia pergi dari sana dan segera masuk kedalam aula kembali. Tidak ada orang yang tahu kalau Sondia menjadi korban paparazi karena tempat mereka di ikuti lumayan jauh.
Selang beberapa lama menunggu para bodyguard yang mengejar dan juga laki-laki yang bersama sondia tadi sudah datang membawa target.
"Sondia mana ma? Pa?" Tanya laki-laki itu yang sudah memanggil orang tua Sondia dengan sebutan mama papa
"Dia sudah masuk lagi, kamu trmani dia yah dia takut kalian akan jadi bahan berita di TV"
Laki-laki itu segera pergi menyusul Sondia dan orang tua Sondia segera membawa kedua paparazi itu kedalam sebuah ruangan kosong yang berada didalam aula. Tentunya mereka masuk melalui pintu yang berbeda agar undangan lain tidak melihat.
"Ambil kameranya" perintah papa Sondia
Dengan paksa kamera para paparazi itu diambil, kartu memori didalamnya langsung diambil.
"Hancurkan kameranya"
"Jangan!!" Teriak kedua orang itu
Trashhhhhhh
Kamera mahal besar itu langsung retak dan kacanya pecah. Tidak hanya sekali bodyguard itu mengambil kamera itu lagi dan melemparkannya kelantai kembali hingga ayah Sondia mengatakan 'Cukup'.
"Kenapa kalian tidak menghapus fotonya saja! Kenapa menghancurkan mata pencaharian kami!!" Protes laki-laki paparazi itu.
"Mata pencaharian? Kalian bilang ini mata pencaharian? Hahahha..... Sejak kapan mengambil privasi orang menjadi ladang uang?"
"Kami hanya berusaha mencari berita menarik untuk ditayangkan, jika tidak kami tidak bisa mendapatkan biaya hidup" lanjut wanita disampingnya
"Oh ya? Lalu apa kami peduli?"
Kedua orang itu langsung terdiam tak bisa mengatakan apapun. Karena sebenarnya mereka juga sadar melanggar privasi orang itu salah. Tapi mereka tak punya pilihan lain.
"Kalian tidak boleh menyebarkan tentang apapun yang kalian lihat dan alami malam ini. Langsung saja karena kami tidak akan diam jika sedikit saja hal ini dibahas oleh orang lain. Otomatis itu karena kalian. Mengenai benda yang .... Menjadi sumber hidup kalian itu akan saya ganti, lebih dari itu tenang saja... Atas merasa iba nyawa kalian ada didalam kamera pecah itu"
Ayah Sondia melirik pengawal pribadinya yang sedang memegang koper hitam. Dengan cekatan laki-laki berbadan tegap itu membuka koper nya yang langsung memperlihatkan uang berwarna merah.
"Aaa...apa maksud semua ini? Apa yang kau mau?" Heran laki-laki itu yang tidak percaya ayah Sondia akan memberikan uang itu dengan cuma-cuma
"Hahaah..... Kau langsung paham Ternyata. Sederhana saja..... Saya tahu siapa yang mengirim kalian. Jadi..... Kenapa kalian tidak mengambil keuntungan dua kali lipat? Kalian harus merubah misi. Jadi anak buah kami dan mata-matai bos kalian. Owh aku salah .... Sekarang aku lah bos kalian. Lakukan perintah kami.... Buat mereka percaya dengan kalian berdua dan jangan sampai mereka mendengar kejadian malam ini. Katakan saja tidak ada terjadi apapun"
"Lalu?"
"Kalian akan ku gaji sesuai hasil kerja kalian"
"Bagaimana jika kami tak mau?"
"Hemmm... Mudah saja. Kami akan membuat seluruh keluarga kalian cepat bahagia"
Cittttt
Suara decitan ban mobil yang baru memasuki garasi terdengar, Heyla turun dan menutup pintu garasinya untuk melancarkan aksi.
"Lo udah Pulang?" Ucap Leri yang datang melalui pintu penghubung antara rumah dan garasi
"Belum bang, ini masih di acara" balas Heyla sambil mengambil tas perkakas didalam lemari yang ada di ruang garasi.
"Mau ngapain Lo?" Heran Leri
"Mau tidur bang"
"Ck, gue serius anjirrr"
"heh mulut!"
Leri tertawa dan menyandarkan dirinya ke dinding, tangannya ia silangkan di d**a sambil melihat Heyla melakukan kegiatan membuka plat mobil.
"Wah.... Jarang gue lihat cewek dengan gaun cantik gantiin plat mobil. Hahah"
"Dan bersyukur lah karena Lo udah bisa ngeliat cewek cantik ini Mengganti plat. Supaya Lo gak mati penasaran nanti".
"Kenapa gak diganti besok aja coba? Udah mau tengah malam ini. Capek gue nungguin Lo pulang"
"Nungguin? Perasaan Lo memang kelelawar deh. Sejak kapan Lo tidur cepat hah?"
Heyla sudah selesai mengganti satu plat mobil bagian depan, ia segera berganti posisi menuju ke belakang mobil.
"Dah sini gue aja. Mandi Lo saja bau banget dah" ucap Leri merebut perkakas dari tangan Heyla
"Makasih bang kelelawar, Lo Ganteng deh kalo malam. Soalnya gelap. Bye.... Hahahah"
"b*****t Lo!"
Heyla mengecilkan tawanya ketika sudah masuk kedalam rumah. Jam segini bibi dan Om nya sudah tertidur jadi ia harus berusaha tenang menuju kamarnya.
Dilain tempat Aland sudah kembali ke apartemen nya. Setelah mengganti pakaian ia tidak langsung tidur melainkan berbicara melalui pesan di w******p.
"Boy"
"What?"
"Yang di kejar paparazi tadi itu Lo yah?"
"Hah? Paparazi? Enak aja"
"Demi? Gue kira itu Lo yang lagi main cewe dibelakang gue anjim"
"Emang ada apa sih gaje Lo Tae"
"Tadi habis Lo pergi disini tuh heboh. Soalnya ada paparazi yang ketahuan gitu dan langsung dikejar. Gak tahu deh kedapatan apa enggak"
Aland kembali teringat akan paparazi yang ia lihat saat hendak pulang tadi.
"Oohh..... Itu bukan gue, siapa yang jadi target mereka?"
"Kalo gue tahu gue gak nanya itu Lo apa enggak b*****t!"
"Taek!" Umpat Aland sambil melemparkan ponselnya ke tempat tidur.
-Jangan lupa beri komentar dan follow Author nya yah ❤️-