Sepasang kelopak mata bergerak terbuka. Menyesuaikan cahaya masuk retina, ia kembali memejamkan mata dan membukanya kembali. Kepalanya terasa pusing, berdenyut-denyut tak karuan. Napasnya terasa panas dengan tubuh yang lemas.
Frans mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi padanya kemarin. Dirinya yang bekerja di ruangan, tiba-tiba Alessa masuk ke dalam dengan membawa makanan. Mengatakan bahwa Alessa memesankan Frans makanan. Kebetulan karena lapar, Frans memakan makanannya tanpa memeriksa terlebih dulu.
"Sial!" Frans tersadar jika alerginya kambuh.
"Pak Frans?" Pintu dari luar terbuka, menampilkan seorang gadis yang sangat ia kenal memasuki ruangan dengan sekeresek buah dan roti di tangannya.
"Bapak sudah sadar? Saya panggilkan Dokter dulu ya, Pak?"
"Jangan."
Satu kata perintah yang membuat Alessa menghentikan langkahnya. Alessa berbalik, "Bapak harus segera di periksa."
Mengabaikan larangan Frans, Alessa memilih keluar mencari Dokter jaga. Frans harus mendapat pemeriksaan lebih lanjut mengenai kondisi pria itu. Terlebih lagi Frans masuk rumah sakit karena Alessa.
Alessa tidak tau, jika Frans alergi dengan udang. Dan kemarin ia memesankan makanan random, tanpa membaca isi dari makanan yang ia pesan. Alessa merasa bertanggung jawab karena kondisi Frans, ia merasa bersalah.
Pintu terbuka menampilkan satu orang Dokter di ikuti suster di belakangnya. Tak lama, Alessa masuk dan berdiri di samping ranjang. Melihat Dokter dan suster memeriksa keadaan Frans setelah tersadar.
"Bagaimana kondisi Pak Frans, Dok?"
Dokter tersebut memberikan senyum menenangkan, "Keadaan pasien sudah stabil, saya akan datang untuk memeriksanya secara berkala."
Frans yang masih terbaring di atas ranjang menghela napas malas, "Jangan berlebihan, Aditia."
Dokter Aditia, dokter yang saat ini memeriksa Frans tergelak pelan. "Saya harus bersikap profesional pada Anda, Pak Frans. Anda adalah Presdir di rumah sakit tempat saya bekerja."
"Terserah."
Alessa mengerutkan kening bingung, "Dokter mengenal Pak Frans dengan baik ya?" Katanya dengan tawa bingung.
"Frans adalah saudara saya, Alessa." Jawab Dokter Aditia.
Alessa mengangguk paham, "Oh, pantas saja."
"Terlihat akrab ya?" Alessa mengiyakan pertanyaan Dokter Aditia.
"Oh, iya... Jangan makan udang lagi. Sudah tau alergi udang, masih saja uji coba." Kata Dokter Aditia membuat Frans menatap dalam diam.
"Bukan urusan mu."
"Maaf Dokter, semuanya salah saya." Alessa menunduk dengan perasaan penuh rasa bersalah.
"Bukan salah kamu, Alessa. Ini karena Frans yang tidak bisa menahan diri ketika melihat udang."
Alessa menggeleng, "Itu karena saya yang memesankan makanan sore tadi tanpa melihat isi dalam menu makanan. Lain kali saya akan lebih teliti lagi," Alessa menatap Frans yang juga menatapnya, "Pak Frans, saya minta maaf sudah membuat Bapak seperti ini."
"Dan kamu juga harus bertanggung jawab atas keadaan saya." Frans berkata dengan nada dingin. Membuat suasana dalam kamar rawat semakin tegang.
"Ah, tidak apa-apa Alessa. Lagi pula kondisi Frans sudah membaik."
"Keadaan ku belum membaik, asal kau tau. Seluruh tubuh ku terasa gatal dan panas! Bahkan rasanya membengkak! Kau tidak lihat?"
Dokter Aditia menangkap tatapan tidak suka ketika ia membela Alessa di hadapan Frans. "Kau sudah dewasa Frans, ayolah jangan manja seperti ini."
"Terserah." Balas Frans malas. Pria itu mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
Alessa yang merasakan kemarahan Frans mencoba mengambil alih suasana, "Benar apa yang di katakan Pak Frans, Dokter. Saya harus bertanggung jawab atas kondisi Pak Frans."
"Tapi Alessa,--"
"Saya akan merawat dan membantu keperluan Pak Frans hingga sembuh, karena bagaimana pun semua ini karena kesalahan saya yang tidak bertanya pada Pak Frans sebelum memesankan makanan."
"Kalau begitu, saya permisi dulu ya. Masih banyak pasien yang harus saya periksa."
Alessa mempersilahkan, "Silahkan Dokter Aditia, terima kasih."
"Sama-sama Alessa," kemudian Dokter Aditia menatap saudaranya yang menonton interaksi antara ia dan Alessa dengan intens.
"Jangan menatap ku seperti kau ingin memakan ku. Kau harus meminum obat yang akan diantar oleh suster setiap beberapa jam sekali, pastikan kau meminum dengan benar atau aku akan memberi tahu Tante Claria mengenai kondisi mu."
"Hm."
Lantas Dokter Aditia dengan seorang suster di belakangan pergi keluar kamar rawat. Menyisakan Alessa yang masih berdiri mematung dan Frans yang tiduran acuh. Karena merasa Frans ingin beristirahat tanpa gangguan, Aless memutuskan untuk keluar.
"Mau kemana?"
Baru saja Alessa menyentuh pintu keluar kamar rawat, Frans mencegahnya. Terpaksa Alessa berbalik namun tak berjalan mendekat ke arah ranjang, dimana saat ini Frans sudah duduk menyender dengan bantal di punggungnya.
"Saya mau keluar Pak, agar Bapak bisa beristirahat dengan nyaman."
"Kamu pikir hanya dengan saya sendiri di sini saya bisa nyaman?" Jawaban pedas Frans masih sama mengesalkan meski pria itu dalam kondisi sakit.
"Maaf, Pak." Hanya permintaan maaf yang Alessa lontarkan.
"Saya ingin makan, bukan kah kamu membawa buah tadi?" Frans mencoba melembutkan suaranya.
Alessa menaikkan pandangan, ia teringat jika ia membawa buah ketika datang tadi. Namun, langsung ia buang ketika melihat Frans sudah sadar dan memanggil Dokter Aditia.
"Saya membawakan Bapak buah dan roti dari swalayan, saya akan mengupasnya untuk Bapak."
"Iya,"
Alessa segera kembali mendekati meja disamping brankar. Ia mengeluarkan beberapa buah yang sempat ia beli, ada banyak buah yang Alessa pikir cocok untuk Pak Frans yang masih sakit.
"Bapak mau buah yang mana?"
"Apa saja."
"Apel mau?"
"Hm."
"Sama pir ya, Pak."
"Hm."
"Ada jeruk juga,"
"Iya."
"Eh, tapi jangan deh. Bapak belum makan makanan berat, nanti perih di lambung. Apel aja ya, Pak." Kata Alessa menunjukkan dua buah Apel merah pada Frans.
"Terserah Alessa, terserah."
Alessa meringis malu, "Maaf Pak, saya hanya ingin memastikan makanan yang akan Bapak makan. Saya tidak mau membuat Bapak sakit lagi."
"Kalau tidak mau saya sakit, kamu bisa mengurus saya."
"Saya sedang melakukannya sekarang, Pak."
"Bukan hanya sekarang, tapi selamanya."
Alessa menghentikan mengupas apel, menatap bingung pada Frans, "Maksudnya, Pak?"
"Merawat dan mengurus saya untuk selamanya, bahkan ketika saya dalam kondisi sehat maupun sakit."
Alessa terdiam mendengar perkataan Frans, otaknya sedikit lama mencerna apa yang sebenarnya pria ini katakan. Keadaan kamar rawat sunyi senyap tanpa suara, hanya detik jam dan hembusan napas yang saat ini mendominasi.
Tatapan Frans saat ini dalam dan intens menatap ekspresi terkejut juga bingung Alessa. Frans tak menyangka kalimat itu keluar begitu saja tanpa ia pikirkan sebelumnya. Apalagi di tambah kondisi Frans yang saat ini dalam keadaan belum membaik untuk mengatakan semuanya. Perasaan hatinya untuk Alessa terlalu kuat hingga mendominasi pikirannya tanpa sengaja.
Frans tidak memikirkan bagaimana jika Alessa menolak pernyataan hatinya saat ini. Tentu saja, Frans tidak akan membuat Alessa menolak. Karena Alessa harus bertanggung jawab atas perasaan yang gadis itu telah berikan beberapa tahun silam.
"Maksud Bapak? Jadi pembantu Bapak?"
"Apa? Pembantu?"
Alessa mengangguk masih dalam keadaan bingung, "Iya pembantu. Yang mengurus dan merawat Bapak untuk selamanya."
"Tapi saya masih mau bekerja sebagai asisten apoteker di rumah sakit ini, Pak. Saya enggak mau jadi pembantu Bapak. Saya terlalu menyayangi rekan-rekan saya di instalasi." Alessa menambahkan.
Frans menatap Alessa dengan tatapan tak percaya, "Benarkah, menjadi pembantu?"
"Kalo perawat kan, hanya merawat ketika sakit. Dan kalo pembantu yang mengurus dalam keadaan sakit dan sehat, bisa sementara bisa juga selamanya. Tergantung kontrak sama majikannya, gitu kan Pak?" Alessa berkata tanpa beban sama sekali.
Frans merasa jantungnya akan jatuh ke lambung saat ini, dadanya yang berdebar karena pernyataan perasaan untuk Alessa justru di balas dengan jawaban yang jauh dari ekspektasinya.
"Terserah kamu saja, Alessa. Terserah."
"Bapak marah?"
Frans diam tanpa membalas, ia terlanjur kesal pada Alessa. Bisa-bisanya gadis itu berpikir ia akan menjadikan Alessa pembantunya. Menjadi istri kan bisa, kenapa jawabannya harus pembantu?!
"Bapak kenapa marah?"
Frans sengaja diam, tidak membalas pertanyaan yang Alessa lontarkan untuknya.
"Karena saya gak mau jadi pembantu Bapak?"
"Ya sudah, besok saya bantu cariin ya Pak. Saya bikin brosur kalo Bapak lagi nyari pembantu."
"Tidak perlu." Frans semakin kesal mendengar perkataan Alessa.
"Tadi katanya mau pembantu?"
"Tidak perlu, Alessa. Cukup lanjutkan mengupas buahnya, saya lapar!"
Alessa mencebik kesal, "Iya Pak, ini juga lagi saya kupasin."
***
"Bagaimana dengan rapat hari ini?" Tanya Frans setelah meminum obatnya.
"Saya cancel Pak, keadaan Bapak juga belum pulih. Tidak memungkinkan untuk melaksanakan rapat."
Frans menatap tak suka mendengar keputusan Alessa, "Kenapa di batalkan hanya karena kondisi saya? Kamu bisa meminta perwakilan untuk menggantikan saya,"
"Dan kamu juga tidak berhak memutuskan secara sepihak tanpa persetujuan saya, Alessa!"
"Saya takut hasilnya tidak akan memuaskan apabila perwakilan, lagi pun kita harus memberikan presentasi sebaik mungkin untuk memikat investor."
"Tapi kita kehilangan investor hari ini, Alessa."
"Bapak tenang saja, saya sudah menjadwalkan rapat hari ini di ganti dengan lain hari. Dan Pak Handoko setuju, karena saya menjelaskan kenapa rapat di batalkan. Maaf atas keputusan yang saya ambil secara sepihak."
Frans menghela napas panjang, "Keluar. Saya ingin istirahat."
Alessa tertegun sejenak, "Tapi, Pak,--"
Tanpa banyak bicara, Frans membaringkan tubuhnya di atas brankar rumah sakit dan memejamkan matanya. Mungkin efek obat sudah mulai membuat Frans mengantuk. Melihat Frans yang memang benar istirahat, membuat Alessa mengundurkan diri dan beranjak pergi.
"Maafkan saya, Pak. Saya permisi."
Begitu pintu tertutup, memastikan jika Alessa benar-benar sudah keluar dari ruang rawatnya. Frans membuka mata, menatap pintu keluar yang baru saja Alessa lewati dengan tatapan gusar.
"Seharusnya saya tidak mengatakan kalimat yang melukai mu, Alessa. Saya minta maaf,"
***
Menutup pintu di belakangnya, Alessa duduk di kursi yang terletak tak jauh darinya. Hatinya terasa sakit mendengar Frans yang marah karena keputusannya. Untuk kesalahannya yang membatalkan rapat karena kondisi Frans yang sakit, Alessa tidak masalah sama sekali.
Yang menjadi sumber rasa sakitnya adalah ketika Frans mengabaikan kesehatannya demi pekerjaan. Alessa tau, semenjak dirinya menjadi sekretaris Frans menggantikan Mbak Lani, nyaris seluruh kegiatan Frans, Alessa handle sendiri. Alessa tau, betapa kerasnya Frans memforsir diri untuk pekerjaan. Terlebih, masalah kembali menimpa rumah sakit Santa Claria yang nyaris membuat rumah sakit bangkrut dan citranya buruk.
"Kehidupan Kak Ken, kenapa jauh sekali dari kata damai dan tenang?"
"Jujur Kak Ken, Diva sakit hati, perempuan mana yang tidak sakit hati ketika di bentak oleh orang yang dulu pernah dikagumi karena perhatian kecil yang Diva berikan ke Kak Ken?"
Alessa mengayunkan kaki layaknya anak kecil, otak cantiknya berpikir bagaimana Frans menjalani kehidupan dengan semua tekanan yang pria itu pikul. Entah sejak kapan, Alessa tak lagi melihat senyum tipis pria itu semenjak pertemuan mereka kembali setelah beberapa tahun berpisah.
Meski hanya Alessa yang mengingat, namun Alessa tak mampu melupakan jika dirinya pernah begitu mengagumi sosok Fransciso Kennedy Reneegan. Atau justru masih mengaguminya sampai sekarang.
Entahlah, hanya Alessa yang mengetahui jika saat ini perasaannya berkecamuk tak karuan ketika berada di dekat Frans. Dan merasa khawatir melihat pria itu jatuh sakit, terlebih karena dirinya.
***