Kantin siang itu seperti pasar kecil yang hafal irama: suara piring beradu—ting, cing—sendok menggesek wajan, seruan “nasi goreng satu!” bersahut-sahutan dengan tawa yang melambung dari segala arah. Kipas dinding berputar malas, menggerus udara yang berat oleh aroma bawang putih, kecap manis, dan es teh yang mengembun di gelas-gelas bening. Lantai licin di beberapa titik; kursi plastik mengerang tiap kali diseret. Di meja pojok dekat kipas, Trio Jendela mengambil tempat resminya.
“Seperti biasa ya: tiga es teh kurang manis,” kata Diva ke penjaga, senyumnya otomatis. “Satu nasi goreng, pedasnya sopan; satu tahu-tempe; satu ayam goreng buat dibagi.”
“Siap,” jawab si Ibu kantin. Bunyi sendok menghantam wajan—tak tak tak—lalu aroma nasi yang disangrai naik seperti selimut.
Ahmad datang dengan kertas tugas setebal dua lembar di tangan, ujungnya sudah dilipat rapi. Safira menyusul, tote bag kecil di bahu; pita krem di ujung kepangnya bergerak tiap ia menoleh. Mereka duduk bersisian dengan jarak yang “nyaman”—tidak terlalu dekat, tapi juga tidak asing. Diva duduk di seberang, memperhatikan dua pasang gerak yang mulai sinkron tanpa perlu banyak kata.
“Mad, kemarin kamu sempat gambar ulang ilustrasi buat mading?” tanya Safira sambil meletakkan ponsel. “Aku mau padukan dengan fotoku yang daun-daun itu.”
“Sudah,” jawab Ahmad, matanya menempel pada lembaran. “Kucoba versi garis tipis. Biar fotomu tetap jadi pusat.”
Safira mengerling. “Pusatnya bukan aku. Pusatnya cerita.”
Ahmad tertawa kecil, menutup kertas. “Oke, pusatnya cerita.”
Diva menatap dua garis halus yang bergerak bebas itu—seperti dua kalimat yang saling menyambung sendiri. Gelas es teh mendarat di meja mereka. Embunnya menetes, meninggalkan lingkaran basah yang cantik kalau sedang tidak m*****i kertas. Diva mendorong satu gelas ke arah Ahmad, satu ke Safira.
“Nanti mading kita dikurasi dulu ya,” katanya, menjaga nada cerah. “Aku bantu buatkan caption. Singkat tapi magnetis.”
“PR andalan,” puji Ahmad. “Penjaga Rasa.”
Safira menambahkan, “Penengah Ribut juga.”
Mereka bertiga tertawa. Kata “penengah” masuk seperti gula tambahan ke es teh Diva—larut, membuat manis yang sulit dibedakan apakah memberi rasa atau menutupi. Diva meneguk eskalnya, merasakan dingin yang menuruni tenggorokan. Di dalam, ada sesuatu yang tetap tidak tersentuh.
Makanan datang. Nasi goreng mengepul; ada wangi kecap dan irisan daun bawang. Diva otomatis membagi ayam goreng jadi tiga—kulit untuk Diva (tradisi), daging dekat tulang untuk Safira, sisa rapi untuk Ahmad. “Kebiasaan membuat merasa aman,” kata Diva ringan. Ahmad dan Safira mengangguk—menerima tanpa banyak pikir. Keduanya lalu mencondong sedikit, membahas layout mading: komposisi, margin, urutan. Kata-kata mereka berkejaran, tapi tidak bentrok. Mereka menatap kertas yang sama; jarak di antara bahu mereka terlihat pas.
Diva menyuapkan nasi, menatap pemandangan itu tanpa ingin mengganggu. Di telinganya, riuh kantin berubah jadi suara latar; di dadanya, ada kursi kosong yang ia duduki sendiri. Ia pernah menulis di buku birunya: “Aku PR: Penjaga Rasa.” Hari ini, ia menambahkan dalam hati: “Aku Jembatan: tempat orang lewat untuk bertemu.” Orang lewat. Jembatan diam.
“Eh,” suara Ahmad memecah lamunannya. “Kalau fotomu ditempatkan di atas, potongan teks di kiri atau kanan?”
“Kanan,” jawab Safira cepat. “Cahaya daunnya jatuh dari kiri. Biar seimbang.”
“Kau bahkan mengingat arah cahaya.” Ahmad terkekeh. “Oke, kanan.”
Seorang siswa menabrak kursi Diva dari belakang tanpa sengaja. Kursi bergoyang—deritnya nyaris seperti protes. Diva menahan gelas es teh agar tidak tumpah. Ia menoleh, memberi senyum, “Nggak apa,” lalu kembali ke meja. Di detik itu, Ahmad dan Safira tertawa oleh lelucon mereka sendiri soal “daun yang punya etika cahaya”. Diva ikut tertawa—setengah detik terlambat. Tertawa belakangan adalah keahlian orang yang menjaga suasana tetap utuh.
“Mad,” Safira tiba-tiba menghela napas, menatap kertas lebih dekat. “Garis di sini terlalu tebal. Takutnya mengalahkan tekstur daun di foto.”
“Itu masih sketsa,” sahut Ahmad, nada sedikit cepat. “Kalau dipindahkan digital, bisa kutipiskan.”
“Tapi kalau dari awal sudah tipis, kamu hemat waktu,” balas Safira, halus tapi tegas.
Diva menangkap kilat tipis—bukan bertengkar, hanya dua cara memandang yang bersinggungan. Ia menaruh sendok, meraih correction tape, dan bicara sebelum udara mengental.
“Ambil tengahnya begini,” ucap Diva, menjadikan kertas tisu sebagai papan. “Mad tetap dengan garis sekarang untuk menjaga karakter. Safira pilih tiga titik fokus di fotomu. Kita sinkronkan ketebalan garis hanya di tiga titik itu. Selebihnya tipis.”
Ahmad diam sejenak, lalu mengangguk. “Masuk akal.”
Safira tersenyum. “Aku suka. Terbatas tapi terasa.”
Diva mengembuskan napas—gelombang kecil yang berhasil ia turunkan. Di dalam, ada rasa lega yang tidak diakui, bercampur perih tipis seperti kulit yang tergores kertas. Ia menambahkan gula ke gelas, mengaduk pelan. Sendok kecil beradu dengan dinding gelas—ting—bunyi yang menegaskan ia masih ada di sini.
“Ngomong-ngomong ekskul,” ujar Ahmad, antusias yang cepat menular, “minggu depan pendaftaran. Aku ke desain grafis. Saf?”
“Fotografi,” jawab Safira. “Aku mau belajar tentang cahaya yang kamu sebut ‘beretika’ tadi.”
Mereka tertawa lagi. Diva hendak berkata “Aku daftar jurnalistik atau humas OSIS, biar semua beres,” tapi kata-katanya kalah cepat oleh suara mereka yang sudah merencanakan hal lain—jadwal latihan, peralatan, kemungkinan kolaborasi. Diva memutuskan menunggu celah. Celah itu seperti lampu merah di persimpangan ramai—bisa lama sekali.
Celah datang ketika es teh Ahmad nyaris menetes ke tepi kertas. Diva segera menarik tisu, mengganjal, menggeser gelas ke sisi aman. “Tolong, kertas itu ingin hidup lebih lama dari es teh.”
“PR menyelamatkan lagi,” kata Ahmad, menatapnya. “Terima kasih.”
Safira mengeluarkan tisu basah aroma anggur, menyodorkan ke Diva. “Biar rapi.”
Aroma manis yang familiar naik, menyelubungi sejenak kecap dan gorengan. Diva mengusap sudut meja. “Kontrak tisu anggur tetap berlaku,” selorohnya. Mereka tertawa, kali ini tawa yang benar-benar bertiga.
Lalu sebuah bayangan melintas di sisi meja: Bimo, Guntur, dan Aldi lewat sambil membawa baki. Bimo melempar, “Halo trio jendela,” dengan nada yang sengaja dibuat netral, entah tulus entah tidak. Safira menegang sepersekian; Ahmad berhenti menulis. Diva mengangkat wajah, meraih kalimat yang tidak menusuk.
“Halo,” balas Diva datar dan sopan. “Kalau ada tempat duduk yang kosong, sebelah sana lebih sejuk kena kipas.”
Bimo mengangkat alis, menatap arah kipas, lalu berkomentar ke teman-temannya. “Sini aja panas.” Mereka berlalu. Udara kembali normal.
“Div,” kata Safira pelan, menatapnya—ada terima kasih yang tidak diucapkan di sana.
“Sudah,” sahut Diva ringan. “Makan lagi. Nanti keburu bel.”
Mereka melanjutkan. Waktu di kantin selalu terasa pendek. Di sisa menit, Ahmad dan Safira membahas tone warna, filter, ukuran font. Diva mencatat di kepala, menyarikan jadi tiga poin ringkas—kebiasaan lama yang tak butuh buku. Ia bicara hanya untuk merangkum: “Jadi, layout kanan, tiga fokus garis, font tanpa serif.” Keduanya mengangguk, lega. Mereka butuh ringkasan. Mereka selalu butuh penengah untuk mengikat.
Bel istirahat kedua berdering. Kursi-kursi kembali berderit; antrean di wastafel mengular. Mereka berjalan keluar kantin. Di lorong, suara langkah bercampur gumaman. Trio ini bergerak rapat, tetapi hari ini Diva merasakan jarak yang aneh—bukan fisik, lebih seperti jarak yang muncul ketika dua frekuensi sudah otomatis tersambung, sementara frekuensi ketiga menunggu giliran.
Di depan kelas, Ahmad menahan pintu. “Div, nanti pulang bareng?”
Diva ingin menjawab “ya” seperti biasa, tetapi ada pekerjaan piket yang sebenarnya bisa ditukar, ada alasan yang bisa dibuat, ada juga diam yang ingin dijaga. “Kalian duluan aja,” katanya. “Aku mau ke perpustakaan sebentar. Nyari referensi caption.”
Safira menatapnya. “Mau kubantu?”
“Enggak, santai,” jawab Diva cepat. “Kalian aja yang cek mading. Nanti kirim fotonya di grup.”
Mereka mengangguk, masuk. Diva berdiri sejenak di ambang, memperhatikan dua punggung yang menyelinap di antara deret bangku. Ia menunduk, berpura-pura mengikat tali sepatu. Sebentar lagi kelas akan dimulai; sebentar lagi semua kembali normal. Normal versi baru, mungkin.
Pelajaran berlalu seperti potongan-potongan kecil yang menolak lengket. Diva hadir, menjawab ketika ditanya, tertawa di momen yang patut, mencatat rapi. Di sela-sela itu, matanya kadang menangkap refleksi di jendela: dirinya duduk di baris tengah, wajahnya netral. Ia merindukan menjadi barisan depan di hati seseorang—sekali saja.
Sore merambat. Selesai kelas, jalan di luar sekolah riuh oleh pedagang cilok, es lilin, dan anak-anak kecil yang pulang les. Ahmad mengirim foto mading di grup: “Trial layout. Mantap, kan?” Safira menambahkan stiker jempol dan, “Terima kasih, Penjaga Rasa, atas ringkasannya tadi.”
Diva mengetik: “Keren! Besok final ya.” Lalu berhenti menulis sesuatu yang lain. Ia menatap tiga titik elipsis di layar—muncul, menghilang—seperti napas yang maju mundur.
“Div, jadi pulang bareng?” chat Ahmad muncul.
Diva menatap gerbang. Ahmad dan Safira berdiri di sana, menunggu. Ia bisa berlari kecil menyusul. Ia bisa, seperti biasa, menjadi penyambung percakapan sampai rumah. Tapi ada suara lain yang meminta ruang—suara yang sejak lama ia simpan di bawah tawa.
“Maaf, kalian duluan,” balas Diva. “Aku mampir beli sesuatu.”
“Baik, hati-hati,” Safira membalas.
Diva menutup ponsel, memasukkannya ke tas. Ia menapaki trotoar sendirian, melewati tukang jagung yang asapnya melambung, melewati warung kecil yang memutar lagu lawas, melewati jembatan pendek yang licin kalau hujan. Sore ini cerah. Langit menjerang oranye, lalu merambat ke ungu muda di tepi horizon. Suara motor menyapu, mengangkat debu tipis. Udara hangat; aromanya campuran tanah dan gula gosong.
Langkahnya melambat di pertigaan—tempat mereka biasanya berpisah. Tidak ada yang menunggu. Tidak ada botol es teh yang saling mengetuk. Hanya bayangan panjang yang memimpin jalan.
Di kepala Diva, kalimat-kalimat muncul seperti press release yang terlambat: “Dengan ini kami sampaikan bahwa saya baik-baik saja,” “Dengan ini kami klarifikasi bahwa iri dan kagum bisa bersaudara,” “Dengan ini saya akui bahwa menjadi penengah adalah pekerjaan mulia—tetapi melelahkan ketika hati ingin jadi yang disebut lebih dulu.”
Ia mendongak ke langit. Warna senja memantul di matanya, membuatnya tampak berair bahkan sebelum air mata datang. d**a terasa kosong seperti gelas es teh yang habis—ada bekas dingin di sisi, ada gula yang menempel di dasar, ada lingkaran air di meja yang tinggal jejak.
Diva menarik napas panjang, menahannya sejenak, lalu melepas. Suaranya keluar pelan, bukan untuk didengar siapa pun, hanya untuk mengembalikan berat badannya agar tidak terbang.
“Kenapa aku selalu jadi penengah… bukan yang utama?”