Malam merambat pelan ke kamarku, tidak menabrak, hanya masuk lewat celah tirai dengan sabar. Lampu belajar menyala temaram, bulat kecil di sudut meja, menyisakan sudut-sudut yang lembut gelap. Kipas angin berdengung, menggerakkan udara seadanya. Di luar, jangkrik mengetuk ketukan seragam—kriik… kriik…—seperti metronom untuk hati yang sedang tidak mau tenang.
Di hadapanku, sebuah buku diari berwarna biru muda terbuka. Sampulnya halus, ada noda kecil bekas jari di pojok; di dalamnya kertas yang bau seratnya samar manis—bau kertas baru yang selalu membuatku ingin menulis panjang-panjang. Aku memutar pulpen, ujungnya menyentuh pipi sebelum menyentuh halaman. Di margin atas, aku menulis tanggal, lalu menarik napas. Bahuku turun.
Aku jarang menulis diari. Kalau pun menulis, biasanya seperti laporan singkat: “hari ini begini, besok begitu,” gaya PR murahan yang menjawab lima W satu H. Tapi malam ini, aku tidak butuh siaran pers. Aku butuh tempat untuk menaruh sesuatu yang tidak mau rapi walau sudah kuberi judul dan bullet points di kepalaku.
Aku menulis pelan.
Dear buku biru,
jangan ketawakan aku kalau kalimatku nanti melantur.
Pulpen meluncur, akhirnya.
Hari ini, di kelas, Pak Surya bicara tentang narasi, tentang bagaimana detail kecil bisa mengubah cara kita melihat sesuatu. Kapur di tangannya patah dua kali, suaranya scret scret lalu klik kecil; sinar matahari sore masuk lewat jendela, memotong debu di udara jadi garis-garis terlihat. Di belakang kami, Safira mengangkat tangan, bertanya tentang narator yang tidak dapat dipercaya—apakah boleh penulisnya tidak jujur. Aku ingat kalimatnya jernih, suaranya tidak menghakimi, hanya ingin mengerti. Pak Surya bilang boleh, asal pembaca diberi petunjuk halus.
Aku menoleh ke depan sebentar, lalu ke samping, lalu… iya, ke belakang.
Ahmad duduk di sampingku, menulis rapi seperti biasa. Garis tangannya selalu tegas; dia menyalin rumus struktur cerita dengan huruf yang tidak lari-lari. Tapi ada yang berbeda: setiap Safira bicara, aku bisa merasakan udara di sekitar Ahmad bergeser setitik. Bukan yang besar, bukan dramatis—lebih seperti daun yang bergerak karena angin yang bukan dari kipas. Dia menoleh sepersekian, lalu kembali ke buku. Dia bersin kecil—“hacih!”—lalu Safira menyodorkan tisu basah aroma anggur dari belakang. “Sehat,” kata Safira. Dan Ahmad tersenyum. Senyum itu sederhana, tetapi keluar dari bagian dirinya yang paling asli.
Aku menulis di sini karena pada momen itu, jantungku melakukan hal bodoh: mengencang, lalu melambat, seperti menolak kenyataan sambil memeluknya. Aku ikut tersenyum—pura-pura untuk halaman catatan—padahal sebenarnya untuk dua orang di dekatku.
Hari ini aku cemburu.
Halus, tidak dramatis, tapi nyata.
Cemburu bukan marah, cemburu adalah memeluk kenyataan dengan tangan yang gemetar.
Buku biru, aku ingin terlihat kuat di hadapan mereka—aku memang keras kepala ingin begitu. Aku ini tim informasi: mengingatkan jadwal, menyodorkan correction tape, mengatur presentasi agar rapi. Aku ingin jadi yang paling tenang saat yang lain goyah. Aku ingin jadi tempat mereka bertumpu ketika semuanya berderit seperti kursi SMP. Tapi siapa sangka, aku juga ingin hal yang lebih sempit dan tidak profesional: aku ingin Ahmad melihatku lebih lama dari dua detik.
Aku menulis tentang dia bukan karena aku mendadak jadi gadis yang meleleh. Ini sudah hari-hari terakhir: kita pulang bareng melewati jalan licin, jembatan lumut yang licik, warung cilok, es lilin rasa jagung yang selalu habis duluan. Di jembatan itu, Safira hampir jatuh. Aku masih bisa melihatnya sekarang: sepatunya nyaris hilang grip, tubuhnya condong, tasnya miring. Ahmad berbalik refleks, menangkap pergelangan Safira dengan cepat. Gerakannya rapi, hangat, bersih. “Saf!” katanya. Safira menghela napas, matanya sempat membulat, lalu kembali tenang. Mereka dekat. Dan untuk sepersekian detik, dunia mengecil.
Aku berdiri satu langkah dari mereka, memperhatikan. Bukan menyimpan dendam, hanya menyimpan adegan. Setelahnya aku bercanda, “Jembatan lumut: 0. Tim Jendela: 3.” Kami tertawa. Aku yang memecahkan jeda—entah untuk mereka, entah untukku.
Aku bangga pada kalian berdua.
Aku bangga pada caramu menolong, Mad.
Aku bangga pada cara Safira mengucap terima kasih: pendek, jujur, dan menenangkan.
Tapi malam ini, di kamar ini, aku jujur sampai ke tepi: aku iri pada sentuhan kecil yang bukan untukku. Aku iri pada cara matamu, Mad, kembali ke belakang lebih sering hari ini, pada cara senyummu keluar tanpa sadar ketika Safira memanggil, “Ayo.”
Aku menepuk pipi dengan punggung pulpen, tertawa kecil pada diri sendiri. Iri yang konyol, bukan? Karena kami bertiga belum apa-apa: tidak ada yang memiliki siapa pun. Trio Jendela adalah kontrak tisu anggur—kami saling jaga, saling simpan kursi, saling pulang bareng. Tidak ada pasal yang menyebut cinta, dan aku tidak berhak menambahkan pasal kecil itu tanpa rapat anggota.
Di halaman berikutnya aku menggambar tiga bantal gantung mini—gantungan yang kami beli di kios kecil—yang bergoyang di tas masing-masing. Simbol “Rumah Sementara,” kata Safira. Aku suka nama itu. Aku suka Safira, sejujurnya. Cara ia mendengar dunia pelan-pelan. Cara ia bilang, “Plester ini bukan untuk rapuh, untuk hal-hal kecil yang sebaiknya dirawat,” ketika memberikan plester bergambar awan kepada Ahmad. Bagaimana aku bisa membencinya? Aku tidak bisa. Aku bahkan ingin berteman dengannya lebih lama dari yang dunia izinkan.
Maka, buku biru, izinkan aku mengaku tanpa menyakiti siapa pun: aku menyukai Ahmad. Bukan yang membakar habis, lebih seperti api kompor kecil yang membuat air memanas perlahan. Aku menyukai senyum yang ia keluarkan tanpa sadar; cara ia menggambar di sudut kertas—pita, es teh, bantal mini—seolah semua yang kami alami tidak boleh lolos begitu saja. Aku menyukai caranya menjaga—menepikan tubuh saat motor lewat agar percikan tidak mengenai kami; caranya mengarang kalimat lucu untuk menutup komentar Rio di kantin: “Mungkin karena duduk dekat jendela, kami cepat jadi terang.” Aku menyukai terang itu. Aku menyukai kamu, Mad.
Tolong catat ini baik-baik:
aku tidak ingin menghancurkan apa pun.
Aku ingin menjaga.
Tapi aku juga ingin jujur—setidaknya pada kertas.
Aku menutup mata sebentar. Di luar, jangkrik tetap setia. Di koridor rumah, suara TV orangtuaku pelan, nyaris hilang. Jam dinding mengetuk-ngetuk menit. Kamar ini mencium bau lotion, sabun, dan kertas yang lama disimpan.
Aku membuka mata dan menulis lagi, kali ini mengulang potongan hari:
— Ahmad bersin di kelas. Safira menyodorkan tisu anggur.
— Ahmad menatap ke belakang tiga kali; aku melihat ketiganya.
— Safira bertanya ke Pak Surya tentang narator yang tidak jujur. Aku teringat kalimat itu terlalu lama. Mungkin aku adalah narator yang tidak jujur di hadapan kalian—tapi buku biru ini akan jadi petunjuk halusku.
Aku ingin kuat. Itu keinginanku yang lama, jauh sebelum aku belajar menyusun press release. Aku ingin menjadi orang yang merapikan yang ramai dan menjelaskan yang samar. Tapi urusan hati tidak bisa kubuat siaran pers. Tidak ada “Dengan ini kami sampaikan…” untuk sesuatu yang bahkan belum punya nama. Dan aku takut: jika kuberi nama, apakah itu akan memisahkan kami bertiga? Aku takut kehilangan dua sekaligus: sahabat dan kemungkinan.
Aku membayangkan skenario buruk—aku bicara pada Ahmad, aku melihat Safira menunduk, dan sejak itu meja jendela tidak lagi punya tawa yang sama. Aku menelan ludah. Tidak. Belum. Jangan.
Strategiku:
1. Aku akan tetap jadi Diva yang cerewet tapi informatif.
2. Aku akan tetap tertawa paling dulu supaya yang lain berani tertawa.
3. Aku akan menaruh yang melebih di tempat yang benar: di buku biru ini, di saku jaketku, di doa yang tidak kukatakan keras-keras.
Aku menulis nama kami bertiga: Ahmad — Safira — Diva. Aku gambar garis kecil menghubungkan ketiganya; bukan bentuk hati, hanya segitiga stabil yang tidak runcing. Lalu aku menulis impian kami: “Rumah Sementara,” “desain dan gambar,” “cerita yang membuat yang ramai jadi rapi.” Aku menulis Trio Jendela. Tulisan tanganku jadi lebih miring; aku menghapus satu huruf dengan correction tape, menertawakan diriku sendiri—perempuan yang bahkan di diari ingin rapi.
Di sela-sela tawa kecilku sendiri, ada perih manis yang menempel. Cemburu itu gatal halus yang tidak bisa digaruk, sekaligus nyeri yang bisa ditahan. Aku tidak benci rasa ini; aku cuma ingin rasa ini punya tempatnya. Biar ia tidak menyelinap ke jam istirahat dan kantin dan perempatan sakral kami. Biar ia tinggal di sini, di halaman yang akan kuikat diam-diam.
Aku menutup pulpen, membuka lagi—entah mengulur atau menutup. Aku berdoa pendek, versi gadis yang sedang bingung: Tuhan, kalau memang harus ada yang berubah, ajari aku tetap baik. Ajari aku menjaga yang perlu dijaga. Ajari aku tidak memaksa yang belum waktunya. Doa yang tampak rapuh tapi kokoh di bagian yang tidak terlihat. Seperti Safira. Seperti Ahmad ketika menahan botol es tehku agar tidak jatuh. Seperti aku, semoga.
Aku menulis kalimat terakhir untuk malam ini, tangan gemetar sedikit karena tidak ingin mengaku tapi akhirnya mengaku:
Andai besok aku masih berani tertawa paling dulu, itu karena aku sudah menangis sedikit malam ini.
Andai lusa kamu melihatku lebih sibuk dari biasanya, itu karena aku sedang sibuk menyembunyikanmu di tempat yang aman.
Aku memandangi halaman itu lama. Lampu belajar menyorot tinta yang masih lembap. Aroma kertas, tinta, dan sedikit bau debu menempel di tepi. Dari lubang angin, angin tipis masuk, menggoyang pita kecil di jendela. Jangkrik tetap setia.
Aku menutup buku diari—bukan dengan keras, hanya menutup perlahan seolah menidurkan sesuatu. Tepat sebelum sampulnya menepuk halaman, ada sesuatu yang jatuh tanpa suara: air mata yang bahkan tidak sempat kubersihkan. Bulat kecil, transparan, membentuk noda bening di atas kata “menjaga”.
Aku memeluk buku itu ke d**a. Suaraku keluar pelan, nyaris tidak terdengar, tapi cukup untuk dikirimkan pada malam yang mengerti bahasa rahasia.
“Andai saja kau tahu, Ahmad…”