Aula sekolah siang itu seperti d**a yang berdebar terlalu cepat. Bendera-bendera kecil menjuntai dari langit-langit, melambai setiap kali angin dari kipas tua mengaduk udara yang padat. Suara microphone berderak setiap panitia menyesuaikan volume—krekk—lalu senyap sesaat sebelum sorak penonton pecah lagi. Bau cat baru dari panggung yang baru dicat semalam berkawin dengan aroma keringat para siswa dan manis-gurih jajanan bazar: cilok beruap, sosis bakar, kolak pisang yang masih hangat. Di barisan depan, murid-murid berdesakan, membawa poster-poster bertuliskan dukungan; di barisan tengah, guru-guru menatap dengan tangan terlipat, sebagian merekam dengan ponsel.
“Untuk sesi berikutnya, kita panggil… kelompok dari kelas X-2!” seru MC, suaranya naik turun, bergema dari speaker tua. “Ahmad dan Diva!”
Tepuk tangan riuh. Ahmad berdiri, menelan ludah. Ia bisa merasakan denyut jantungnya menghentak—seperti palu yang memukul perlahan-lahan di dalam d**a. Jemarinya sedikit dingin. Di sisi lain, Diva menyelipkan poni yang jatuh ke pipinya, menghela napas, lalu menatap panggung dengan mata yang bening namun penuh sesuatu yang tak diucapkan.
“Siap?” tanya Diva lirih, menyamping ke Ahmad saat mereka melangkah ke tangga panggung.
Ahmad menoleh, sekilas. “Siap,” jawabnya, lebih untuk meyakinkan diri sendiri. Tapi penglihatan periferalnya menangkap sesuatu yang membuat udara di paru-parunya terasa lebih luas: Safira, duduk di barisan ketiga, tepat tengah. Rambutnya diikat sederhana, kaos putih dengan jaket pastel, kedua tangannya sudah membentuk gesture penyemangat: mengepalkan tangan kecilnya, mengangguk-angguk seperti drum kecil yang sabar. Begitu Ahmad menoleh, Safira tersenyum. Senyum itu tidak meledak, tidak mencolok—tenang, pasti, seolah berkata: aku di sini, ayo.
Ada hangat yang merayap cepat ke wajah Ahmad. “Heh,” ia tak sadar mengembuskan tawa pendek.
Diva menangkap arah pandangnya. Ada sesuatu yang bergetar tipis di bibir Diva, seperti kalimat yang hampir diucapkan lalu ditelan lagi. Ia memalingkan wajah ke layar monitor besar di atas panggung yang menampilkan papan skor. “Ayo fokus,” katanya, lembut tapi padat. Nada yang menyembunyikan harapannya sendiri—harap agar Ahmad melihat, agar keberadaannya di samping Ahmad bukan sekadar kebetulan, melainkan pilihan yang diperhitungkan.
Di belakang meja panjang bertaplak biru, mereka duduk berdampingan. Di depan, bel buzzer berbentuk bulat—warna merah menyala—menunggu sentuhan tercepat. Lawan mereka, sepasang dari kelas XI IPA, tampak tenang dengan kacamata tipis dan buku catatan di pangkuan. MC menjelaskan aturan: babak pertama cepat tepat, babak kedua rebutan, babak ketiga bonus penentu.
“Siap?” MC menatap ke tiga meja kontestan. “Mulai!”
Pertanyaan pertama meluncur seperti anak panah. “Ibukota provinsi Jawa Tengah adalah—”
Bel lawan di kanan berbunyi lebih dulu: ting! “Semarang,” jawabnya yakin.
“Betul!” Tepuk tangan memercik. Ahmad merasakan tekanan kecil di tengkuk. Diva mencondongkan tubuh, menyentuh punggung tangan Ahmad seperti petir halus. “Santai. Dengarkan ritmenya,” bisiknya. Sentuhan beberapa detik, lalu hilang. Ahmad mendengar degup jantungnya menyesuaikan, mengukur nada suara MC, mengendus jeda kecil antara kata terakhir pertanyaan dan peluang menekan bel.
“Pertanyaan kedua: Proses perubahan wujud dari gas menjadi cair disebut—”
Ting! Jari Ahmad menyambar duluan. “Kondensasi.”
“Benar!” sorak penonton memecah, seolah-olah kipas di langit-langit berputar lebih cepat. Dua bangku dari depan, Safira berdiri reflex, bertepuk tangan keras, senyumnya membentuk bulan sabit. “Ayo, Mad!” suaranya tenggelam dalam sorakan, tapi Ahmad merasakannya menembus seperti garis tipis cahaya di kabut.
Diva menahan senyum, sudut bibirnya terangkat sedikit. “Good,” katanya, suaranya bersahaja. Di matanya, ada binar—bangga yang berdenting halus, sekaligus harap yang ditahan: lihat aku juga, Mad. Lihat aku di sini, di sampingmu.
Babak cepat tepat mengalir. Ahmad dan Diva berbagi irama seperti dua pemain yang belajar tarian baru dalam hitungan menit. Diva menunduk cepat, menuliskan angka kecil di kertas untuk pertanyaan matematika; Ahmad menatap layar, menunggu momen bel. “Luas segitiga sama sisi dengan panjang sisi a adalah—” Ting! “frac{sqrt{3}}{4} a^2,” jawab Diva, suaranya jernih. “Betul,” kata juri. Ahmad menoleh, keningnya terangkat, kagum. Diva menahan napas sepersekian detik, menikmati tatapan itu seperti seseorang yang meletakkan tangan di bawah jatuhnya hujan pertama. Lalu tatapan itu bergerak—melewati bahunya—menuju kursi penonton, mencari senyum lain yang selalu menenangkannya.
Diva mengerjap, cepat-cepat memperbaiki posisi duduk. “Fokus,” katanya lagi, tapi kali ini untuk dirinya sendiri.
Ketika babak rebutan dimulai, suasana aula menegang. Speaker memuntahkan dengung halus; microphone berderak—krekk—MC batuk kecil. “Pertanyaan rebutan pertama: Siapakah penulis novel ‘Laskar Pelangi’?”
Ting! Dua bel meledak hampir bersamaan, tapi lampu merah di meja Ahmad-Diva menyala lebih dulu. Ahmad menahan napas sesaat. “Andrea Hirata.”
“Benar!”
Safira bertepuk tangan di atas kepala, mata berkilat. Ada sesuatu yang sangat sederhana dari cara ia menatap Ahmad—sejenis keyakinan tanpa syarat—dan itu, entah bagaimana, membuat Ahmad berdiri lebih mantap di kursinya. Diva melirik penonton; ia tahu, sejak awal, Safira adalah nomor yang Ahmad hafalkan dalam kepalanya. Bukannya ia tidak tahu diri—Diva mengerti posisinya: sahabat yang sedikit terlambat memahami bahwa perasaannya diam-diam tumbuh, seperti tanaman kecil yang baru disadari saat daunnya menyentuh jendela.
“Pertanyaan berikutnya: Dalam biologi, organel yang berfungsi sebagai tempat respirasi sel adalah—”
Ting! Lawan menekan bel. “Mitokondria.”
“Betul!” Sorak berbalas sorak. Skor menempel ketat. Keringat kecil muncul di pelipis Ahmad. Diva merogoh saku blazer, mengeluarkan karet rambut, mengikatnya cepat—gerakan yang menciptakan busa kecemasan halus dalam d**a Ahmad. Ada sesuatu yang rapih dalam cara Diva membereskan dirinya ketika situasi menekan; Ahmad menghargainya, mungkin lebih daripada yang ia sadari.
“Pertanyaan sejarah: Tahun berapakah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia?”
Ting! “1945,” sahut Ahmad. “Lengkap?” tanya juri, menyipit. Sebelum Ahmad sempat menambah, Diva menyusul, cepat—“17 Agustus 1945.” Juri saling berpandangan. “Kita terima jawaban lengkap dari tim Ahmad-Diva,” kata salah satu juri. Sorak langsung meledak; Diva menoleh, mata Ahmad dan matanya bertemu di tengah udara yang penuh debu halus. “Thanks,” kata Ahmad, napasnya masih tinggi. “Tim,” jawab Diva, lembut. Dan untuk sepersekian detik, Ahmad memandang Diva seperti baru pertama kali mengingatnya—seluruhnya. Lalu sorakan memanggil lagi, papan skor berubah, dan momen itu lewat seperti daun yang tersapu angin.
Babak bonus penentu membuat aula terasa makin sempit. MC menegakkan punggung. “Skor sementara: X-2 memimpin tipis. Satu pertanyaan lagi.”
Ahmad mengusap telapak tangannya di bawah meja. Diva mengetuk-ngetukkan ujung pena ke kertas, ritmenya padat. Safira, di kursinya, mencondongkan tubuh, kedua tangan di d**a, wajahnya tegang namun tersenyum—seperti seseorang yang memegang rahasia kecil: kamu bisa.
“Pertanyaan terakhir,” suara MC melambat, “adalah pertanyaan analisis: Diberikan grafik fungsi kuadrat dengan puncak di (2, -1) dan melalui titik (0, 3). Tentukan bentuk persamaan fungsinya.”
Kelas XI IPA di sebelah langsung berbisik cepat. Ahmad memejam mata sepersekian detik, menggambar parabola khayal. Puncak (2, -1) artinya bentuk puncak: f(x)=a(x-2)^2-1. Titik (0,3) berarti 3=a(0-2)^2-1Rightarrow 3=4a-1Rightarrow 4a=4Rightarrow a=1. Jadi f(x)=(x-2)^2-1Rightarrow x^2-4x+4-1=x^2-4x+3.
Diva sudah menulis langkah-langkahnya, rapi, lincah. “Tekan,” bisiknya.
Ting!
Ahmad menarik napas. “f(x)=x^2-4x+3,” katanya. Juri saling melirik; salah satu mengangguk, senyum kecil terbit. “Benar.”
Hening sepersekian detik, sebelum aula pecah seperti kaca yang menerima sinar matahari. Tepuk tangan, siulan, teriak bahagia. MC memukul-mukul udara dengan kartu cue. “Selamat untuk kelompok dari X-2!”
Ahmad baru menyadari betapa pegalnya bahunya saat sorak menghantamnya dari segala arah. Ia menoleh ke kanan; Diva sedang tersenyum. Bukan senyum yang meledak—samar, tenang, ada air yang tenang di bawahnya. Lalu Diva mengangkat tangan, mengajak tos. “Kita bisa,” katanya. Suaranya—kalem, tapi bagai sumbu pendek yang menyala. Ahmad menepuk telapak tangannya. “Kita bisa.”
Safira sudah berdiri bahkan sebelum MC selesai mengumumkan skor akhir. Ia menyelinap di antara bangku, hampir tersandung tas ransel seseorang, tapi tetap tertawa kecil. “Ahmad!” panggilnya, suaranya menusuk semua kebisingan lain, seperti garis yang tahu alamatnya sendiri.
Turun dari panggung, Ahmad nyaris tidak menyentuh lantai. Ketika jarak mereka tinggal satu langkah, Safira menabrak pelan, memeluknya sebentar—hangat, wangi sabun yang samar, degup yang klop dengan degupnya sendiri. “Kamu hebat,” kata Safira di dekat telinganya, kalimat sederhana yang membuat udara di paru-paru Ahmad seperti terisi udara baru. Dunia menipis: bendera-bendera, bau cat, mikrofon yang berderak, semua menjadi latar dari sesuatu yang sangat jelas: kebahagiaan yang bersih, ringan, jernih. Ahmad balas menepuk punggung Safira, canggung sedikit, tapi tulus. “Kamu yang bikin aku tenang,” katanya tanpa sempat menyaringnya terlebih dulu.
Safira mundur setengah langkah, pipinya bersemu. “Aku cuma duduk dan teriak,” katanya sambil tertawa. “Tapi kalau itu cukup… aku akan duduk dan teriak lebih kencang lain kali.”
Di sisi mereka, Diva melangkah turun lebih pelan. Ia menyapu pandangan ke aula: ke sahabat-sahabat yang bersorak, ke MC yang sudah mengangkat piala akrilik kecil, ke papan skor yang menampilkan angka kemenangan mereka. Ke Ahmad—yang masih tersenyum, wajahnya menyala oleh sesuatu yang tak sempat disembunyikannya ketika Safira memeluknya tadi. Ada angin tipis melewati d**a Diva, tidak dingin, hanya membuatnya menyadari betapa rapuhnya sesuatu yang ingin ia simpan.
“Diva!” seseorang dari kelasnya memanggil, menyodorkan botol air. Ia menerimanya, mengucap terima kasih. Di tangannya yang satu lagi, ia menggenggam catatan kertas—angka-angka, tanda panah, rumus kecil, semua yang tadi membantu Ahmad menyeberangi soal terakhir. Ia melangkah ke arah mereka. Ahmad menoleh, dan untuk sesaat, mata mereka bertemu lagi. Ada pengakuan di sana—terima kasih, kagum, rasa membutuhkan—yang membuat Diva bisa bernapas lebih tenang.
“Kita menang,” kata Diva, suaranya lembut. Ahmad tersenyum lebar, akan meraih bahunya, namun tangannya berhenti di tengah udara, seolah mencari posisi yang tepat. “Iya. Berkat kamu,” katanya. Diva menggeleng. “Berkat kita.”
Safira mengangguk cepat, mengulurkan tangan ke Diva. “Kalian keren banget,” katanya. Mereka saling tos. Diva tersenyum—senyum kemenangan yang bersih, baris giginya rapi, matanya memantulkan kilau lampu panggung. Senyum itu yang akan terekam di foto, muncul di mading sekolah, dibicarakan teman-teman kelas. Dan di balik senyum itu, Diva menyelipkan sesuatu yang hanya ia sendiri yang tahu: perasaannya yang rapih dilipat, disimpan di saku seragam, menunggu hari ketika mungkin Ahmad akan menoleh bukan karena sebuah sorakan dari bangku penonton, melainkan karena ia menyadari orang yang berdiri paling dekat di sampingnya selama ini.
MC mendekat, menyerahkan piala kecil. “Selamat, X-2, Ahmad dan Diva.” Tepuk tangan lagi. Kamera ponsel berkilat. Mereka berdua mengangkat piala bersamaan. Safira, sedikit mundur, memotret—jari-jarinya bergetar ringan karena senang, bukan cemburu. “Senyum!” serunya.
Klik.
Aula kembali bergerak. Teman-teman datang, memberikan jabat tangan, backsound dari bazar memutar lagu pop yang agak sumbang. Aroma cilok kembali menyentuh hidung, bercampur dengan bau tinta dari piagam yang baru dicetak. Ahmad menatap piala, lalu menatap Safira. “Terima kasih,” katanya sekali lagi, lebih pelan, lebih berat. Safira mengangkat dua jari—peace kecil yang jenaka. “Selalu,” jawabnya.
Di belakang mereka, Diva menatap panggung yang mulai sepi. Tangannya mengusap halus permukaan piala, merasakan goresan kecil di ujung akrilik, merasakan dingin yang perlahan menjadi hangat karena telapak tangannya. Ia mengangkat wajah. Senyumnya tetap ada—senyum kemenangan yang manis, yang rapi. Ia menahan perasaan yang bergulung di baliknya, membiarkannya menjadi gelombang yang tidak pecah. Setidaknya tidak hari ini.
Hari ini, mereka menang. Dan di foto yang akan dipajang di mading, Ahmad dan Diva berdiri berdampingan, memegang piala, sementara di sudut kanan bawah, Safira terekam setengah, tertawa lepas. Dunia, untuk sedetik panjang, terasa cocok di tempatnya: riuh, berderak, harum, dan penuh hati yang bekerja keras—sebagian bersorak, sebagian diam-diam berharap—semuanya bergerak dalam ritme yang sama.