Sepulang dari college, Remy masih membawa roti buatan mereka. Bentuknya tidak beraturan dan beberapa bagian terlalu matang, tetapi dia melarang Bu Maryam membuangnya.
"Letakkan di meja makan," perintahnya.
"Roti itu keras," kata Nesia. "Kita bisa membuat yang baru."
"Ini hasil pertama."
"Justru karena pertama, sebaiknya tidak ada orang lain yang menjadi korban."
Remy memotong roti dan memakannya tanpa mengeluh. Nesia akhirnya ikut mengambil satu potong. Keduanya tertawa ketika menyadari bagian tengahnya belum matang sempurna.
"Besok kita mencoba lagi," ujar Remy.
"Bukankah Anda sibuk dengan perusahaan?"
"Aku bisa meluangkan satu jam."
Nesia merasa hangat mendengar kata kita. Sejak awal, semua urusan rumah dilakukan sendiri-sendiri. Kini Remy mulai memasukkan Nesia ke dalam rencananya, bahkan untuk hal kecil seperti membuat roti.
Malam semakin larut. Edo dan Lukas belum kembali karena masih mengurus pemeriksaan bank. Remy membawa beberapa pekerjaan ke ruang keluarga agar bisa menyelesaikannya sambil menemani Nesia.
"Anda tidak harus menjaga saya setiap saat," kata Nesia.
"Aku sedang bekerja."
"Ruang kerja Anda ada di lantai atas."
"Sofa ini lebih nyaman."
Nesia tidak membantah lagi. Dia membuka buku tata boga, sementara Remy membaca laporan. Keheningan di antara mereka tidak lagi terasa canggung.
Beberapa saat kemudian, Nesia tertidur dengan kepala bersandar pada sofa. Buku terlepas dari tangannya. Remy meletakkan laporan dan memindahkan buku tersebut ke meja.
Dia hendak memanggil Ani, tetapi memilih mengambil selimut sendiri. Saat selimut menutupi tubuh Nesia, perempuan itu terbangun.
"Saya tertidur?"
"Tidak. Kamu hanya memejamkan mata sambil mendengkur."
"Saya tidak mendengkur."
"Kamu cukup keras untuk membuatku sulit membaca."
Nesia duduk dan merapikan rambut. "Mengapa tidak membangunkan saya?"
"Kamu terlihat lelah."
Mata mereka bertemu. Nesia teringat kedekatan yang terputus oleh kedatangan Lukas beberapa hari lalu. Perasaan yang sama kembali memenuhi ruangan.
"Remy," panggilnya pelan.
"Ya?"
"Apa yang sebenarnya berubah dalam perjanjian kita?"
Remy tahu Nesia tidak sedang menanyakan pasal tertulis. "Banyak hal."
"Termasuk perasaanmu?"
Pertanyaan itu terlalu langsung. Remy bisa menghadapi wartawan, direksi, dan ancaman Armand tanpa ragu, tetapi tidak mampu menjawab satu pertanyaan sederhana dari Nesia.
"Aku tidak tahu bagaimana menyebutnya," ujar Remy akhirnya. "Aku hanya tahu rumah ini terasa berbeda ketika kamu ada. Aku khawatir jika kamu pergi dan marah ketika lelaki lain mendekatimu."
"Itu terdengar seperti cemburu."
"Mungkin."
"Tuan Edo pasti senang mendengarnya."
Remy mengerutkan kening. "Apa hubungan Edo dengan perasaanku?"
Nesia tersenyum karena hampir membocorkan taruhan yang pernah didengarnya dari Bu Maryam. "Tidak ada."
Remy mendekat. "Sekarang giliranmu menjawab. Apa perasaanmu kepadaku?"
Nesia menunduk. "Saya tidak lagi membenci Anda."
"Hanya itu?"
"Saya juga merasa aman ketika Anda berada di dekat saya."
"Itu belum menjawab pertanyaanku."
"Anda sendiri belum mengatakan cinta."
"Karena aku belum pernah mempercayai kata itu."
"Mungkin kita tidak perlu memberi nama sekarang."
Remy mengangkat tangan dan menyentuh pipi Nesia. "Kalau aku melakukan sesuatu, apakah kamu akan menyesal?"
Nesia memahami maksudnya. Pasal mengenai sentuhan tanpa persetujuan terlintas di kepala. Namun kali ini tidak ada paksaan.
"Tidak," jawabnya.
Remy mendekat perlahan, memberi kesempatan bagi Nesia untuk menjauh. Ketika perempuan itu tetap diam, bibir mereka akhirnya bertemu dalam ciuman lembut dan singkat.
Tidak ada tuntutan atau gairah berlebihan. Hanya sebuah pengakuan tanpa kata bahwa hubungan mereka telah melewati batas sandiwara.
Ketika berpisah, wajah Nesia memerah. "Pasal perjanjian kita—"
"Kita tidak melanggar apa pun."
"Pasal itu melarang sentuhan."
"Kamu memberi izin."
"Anda selalu mencari celah dalam aturan."
Remy tersenyum. "Dan kamu tetap tidak menjauh."
Nesia meraih selimut dan menggunakannya untuk menutupi wajah yang semakin panas. Remy menarik ujungnya agar bisa melihat perempuan itu kembali.
"Apakah kamu menyesal?" tanyanya.
"Tidak. Saya hanya belum terbiasa."
"Aku juga."
"Anda? Bukankah banyak perempuan ingin dekat dengan Anda?"
"Banyak orang menginginkan sesuatu dariku. Itu berbeda dengan membiarkan seseorang masuk karena aku menginginkannya."
Jawaban tersebut membuat Nesia terdiam. Dia menyadari ciuman itu mungkin sama asingnya bagi Remy, bukan secara tindakan, melainkan karena dilakukan dengan kejujuran.
"Kita tidak perlu terburu-buru," ujar Nesia.
"Aku tahu."
"Pasal lain tetap berlaku."
"Aku juga tahu."
"Dan kamar kita tetap terpisah."
Remy mengangkat alis. "Berapa banyak aturan yang akan kamu bacakan setelah satu ciuman?"
"Saya hanya memastikan Anda tidak salah memahami."
"Aku tidak akan melakukan sesuatu tanpa izinmu."
Nada seriusnya menghapus kegelisahan Nesia. Dia menurunkan selimut dan kembali duduk tenang.
"Terima kasih," katanya.
"Untuk apa?"
"Karena memberi saya kesempatan memilih. Sejak pernikahan terjadi, hampir semua keputusan dibuat orang lain."
Remy merasa bersalah mengingat caranya memaksa Nesia tinggal dan menandatangani perjanjian. "Jika bisa mengulang hari itu, aku tidak akan menggunakan ancaman."
"Apakah Anda tetap akan menikahi saya?"
Pertanyaan itu membuat Remy tersenyum tipis. "Aku akan meminta dengan cara lebih baik."
"Dan jika saya menolak?"
"Aku akan mencari cara sampai kamu setuju."
"Itu tetap terdengar seperti paksaan."
"Setidaknya tidak menggunakan pistol."
Nesia tertawa kecil. Remy ikut tersenyum, lalu menyandarkan tubuh di sofa. Setelah beberapa saat, Nesia meletakkan kepalanya di bahu pria itu. Remy merangkulnya dengan hati-hati, seolah takut gerakan yang terlalu cepat akan membuat Nesia menjauh.
Bu Maryam datang membawa teh dan berhenti di ambang pintu. Dia segera berbalik sebelum keduanya menyadari kehadirannya. Di dapur, Ani menunggu dengan rasa ingin tahu.
"Bagaimana, Bu? Mereka bertengkar lagi?" tanyanya.
Bu Maryam tersenyum lebar. "Sepertinya mulai hari ini kita harus membiasakan diri dengan rumah yang lebih tenang."
Di ruang keluarga, Nesia mengangkat kepala. "Besok kita harus memberi tahu ibu saya tentang perubahan perjanjian."
"Mengapa Sandra perlu tahu?"
"Agar beliau tidak mengira saya masih dipaksa tinggal."
"Sekarang kamu tinggal karena keinginanmu sendiri?"
Nesia menatap Remy, lalu mengangguk pelan. "Untuk saat ini, ya."
Kalimat sederhana itu terasa lebih berarti daripada tanda tangan apa pun bagi Remy.
Remy mengecup kening Nesia dengan lembut sebelum melepaskan rangkulannya. "Sekarang tidurlah. Besok kita menghadapi masalah bank bersama."
Nesia mengangguk dan berjalan menuju tangga. Di anak tangga pertama dia menoleh, mendapati Remy masih mengawasinya.
"Selamat malam, Remy."
"Selamat malam, Nesia."
Untuk pertama kalinya, mereka berpisah menuju kamar masing-masing bukan karena jarak dalam perjanjian, melainkan karena sepakat memberi waktu pada perasaan yang baru tumbuh.
Malam itu, keduanya tidur dengan senyum tenang.
Ponsel Remy berdering sebelum Nesia membalas. Lukas memberi kabar bahwa bank menyetujui pembukaan kotak penyimpanan keesokan pagi. Namun, ada satu masalah: catatan bank menunjukkan kotak tersebut sudah dibuka tiga hari lalu menggunakan identitas Nesia.
***