Polisi mengepung vila, tetapi Rania berhasil melarikan diri melalui hutan. Salah satu anak buahnya tertangkap dan mengaku mereka diperintahkan membawa dokumen serta membakar bangunan.
Remy memerintahkan petugas mengambil bukti di balik dinding gudang. Untungnya, dokumen masih utuh dan berisi foto rem mobil Helena yang sengaja dirusak, laporan mekanik, serta bukti pembayaran Armand kepada bengkel.
"Ini cukup untuk membuka kembali kasus kematian Ibu," ujar Lukas.
Remy menatap adiknya. Untuk pertama kalinya, dia tidak menyalahkan keberadaan Lukas atas tragedi tersebut. Namun, meminta maaf setelah bertahun-tahun bersikap dingin terasa sulit.
"Kita harus menemukan Anton," katanya.
Petunjuk dalam paspor palsu Anton mengarah pada sebuah rumah peristirahatan milik Armand di luar kota. Edo dan polisi bergerak lebih dahulu. Remy ingin ikut, tetapi Nesia memintanya menunggu sampai keadaan dipastikan aman.
"Kamu mulai terlalu sering melarangku," ujar Remy.
"Saya belajar dari Anda."
Mereka menunggu di sebuah penginapan dekat danau. Lukas membersihkan luka di tangannya akibat terowongan, sedangkan Nesia menyimpan kaset William dalam tas pelindung.
"Mengapa Ayah kalian menulis tempat pertama belajar menjadi saudara?" tanya Nesia.
Lukas tersenyum tipis. "Setelah kami dihukum membersihkan gudang, Tuan Remy diam-diam memberikan pakaiannya karena baju saya basah. Beliau mengancam akan mendorong saya lagi jika saya memberi tahu siapa pun."
"Aku hanya tidak ingin Papa memarahiku karena membuatmu sakit," sanggah Remy.
"Tentu saja, Tuan."
Nesia melihat keduanya dan tertawa kecil. Di balik jarak yang mereka pertahankan, ternyata sudah ada kepedulian sejak kecil.
Telepon dari Edo datang menjelang sore. Anton ditemukan terikat di rumah peristirahatan. Dia masih hidup dan bersedia memberikan keterangan jika mendapat perlindungan.
Mereka bertemu Anton di kantor polisi. Pengacara itu terlihat jauh lebih tua setelah satu malam disekap.
"Siapa saksi terakhir kecelakaan Helena?" tanya Remy tanpa basa-basi.
Anton menelan ludah. "Seorang mekanik bernama Jaka. Dia yang diperintah merusak rem, tetapi kemudian menyesal."
"Di mana dia?"
"Armand menyembunyikannya menggunakan identitas baru. Saya mengirim uang setiap bulan melalui rekening yayasan."
Anton memberikan alamat sebuah desa pesisir. Jaka tinggal sebagai nelayan dan tidak pernah meninggalkan tempat itu selama hampir dua puluh tahun.
"Mengapa dia tidak bicara?" tanya Nesia.
"Anaknya dijadikan jaminan. Armand membiayai sekolah serta seluruh hidup keluarga mereka. Jika Jaka bicara, semua bantuan dihentikan dan keluarganya diancam."
Remy marah mendengar betapa lama Armand mengendalikan hidup banyak orang. "Kamu membantu semua itu."
"Saya tahu. Saya siap bertanggung jawab. Tetapi lindungi keluarga Jaka sebelum mencarinya."
Polisi mengatur perlindungan dan mengirim tim ke desa. Anton juga mengakui dirinya yang memasukkan nama Nesia sebagai calon pengantin pengganti atas perintah Armand.
"Mengapa Armand menginginkan Nesia menikah denganku?"
"Dia tidak menginginkan pernikahan itu bertahan. Rencananya, setelah resepsi selesai, Nesia akan dipulangkan. Kedekatan sementara memberi kami kesempatan mengambil sidik jari dan memalsukan surat kuasa warisan."
"Tetapi saya membawa Nesia ke rumah," kata Remy.
"Itu di luar perkiraan. Pak Armand marah karena Anda justru membuat perjanjian dua tahun dan menjaga Nesia."
"Jadi semua yang terjadi di gedung itu sudah diatur?" tanya Nesia.
Anton menggeleng. "Dona benar-benar meninggalkan pernikahan atas tekanan ayahnya. Namun, pemilihan pengganti sudah disiapkan. Pak Armand tahu Tuan Remy tidak akan membatalkan acara karena reputasi perusahaan."
"Dan kalian yakin dia akan memilih saya?"
"Gaun pengantin diubah agar hanya cocok dengan ukuran Anda. Foto pekerja lain sengaja dihapus dari daftar. Dua pengawal hanya diberi ciri pakaian yang Anda kenakan."
Nesia merasa mual mendengar betapa rinci hidupnya dimanipulasi. Dia mengingat pistol di pinggang, ruang rias, dan rasa takut ketika dipaksa berdiri sebagai mempelai.
Remy mengetatkan rahang. "Aku yang memberi perintah kepada pengawal."
"Anda juga dimanfaatkan," ujar Nesia, meskipun luka dari kejadian itu masih ada. "Tetapi perintah itu tetap milik Anda."
"Aku tahu."
Remy menatap Nesia tanpa mencari alasan. "Aku meminta maaf. Bukan sebagai bagian dari perubahan perjanjian, melainkan karena aku merampas pilihanmu pada hari itu."
Anton dan penyidik memilih diam. Nesia tidak menyangka Remy akan mengakui kesalahannya di depan orang lain.
"Saya belum bisa melupakan semuanya," jawab Nesia. "Tetapi saya menerima permintaan maafmu."
Remy mengangguk. Jawaban itu bukan pengampunan penuh, tetapi cukup menjadi awal.
Anton kemudian mengakui bahwa surat nikah Nesia disiapkan menggunakan salinan identitas yang sudah dimiliki Armand. Petugas pencatatan menerima uang agar perubahan nama tidak dipertanyakan.
"Apakah pernikahan kami benar-benar sah?" tanya Nesia.
"Sah karena akad dilakukan langsung dan dokumen terdaftar, tetapi proses administrasinya mengandung pelanggaran," jawab Anton. "Kalian bisa mengajukan pembatalan jika menginginkan."
Remy menoleh kepada Nesia dengan cemas. Kesempatan keluar dari pernikahan kini terbuka tanpa harus menunggu batas waktu.
"Saya tidak akan mengajukan pembatalan," ujar Nesia setelah berpikir. "Bukan karena saya membenarkan caranya, tetapi karena keputusan saya sekarang berbeda dengan hari itu."
Remy menggenggam tangannya dengan rasa lega. Anton melihat keduanya dan menyadari rencana Armand justru menciptakan ikatan yang paling sulit dihancurkan.
"Ada satu alasan lain Pak Armand marah," lanjut Anton. "Pernikahan dengan keluarga Wilson membuat posisi hukum Nesia lebih kuat. Dia tidak lagi berdiri sendirian."
"Itu sebabnya dia menyerang perusahaan," ujar Lukas.
"Ya. Dia ingin memaksa Tuan Remy menceraikannya sebelum perkara warisan masuk pengadilan."
Anton juga memberikan daftar rekening luar negeri yang digunakan Armand. Polisi membutuhkan kesaksiannya untuk meminta pembekuan dana.
"Saya akan bersaksi," katanya. "Tetapi tolong bawa keluarga saya ke tempat aman lebih dahulu."
Remy menyetujui perlindungan dengan syarat Anton membuka seluruh akses dokumen. Pengacara itu menyerahkan kata sandi dan menandatangani pernyataan resmi di hadapan penyidik.
"Anda seharusnya melakukan ini sejak awal," ujar Nesia.
"Saya tahu," jawab Anton. "Ketakutan membuat saya terus menunda sampai tidak ada jalan keluar."
Nesia teringat William, Sandra, dan Tita. Semua orang membuat kesalahan ketika takut, tetapi pilihan setelahnya menentukan apakah mereka tetap menjadi bagian dari kejahatan atau mencoba menghentikannya.
Sebelum pemeriksaan berakhir, Anton memperingatkan bahwa Rania memiliki salinan tanda tangan semua pihak. Dia mungkin akan membuat dokumen baru untuk menggagalkan pengakuan warisan Nesia.
Nesia merasakan dingin menjalar di tubuhnya. Bahkan pernikahan yang selama ini dianggap kebetulan ternyata bagian dari rencana Armand.
"Apakah para pengawal yang mengancam saya juga bekerja untuk beliau?"
"Tidak. Mereka benar-benar orang Remy. Tetapi saya yang memberi informasi mengenai pekerja perempuan di gedung."
Remy menyesali perintah kasarnya pada hari itu. Dia meraih tangan Nesia di bawah meja.
Anton kemudian menyerahkan sandi untuk membuka arsip rahasia di komputernya. Di sana terdapat percakapan antara Armand dan Rania mengenai rencana rapat pemegang saham Maheswari Group.
Armand akan muncul kembali dalam rapat tiga hari lagi untuk memindahkan seluruh aset sebelum Nesia diakui sebagai ahli waris.
***