Ultimatum Armand membuat ruang rapat kembali gaduh. Beberapa pemegang saham meminta penjelasan mengenai dokumen yang memuat tanda tangan William Wilson. Remy membaca setiap halaman dengan wajah tegang.
"Papa menerima lima persen saham Maheswari tiga hari setelah kebakaran," katanya kepada Lukas.
"Tetapi kita belum tahu alasan transaksi itu," jawab Lukas.
Armand mengetuk tongkatnya ke lantai. "Alasannya sangat jelas. William dibayar untuk membawa Vanesia ke panti dan menyembunyikan identitasnya."
"Anda berbohong," ujar Sandra.
"Tanda tangannya tidak berbohong."
Nesia berdiri di sisi Remy. Jika dokumen tersebut digunakan di pengadilan, perusahaan Wilson bisa dianggap menerima hasil kejahatan. Meski demikian, ada sesuatu yang terasa tidak masuk akal.
"Jika William bekerja untuk Anda, mengapa beliau menyimpan bukti mengenai kebakaran dan kematian Helena?" tanya Nesia.
Armand tersenyum dingin. "Karena orang tamak selalu menyimpan senjata untuk mengkhianati rekannya."
"Atau karena beliau mencoba memperbaiki kesalahan setelah diancam."
"Kamu baru mengetahui namanya beberapa hari lalu. Jangan berpura-pura mengenal William lebih baik dariku."
Remy bergerak maju, tetapi Nesia menahan tangannya. Dia tidak ingin Armand berhasil memancing emosi mereka.
"Dua puluh empat jam," ulang Armand. "Setelah itu, dokumen ini akan saya serahkan kepada penyidik dan seluruh media."
"Serahkan sekarang," jawab Nesia.
Semua orang menatapnya. Bahkan Remy terlihat terkejut.
"Saya tidak akan melepaskan hak hanya karena Anda mengancam keluarga saya," lanjut Nesia. "Jika William bersalah, kebenaran harus diperiksa. Tetapi saya tidak percaya cerita Anda hanya karena selembar tanda tangan."
Armand menyipitkan mata. "Keluarga? Pernikahan kalian bahkan dimulai dengan paksaan."
"Awalnya memang salah. Tetapi keputusan saya hari ini dibuat tanpa paksaan. Saya berdiri di sisi suami saya karena saya memilihnya."
Remy menggenggam tangan Nesia. Kalimat itu lebih kuat daripada jawaban apa pun yang bisa diberikannya kepada Armand.
Polisi meminta Armand tetap berada di kota selama penyelidikan. Lelaki itu meninggalkan ruangan bersama pengacara, tetapi tidak sebelum memperingatkan Dona bahwa pilihannya akan menentukan apakah dia masih dianggap sebagai putri.
"Saya sudah terlalu lama hidup sesuai pilihan Ayah," jawab Dona. "Kali ini saya memilih kebenaran."
Setelah rapat, tim Remy memeriksa dokumen. Cap perusahaan Wilson asli, begitu pula tanda tangan William berdasarkan pemeriksaan awal. Namun, nomor transaksi mengarah pada rekening aman yang tidak pernah masuk ke pembukuan perusahaan.
"Kita perlu membuka arsip bank lama," ujar Lukas.
"Banknya sudah bergabung dengan lembaga lain," kata Edo. "Proses mendapatkan catatan bisa memakan waktu."
Nesia melihat jam. Mereka hanya memiliki waktu yang diberikan Armand, meskipun ultimatum itu tidak memiliki kekuatan hukum.
"Kita mulai dari vila," katanya. "William meninggalkan banyak petunjuk di sana. Mungkin beliau juga menjelaskan saham itu."
Remy tidak ingin kembali sebelum Rania ditangkap, tetapi polisi sudah menguasai lokasi. Mereka akhirnya pergi bersama penyidik.
Di gudang, papan tinggi badan Remy dan Lukas diperiksa lebih teliti. Di balik garis bertanggal sama dengan transaksi saham, terdapat tulisan kecil: bukan milikku, milik anak yang kuselamatkan.
"Saham itu bukan pembayaran," ujar Lukas. "Papa memegangnya untuk Nesia."
Mereka membongkar bagian dinding di belakang tulisan. Sebuah map tahan api ditemukan, berisi surat pernyataan William bahwa saham dititipkan sampai Nesia ditemukan. Dokumen tersebut disaksikan Ibu Maria dan seorang pegawai bank.
"Mengapa nama Nesia tidak tercatat?" tanya Remy.
"Karena mencantumkan nama akan membuat Armand menemukan keberadaannya," jawab penyidik.
Ada pula catatan dividen yang tidak pernah digunakan William. Seluruh uang disimpan di rekening terpisah untuk biaya pendidikan dan perlindungan anak-anak Panti Kasih Bunda.
Nesia menahan air mata. Lelaki yang tidak dikenalnya ternyata menjaga dirinya dalam diam selama bertahun-tahun.
"Papa tidak menerima bayaran," kata Remy dengan lega.
"Beliau menjaga hak saya," jawab Nesia.
Penyidik memeriksa tanda tangan saksi dengan lampu khusus. Tinta pada surat pernyataan berasal dari masa yang sama dengan transaksi saham, sehingga kecil kemungkinan dokumen itu baru dibuat.
"Kita masih membutuhkan pegawai bank yang menjadi saksi," katanya.
Nama pegawai itu tertulis sebagai Surya Mahendra. Edo mencari melalui arsip perusahaan dan menemukan lelaki tersebut sudah pensiun serta tinggal di luar kota.
"Saya akan menjemputnya," ujar Lukas.
Remy menggeleng. "Kita kirim petugas lebih dahulu. Setelah ancaman kepada Jaka, tidak ada saksi yang boleh ditemui tanpa perlindungan."
Nesia memandang pembukuan dividen. Setiap tahun William menambahkan catatan kecil mengenai jumlah anak panti yang menerima beasiswa. Pada salah satu halaman tertulis nama Nesia ketika mendapat bantuan sekolah menengah.
"Saya pernah menerima beasiswa tanpa tahu dari siapa," katanya. "Ibu Maria hanya mengatakan seorang donatur ingin saya tetap belajar."
"Papa terus mengawasimu dari jauh," jawab Remy.
"Mengapa beliau tidak pernah datang?"
"Mungkin karena takut membawa bahaya. Atau karena tidak sanggup menjelaskan seluruh kebohongan."
Nesia memahami pilihan itu, tetapi juga melihat akibat dari rahasia yang dibiarkan terlalu lama. "Kita tidak boleh melakukan hal yang sama. Setelah masalah selesai, semua anak panti harus tahu sumber bantuan dan hak mereka."
Remy mengangguk. "Kamu bisa mengelola dana tersebut secara terbuka."
"Saya belum menerima warisan."
"Aku berbicara tentang dana yang dititipkan Papa. Secara hukum, itu sudah menjadi milikmu."
Nesia menatap angka yang lebih besar daripada uang yang pernah dibayangkannya. "Saya takut kekayaan mengubah saya."
"Kalau kamu masih khawatir tentang itu, berarti kamu belum berubah."
Di halaman vila, petugas menemukan bekas sidik jari Rania pada map tahan api. Bukti tersebut menguatkan bahwa dia pernah mencoba mengambil dokumen. Polisi menerbitkan perintah pencarian baru.
Remy menerima pesan dari Armand yang hanya berisi foto jam hitung mundur. Waktu mereka tersisa delapan belas jam.
Nesia membalas menggunakan ponsel Remy: kami tidak akan menyerah.
"Kamu yakin ingin mengirimnya?" tanya Remy.
"Dia harus tahu ancamannya tidak lagi membuat kita berjalan sesuai keinginannya."
Beberapa detik kemudian, Armand menjawab bahwa Nesia akan menyesali keberanian tersebut. Remy menghapus pesan itu sebelum Nesia membacanya berulang kali.
"Apa pun yang dia lakukan, kita hadapi bersama," ujarnya.
Nesia mengangguk dan menyimpan salinan surat William dekat dadanya.
Surya akhirnya berhasil dihubungi melalui panggilan video. Mantan pegawai bank itu mengenali surat tersebut dan bersedia datang memberikan kesaksian.
"Tuan William tidak pernah mengambil satu rupiah pun," katanya. "Beliau bahkan menambah dana pribadi setiap tahun."
Armand pernah mencoba membeli diamnya, tetapi Surya menolak dan pindah keluar kota. Selama ini dia menyimpan salinan transaksi dalam kotak pengaman pribadi.
"Saya akan menyerahkannya langsung kepada penyidik," janjinya.
Keterangan itu melengkapi bukti mereka. Ultimatum Armand kehilangan kekuatan, tetapi Nesia yakin lelaki tersebut belum menyerah.
Namun, halaman terakhir map sudah disobek. Hanya tersisa sebagian kalimat yang menyebut seorang wali kedua jika William meninggal.
Nama wali itu hilang.
***