Dokumen pembatalan pernikahan membuat Nesia marah. Tanda tangannya terlihat hampir sempurna, dan surat tersebut sudah didaftarkan melalui pengadilan sehari sebelumnya.
"Rania menggunakan data biometrik serta identitas saya lagi," ujarnya.
Tim hukum menjelaskan bahwa proses bisa dihentikan jika Nesia hadir dan menyangkal permohonan. Namun, sidang awal dijadwalkan dua hari lagi.
"Armand ingin memisahkan kita secara hukum sebelum perkara warisan," kata Remy.
"Dia tidak akan berhasil."
Remy menatap Nesia. "Kamu yakin tidak ingin menggunakan kesempatan ini? Pernikahan kita dimulai dengan penipuan administrasi. Pengadilan bisa membatalkannya tanpa menjadikanmu pihak yang salah."
Nesia merasa terluka. "Apakah kamu ingin pernikahan ini berakhir?"
"Aku ingin kamu memiliki pilihan yang tidak kuberikan pada hari pertama."
"Saya sudah memilih ketika menolak pergi bersama Vino. Saya memilih lagi ketika berdiri di konferensi pers. Berapa kali saya harus membuktikan bahwa saya ingin tinggal?"
Remy mendekat. "Aku hanya takut suatu hari kamu menyesal."
"Dan saya takut kamu terus bersembunyi di balik rasa bersalah."
Nesia meninggalkan ruang kerja sebelum air matanya jatuh. Dia pergi ke taman belakang dan duduk sendirian. Rumah itu dahulu terasa asing, tetapi kini setiap sudut menyimpan bagian hidupnya.
Lukas menghampiri. "Tuan Remy tidak bermaksud mengusir Anda."
"Saya tahu. Tetapi dia selalu merasa harus memberi saya jalan keluar."
"Kakak takut kehilangan sesuatu yang mulai penting baginya. Kadang dia lebih mudah melepaskan lebih dahulu daripada menunggu ditinggalkan."
Nesia memahami luka itu berasal dari Dona, Helena, dan semua orang yang pernah hilang dari hidup Remy.
"Apakah saya harus terus menunggu sampai dia percaya?"
"Tidak. Mungkin Kakak yang harus belajar mengejar."
Lukas kembali masuk. Beberapa menit kemudian, Remy datang membawa salinan perjanjian mereka. Dia duduk di samping Nesia tanpa langsung bicara.
"Aku salah," ujarnya akhirnya.
"Bagian yang mana?"
"Mengira memberimu pilihan berarti terus menawarkan perpisahan."
Nesia menatapnya. "Saya ingin pilihan untuk tinggal, Remy."
Remy merobek halaman yang memuat batas waktu dua tahun. "Kalau begitu, kita hapus jalan keluar yang tidak lagi kita inginkan."
"Pernikahan tetap bisa berakhir jika suatu hari kita tidak bahagia."
"Aku tahu. Tetapi aku ingin mempertahankannya, bukan menunggu akhirnya."
Nesia menarik napas panjang. "Mengapa?"
Remy tidak lagi menghindari pertanyaan. Dia menggenggam kedua tangan Nesia dan menatap matanya.
"Karena aku mencintaimu."
Kalimat itu diucapkan tanpa wartawan, tanpa Dona, dan tanpa alasan menjaga reputasi. Nesia menahan air mata yang kali ini lahir dari kebahagiaan.
"Katakan lagi," pintanya.
"Aku mencintaimu, Nesia. Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan itu muncul. Mungkin ketika kamu menentang semua aturanku, atau ketika rumah ini mulai memiliki suara karena tawamu."
"Tuan Edo memenangkan taruhan," ujar Nesia di tengah tangis.
Remy mengerutkan kening. "Jadi benar ada taruhan?"
"Nanti saya jelaskan."
"Kamu belum menjawab perasaanku."
Nesia tersenyum. "Saya juga mencintaimu. Meskipun kamu arogan, suka memerintah, dan terlalu sulit mengakui kesalahan."
Remy menarik Nesia ke dalam pelukan. "Kamu bisa berhenti setelah mengatakan cinta."
"Saya hanya memastikan kamu tidak menjadi terlalu bangga."
Mereka tertawa, lalu Remy mencium Nesia dengan lembut. Tidak ada lagi keraguan bahwa hubungan tersebut bukan sekadar sandiwara.
Edo muncul dari arah ruang makan sambil bertepuk tangan. Di belakangnya, Lukas, Bu Maryam, dan Ani berdiri dengan ekspresi yang berbeda-beda.
"Akhirnya," ujar Edo. "Aku menunggu pengakuan itu lebih lama daripada menunggu pembayaran beberapa proyek."
Remy melepaskan pelukan dengan wajah tidak senang. "Berapa lama kalian berdiri di sana?"
"Cukup lama untuk memastikan aku memenangkan taruhan," jawab Edo.
Lukas menghela napas pasrah. "Saya mengaku kalah."
"Taruhan apa?" tanya Remy.
Edo menjelaskan bahwa sejak Rosa pertama kali datang, dia bertaruh Remy akan mengakui perasaan dalam satu bulan. Jika kalah, Lukas harus berhenti menggunakan sebutan tuan selama sehari.
"Taruhan itu tidak sah karena kamu tidak pernah mengatakan cinta sebelum batas waktunya," ujar Lukas.
"Dia baru saja mengatakannya dan masih tersisa dua hari," bantah Edo.
Remy menatap keduanya. "Kalian menjadikan kehidupan pribadiku bahan permainan?"
"Bukan permainan," jawab Edo. "Ini pengamatan ilmiah terhadap lelaki yang terlalu keras kepala mengenali perasaannya sendiri."
Nesia tertawa. Remy ingin marah, tetapi melihat semua orang tersenyum membuatnya mengurungkan niat.
"Mulai besok, Lukas tidak boleh memanggilku tuan selama sehari," putusnya.
Lukas terkejut. "Kakak menyetujui taruhan itu?"
"Tidak. Aku hanya ingin membiasakanmu menggunakan panggilan yang benar."
Bu Maryam mengusap air mata bahagia. Dia meminta izin menyiapkan makan malam kecil sebagai perayaan. Nesia awalnya menolak karena Dona masih dirawat dan konflik belum selesai, tetapi Remy mengatakan mereka tetap berhak menghargai satu kabar baik.
Makan malam berlangsung sederhana di taman belakang. Sandra hadir melalui sambungan video dari rumah sakit, sementara Dona mengirim pesan singkat yang hanya berbunyi selamat, meskipun diikuti peringatan agar Nesia tidak terlalu percaya pada lelaki arogan.
"Dia benar-benar kakakmu," ujar Remy setelah membaca pesan.
"Setidaknya kami sepakat mengenai sifatmu."
Setelah makan, pengacara baru membawa draf perjanjian yang sudah diubah. Halaman batas waktu dihapus atas kesepakatan keduanya. Pasal mengenai hubungan pribadi tetap menyatakan semua kedekatan harus berdasarkan persetujuan.
"Apakah kita masih membutuhkan perjanjian?" tanya Nesia.
"Untuk sementara, dokumen ini membuktikan bahwa perubahan dibuat dengan sadar," jawab pengacara. "Nanti kalian bisa mencabut seluruhnya."
Remy menandatangani lebih dahulu, kemudian menyerahkan pena kepada Nesia.
"Tidak ada paksaan," katanya.
Nesia membaca setiap halaman sebelum menandatangani. "Kali ini saya setuju karena memilih, bukan karena tidak punya jalan lain."
Mereka menyimpan dokumen baru dan meminta salinan lama disegel sebagai bukti perkara. Perjanjian yang dulu menjadi simbol keterpaksaan kini berubah menjadi catatan perjalanan hubungan mereka.
Malam itu, Remy mengantar Nesia sampai depan kamar. Dia tidak mencoba masuk dan hanya mencium keningnya.
"Aku akan menunggu sampai kamu siap mengubah aturan lainnya," ujarnya.
Nesia tersenyum. "Kesabaran sepertinya menjadi pelajaran baru untukmu."
"Jangan membuatku menunggu terlalu lama."
"Selamat malam, Remy."
"Selamat malam, istriku."
Keesokan harinya, mereka mendatangi pengadilan bersama. Nesia menyatakan tanda tangan pada permohonan pembatalan palsu dan meminta perkara dihentikan. Ahli tulisan mengonfirmasi ada perbedaan kecil pada tekanan pena.
Di luar ruang sidang, wartawan menanyakan apakah mereka mempertahankan pernikahan demi warisan.
"Kami mempertahankannya karena ini pernikahan kami," jawab Nesia. "Tidak ada orang lain yang berhak mengakhirinya menggunakan kebohongan."
Remy menggandeng tangannya saat berjalan melewati kerumunan. Namun, sebelum masuk mobil, seorang petugas pengadilan menyerahkan surat baru.
Armand mengajukan gugatan yang menyatakan Nesia bukan anak kandungnya. Dia menuduh hasil DNA lama dipalsukan oleh Sandra dan meminta tes ulang.
"Dia hanya mengulur waktu," ujar Remy.
Nesia membuka lampiran daftar laboratorium. Salah satu nama dokter yang ditunjuk pengadilan membuatnya terkejut.
Dokter tersebut adalah Ilham, dokter keluarga Remy.
***