Utang tersebut dibuat melalui puluhan perusahaan cangkang. Seluruh kontrak ditandatangani Armand, tetapi jaminannya adalah aset utama Maheswari Group. Jika tidak dibayar, perusahaan akan kehilangan pabrik, kantor, dan ribuan pekerja.
"Ini bukan utang bisnis biasa," ujar Edo setelah memeriksa dokumen. "Dana dipindahkan ke rekening luar negeri tanpa proyek yang jelas."
Dona mengenali beberapa nama perusahaan sebagai milik teman-teman Armand. "Ayah menyiapkan jalan untuk mengosongkan perusahaan jika posisinya terancam."
Nesia duduk di ujung meja rapat. Semua orang menunggu keputusannya, sesuatu yang masih terasa asing.
"Bisakah transaksi dibatalkan karena penipuan?" tanyanya.
Tim hukum mengatakan prosesnya membutuhkan waktu, sedangkan jatuh tempo hanya satu bulan. Mereka harus bernegosiasi dengan kreditur atau mencari dana sementara.
Remy menawarkan perusahaan Wilson memberikan pinjaman. Nesia langsung menolak.
"Perusahaanmu masih memulihkan proyek yang dicuri. Saya tidak ingin menyeretnya lebih jauh."
"Kita bisa menanggung risikonya."
"Tidak. Maheswari harus bertanggung jawab atas masalahnya sendiri."
Beberapa direksi meremehkan keputusan Nesia dan menyarankan menjual pabrik kecil serta memberhentikan pegawai. Nesia meminta daftar aset dan jumlah pekerja yang terdampak.
"Lebih dari dua ribu orang," jawab direktur operasional.
"Penjualan menjadi pilihan terakhir. Cari pengeluaran direksi yang bisa dihentikan lebih dahulu."
Audit menemukan mobil mewah, rumah dinas, perjalanan pribadi, dan bonus besar yang dibayar menggunakan dana perusahaan. Nesia membekukan seluruh fasilitas tersebut.
Daftar pengeluaran membuat Nesia tercengang. Satu jamuan direksi menghabiskan dana yang cukup untuk menggaji puluhan pekerja. Beberapa rumah dinas bahkan tidak pernah ditempati dan hanya digunakan sebagai investasi pribadi.
"Jual aset yang tidak berhubungan dengan operasional," putus Nesia. "Tetapi jangan sentuh pabrik atau tempat tinggal pekerja."
Direktur keuangan menghitung penjualan tersebut hanya menutup sebagian kecil utang. Mereka tetap membutuhkan restrukturisasi.
Edo mengusulkan menghubungi para kreditur satu per satu. Jika bisa dibuktikan perusahaan cangkang berada di bawah kendali Armand, sebagian kontrak dapat dibekukan.
"Kita juga perlu menjaga pemasok tetap bekerja," ujar Dona. "Kalau produksi berhenti, pemasukan hilang dan posisi kita semakin lemah."
Nesia membagi tim menjadi tiga: hukum memeriksa kontrak, operasional menjaga produksi, dan keuangan mencari aliran dana. Dia meminta laporan dibuat dalam bahasa sederhana agar bisa memahaminya.
"Seorang pemimpin seharusnya memahami laporan asli," sindir salah satu direktur.
"Seorang pembuat laporan seharusnya mampu menjelaskan pekerjaannya tanpa bersembunyi di balik istilah," balas Nesia. "Jika saya salah, koreksi. Jika Anda hanya ingin membuat saya malu, kita membuang waktu."
Ruangan menjadi sunyi. Remy tidak ikut campur, meskipun rasa bangga terlihat di wajahnya.
Mereka menghubungi bank pertama melalui konferensi video. Pihak bank awalnya menolak menunda pembayaran, tetapi Nesia meminta mereka melihat bukti rekening penerima yang ternyata masih berada dalam kelompok perusahaan Armand.
"Anda menagih Maheswari untuk uang yang kembali kepada perusahaan pemilik kreditur," ujar Nesia. "Itu bukan pinjaman, melainkan cara memindahkan aset."
Bank meminta waktu melakukan pemeriksaan internal. Dua kreditur lain memberikan jawaban serupa. Setiap penundaan kecil memberi mereka ruang bernapas.
Menjelang sore, seorang staf muda membawa bukti bahwa tanda tangan salah satu kontrak dibuat ketika Sandra sedang dirawat di luar negeri. Dokumen itu menggunakan tanda tangan digitalnya tanpa izin.
"Simpan semua data asli dan buat salinan di tempat terpisah," perintah Nesia. "Jangan sampai hilang seperti dokumen sebelumnya."
Staf tersebut mengangguk dan mengatakan banyak pegawai siap membantu audit selama identitas mereka dilindungi.
"Anda tidak bisa mengubah kebijakan hanya dalam satu hari," protes seorang direktur.
"Saya juga tidak bisa menjelaskan kepada pekerja mengapa mereka kehilangan pekerjaan sementara direksi mempertahankan mobil ketiga."
Dona tersenyum melihat keberanian adiknya. Dia menyerahkan akses saham pribadinya sebagai jaminan negosiasi dan meminta bank memperpanjang jatuh tempo.
"Saya kira Anda tidak ingin kehilangan warisan," ujar Nesia.
"Perusahaan yang bangkrut tidak memberi warisan kepada siapa pun."
Keduanya bekerja sampai malam. Remy membawa makanan dan memaksa Nesia berhenti selama beberapa menit.
"Kamu belum makan sejak siang," katanya.
"Masih banyak dokumen."
"Pekerjaan tidak akan selesai jika kamu pingsan."
Dona mendukung Remy untuk pertama kali. "Pergilah makan. Aku akan memeriksa daftar kreditur."
Nesia akhirnya menurut. Di ruang kecil sebelah kantor, Remy menyuapinya satu sendok sup karena tangannya masih memegang berkas.
"Saya bisa makan sendiri."
"Kamu mengatakan hal yang sama ketika menyuapiku dahulu."
"Anda pendendam."
"Aku hanya memiliki ingatan yang baik."
Momen sederhana itu membuat Nesia merasa tidak sendirian. Setelah makan, dia kembali ke rapat dengan tenaga baru.
Bank terbesar bersedia menunda jatuh tempo jika Maheswari menyerahkan bukti bahwa utang dibuat melalui penipuan. Rekaman Anton dan data transaksi cukup untuk membuka penyelidikan, tetapi mereka membutuhkan tanda tangan Armand pada dokumen asli.
Dokumen tersebut dibawa Rania ketika ditangkap, namun halaman tanda tangan hilang dari map.
Rania menolak memberi tahu lokasinya. Dia hanya meminta kekebalan hukum penuh, sesuatu yang tidak bisa diberikan polisi.
Nesia memutuskan menemuinya di rumah tahanan. "Apa yang Anda inginkan selain kebebasan?"
"Hak ibu saya yang dirampas keluarga Maheswari," jawab Rania. "Berikan sepuluh persen saham dan saya serahkan dokumennya."
"Anda meminta hadiah setelah menculik ibu saya dan menyerang keluarga kami?"
"Itu harga untuk menyelamatkan dua ribu pekerjaan."
Nesia tidak langsung menolak. Dia meminta bukti bahwa Rania benar-benar memiliki halaman tersebut.
Rania tersenyum dan menyebut sebuah nomor seri yang hanya tercantum pada kontrak asli.
"Waktu kalian tinggal dua puluh delapan hari," katanya. "Setelah itu, perusahaan menjadi milik kreditur Armand."
Ancaman tersebut tidak lagi menyasar satu keluarga saja. Kehidupan ribuan pegawai kini ikut bergantung pada keputusan yang akan diambil Nesia.
Nesia kembali ke kantor dan menyampaikan tuntutan tersebut. Tim hukum melarang kesepakatan saham, tetapi menyarankan mediasi hak keluarga Rania bisa dilakukan terpisah dari perkara pidana.
"Kalau dia hanya menginginkan uang, dia tidak akan menyimpan surat ibunya selama ini," ujar Sandra melalui panggilan video. "Rania ingin keluarganya diakui."
Remy tetap curiga. "Dia juga ingin menggunakan dua ribu pekerjaan sebagai alat tawar."
"Keduanya bisa benar," jawab Nesia. "Dia melakukan kejahatan dan keluarganya pernah diperlakukan tidak adil. Mengakui satu hal tidak menghapus yang lain."
Nesia meminta salinan seluruh surat keluarga sebelum menemui Rania lagi. Gunawan menemukan catatan kakek Maheswari mengenai Laras, ibu Rania. Catatan itu menyatakan Laras seharusnya menerima bagian tertentu, tetapi dokumen resmi belum pernah dibuat.
"Kita tawarkan penyelesaian berdasarkan nilai wajar, bukan angka yang dia paksa," putus Nesia. "Sebagai imbalannya bukan kebebasan, melainkan kerja sama menemukan aset perusahaan."
Tim menyetujui strategi tersebut. Nesia tidak menyerah kepada ancaman, tetapi juga tidak mengulangi ketidakadilan generasi sebelumnya.
***