Pesan Rico membuat polisi segera mengevakuasi kebun. Sebuah mobil mencurigakan ditemukan di jalan utama, tetapi pengemudinya hanya kurir yang dibayar mengantarkan telepon sekali pakai.
Tita dibawa ke rumah sakit. Lukanya tidak parah, namun obat penenang membuatnya tertidur hampir sepanjang malam. Ibunya tidak melepaskan tangannya.
"Dia diculik karena undangan saya," kata Nesia.
"Dia diculik karena Rico memilih berbuat jahat," jawab Remy. "Jangan mengambil kesalahan orang lain dan menjadikannya milikmu."
Kalimat itu terdengar seperti nasihat yang dahulu sering Nesia berikan kepadanya. Dia menyadari mereka benar-benar mulai saling mengubah.
Pihak kepolisian merekomendasikan pernikahan ditunda. Denah yang ditemukan membuktikan Rico mengetahui jalur layanan dan pintu darurat Martha Hall. Seluruh pekerja harus diperiksa ulang.
Nesia dan Remy mengumumkan penundaan tanpa menyebut rincian ancaman. Tidak ada tanggal baru. Sebagian relasi bisnis mengeluh karena sudah memesan perjalanan, tetapi Remy mengembalikan seluruh biaya mereka.
"Anda tidak perlu membayar semua itu," kata Nesia.
"Aku yang awalnya ingin mengundang mereka. Anggap saja biaya belajar mendengarkanmu."
Anak-anak panti paling kecewa. Mereka sudah menyelesaikan kartu nama dan berlatih menyanyi. Nesia datang menjelaskan bahwa acara hanya berpindah hari, bukan dibatalkan.
Seorang anak bernama Mila mengangkat tangan. "Kak Nesia masih jadi pengantin Om Remy?"
"Masih, kalau Om Remy tidak menginjak kaki Kakak saat berdansa."
Remy berjanji berlatih lebih keras. Tawa anak-anak membuat beban di dada mereka berkurang.
Di rumah sakit, Tita sadar dan memberikan keterangan. Rico tidak pernah menunjukkan wajah. Dia memakai topeng dan mengubah suara melalui alat. Namun, Tita mendengar seseorang meneleponnya dan menyebut nama Adrian.
"Adrian sudah ditahan," ujar Raka.
"Mungkin Rico berbicara dengan orang di dalam tahanan," kata Lukas.
Catatan kunjungan menunjukkan seorang pengacara menemui Adrian dua kali. Pengacara itu, Surya, pernah bekerja untuk perusahaan Armand dan kini mengurus pembelaan Bram. Polisi menduga dia menjadi penghubung antara tiga tahanan dan Rico.
Surya dipanggil, tetapi kantornya sudah kosong. Rekaman gedung menunjukkan dia pergi membawa dua koper satu jam setelah operasi di kebun gagal.
Miriam mengenal namanya. Surya pernah membantu William membuat perusahaan cangkang untuk melacak uang Armand. Setelah William meninggal, dokumen perusahaan jatuh ke tangannya.
"Dia bukan sekadar pengantar pesan," kata Miriam. "Dia tahu semua rekening dan tempat persembunyian."
Polisi membekukan aset Surya. Salah satu rekening baru saja membayar sewa kapal kecil di pelabuhan. Tim bergerak, tetapi kapal ditemukan terbakar dan kosong. Semua petunjuk seolah sengaja ditinggalkan agar polisi terus terlambat.
Dona mendatangi Armand lagi. Dia ingin tahu hubungan Surya dengan ayahnya.
Armand mengaku menggunakan pengacara itu untuk menyuap pejabat dan menghapus catatan kepemilikan tanah. Surya menyimpan salinan semua transaksi sebagai jaminan.
"Saya menciptakan orang yang tahu bahwa rahasia lebih berharga daripada kesetiaan," ujar Armand.
"Lalu Ayah membiarkannya dekat dengan keluarga."
"Saya pikir uang bisa mengendalikannya."
Dona menahan kecewa. "Ayah selalu berpikir semua orang bisa dikendalikan."
Armand memberikan kode sebuah brankas pribadi di kantor Surya. Polisi menemukan paspor palsu, uang tunai, dan foto Rico bersama Surya. Pada bagian belakang foto tertulis lokasi pertemuan berikutnya: makam Helena, Jumat tengah malam.
Raka menduga itu jebakan, tetapi tanggalnya masih dua hari lagi. Mereka memasang pengawasan tanpa mendekati makam.
Sementara menunggu, Nesia mengajak Dona menginap sekamar. Keduanya berbicara sampai larut tentang masa kecil yang berbeda. Dona mengaku iri karena Nesia tumbuh tanpa tuntutan nama Maheswari. Nesia justru iri karena Dona memiliki foto ulang tahun bersama Sandra.
"Ternyata kita sama-sama melihat hidup orang lain dari bagian yang indah saja," kata Nesia.
Dona tersenyum. "Kalau semua ini selesai, kita buat ulang tahun bersama."
"Tanggal lahir kita berbeda empat bulan."
"Kita punya cukup uang untuk dua kue."
Pada Jumat malam, seseorang akhirnya datang ke makam Helena. Bukan Rico atau Surya, melainkan Bu Nita. Dia membawa bunga dan sebuah amplop yang diterimanya tanpa nama.
Di dalam amplop terdapat foto Remy saat masih kecil serta pesan singkat.
Selama dua hari menunggu operasi makam, persiapan pernikahan benar-benar dihentikan. Bunga yang sudah dipesan dialihkan ke rumah sakit dan panti. Makanan uji coba dibagikan kepada keluarga pasien. Nesia meminta tidak ada yang terbuang hanya karena tanggal mereka berubah.
Para pekerja Martha Hall datang ke rumah untuk menyampaikan dukungan. Mereka tidak menuntut acara segera dilakukan. Bu Nita membayar upah mereka dari dana gedung, sedangkan Remy menyediakan pekerjaan sementara bagi kru keamanan yang harus menjalani pemeriksaan.
"Saya takut semua orang akan menyalahkan kami," kata Nesia setelah rombongan pulang.
"Mereka melihat kamu memikirkan keselamatan mereka," jawab Remy. "Itu alasan mereka tetap tinggal."
Nesia menyadari penundaan ini berbeda dari pernikahan pertama. Dulu dia tidak memiliki suara dalam menentukan hari, gaun, bahkan lelaki yang berdiri di sebelahnya. Kini keputusan menunda dibuat bersama dan dapat dijelaskan kepada orang-orang yang terdampak.
Tita pun menelepon dari rumah sakit. Dia kecewa tidak bisa membantu menyusun bunga, tetapi berjanji menjalani terapi trauma dan tidak memaksakan diri datang bila dokter melarang.
"Untuk pertama kalinya kamu memberi keputusan yang masuk akal," goda Nesia.
"Saya belajar dari penculikan. Gurunya terlalu ekstrem."
Di sisi lain, dewan perusahaan mendesak Remy segera meninggalkan kota. Ancaman dianggap dapat merusak kepercayaan investor. Remy menolak memakai pesawat pribadi untuk kabur, tetapi menyetujui seluruh rapat dilakukan daring agar kegiatan bisnis tidak berhenti.
Dona ikut dalam rapat dan menjelaskan bahwa keluarga tidak akan menyembunyikan ancaman demi harga saham. Sikapnya mengejutkan para direktur yang mengenalnya sebagai putri Armand. Setelah rapat, Dona mengaku tangannya dingin sepanjang waktu.
"Berani bukan berarti tidak takut," kata Nesia. "Berani berarti tetap berkata benar ketika suara kita gemetar."
Malam di makam membuktikan keberanian itu masih akan diuji. Amplop untuk Bu Nita menggunakan kertas dari kantor Surya, tetapi sidik jari di atasnya sudah dibersihkan. Foto masa kecil Remy diambil dari album Helena yang pernah hilang setelah kematiannya.
Jika pengirim benar-benar mengetahui kematian William, rahasia keluarga mereka belum selesai.
Jika ingin mengetahui siapa yang membunuh William, datang sendiri.
***