Pintu Martha Hall terbuka. Nesia melihat lorong yang dahulu dilewatinya sebagai pekerja pengganti, takut dan tidak mengerti mengapa seorang lelaki asing memilihnya. Kini setiap langkah adalah pilihannya sendiri.
Sandra berjalan di sebelah kiri, Bu Nita di kanan. Dona mengikuti bersama Rosa. Anak-anak panti menaburkan kelopak yang beberapa kali justru mengenai kepala tamu.
Remy berdiri di ujung lorong dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak melihat pewaris Maheswari atau perempuan yang pernah terikat kontrak. Dia melihat Nesia, seseorang yang mengajarinya bahwa cinta tanpa kebebasan hanyalah bentuk kepemilikan.
Ketika sampai di depan, Sandra menyerahkan tangan Nesia bukan kepada Remy, melainkan membiarkannya memilih mengulurkan sendiri.
"Saya datang karena saya mau," kata Nesia pelan.
"Dan aku menerimamu tanpa syarat," jawab Remy.
Pemimpin upacara membacakan riwayat singkat Martha Hall dan menyebut Helena serta Martha. Bu Nita menangis ketika nama ibunya terdengar. Remy memandang foto Helena di ruang arsip, seolah meminta ibunya menyaksikan dari sana.
Janji mereka ditulis sendiri. Remy berbicara lebih dahulu.
"Aku tidak berjanji selalu tahu keputusan yang benar. Aku berjanji tidak akan mengambilnya sendirian. Aku tidak akan memakai rasa takut untuk mengurungmu, nama keluarga untuk mengecilkanmu, atau cinta sebagai alasan menyembunyikan kebenaran."
Nesia menarik napas agar suaranya tidak pecah.
"Saya tidak berjanji akan selalu sabar menghadapi sifat keras kepala Anda. Saya berjanji mengatakan yang sebenarnya, bahkan ketika itu sulit. Saya akan berjalan di samping Anda, bukan di belakang, dan mengingatkan bahwa rumah adalah tempat kita saling memilih setiap hari."
Edo menangis paling keras sampai Lukas memberinya saputangan. Tita duduk bersama ibunya. Vino serta Bu Tuti berada beberapa baris di belakang dan tersenyum tanpa kesedihan yang perlu disembunyikan.
Saat cincin dipasang, tangan Remy gemetar. Nesia berbisik bahwa dia pernah memegang pistol dengan lebih tenang.
"Pistol tidak bisa mengatakan tidak," balas Remy.
"Saya sudah mengatakan ya."
Tepuk tangan memenuhi gedung setelah mereka dinyatakan menikah. Remy mencium kening Nesia terlebih dahulu, menunggu persetujuannya, kemudian menciumnya saat Nesia menarik kerah jasnya.
Jamuan berlangsung tanpa panggung mewah. Para pekerja duduk bersama pemilik perusahaan. Makanan disiapkan usaha kecil milik alumni panti. Di setiap meja terdapat kartu buatan anak-anak dan buku yang dapat disumbangkan untuk perpustakaan.
Edo memberi sambutan tentang bagaimana Remy berubah dari lelaki yang menganggap pernikahan sebagai urusan darurat menjadi suami yang membutuhkan rapat untuk memilih warna serbet. Remy hendak merebut mikrofon, tetapi Nesia menahannya.
Lukas melanjutkan dengan cerita saat Remy belajar meminta maaf. Dia tidak menyebut semua bahaya, hanya mengatakan kakaknya akhirnya menemukan seseorang yang cukup berani menolak perintahnya.
Dona berdiri membawa gelas. Suaranya sempat hilang ketika menatap Nesia.
"Saya mengenal adik saya terlambat," katanya. "Lebih buruk lagi, saya mengenalnya sebagai musuh sebelum mengetahui bahwa kami keluarga. Dia mengajari saya bahwa hubungan darah tidak otomatis membuat seseorang layak disebut keluarga. Perbuatanlah yang melakukannya. Saya berharap bisa membuktikan diri sepanjang hidup kami."
Nesia memeluknya di tengah tepuk tangan. Sandra ikut mendekat dan foto mereka diambil tanpa pose sempurna, persis seperti foto makan malam sebelumnya.
Bu Maryam menolak memberi sambutan, tetapi anak-anak panti menyeretnya ke depan. Dia hanya berkata bahwa rumah Remy dahulu sangat sunyi dan Nesia datang membawa suara, masalah, serta terlalu banyak orang.
"Sekarang Tuan Remy kadang mengeluh," katanya. "Tetapi saya belum pernah melihat beliau sebahagia ini."
Musik dansa dimulai. Remy berhasil melewati setengah lagu sebelum menginjak ujung gaun Nesia. Mereka hampir jatuh, lalu tertawa dan melanjutkan tanpa peduli gerakan yang sudah dilatih.
Sandra berdansa dengan Lukas, Dona dengan Liana, dan Edo mengajak Bu Maryam. Vino sempat berdiri sendiri sebelum Tita mengajaknya sebagai dua orang yang sama-sama sedang belajar melepaskan masa lalu.
Di rumah sakit tahanan, Dona mengirim satu foto kepada Armand melalui pengacaranya. Foto itu memperlihatkan Nesia tersenyum di antara Sandra dan Dona. Tidak ada pesan lain.
Armand memandangnya lama, lalu meminta penjaga menyimpannya bersama surat dakwaan. Dia tahu tidak memiliki hak hadir dalam kebahagiaan itu, tetapi setidaknya kedua putrinya tidak lagi saling menghancurkan demi kesalahannya.
Menjelang malam, Nesia dan Remy mengunjungi ruang arsip. Buket diletakkan di bawah foto Helena dan Martha. Kancing manset keluarga Sandra masih terikat, sedangkan syal Helena membungkus tangkainya.
"Kita membawa semua keluarga di sini," kata Nesia.
"Yang baik dan yang buruk."
"Supaya kita ingat apa yang ingin diteruskan dan apa yang harus dihentikan."
Remy mengeluarkan selembar kertas terlipat. Nesia menatap curiga, mengira dia membawa kontrak baru. Ternyata itu kontrak pernikahan lama mereka yang sudah dibatalkan.
Mereka merobeknya bersama menjadi potongan kecil. Nesia tidak membakarnya karena alarm gedung baru terlalu sensitif. Potongan itu dimasukkan ke kotak arsip dengan keterangan bahwa dokumen tersebut tidak lagi berlaku.
Di luar, para tamu memanggil mereka untuk foto terakhir. Remy menawarkan tangan, tetapi tidak menariknya.
Nesia menggenggam tangan itu atas pilihannya sendiri dan berjalan bersamanya menuju keluarga yang menunggu.
Foto bersama berlangsung kacau. Anak-anak sulit berdiri diam, Edo salah mengambil tempat, dan Bu Maryam berkali-kali berusaha pindah ke belakang. Nesia menariknya kembali ke sisi Sandra. Tidak ada baris untuk pemilik dan pekerja, hanya orang-orang yang pernah menjaga mereka.
Sesudah tamu pulang, kru gedung menemukan sebuah kartu tertinggal. Itu milik seorang pekerja lama yang pernah dipecat William setelah mempertanyakan keselamatan pabrik. Di belakang kartu tertulis ucapan terima kasih karena Remy membuka audit.
Remy membacanya dua kali. Dia mengaku takut acara bahagia mereka dianggap tidak pantas ketika begitu banyak korban masih menunggu keadilan.
"Bahagia bukan berarti kita melupakan mereka," kata Nesia. "Besok kita kembali bertanggung jawab. Malam ini kita bersyukur masih diberi kesempatan."
Mereka membantu memasukkan buku sumbangan ke kotak sebelum meninggalkan gedung. Jumlahnya jauh melampaui kapasitas rak pertama. Remy berjanji membuat rak tambahan, tetapi Nesia mengingatkan dia pernah gagal memasak nasi dan sebaiknya menyerahkan pekerjaan kayu kepada Vino.
Mobil pengantin bukan kendaraan mewah, melainkan mobil lama Bu Nita yang dahulu sering dipakai mengantar pekerja. Pada kaca belakang, Mila menempelkan tulisan: menikah karena saling memilih.
Remy tidak meminta tulisan itu dilepas. Sepanjang perjalanan pulang, dia dan Nesia terus menoleh untuk membacanya sambil tersenyum.
***