Pagi setelah peresmian yayasan, Nesia dan Remy membuka lima surat di ruang kerja. Tidak ada pengawal atau pengacara. Mereka sepakat membaca sebagai manusia sebelum menanggapinya sebagai keluarga pemilik perusahaan.
Surat pertama berasal dari istri pekerja yang kehilangan pendengaran akibat ledakan mesin. Surat kedua ditulis anak petugas kebersihan yang sakit karena bahan kimia. Tiga surat lain berisi permintaan serupa: jangan hanya membayar, dengarkan bagaimana kehidupan mereka berubah.
"Kita menemui mereka satu per satu," kata Nesia.
Remy mengangguk. "Dengan tim hukum?"
"Tanyakan dahulu apakah mereka menginginkannya."
Pertemuan pertama dilakukan di rumah sederhana dekat kawasan pabrik. Pak Darman, mantan operator mesin, tidak dapat mendengar suara Remy dengan jelas. Putrinya menerjemahkan menggunakan bahasa isyarat.
Remy menyampaikan permintaan maaf perusahaan. Pak Darman tidak langsung menjawab. Dia mengambil seragam lama yang hangus pada bagian lengan dan meletakkannya di meja.
"Ayah tidak ingin dikasihani," terjemah putrinya. "Dia ingin perusahaan mengakui bahwa alat pelindung yang diberikan tidak layak."
Remy menandatangani pernyataan pengakuan tanpa syarat kerahasiaan. Pak Darman meminta pusat pelatihan keselamatan dibangun untuk pekerja muda. Dia tidak ingin namanya dipasang pada gedung, hanya ingin para pekerja boleh menghentikan mesin tanpa takut dipecat.
Usul itu dibawa ke dewan yayasan. Perwakilan serikat meminta kewenangan menghentikan produksi jika ditemukan bahaya. Beberapa direktur menolak karena potensi kerugian. Lukas menjawab satu jam produksi tidak lebih mahal daripada satu nyawa.
Pemungutan suara akhirnya menyetujui aturan baru. Nesia memperhatikan Remy tidak memimpin rapat dari kursi utama. Dia duduk sejajar dengan perwakilan korban dan hanya berbicara ketika diminta.
Surat kedua membawa mereka kepada Sariyah, anak petugas kebersihan yang meninggal karena penyakit paru-paru. Selama bertahun-tahun, perusahaan menyebut penyakit itu tidak berhubungan dengan pekerjaan.
Sariyah tidak mau menerima uang sebelum seluruh mantan pekerja diperiksa gratis. "Ibu saya sudah meninggal. Jangan tunggu orang lain meninggal agar hasil pemeriksaannya terlihat murah."
Remy menyetujui program kesehatan seumur hidup bagi pekerja yang terpapar. Dia tahu biaya besar akan membuat dewan kembali menyerang, tetapi kali ini laporan medis berada di pihak korban.
Dalam perjalanan pulang, Nesia melihat suaminya diam terlalu lama.
"Anda merasa bersalah?"
"Aku tumbuh dari keuntungan yang dibayar kesehatan mereka."
"Rasa bersalah boleh membuat Anda berhenti, atau membuat Anda bertanggung jawab. Pilih yang kedua."
Di Martha Hall, pusat bantuan hukum mulai dibuka. Ruangan lama penyimpanan dekorasi diubah menjadi kantor kecil. Tita menawarkan diri menjadi petugas administrasi paruh waktu setelah menyelesaikan terapi awal.
"Saya tidak punya pengalaman hukum," katanya.
"Tugasmu mengatur jadwal dan mendengarkan, bukan menjadi pengacara," jawab Nesia.
Miriam merekrut dua advokat perempuan. Salah satunya pernah menjadi pengacara buruh dan tidak terkesan dengan nama Wilson. Dia meminta kontrak yang menjamin pusat bantuan bebas menggugat perusahaan Remy sendiri.
Remy menandatangani. "Kalau kami salah, gugat kami."
Nesia menyimpan salinan kontrak itu di dinding, bukan dalam brankas.
Sementara itu, Dona menerima kabar bahwa jaksa akan tetap mendakwanya atas penyuapan dan persekongkolan. Kerja samanya hanya menjadi pertimbangan hukuman. Sandra ingin menyewa pengacara terbaik untuk mencari celah, tetapi Dona menolak strategi menyangkal semua perbuatan.
"Saya akan menjelaskan bagaimana Ayah mengendalikan saya," katanya. "Tetapi saya juga akan mengakui pilihan yang saya buat sendiri."
Nesia menawarkan menemani. Dona meminta adiknya datang sebagai keluarga setelah kesaksian selesai, bukan duduk di belakang pengacara seolah harus menyelamatkannya.
Malam hari, surat kelima dibuka. Berbeda dari yang lain, surat itu bukan tuntutan. Penulisnya adalah mantan sekretaris Helena yang tinggal di luar kota. Dia membaca berita tentang audit dan ingin menyerahkan buku harian terakhir Helena.
Remy menelepon nomor di dalam surat. Perempuan bernama Ibu Ratri bersedia datang ke Martha Hall, tetapi menolak mengirim buku melalui kurir.
"Ada sesuatu tentang Nyonya Helena yang harus Anda ketahui sebelum persidangan," katanya. "Sesuatu yang bahkan William tidak pernah temukan."
Nesia dan Remy saling memandang. Mereka sudah berjanji tidak membiarkan rahasia menjadi bom di dalam keluarga.
"Datanglah besok," jawab Remy. "Kami akan mendengarkan semuanya."
Sebelum pertemuan dengan Ratri, mereka menyelesaikan tiga surat lain. Seorang mantan mandor meminta bertemu di pabrik lama, tepat di bawah papan keselamatan yang dahulu hanya menjadi hiasan. Dia mengaku pernah diperintah memalsukan jam kerja agar kecelakaan malam tidak tercatat.
"Saya ikut bersalah," katanya. "Tetapi kalau saya menolak, anak saya tidak makan."
Remy tidak segera menawarkan pembenaran atau hukuman. Tim independen mencatat keterangannya dan memberi perlindungan sebagai pelapor. Nesia melihat betapa sistem yang dibangun William membuat korban sekaligus dipaksa menjadi bagian dari kebohongan.
Surat berikutnya datang dari keluarga manajer yang bunuh diri setelah dijadikan kambing hitam. Mereka tidak meminta uang. Mereka meminta perusahaan mencabut pengumuman lama yang menyebutnya pencuri.
Lukas menemukan bukti bahwa Surya memindahkan dana melalui akun manajer itu. Nama lelaki tersebut dibersihkan dalam catatan perusahaan, dan permintaan maaf diterbitkan tanpa menyalahkan pegawai yang sudah meninggal.
Pertemuan terakhir berlangsung paling sulit. Seorang putra korban menolak berjabat tangan dengan Remy dan mengatakan seluruh program hanyalah cara baru keluarga Wilson mengendalikan cerita.
"Mungkin Anda benar untuk meragukan saya," jawab Remy. "Karena itu laporan dan uang pemulihan tidak akan saya kelola."
Dia memperlihatkan susunan dewan independen serta hak korban mengganti pengurus. Lelaki itu belum percaya, tetapi bersedia datang pada pertemuan berikutnya.
Nesia mengatakan kemajuan tidak selalu terlihat seperti pelukan atau ucapan terima kasih. Kadang-kadang, kemajuan hanya berupa seseorang yang sebelumnya menutup pintu dan kini bersedia meninggalkannya sedikit terbuka.
Remy menempelkan kelima surat pada papan kerja, disertai status tindak lanjut yang dapat dilihat semua anggota yayasan. Tidak satu pun disimpan sebagai korespondensi pribadi. Setiap janji memiliki nama penanggung jawab dan tanggal pemeriksaan.
Saat itulah mereka memahami buku harian Helena bukan satu-satunya hal yang menunggu ditemukan. Kepercayaan para korban juga terkubur bertahun-tahun dan harus digali perlahan, tanpa berharap hasil yang cepat.
***