Permohonan Dewi tidak berarti anak-anak harus segera pindah. Petugas melakukan penilaian selama tiga bulan dan meminta semua pihak menghindari janji yang menekan pilihan Rafi serta Sasa.
Dewi tinggal di apartemen sederhana dengan dua kamar. Dia menyiapkan ruang untuk anak-anak, tetapi tidak mengecatnya sebelum bertanya warna yang mereka sukai.
Rafi ingin melihat tempat itu. Sasa menolak menginap tanpa Nesia. Mereka memulai dengan kunjungan siang, kemudian satu malam akhir pekan.
Sepulangnya, Sasa bercerita penuh semangat tentang masakan yang rasanya seperti buatan ibunya. Remy tersenyum, lalu pergi ke ruang kerja. Nesia menemukannya menatap jadwal kunjungan.
"Saya juga cemburu," kata Nesia.
"Kamu terlihat tenang."
"Tenang bukan berarti tidak takut."
Mereka mengakui keinginan egois agar Dewi gagal penilaian. Konselor meminta mereka tidak menghukum diri atas perasaan, selama tidak menjadikannya keputusan bagi anak-anak.
Dewi sendiri merasa tidak diterima. Dia menuduh kekayaan Remy membuat petugas lebih memihak rumah besar. Nesia mengundangnya berbicara tanpa pengacara.
"Kami tidak bersaing menjadi keluarga terbaik," kata Nesia. "Pertanyaannya adalah apa yang dibutuhkan Rafi dan Sasa."
"Mereka membutuhkan darah mereka sendiri."
"Mereka membutuhkan hubungan yang aman. Darah bisa menjadi bagian, bukan jaminan."
Dewi tersinggung, tetapi kemudian meminta maaf. Dia mengaku merasa harus menggantikan kakaknya dan menebus tahun-tahun ketidakhadiran sekaligus.
Petugas menyarankan rencana dua rumah. Anak-anak tetap di bawah perwalian Nesia dan Remy selama sekolah, lalu tinggal bersama Dewi pada sebagian liburan. Setelah satu tahun, keputusan dievaluasi kembali.
Rafi menolak. Dia tidak ingin hidupnya berubah menjadi jadwal yang dibuat orang dewasa.
"Saya ingin tahu rumah mana yang benar-benar rumah saya," katanya.
Nesia bertanya apa arti rumah menurutnya. Rafi menjawab tempat yang tidak hilang ketika dia memilih mengunjungi tempat lain.
"Kalau begitu, rumah ini tidak hilang," kata Remy. "Apa pun keputusan tahun depan."
Sasa bertanya apakah membawa pakaian ke rumah Dewi berarti kamarnya akan diberikan kepada orang lain. Bu Maryam menguncinya di depan Sasa dan menyerahkan kunci cadangan.
"Kamar itu menunggu sampai Nona pulang," katanya.
Masa percobaan dimulai. Dewi menghadiri pertandingan Rafi bersama Remy. Keduanya sempat berdebat karena Dewi ingin Rafi ikut kursus tambahan, sedangkan Remy merasa jadwalnya sudah padat.
Rafi menyela. "Mengapa tidak ada yang bertanya kepada saya?"
Kedua orang dewasa langsung diam. Rafi memilih satu kursus musik, bukan pelajaran tambahan yang diusulkan keduanya.
Sasa lebih sulit menyesuaikan diri. Setelah menginap di rumah Dewi, dia kembali menyembunyikan roti. Pendamping menjelaskan perubahan rutinitas dapat membangkitkan ketakutan lama meskipun kunjungan menyenangkan.
Dewi merasa gagal dan ingin menghentikan kunjungan. Nesia mengatakan mundur tiba-tiba justru mengulang kehilangan. Mereka memperpendek waktu dan mempertahankan jadwal tetap.
Perlahan, Sasa mulai meninggalkan mainan di dua rumah. Rafi menyimpan buku di apartemen Dewi dan sepatu bola di rumah Remy.
Saat ulang tahunnya, Rafi meminta pesta di panti agar tidak harus memilih tempat. Bu Sari mengundang semua orang. Dewi memasak makanan keluarga, Bu Maryam membuat kue, dan Edo mengatur pertandingan yang berakhir dengan jendela hampir pecah.
Di depan lilin, Rafi berharap tidak ada orang dewasa yang bertengkar tentang dirinya lagi.
Remy dan Dewi mendengar. Mereka menandatangani kesepakatan untuk menggunakan mediator dalam setiap perbedaan besar dan tidak membicarakan perebutan hak asuh di depan anak.
Setelah pesta, Dewi menarik permohonan hak asuh penuh. Bukan karena menyerah, tetapi karena menyadari anak-anak sudah memiliki hubungan yang tidak perlu dihancurkan agar dia mendapat tempat.
"Saya ingin menjadi tante mereka, bukan pemenang perkara," katanya.
Rafi memeluknya untuk pertama kali. Sasa menggandeng tangan Dewi dan Nesia sekaligus.
Mereka pulang dari panti dengan dua mobil menuju alamat berbeda. Namun, Rafi tidak lagi bertanya rumah mana yang benar. Dia tahu keduanya dapat ada tanpa saling menghapus.
Rencana dua rumah dievaluasi setiap bulan. Awalnya Rafi sering sakit perut menjelang perpindahan. Konselor menjelaskan tubuhnya menyampaikan kecemasan yang belum mampu diucapkan.
Dewi lalu datang makan malam sebelum anak-anak menginap. Perpindahan tidak lagi terasa seperti penyerahan. Remy dan Dewi memakai buku komunikasi yang juga boleh dibaca Rafi sehingga tidak ada pembicaraan tentang dirinya yang disembunyikan.
Ketika Sasa demam di apartemen Dewi, Remy ingin langsung menjemput. Nesia menahannya karena Dewi sudah membawa Sasa ke dokter. Mereka datang sebagai keluarga, bukan untuk mengambil alih.
Pada evaluasi akhir, Rafi mengatakan dua rumah tidak membuatnya bingung. Pertengkaran orang dewasa yang membuatnya takut. Setelah mediasi berjalan, sakit perutnya berkurang.
Dewi mengakui dirinya tidak perlu memenangkan perkara untuk menjadi tante. Nesia dan Remy mengakui keluarga kandung tidak menjadi ancaman bagi kasih mereka. Tidak ada pihak memperoleh seluruh keinginan, tetapi anak-anak tidak lagi diperlakukan sebagai hadiah bagi orang dewasa yang paling menyesal.
Sasa membuat kalender berwarna untuk dua alamat. Dia menandai hari kunjungan bukan sebagai hari pergi, melainkan hari pulang ke rumah lainnya.
***