Di tengah hiruk pikuk kota Jakarta, Ayora sedang berdiri di terminal bus menuju hotel tempat ia bekerja.
Dengan pakaian hitam polos, wajah tanpa make up, ia siap melakukan pekerjaannya. Lima menit kemudian, angkot berwarna biru itu berdiri tepat di depannya. Dengan sedikit senyuman, ia melangkah masuk dan duduk di bangku paling belakang.
Beberapa kali ia menatap arlojinya yang berwarna abu-abu itu. Sesekali ia akan menghela napas karena banyaknya penumpang yang keluar masuk.
Masing-masing dari mereka memiliki aroma yang menusuk hidung.
Tak heran, banyak orang-orang memilih untuk menaiki gojek atau kendaraan online lainnya.
"Hufh, tinggal tujuh menit lagi aku sampai," ujarnya dalam hati.
"Neng kerja di hotel Singgasana ya?" tanya seorang laki-laki tua di depannya.
"Iya, Kek," jawabnya cepat diikuti senyuman.
"Kerja dibagian apa?" tanya si Kakek itu lagi.
"Saya kerjanya dibagian bersih-bersih, Kek," balas Ayora sopan.
"Cucu Kakek juga kerja di sana, tapi dibagian masak-masak," ujar si Kakek.
"Oh bagian dapur," kata Ayora pelan.
Lalu Ayora mengalihkan pandangan pada sebuah bangunan hotel bintang lima yang terlihat semakin jelas.
"Mang berhenti di samping situ ya," ujar Ayora menunjuk bahu taman.
Tangannya cekatan mengambil selembar uang berwarna ungu dan memberikan pada supir angkot.
"Kek, saya duluan ya," kata Ayora saat dia sudah turun.
Dengan langkah yang dipercepat, ia memasuki lobi hotel. Ia segera menuju ruangan khusus staff untuk berganti pakaian.
Setelah mengenakan baju OG, ia juga mengambil peralatan bersih-bersih lainnya. Sedangkan Bibinya sudah sejak tadi melakukan bersih-bersih.
"Ayora kamu bersihkan kamar 207," ujar Bibinya ketka mereka berpapasan di tangga.
"Oke, Bi," jawabnya penuh semangat.
"Hati-hati, jangan sampai ada yang terlewatkan. Kamu harus periksa semuanya ya," jerit bibinya di bawah. Sedangkan Ayora sudah berada di lantai atas.
"Tenang saja, Bi. Aku akan periksa semuanya dengan baik dan benar," teriak Ayora.
"Sungguh gadis yang penuh semangat," batinnya.
Ayora terus menyusuri lorong yang kosong. Biasanya hotel bintang lima tidak sepi, namun khusus hari ini semua tamu-tamu hotel disuguhkan dengan acara perayaan ulang tahun hotel.
Acara tersebut dilaksanakan di gedung utama yang berjarak delapan ratus meter dari tempat mereka menginap.
Namun tidak semua tamunya diundang, melainkan hanya pelanggan VIP, VVIP, dan juga tamu ekslusif.
"Kapan ya aku bisa jadi tamu VVIP di hotel ini? Aku bebas menikmati pemandangan dari atas sini, bebas makan atau pun minum apapun, dan aku tidak perlu capek-capek begini untuk membersihkan kamar ini," keluhnya menatap pemandangan kota Jakarta dari lantai lima.
Sementara tangannya masih sibuk merapikan meja rias. Tak lupa juga mengganti seprei tempat tidur dengan yang baru. Kemudian meletak bunga hidup dan fresh di samping jendela.
Tak hanya itu, ia juga harus membersihkan kamar mandi. Memastikan semua perlengkapan mandi diganti sesuai dengan permintaan tamu.
"Waw, aroma sabun ini sangat wangi," ujarnya yang mengendus-ngendus sebuah dus.
Matanya sedikit menyipit utnuk melihat merek yang tertera, namun itu adalah tulisan China. Sehingga ia pun mengeluh kesal.
"Tulisan China mana aku paham," keluhnya sambil menata perlengkepan mandi di depan kaca besar yang menampakkan dirinya.
Baju kumal, wajah dekil, rambut lepek yang dicepotong serta wajah yang biasa saja.
Mana ada yang tertarik dengannya. Kalaupun itu cuman Didi. Bocah laki-laki di depan kontraknnya.
Tok Tok Tok...
Suara pintu yang diketuk dari depan membuaat lamunannya terhenti. Ia bergegas ke depan dan membukakan pintu. Saat pintu dibuka, ia melihat bibinya tersenyum. "Tuan putri, apakah perlu bantuan?" katanya sumringah.
"Ah Bibi, kupikir tadi siapa yang mengetuk pintu," ucapnya kecewa. Kedua wanita itu masuk ke dalam, menuju kamar mandi. Bibinya melihat ke sekeliling. "Bathroomnya belum dibersihkan, Ay?" tanyanya yang dibalas anggukan oleh keponakannya itu.
"Bibi bantu bersihkan ya. Oh iya, jangan lupa juga semprotkan pewangi ruangan yang ada di meja rias luar ya."
"Siap, Tuan Putri," ejek Ayora yang berlari kecil keluar. Tangannya meraih botol sprey darin kaca itu dan mulai mennyemprotkan ke sudut-sudut ruangan.
Satu jam kemudian, pekerjaannya sudah beres. Mereka keluar sambil bergandengan dan juga bercerita ringan sebagai pelipur lara.
"Ay, maafin Bibi ya buat kamu susah kayak gini."
"Sst... Jangan ngomong aneh-aneh deh, Bi. Aku seharusnya berterima kasih karena Bibi tidak meninggalkan aku seorang diri di dunia ini," ujarnya.
"Enggak sayang, Bibi yang harusnya berterima kasih. Terima kasih karena kamu sudah hadir dalam hidup Bibi dan membawa warna," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Bibi adalah wanita tercantik, penyayang, dan orang yang kusayang setelah Ayah, Ibu." Ayora memeluk tubuh ramping itu dengan nyaman. Terlihat bahwa dia tidak mau melepaskan pelukannya.
"Sehabis inni, mau mampir ke cafe enggak?"
Mata Ayora melotot kesenangan, dia mengangguk cepat dan bergelendotan di bahu Bibinya. Hingga sore hari tiba.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, mereka pun keluar dengan perasaan lega.
Angkutan umum berwarna biru itu datang dan mereka menaikinya. Saat di dalam, banyak pria maupun wanita terpesona dengan kecantikan dari Bibinya.
Mata Ayora menyipit, lengannya menyenggol lengan Bibinya yang dibalas dengan senyuman kecil.
Tiba-tiba ada seorang Ibu-ibu yang menyapa mereka.
"Dek, Kakaknya sudah punya atau belum?" ucapnya menatap Ayora.
"Kakak?" balas Ayora kaget.
"Iya, Kakakmu yang di sampingmu iniloh," jawabnya lagi.n
"Hehe, Ibu saya bukan Kakaknya. Tapi saya Bibinya, adik dari Ayahnya," jelasnya.
"Oh Bibinya. Tapi Neng cantik banget loh. Sudah ada pacar atau belum nih," tanyanya sambil tersenyum malu.
"Bibi sudah ada calon suami. Jadi jangan ditanya-tanya lagi ya, Bu," sanggah Ayora yang kemudian menyetop angkot di depan cafe. Setelahnya mereka turun bersamaan.
"Lain kali enggak usah ditanggapin pertanyaan Ibu-ibu itu ya" dumel Ayora.
"Oke-oke, lain kali Bibi enggak akan jawab deh. Ini mulut akan dikunci, oke," ujarnya tersenyum manis.
Mereka masuk ke dalam cafe dan memesan beberapa makanan serta minuman dingin. Tak lupa juga difoto sebelum menyantap hidangan itu.
******
Malam hari ini mereka duduk di teras depan rumah, bercengkerama dengan penghuni lainnya. Mereka sudah seperti keluarga sendiri. Tak heran bila hubungan harmonis dan dinamis itu terjalin.
"Fatya," panggil wanita paruh baya. Yah, Fatya adalah nama Bibi Ayora. Wanita mungil dengan senyuman manis itu segera menghampiri sumber suara.
"Ya Ibu," jawabnya yang duduk di samping wanita itu.
"Aku ingin makan burger, apakah besok kamu bisa membelikannya untukku?"
Fatya mengangguk, "Tentu. Ibu mau berapa?"
"Satu, satu saja sudah cukup," balasnya lagi.
Fatya mengangguk. Ia terkenal dengan suaranya yang halus, namun tidak membuat siapapun merasa ilfil ketika berbicara dengannya. Ayora yang sedang asik mengepangkan rambut bocah perempuan tiba-tiba berteriak histeris.
"Hore! Selesai juga," katanya.
"Fatya," lirihnya pelan. "Ayora sangat senang bermain dengan anak-anak."
Tatapan Fatya beralih pada Ayora yang tersenyum lebar. "Benar, dia memang suka dengan anak-anak. Terlebih lagi dia memang masih membutuhkan untuk bermain, bukan bekerja keras."
"Fatya, kalau suatu hari dia berbuat kesalahan, jangan hukum dia dengan berat. Mohon berikan hukuman yang ringan saja. Atau kalau perlu biar aku yang menggantikan hukumannya."
Fatya tertawa kecil, tangannya menggenggam erat tangan keriput itu seraya berkata, "Selama aku hidup, aku tidak akan memarahinya, kecuali pada hal yang sangat fatal," uvapnya.
Saat malam tiba, Ayora menatap langit malam yang cerah. Langit hari ini dipenuhi oleh ribuan bintang-bintang yang berkerlap-kerlip. Di tengah-tengahnya ada bulan yang memberikan kehangatan. "Ayah, Ibu, aku rindu kalian. Aku ingin bertemu walau cuman dalam mimpi. Tapi kenapa kalian tidak pernah mendatangiku? Kenapa?" eluhnya.
"Apakah kehidupan kalian di sana sangat indah sehingga melupakan keindahan yang ada di sini," ucapnya sendu.
"Seindah apa di sana?"
Di lain tempat, Fatya mendengarkan isi keponakannya itu merasa sangat bersalah. Dia tak kuasa menahan air mata yang jatuh membasahi pipi. Wajahnya yang putih berubah kemerahan. Dadanya sesak dan pikiran tentang masa lalu seketika menghampiri.