Bayu tidak tahu kenapa ia datang.
Ia berdiri di koridor rumah sakit dekat sirkuit dengan kantong plastik berisi air mineral dan beberapa potong buah yang dibelinya asal di minimarket, merasa bodoh. Reno Wijaya membencinya. Reno mengejek ayahnya. Tidak ada alasan masuk akal untuk Bayu berdiri di sini, sehari setelah balapan, dengan kemeja terbaiknya yang sebenarnya satu-satunya yang pantas.
Tapi ia teringat asap putih itu. Teringat menunggu pintu kokpit terbuka. Teringat lega yang melumpuhkan ketika Pak Gun bilang Reno keluar sendiri dari mobil. Ada utang aneh dalam hal itu—bukan utang persahabatan, tapi utang sesama orang yang pernah dekat dengan hal yang sama.
Ia mengetuk. Suara dari dalam, lemah dan kesal: "Masuk."
Reno berbaring dengan lengan kanan di gendongan dan plester di pelipis. Wajahnya pucat. Ketika melihat siapa yang masuk, alisnya naik, lalu mengeras.
"Kamu," kata Reno. "Datang buat nikmatin?"
"Bawa buah." Bayu mengangkat kantong plastik dengan canggung, lalu meletakkannya di meja samping tempat tidur. "Maaf. Aku nggak tahu mau bawa apa."
Reno menatapnya lama. Di rumah sakit, tanpa wearpack mengilap dan logo sponsor di mana-mana, ia terlihat lebih muda dari biasanya. Dua puluh empat tahun, dan kalah untuk pertama kalinya dalam waktu lama.
"Kamu lihat aku melintir," kata Reno akhirnya. Bukan pertanyaan.
"Aku lewat di sebelahmu." Bayu menarik kursi dan duduk, karena berdiri terasa lebih canggung. "Setengah meter. Kalau kamu melintir setengah detik lebih lambat, aku ikut masuk gravel sama kamu."
"Sayang nggak." Sudut bibir Reno terangkat sedikit, lebih menyerupai luka daripada senyum. Lalu pudar. "Bannya gagal. Kanan depan. Nggak ada angin, nggak ada hujan, tikungan yang aku ambil seribu kali. Tiba-tiba mobilnya nggak mau belok dan ada asap dan—" Ia berhenti. Tangan kirinya mengepal di atas selimut. "Aku nggak tahu apa-apa sampai udah telat. Nggak ada tanda."
Bayu diam. Ia tahu persis kalimat itu. Ia pernah hidup di dalam kalimat itu selama lima tahun. Nggak ada tanda.
"Ban kami punya sensor," kata Bayu pelan. "Suhu, tekanan, terbaca di setir tiap lap. Hari itu kanan depanku naik ke enam puluh dua. Aku tahu. Aku bisa turunin pace, bisa atur. Punyamu—" Ia tidak menyelesaikannya. Tidak perlu.
Reno tertawa pahit, satu hembusan napas. "Ban termahal di grid. Pabrikan Eropa. Tim kami bayar sepuluh kali lipat ban kelincimu itu." Ia menoleh ke jendela. "Dan ban itu nggak kasih tahu apa-apa pas dia mau bunuh aku."
Kata bunuh menggantung di udara. Reno mungkin tidak sadar betapa beratnya kata itu di telinga Bayu. Tapi mungkin ia sadar—mungkin justru karena itu ia mengatakannya.
"Bapakku mati begitu," kata Bayu. Suaranya rata, tapi ia merasa lantai sedikit miring. "Tikungan Tujuh. Ban kanan depan. Lima tahun lalu. Aspal lima puluh delapan derajat, ban dirancang buat lima puluh dua, dan nggak ada yang tahu sampai udah telat. Persis kayak kamu kemarin."
Reno menoleh perlahan. Untuk pertama kali, ekspresi di wajahnya bukan kesombongan, bukan ejekan. Sesuatu yang lebih mirip ketakutan yang baru disadari.
"Aku nggak tahu itu Tikungan Tujuh yang sama," kata Reno pelan.
"Sekarang kamu tahu kenapa aku berhenti balap lima tahun." Bayu berdiri. Ia tidak datang untuk membuat Reno kasihan padanya. "Aku datang cuma mau bilang—aku senang kamu keluar sendiri dari mobil itu. Itu aja."
Ia menuju pintu. Tangannya sudah di gagang ketika suara Reno menghentikannya.
"Prakoso." Bayu menoleh. Reno menatapnya dengan sesuatu yang baru, rahang mengencang, gengsi yang retak tapi belum runtuh. "P5 kemarin. Itu... bukan kebetulan, ya."
"Bukan," kata Bayu.
"Pas aku sembuh." Reno mengangkat dagunya, dan untuk sesaat pembalap sombong dari gerbang sirkuit itu kembali, tapi berbeda—diasah, bukan dilemparkan. "Aku mau balapan sama kamu sehat. Aku mau kalahin kamu pas kamu di puncak, bukan pas aku di gravel. Ngerti?"
Bayu menahan senyum tipis. "Ngerti."
Ia menutup pintu pelan di belakangnya. Di koridor, ia berhenti sebentar, menyandar ke dinding, dan menghela napas panjang. Sesuatu sudah bergeser. Bukan persahabatan—belum, mungkin tidak akan pernah. Tapi retakan pertama di tembok gengsi Reno sudah muncul, dan dari retakan itu Bayu melihat sesuatu yang ia kenal: seorang pembalap yang baru saja tahu bahwa lintasan bisa membunuh, dan harus belajar tetap jalan.