Tiga hari kemudian, surat dari bank datang lagi. Kali ini bukan peringatan. Surat panggilan untuk penilaian aset jaminan—langkah pertama sebelum penyitaan.
Bu Marni membacanya di meja makan dan tangannya gemetar sampai sendok jatuh.
Bayu mengambil keputusannya saat itu juga, walau ia merasa seperti melompat ke jurang.
"Pak Gun," katanya menelepon mekanik tua itu pagi-pagi sekali. "Saya mau lihat kondisi PR-09. Kalau masih bisa jalan, kita daftar Kejurnas."
Di seberang, ada jeda panjang. Lalu suara Pak Gun, sedikit serak. "Siapa pembalapnya, Mas?"
Bayu memejamkan mata. Kata-kata itu terasa berat seperti batu di tenggorokan.
"Saya."
Satu jam kemudian, garasi Prakoso ramai untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Pak Gun datang membawa dua mekanik lawas yang dulu pernah bekerja dengan ayah Bayu—Dimas yang masih muda dan jago elektronik, serta Pak Heru yang ahli sasis. Mereka semua bekerja gratis, demi nama Hardian Prakoso.
"Mobilnya butuh banyak," kata Pak Gun setelah memeriksa selama dua jam, mengelap tangannya dengan lap kotor. "Cairan diganti semua, seal bocor di sana-sini, ban harus baru, dan elektronik kontrol harus dikalibrasi ulang. Tapi rangkanya sehat. Mesinnya..." Ia tersenyum. "Mesin rakitan Pak Hardian. Itu jantung yang kuat, Mas. Tinggal dibangunkan."
Bayu mengangguk. "Dananya?"
"Sisa kas tim cuma cukup buat ban dan cairan. Sparepart lain kita akali dari stok lama dan barang bekas layak pakai." Pak Gun menatapnya. "Tapi ada satu yang nggak bisa diakali, Mas. Pembalap. Kamu lima tahun nggak nyetir. Tubuhmu lupa. Refleksmu tumpul. Dan..." Ia ragu. "Dan kepalamu masih di Tikungan Tujuh."
Bayu tidak membantah. Ia tahu itu benar.
"Saya akan latihan," kata Bayu. "Mulai hari ini."
Sore itu, mereka mengangkut PR-09 ke sirkuit gokart kecil di pinggir kota—satu-satunya lintasan yang sanggup mereka sewa dengan harga murah, dan terlalu sempit untuk mobil formula sungguhan. Tapi Pak Gun punya rencana lain. Ia menurunkan sebuah gokart bermesin sederhana dari truk.
"Kita mulai dari sini," katanya. "Bukan buat kecepatan. Buat membangunkan tanganmu lagi. Buat ngeliat apa kamu masih bisa duduk di kokpit tanpa panik."
Bayu menatap gokart itu. Kecil, jinak, nyaris konyol dibandingkan formula. Tapi saat ia melangkah mendekat, jantungnya berdebar liar. Telapak tangannya basah. Dadanya sesak.
Ini cuma gokart, kata Bayu pada dirinya sendiri. Kecepatan maksimal lima puluh kilometer per jam. Tidak ada yang mati di gokart.
Ia masuk. Memegang setir. Memutar kunci kontak.
Mesin gokart menyala dengan bunyi kasar dan akrab, dan tiba-tiba dunia Bayu menyempit menjadi terowongan gelap. Suara mesin itu berubah, di telinganya, menjadi raungan formula. Tangannya membeku di setir. Napasnya tercekat.
"Mas Bayu?" Suara Pak Gun jauh, teredam. "Mas?"
Bayu mematikan mesin dengan tangan gemetar dan keluar dari gokart, terhuyung. Ia membungkuk, kedua tangan di lutut, dadanya naik turun cepat.
"Saya nggak bisa," bisiknya. "Pak, saya nggak bisa."
Pak Gun tidak memarahinya. Mekanik tua itu hanya menepuk punggung Bayu pelan, seperti yang mungkin dulu dilakukan ayahnya.
"Hari ini kamu nyalain mesin dan duduk di kokpit," kata Pak Gun lembut. "Dua tahun terakhir kamu bahkan nggak berani buka terpal. Itu kemajuan, Mas. Besok kita coba jalan satu lap. Cuma satu. Pelan."
Bayu mengangkat wajah, mata berkaca. "Gimana kalau saya nggak pernah bisa?"
"Maka kita cari jalan lain," kata Pak Gun. "Tapi kita coba dulu. Bapakmu nggak pernah nyerah sebelum nyoba. Dan kamu anaknya."