Tiga puluh juta itu membeli waktu, tapi tidak ketenangan. Dalam perjalanan pulang dari pelabuhan, tak ada yang banyak bicara. Bayangan pria Wijaya di kotak VIP menggantung di mobil seperti kabut.
Tapi masalah berikutnya tidak datang dari Wijaya. Ia datang dari jantung PR-09 sendiri.
Dua hari sebelum seri ketiga, saat tes terakhir di sirkuit gokart yang diperluas, Bayu merasakannya pertama kali. Di putaran tinggi, di lurus pendek, ada getaran halus yang tidak seharusnya ada—seperti detak jantung yang sesekali melewatkan satu ketukan.
"Pak Gun," lapornya lewat radio. "Ada getaran di putaran atas. Mesin terasa... nggak rata."
Saat ia masuk pit, Pak Heru dan Dimas sudah membuka tutup mesin sebelum Bayu melepas helm. Pak Heru, ahli sasis yang biasanya tenang, mengernyit dalam saat menempelkan stetoskop mekanik ke blok mesin.
"Dengar ini," katanya, menyerahkan alat ke Pak Gun.
Pak Gun mendengarkan lama. Wajahnya, yang sudah tua, tampak menua lagi sepuluh tahun dalam sepuluh detik. "Bearing," katanya pelan. "Atau ring piston. Salah satu mulai aus. Di putaran tinggi dia bicara."
Bayu merasa perutnya jatuh. "Seberapa parah?"
Pak Gun tidak menjawab langsung. Ia melepas beberapa baut, memeriksa lebih dalam dengan senter, jari-jarinya yang penuh kapalan meraba bagian-bagian yang ia kenal seperti mengenal wajah anaknya sendiri. Mesin ini, bagaimanapun, adalah karya Hardian Prakoso. Pak Gun ikut merakitnya, dulu, di garasi ini, lima tahun lebih yang lalu.
"Mesin ini umurnya," kata Pak Gun akhirnya, duduk di lantai garasi, lelah. "Bapakmu rakit dia buat satu musim, dua paling lama. Kita udah paksa dia bangun setelah dua tahun tidur, terus balapan tiga seri keras. Komponen internalnya aus, Mas. Itu bukan kerusakan. Itu usia."
"Bisa diperbaiki?"
"Bisa." Pak Heru menyahut, tapi nadanya hati-hati. "Kalau cuma ring piston, kita bongkar, ganti, pasang lagi. Tapi kalau bearing yang kena, itu butuh komponen yang... susah."
"Susah gimana?"
Dimas, yang sudah memeriksa nomor serinya, menjelaskan dengan suara berat. "Mesin V6 ini rakitan custom, Mas. Bapak kamu nggak pakai komponen pabrikan standar buat beberapa bagian. Dia bikin sendiri, atau modifikasi dari part yang sekarang udah nggak diproduksi. Bearing yang cocok buat ini..." Ia menggeleng. "Nggak ada di toko. Nggak ada di pabrikan. Harus cari di stok lawas, bekas, atau kita bubut sendiri—dan kita nggak punya alat buat presisi setinggi itu."
Garasi itu jatuh dalam keheningan yang berat. Tiga puluh juta dari pelabuhan ada di laci, ditujukan untuk bank. Bukan untuk mesin.
"Berapa kalau kita bongkar sekarang?" tanya Bayu. "Sebelum seri tiga?"
Pak Gun dan Pak Heru bertukar pandang. "Kalau cuma ring piston, dua hari kerja keras, kita bisa kejar seri tiga," kata Pak Heru. "Kalau bearing—" ia menggeleng. "Kita nggak akan dapat partnya dalam dua hari. Kita harus mundur dari seri tiga. Dan mundur satu seri di posisi sembilan klasemen... kita pasti keluar dari sepuluh besar."
Pilihan itu jelas dan kejam. Bongkar sekarang dan berharap hanya ring piston—taruhan. Atau mainkan aman dan mundur—kehilangan klasemen, kehilangan Lintas Jaya, kehilangan segalanya.
Bayu berdiri lama di depan mesin yang terbuka, jeroan logam karya ayahnya terhampar di bawah lampu garasi. Ia teringat masa kecil, di garasi ini, ayahnya menjelaskan tiap komponen dengan tangan berminyak. Mesin ini jantung yang kuat, Mas. Tinggal dibangunkan. Itu kata Pak Gun di awal. Sekarang jantung itu mulai berdetak tidak rata.
"Kita bongkar," kata Bayu akhirnya. "Sekarang. Malam ini. Kita lihat apa yang sebenarnya rusak. Kita nggak akan mundur karena takut sama kemungkinan terburuk. Kita lihat datanya dulu—baru putuskan." Ia menatap Pak Gun. "Sama kayak yang selalu kita lakuin."
Pak Gun menatap anak didiknya, dan di matanya ada sesuatu yang mirip kebanggaan di balik kelelahan. Ia mengangguk, lalu mulai melepas wearpack-nya, menggulung lengan.
"Kalau gitu kita kerja semalaman," katanya. "Dimas, kopi. Pak Heru, kunci set besar. Sekar—" ia menoleh ke gadis yang berdiri di tangga, "—telepon Bu Ratih. Tanya dia kenal nggak pemasok part lawas. Insinyur kayak dia kenal orang-orang yang kita nggak kenal."
Garasi Prakoso menyala terang sepanjang malam itu, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, suaranya bukan keheningan—tapi denting logam, dengung kompresor, dan empat orang yang menolak menyerah pada usia sebuah mesin.