Mereka berangkat ke seri ketiga dengan mobil yang sudah dipasangi selang rem baru—diperiksa lima kali oleh Pak Heru, lalu lima kali lagi oleh Pak Gun—dan dengan rahasia gelap yang mereka simpan rapat. Tidak ada laporan polisi. Tidak ada keributan. Hanya foto-foto sayatan, selang rusak yang disimpan dalam plastik tersegel, dan satu nama yang menggantung di udara: Wijaya.
Tapi nama saja bukan bukti. Dan Bayu tahu, melawan kekuatan sebesar Wijaya Group dengan tuduhan tanpa bukti hanya akan membuat tim Prakoso terlihat seperti pecundang yang mencari alasan.
"Kita butuh jejak," katanya pada Sekar di hotel murah dekat sirkuit seri ketiga, malam sebelum kualifikasi. "Bukan dugaan. Sesuatu yang menghubungkan tukang las itu ke seseorang. Ke uang."
Sekar, yang ternyata punya bakat yang tak disangka-sangka untuk hal ini, sudah bekerja sejak perjalanan. Ia membuka laptop tuanya. "Aku mulai dari yang kita punya. Dimas masih ingat plat mobil tukang las itu—dia foto pas parkir di pekarangan, kebiasaan dia foto semua kendaraan yang masuk garasi sejak kita mulai waspada. Aku cek platnya."
"Dan?"
"Mobilnya rental. Atas nama perusahaan rental kecil di kota. Aku telepon, pura-pura mau sewa, tanya-tanya." Sekar menggeser layar. "Mobil itu disewa tiga minggu, dibayar tunai di muka, oleh satu nama. Tapi nama itu jelas palsu—KTP-nya nggak sinkron pas aku cek pola nomornya. Buntu di situ."
Bayu mengangguk pelan, kecewa tapi tidak terkejut. Orang yang merencanakan ini terlalu rapi untuk meninggalkan nama asli.
"Tapi," lanjut Sekar, dan ada kilat di matanya, "aku nggak berhenti di nama. Aku lihat siapa yang bayar rentalnya. Pembayaran tunai, tapi resi rental dicatat masuk ke satu rekening perusahaan rental, dan perusahaan rental itu—" ia membuka tab lain, "—punya satu klien korporat besar yang sewa armada rutin. Aku cek perusahaan rentalnya di catatan publik. Pemegang saham terbesarnya satu holding kecil. Holding itu, dua lapis di atas, dimiliki—"
Ia memutar laptop menghadap Bayu. Di layar, bagan kepemilikan perusahaan yang Sekar susun semalaman, garis-garis menghubungkan kotak ke kotak, naik dan naik, sampai ke satu nama di puncak.
Wijaya Group.
Bayu menatap layar lama. Bukan bukti langsung. Tidak ada tanda tangan, tidak ada perintah tertulis, tidak ada uang yang berpindah dengan jelas dari Wijaya ke tukang las. Tapi jejaknya ada—rapuh, berbelit, tapi ada. Mobil yang dipakai pelaku disewa dari perusahaan yang, dua lapis ke atas, dimiliki Wijaya Group.
"Ini nggak akan cukup di pengadilan," kata Bayu pelan.
"Aku tahu," jawab Sekar. "Tapi ini cukup buat kita yakin. Dan cukup buat satu hal lagi." Ia menatap kakaknya. "Cukup buat bikin mereka tahu kalau kita tahu."
Bayu memahami maksudnya. Kadang, melawan kekuatan besar bukan soal menyeretnya ke pengadilan—itu pertarungan yang akan kalah. Kadang ini soal menatap mata mereka dan membuat mereka mengerti: kami tahu apa yang kalian lakukan, dan kami tidak takut.
Ia teringat ayahnya. Hardian mati karena ketiadaan data—buta terhadap suhu, buta terhadap bahaya. Lima tahun Bayu hidup dalam rasa bersalah karena kebutaan itu. Tapi sekarang, ironisnya, justru data yang menjadi senjatanya. Sensor di ban. Termometer di trek. Foto sayatan di selang rem. Bagan kepemilikan yang Sekar susun semalaman. Mereka tidak lagi buta. Dan orang yang tidak buta jauh lebih sulit dibunuh.
"Mas mau ngapain sama ini?" tanya Sekar pelan.
Bayu menutup laptop, dan melalui jendela hotel ia menatap ke arah sirkuit yang gelap di kejauhan—sirkuit yang dikuasai tim Wijaya, kandang lawan, tempat seri ketiga akan digelar besok. Di paddock sana, ia tahu, truk transporter raksasa Wijaya sudah terpasang, dan di antara kru-kru berseragam itu, sosok berambut perak yang mengawasi semuanya dari balik kaca.
"Aku mau balapan dulu," kata Bayu. Suaranya tenang, dan untuk pertama kalinya sejak menemukan sayatan itu, amarahnya berubah jadi sesuatu yang lebih dingin dan lebih tajam—tekad. "Aku mau finis bagus di kandang mereka. Aku mau mereka lihat, di lintasan mereka sendiri, kalau mobil yang mereka coba bunuh ini masih jalan. Masih kencang. Masih bawa nama Prakoso."
Ia menoleh ke adiknya, dan ada sesuatu dari ayah mereka di wajahnya—ketegasan tenang seorang Hardian Prakoso.
"Baru setelah itu," lanjut Bayu, "aku akan cari orang di balik kaca itu. Dan aku akan tanya langsung, di depan mukanya, kenapa dia takut sama tim sekarat yang dia kira lelucon."
Di luar, angin malam membawa bau aspal dan oli dari arah sirkuit. Besok kualifikasi. Besok mereka masuk ke kandang lawan, dengan mesin yang baru pulih, rem yang baru diselamatkan, dan kebenaran yang baru mereka temukan terkubur di dada. Bayangan Wijaya kini bukan lagi dugaan—ia jejak yang nyata, garis tipis yang menghubungkan sayatan di selang rem ke menara kaca tempat seorang konglomerat mengawasi.
Dan Bayu Prakoso, anak Hardian yang dulu kabur dari balap, kini berdiri menghadapnya tanpa berkedip.