Bu Ratih tidak terkejut saat Bayu menelepon. "Aku udah nunggu kamu nanya ini," katanya. "Cuma nggak nyangka selama ini kamu tahan."
Mereka bertemu di kantor Adikarya, di ruang arsip teknis yang dingin oleh AC dan bau kertas tua. Bu Ratih, insinyur kepala yang obsesif soal keamanan, ternyata sudah menyimpan map tebal selama bertahun-tahun — bukan karena tahu Bayu akan datang, tapi karena kematian Hardian Prakoso adalah salah satu kasus yang membentuk seluruh filosofinya: ban yang gagal di lintasan itu aib insinyur, bukan nasib pembalap.
"Aku masuk dunia ban balap gara-gara kasus Bapakmu," akunya, membuka map di meja. "Aku baca laporannya waktu masih jadi insinyur muda. Itu yang bikin aku obsesif. Aku nggak mau ada pembalap mati buta lagi karena pabrikan nyembunyiin data."
Sekar datang membawa laptop dan kotak berisi dokumen lama tim Prakoso — kuitansi, faktur, catatan teknis dari lima tahun lalu yang selama ini teronggok di gudang garasi. Bu Marni tidak pernah mengizinkan siapapun menyentuhnya. Tapi kali ini Bayu memohon, dan ibunya, dengan tangan gemetar, menyerahkan kuncinya.
Mereka membuka semuanya di meja arsip Adikarya. Dingin, metodis, satu lembar demi satu lembar.
"Ini laporan resmi kecelakaan," kata Bu Ratih, menggeser satu dokumen. "Yang dipublikasikan. Penyebab: kegagalan ban kanan depan akibat suhu berlebih. Aspal lima puluh delapan derajat. Ban impor dirancang maksimal lima puluh dua." Ia menunjuk satu baris. "Tapi lihat ini. Laporan ini bilang spesifikasi ban itu 'tidak tersedia bagi tim'. Itu kalimat yang ganjil. Kenapa nggak tersedia? Pabrikan ban selalu kasih spesifikasi suhu ke tim profesional. Selalu."
Bayu merasakan dadanya mengencang, tapi ini bukan trauma. Ini sesuatu yang lain — sesuatu yang dingin dan tajam.
"Maksud Bu Ratih, tim Bapak seharusnya tahu suhu maksimal bannya?"
"Tim manapun yang beli ban kompetisi pasti dikasih lembar spesifikasi suhu. Itu standar. Kecuali..." Bu Ratih berhenti, memilih kata-katanya hati-hati. "Kecuali pemasoknya sengaja nggak kasih. Atau kasih lembar yang salah. Atau ada yang di tengah jalan nahan informasi itu."
Sekar, yang selama ini diam mengetik, tiba-tiba berhenti. "Kak," katanya pelan. Wajahnya pucat. "Aku nemu kuitansi pembelian ban itu. Bapak nggak beli ban impor itu langsung." Ia memutar laptop. "Ada perantara. Distributor. Tim Bapak dapet 'harga khusus' lewat perantara. Lihat nama perusahaannya."
Bayu membaca. Nama distributornya tidak ia kenal. Tapi di pojok kuitansi, sebagai penjamin transaksi, tercetak satu nama yang ia kenal terlalu baik.
PT yang kini menjadi bagian dari Wijaya Group.
Ruangan terasa berhenti berputar. Bu Ratih mengambil kuitansi itu, membacanya dua kali, dan wajahnya — wajah insinyur yang selama bertahun-tahun hanya percaya pada angka — berubah keras.
"Lima tahun lalu, ini belum jadi Wijaya Group," kata Bu Ratih pelan. "Tapi diakuisisi. Aku inget berita akuisisinya." Ia menatap Bayu. "Bayu. Aku nggak mau kamu lompat ke kesimpulan. Distributor kasih ban yang salah suhu bisa karena kelalaian, bisa karena sengaja. Kita belum tahu. Tapi yang jelas: ada perantara antara Bapakmu dan ban yang bunuh dia. Dan perantara itu sekarang ada di bawah payung Wijaya Group."
Bayu menatap kuitansi itu. Lima tahun ia menyalahkan dirinya sendiri. Pace bagus, Pak, pertahankan — lima detik sebelum ban pecah. Selama ini ia kira ialah penyebabnya. Lalu Bu Ratih meyakinkannya itu suhu, desain, ketiadaan data. Kombinasi faktor.
Tapi sekarang muncul wajah ketiga di balik "ketiadaan data" itu. Wajah yang punya nama. Dan punya alasan.
"Aku harus tahu," kata Bayu, suaranya bergetar. "Aku harus tahu apakah ini kelalaian atau... atau sesuatu yang lain."
Bu Ratih menutup map perlahan. "Kalau ini sesuatu yang lain," katanya, "berarti kamu nggak cuma lawan tim balap di lintasan, Bayu. Kamu lagi nyentuh sesuatu yang lima tahun ada yang mau kubur." Ia menatap Bayu lurus. "Kamu yakin mau gali ini? Sampai dasar?"
Bayu menatap foto kecil Hardian yang Sekar bawa dari rumah, terselip di antara dokumen lama. Senyum ayahnya. Tulisan tangannya di kokpit PR-09: Berani itu takut yang tetap jalan.
"Sampai dasar," kata Bayu.