Latihan boleh membaik, tapi uang tidak datang dari semangat.
Dua minggu menjelang seri pertama, kas tim hampir kering. Mereka butuh satu set ban balap baru—yang lama hanya cukup untuk latihan, terlalu aus untuk balapan resmi. Satu set ban slick kompetisi harganya dua puluh juta rupiah. Tim Prakoso tidak punya.
"Saya akan cari sponsor," kata Bayu di rapat dapur—satu-satunya "ruang rapat" yang mereka punya.
Sekar menggeleng. "Mas, sponsor lokal udah aku hubungin semua minggu lalu. Bengkel-bengkel, toko sparepart, warung kopi. Mereka semua bilang hal yang sama: tim sekarat, pembalap baru balik dari trauma, peluang menang nol. Nggak ada yang mau buang uang."
Bayu memijat pelipisnya. "Lintas Jaya gimana? Sponsor warisan Bapak?"
"Dana mereka baru cair kalau kita finis sepuluh besar di akhir musim," jawab Sekar. "Bukan di awal. Mereka nggak mau kasih uang muka buat tim yang belum buktiin apa-apa."
Hening. Lalu Pak Gun, yang sejak tadi diam di sudut, berbicara. "Ada satu cara. Tapi Mas Bayu mungkin nggak suka."
"Apa?"
"PT Adikarya Ban. Mereka produsen ban lokal yang lagi mau masuk pasar balap. Mereka cari tim buat jadi etalase produk. Ban gratis, plus sedikit dana, asal mobil pakai ban mereka dan logo mereka di bodi." Pak Gun ragu. "Tapi ban mereka belum teruji di balap formula. Spesifikasinya bagus di atas kertas, tapi belum ada yang berani pakai di kompetisi sungguhan."
Ruangan itu jatuh sunyi total. Semua orang tahu apa yang membuat ini berat.
Ban. Ayah Bayu mati karena ban yang pecah.
Bayu merasa dingin merayap di punggungnya. "Pak Gun minta saya... balapan pakai ban yang belum teruji? Setelah apa yang terjadi sama Bapak?"
"Saya nggak minta apa-apa, Mas," kata Pak Gun pelan, dan matanya penuh penyesalan karena harus mengangkat ini. "Saya cuma kasih tahu pilihan yang ada. Dan saya janji satu hal: kalau kita ambil tawaran ini, saya akan tes ban itu sampai detail terakhir. Tekanan, suhu, keausan, semua. Saya nggak akan biarin kamu masuk lintasan dengan ban yang saya ragukan. Itu sumpah saya."
Bayu menatap mekanik tua itu lama. Pak Gun adalah orang yang ada di pit lima tahun lalu. Pak Gun yang mengangkat tubuh ayahnya dari mobil. Jika ada satu orang di dunia ini yang akan memeriksa ban itu seperti memeriksa nyawanya sendiri, itu Pak Gun.
"Saya butuh waktu mikir," kata Bayu akhirnya.
Malam itu ia kembali ke garasi, ke PR-09, ke tulisan tangan ayahnya di sisi kokpit. "Berani itu takut yang tetap jalan."
Ia memikirkan ironi yang kejam. Untuk menyelamatkan warisan ayahnya, ia harus menaklukkan dua ketakutan sekaligus: kembali ke kokpit, dan mempercayakan hidupnya pada ban. Dua hal yang sama-sama membunuh ayahnya.
Sekar muncul, membawa dua gelas teh. Ia duduk di samping kakaknya.
"Aku riset Adikarya Ban tadi," kata Sekar. "Insinyur kepalanya namanya Bu Ratih. Lulusan teknik mesin, mantan tim riset pabrikan ban besar. Reputasinya bersih. Dia bukan orang yang asal jual produk. Aku baca wawancaranya—dia obsesif soal keamanan. Katanya, 'Ban yang gagal di lintasan itu aib insinyur, bukan nasib pembalap.'"
Bayu menoleh ke adiknya. "Kamu dukung saya ambil ini?"
Sekar menatap mobil ayah mereka. "Aku dukung Mas hidup, dan tim ini hidup. Tapi keputusan duduk di kokpit pakai ban itu—itu cuma boleh kamu yang ambil. Bukan aku, bukan Pak Gun, bukan Bapak dari kuburnya."
Bayu menutup mata. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan kepada Pak Gun: "Hubungi Adikarya. Tapi saya mau ketemu insinyurnya langsung. Saya mau lihat matanya waktu dia bilang ban itu aman."