Suara radio yang terdengar lembut itu tengah menyetel musik tipe R&B yang kini memenuhi seisi mobil merek Jepang yang ditumpangi Kala. Semakin lembut suara musik, semakin membuat Kala lebih mengantuk dibanding pagi-pagi sebelumnya. Perempuan itu kini tengah terduduk lesu di bagian samping kursi penumpang dengan wajah muram yang menggambarkan manusia habis begadang semalaman. Kala biasanya tidak pernah seperti ini, dia merupakan salah satu manusia yang jarang untuk tidur larut malam. Menurutnya, kesehatan adalah yang paling utama diatas pekerjaan. Sedari remaja, dirinya ini selalu menginginkan hidup yang tenang tanpa paksaan. Mungkin malam tadi adalah sebuah pengecualian.
Dirinya masih mencoba untuk tetap sadar, meski tadi, pagi-pagi sekali tidurnya harus diganggu oleh getaran alarm telepon genggam yang mengagetkan. Tepat pukul 07:00 pagi, begitu yang terlihat samar ketika perempuan itu dengan mata yang baru terbuka sebagian menatap ke arah layar. Dengan sigap Kala segera mematikan sistem alarmnya yang bahkan belum membunyikan suara. Perempuan itu kini segera bangun dan bersiap-siap, sebelum akhirnya satu jam kemudian harus segera keluar menemui temannya, Saga, yang sudah 20 menit menunggunya di depan rumah. Begitulah kini ia harus duduk diam di dalam mobil dengan musik R&B lembut di pagi hari. Sebelumnya terjadi sedikit pertengkaran antara Saga dan Kala untuk memilih lagu apa yang harus diputar kali ini di perjalanan mereka. Kala lebih menyukai lagu-lagu seperti genre Jazz dengan tempo musik yang lebih stabil, terlebih memikirkan kondisinya yang sekarang. Sedangkan Saga menyukai musik tipe Pop yang segar untuk memulai hari baru dengan semangat. Apalah yang jadi pikiran alam semesta ketika mempertemukan dua manusia ini ketika masa SMA. Keduanya sama-sama keras kepala, namun lagu-lagu untuk perjalanan selama satu jam ini harus segera diputuskan. Sampai ketika radio memutar lagu R&B ditengah pergulatan mulut mereka, hingga berakhir dengan kesepakatan untuk mendengarkan lagu secara acak apapun yang terputar dari mobil Saga tanpa sangkalan.
Kala selalu menyukai suasana sepertri ini, tenang. Bahkan Saga kini juga memilih diam, tidak seperti biasanya yang selalu berisik dan mengganggu menurut Kala. Tapi siapa lagi yang mau menjadi temannya selain satu orang ini? Dengan kemampuan sosialisasinya yang dibawah rata-rata tentunya, sulit untuk menemukan seseorang yang bisa dijadikan tempat untuk berkeluh kesah. Menurut Kala hanya Saga yang bisa tahan dengan segala tingkahnya yang menurut orang-orang begitu menyebalkan. Pernah sekali ketika Kala marah besar dan memaki-maki Saga dengan mulutnya yang tanpa sengaja mengeluarkan kalimat yang tidak pernah dia pikirkan sama sekali sebelum mengatakannya. Kalimat dimana seluruh hidup saga bisa seketika rapuh ketika membicarakannya. Dua manusia ini, keduanya sudah sejak lama mengenal satu sama lain. apa yang disukai, apa yang tidak disukai. cerita-cerita menyenangkan yang saling dibicarakan, bahkan cerita mengenai hal paling kelam yang keduanya pernah cicipi dalam sekali mengenal kehidupan. Mereka kenal betul pribadi dan kejadian-kejadian yang terjadi di kehidupan masing-masing.
Malam itu, 5 tahun lalu, ketika dua-duanya masih berada di bangku kuliah. Keduanya bertengkar karena sikap Kala yang lagi-lagi menginginkan Saga untuk tidak lagi menjadi temannya. Bukan sekali Kala bersikap seperti ini, sejak dulu Perempuan ini memang sering mengusir orang-orang yang ada di hidupnya untuk enyah dan pergi. Tidak usah menemuinya lagi. Saga adalah salah satu yang paling keras kepala dan selalu memilih untuk menetap. Hanya ada dua orang yang ada di hidupnya saat ini. Kakak perempuannya, Hani yang usianya dua tahun lebih tua, dan Saga. Dulu, Kala punya tiga orang kesayangan, satu orang lagi merupakan satu-satunya manusia yang selalu Kala jaga untuk tidak pergi. Namun, siapa sangka, satu orang itu malah yang memilih pergi. Takdir dunia memang benar akan berpola seperti ini, orang-orang yang Kala inginkan untuk menetap malah pergi meninggalkan perempuan itu dengan begitu banyak pertanyaan dan secara diam-diam meninggalkan luka paling besar. Kedua orang tuanya, dan yang terakhir adalah laki-laki yang dulu selalu ia anggap sebagai penyempurnanya. Begitu laki-laki itu pergi, Kala tidak pernah marah, selalu memendam semua rasa sakitnya, ia selalu menganggap semua orang yang pergi memang diharuskan pergi dari hidupnya. Bukankah Kala yang selalu menginginkan semua orang pergi? Siapa yang ingin tinggal dengan perempuan seperti Kala yang kacau? Pikirnya. Meski dengan begitu banyak rasa sakit akibat ditinggalkan, Kala selalu menganggap itu sebagai hal yang memang seharusnya dilakukan. Seharusnya, lelaki itu memang sejak dulu sudah pergi ketika pertama dan terakhir kalinya Kala memintanya untuk menjauhinya. Tetapi dia memilih menetap, sebuah usaha yang tidak memiliki arti karena pada akhirnya, laki-laki itu sendiri yang berjalan pergi meninggalkannya.
Keadaan yang begitu kacau ketika Kala meminta Saga untuk pergi. Saga dengan keras kepalanya melawan Perempuan yang tengah berada di puncak emosi dengan argumen-argumen yang penuh tekanan. Kala yang saat itu sedang kacau, banyak hal yang dia pikirkan hingga rasanya ingin meledak, dan mulutnya yang sedang tidak bisa dikontrol akhirnya mengatakan bahwa saga adalah manusia paling buruk. Laki-laki itu bodoh karena menambah kekacauan dalam hidupnya dan berteman dengan Kala. "Cukup, Ga. Hidup lo tuh udah berat gausah tambahin lagi sama mikirin gue. Lo ga sadar lo itu ga pernah dianggep sama keluarga lo? Lo itu anak dari wanita simpenan Papa lo. sadar diri!" Sungguh mulut Kala ketika sedang di situasi seperti ini adalah yang paling buruk. Begitu kata-kata menyakitkan itu terdegar oleh Saga, tidak ada lagi yang bisa dia katakan. Keduanya sama-sama terdiam, seketika Kala langsung menyesali perkataannya. Namun, Kala hanya diam melihat Saga akhirnya memilih pergi entah akan kemana. Kala hanya menatap diam punggung laki-laki itu yang perlahan menghilang dari jangkauan mata. Lagi-lagi ego seorang perempuan bernama Kala memang selalu berada di puncak paling tinggi. Padahal bisa saja dia menghentikan Saga dan meminta maaf. Tapi Kala tidak akan pernahh melakukan itu, bukannya Kala memang ingin dia pergi? Jadi menurutnya itu adalah keputusan yang paling baik. Setidaknya, Saga tidak perlu lagi berurusan dengannya.
Selama berminggu-minggu Kala menjalani hidup seorang diri. Setelah mengusir teman satu-satunya pergi dengan cara paling buruk, Kala menjalani hidup seperti biasa. Tidak ada yang terjadi, semua berjalan normal. Hingga suatu hari Kala menyadari bahwa Saga tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Sesekali Kala memergoki Saga berada di tempat yang sama dengannya. Pikirnya, mungkin kebetulan. Namun, beberapa hal terjadi secara tidak masuk akal. Seperti ketika Kala keberatan membawa barang-barang belanjaan di Supermarket, lupa memakai trolley karena pikirnya dia tidak akan belanja banyak, namun seorang perempuan bisa tiba-tiba saja berubah pikiran ketika melihat suatu barang. Saat sedang bingung akan membawa barangnya seperti apa, tiba-tiba seorang security menghampirinya dan membantu membawakan barang belanjaan. Padahal security supermarket biasa berjaga di depan pintu masuk. Ketika ingin membayar, ia melihat Saga sedang mengantre untuk membayar eskrim yang dia beli di kasir sebelah. Kala hanya diam saja dan pergi membawa barang belanjaannya ke depan, dibantu security tadi menuju mobil taksi onlinenya. Itu salah satunya, terakhir adalah ketika Kala ingin pulang dari kampus sehabis kelas sore. Ia mngomel sendiri karena sulit sekali mendapatkan pengemudi di jam-jam segini, di situasi seperti inilah Kala berharap dia dulu belajar untuk menyetir. ketika sedang gundah mengenai driver ojek online yang tidak segara ia dapatkan, seorang pengendara motor menyapanya dan menawarkan tumpangan. Ternyata laki-laki itu adalah seorang ojek online yang katanya kebetulan lewat. Aneh sekali, sedari tadi ia tidak mendapatkan driver, namun malah datang sendiri, menawarkan diri pula. Tanpa ba-bi-bu tentu saja Kala langsung menerima tawaran driver tersebut dan segera memakai helm. Ketika driver tersebut segera mengantarkan Kala menuju ke rumahnya, perempuan itu melihat siluet punggung Saga yang berjalan menuju parkir mobil fakultasnya. Jangan-jangan semua hal baik yang selalu terjadi padanya adalah sebab ulah Saga, pikirnya.
Setelah kejadian demi kejadian baik yang terjadi secara 'kebetulan' itu, Kala menjadi lebih memperhatikan sekitar. Mungkin saja firasatnya mengenai Saga memang benar. Jadi dia memutuskan untuk lebih was-was dengan sekitarnya. Hari ini, saat di toko buku langganannya, Kala sedang mencari buku-buku classic yang memang sedari dulu sudah menjadi favoritnya. Seperti novel karya Jane Austen, atau puisi-puisi karya Wiliam Shakespear. Satu judul buku yang dia inginkan milik salah satu penulis itu berada di rak atas yang sulit dijangkau. Ketika sedang berpikir bagaimana cara untuk mengambilnya, tiba-tiba ia merasakan seorang laki-laki membantunya untuk meraih buku tersebut. Ketika indera pengelihatan Kala menangkap figur manusia itu, sebuah wajah yang ia kenali muncul. Saga, laki-laki itu yang membantunya mengambil buku tersebut. Setelah memastikan Kala menerima buku yang barusan ia raih, Saga segera melangkah pergi.
"Saga, lo ga pernah bener-bener pergi, 'kan?"
Saga berbalik, menanggapi seseorang yang sudah sejak lama ingin ia ajak bicara.
"Ternyata gue ga bisa lama-lama marah, La. Gue ga tahan liat lo sendiri gitu."
"Tapi, Ga. Bukannya gue udah keterlaluan banget, ya?"
"Lo memang keterlaluan banget kemaren, tapi rasa marah gue, ternyata ga bisa gue simpen lama-lama. Setiap gue liat lo sendiri, rasanya jauh lebih bikin gue marah."
Sejak saat itu, ketika Kala sedang ada di fase menginginkan semua orang pergi, Saga akan membiarkan Kala untuk sendiri lebih dulu. Kemudian secara perlahan kembali ketika Kala sudah benar-benar bisa berpikir jernih, dan menanyakan apa yang terjadi. Saga tahu betul bagaimana kondisi Kala, bagaimana sebenarnya Kala benar-benar tidak pernah ingin sendiri. Mulutnya memang mengatakan hal yang seperti itu dan terkadang terlalu kasar, tapi bagi Saga semua hal yang dilakukan Kala merupakan sebuah luapan emosi mengenai banyaknya kehilangan yang terjadi di hidupnya. Semua orang yang pergi dari hidup Kala adalah orang-orang pengecut dan paling Saga benci. Dan yang paling dia benci dari semua itu adalah Janu.