Keesokan harinya Claudia merenung sebentar, mencerna pelan – pelan semua pembicaraan yang diomongkan semalam. Tentang perjodohan, pernikahan, dan orang yang akan menjadi suaminya nanti. Dia tak kenal, dan tidak datang semalam.
“Clau... kamu masih memikirkan soal semalam?” Auretta dan Elano datang menghampiri putrinya yang terlihat murung dan tertekan soal perjodohan semalam.
“Iya, jujur saja aku belum siap.”
“Papa tidak menerima penolakan Clau, ” ucap Elano membuat Claudia tersenyum kecil.
“Yaaa... aku tau papa. Aku terima perjodohan ini, kalau boleh tau seperti apa calon suamiku nanti? Aku masih harus menyelesaikan kuliah pa,”
Claudia murung, ia sebentar lagi lulus. Tapi sekarang? Orangtua menjodohkan dengan seseorang yang ia sendiri tak tau siapa. Bahkan Saka dan Avni semalam tak menjelaska banyak tentang putra mereka. Yang ada mereka membahas persiapan pernikahan.
“Clau papa tau ini pernikahan yang terjadi sekali seumur hidupmu. Tapi maaf, kita tidak bisa mengundang banyak tamu. Hanya keluarga dan kerabat terdekat yang bisa menyaksikan kamu menikah dengan Ragiel.” Elano dengan berat hati mengatakan hal ini dengan putrinya.
Ia tidak ingin ada sesuatu yang terjadi nanti, saat Claudia mengharapkan pernikahan mewah dengan tamu undangan dan lainnya. Yang ada, pernikahan ini dirahasian atas kesepakatan mereka.
“Kenapa di rahasiakan pa?” tanya Claudia.
“Sayang menurutlah. Percaya dengan mama dan papa, ini yang terbaik untukmu. Kamu hanya menjalani saja ya dan kita yakin, jika Ragiel memang orang yang tepat dan baik untuk kamu.” Auretta dengan lembut memberikan pengertian ke Claudia agar tidak berpikiran aneh – aneh.
“Jadi nama calon suamiku, Ragiel?” Dia semakin penasaran dengan Ragiel, karna sejak semalam orangtua mereka terus memanggil ‘Ragiel’.
“Ya, Ragiel Rajana Bhagawanta. Kamu akan menjadi bagian keluarga Bhagawanta nanti sayang.”
“Bagaimana orangnya? Aku tau papa tidak mungkin memilih orang asal begitu saja untukku, ” kata Claudia penasaran, bagaimana Ragiel dan dirinya bisa dijodohkan.
“Yang pertama, tentu saja kita sahabatan sayang. Tapi, Ragiel yang akan menjadi suamimu nanti dia orang dewasa... kalian terpaut cukup jauh 11 tahun –”
“Paaaaa! Jangan bilang sudah tua?” Claudia langsung mendesak tak karuan mendengar umur suaminya 33 tahun?
Astaga, dia saja baru 22 tahun. Dan suaminya? 33 tahun? Ia sudah membayangkan suaminya tua? Atau suaminya cacat. Atau apa, umur 33 belum menikah, dan memilih dijodohkan dengan gadis cantik sepertinya.
Claudia yang bar – bar, cerewet, dan wanita gampang overthinking langsung berpikir aneh – aneh membayangkan Ragiel 33 tahun setua apa? Perut buncit, amit – amit.
“Jangan ngaco! Dia masih tampan Claudia. Umur hanya angka!” Auretta langsung menjintak kening putrinya yang selalu berpikir buruk tentang orang lain sebelum ketemu.
“Aduh mama, kan siapa tau bener. Lagian umur 33 belum nikah juga aneh. Masa minta dinikahin sama gadis mudah gini? Dih aneh.”
“Claudia, dia bahkan tidak terlihat seperti umur 33 tahun asal kamu tau," kekeh Auretta ikut gemes dengan Claudia mengatakan jika 33 tahun sudah tua.
“Tau deh, Intinya aku bakal minta pisah kalau dia tua, jelek, bau, bahkan sakit –”
“Claudia... bicara yang baik! ” Elano langsung memotong ucapan putrinya yang menjelek – jelekan Ragiel bahkan dirinya belum bertemu sudah menilai buruk.
Claudia tipe orang yang tidak suka, ia langsung ngomong. Tidak suka berpura – pura baik yang ada membuang tenaga.
“Kalian tidak akan berpisah, keluarga kita dan Bhagawanta akan bersatu, " ucap Elano tentu tidak membiarkan hubungan rumah tangga putrinya cerai berai. Yang ia inginkan, menikah seklai seumur hidup.
Bertemu dengan Ragiel, tentu ada sisi baik dan buruknya. Apalagi mereka belum kenal. Elano bahkan butuh waktu untuk keputusan menjodohkan mereka. Selain keuntungan perusahaan dan kelaurga mereka, tentunya Saka dan Avni orang baik dan Ragiel pun sama, ia orang yang baik dan pekerja keras. Hingga akhirnya Elano mantap dan setuju dengan perjodohan ini antara dua pihak. Hanya Claudia saja yang mengetahui akhir.
“Udahh deh, aku berangkat kuliah. Aku harus cari perusahaan untuk magang, belum lagi persiapan sidang. Please deh ma pa, aku lagi pusing mikir kuliah jangan kalian buat aku semakin pusing.”
Ini adalah keputusan tidak tepat, dimana putrinya hampir menyelesaikan kuliah. Justru mereka membuat keputusan baru untuk menikahkan putrinya.
“Hati – hati sayang, nanti kita ada makan siang bersama. Ada calon suamimu datang juga, kamu bawa mobil kan? Mama nanti share alamatnya,”ucap Auretta mencium kening Claudia sebelum pergi.
“Yaa, terserah kalian. Aku anak yang baik dan penurut, tapi aku minta uang ya papa... mau belanja.”
“Lhoo. Belanjanya kapan? Kan ada makan siang? Setelah selesai makan siang, papa kasih, bukannya uang kamu masih? Kan kartu juga ada sayang, dipakai.”
Elano begitu menyayangi Claudia, dia memang boros. Namun uang dari pemberian mereka tak pernah digunakan, Claudia saat belanja lebih sering minta dan akan menyisakan ditambah ke tabungan. Padahal uanganya sendiri sudah banyak. Tetep saja kurang.
“Masih, tapi gak mau pakai,”tawa kecil Claudia membuat Elano geleng kepala.
“Nanti mama tambahin, berangkat sana.. satu kelas aja kan?”
“Iya ma, ini hampir jam 8 lhoo aku berangkat.”
*
Berbeda dengan Ragiel Rajana Bhagawanta, diperusahan besarnya dengan asisten dan sekretarisnya Mark Hans. Dia orang yang gila kerja dan tak kenal lelah membuat Mark mengendus kesal.
“Tuan Ragiel, jangan lupa nanti acara makan siang dengan keluarga Dinakara di resto –"
“Batalkan, bilang saya gak bisa datang.” Beginilah jawaban ragiel yang selalu memotong ucapan Mark, padahal belum selesai bicara sudah di tolak.
Ragiel selalu menolak perjodohan yang di bicarakan Saka dan Avni, namun bagaimana lagi ia tak ingin semua hasil kerja keras bahkan harta yang ada di tangannya di tarik dan dibagikan dengan orang – orang tak mampu. Ragiel marah dan memberontak, ini hasil kerja kerasnya selalu di ganggu gugat apalagi dengan alasan segera menikah.
“Tapi, Tuan, anda akan bertemu dengan calon istri Anda," kata Mark begitu saja.
“Tidak peduli.”