Pasar Senyap itu baunya selalu sama. Perpaduan antara logam karat, aspal basah, dan keringat dingin ribuan orang yang menahan napas. Di sini, tidak ada suara tawar-menawar yang berisik. Tidak ada tawa renyah pedagang gorengan. Semuanya bergerak seperti hantu.
Satu-satunya bunyi yang tersisa cuma gesekan sol sepatu yang menyeret di atas jalanan retak. Sesekali terdengar gemerisik papan tulis kecil yang dikalungkan di leher setiap orang. Selebihnya? Sunyi yang mencekik.
Aku menyalakan rokok terakhirku. Korek apinya berbunyi *cetek*. Suara yang terasa seperti ledakan di tengah keheningan yang memaksa ini. Aku menyedot dalam-dalam asapnya. Aku merasakan paru-paru memprotes, tapi peduli setan. Hidup di Distrik Kolong memang cara paling lambat untuk bunuh diri.
Aku mengangkat tangan kiri. Di balik kulit nadi yang dekil, ada angka digital yang menyala redup warna putih.
[412]
Empat ratus dua belas kata.
Itu sisa umurku. Kalau aku irit-irit, mungkin aku bisa bertahan dua atau tiga bulan lagi. Tapi kalau aku mendadak puitis atau hobi curhat, minggu depan aku sudah jadi bangkai yang dibuang ke sungai. Aku membuang ludah ke aspal. Sialan. Aku cuma mau hidup minimal sampai aku bisa merasakan wiski botolan di bar ujung jalan, bukan sekadar ciu oplosan yang rasanya seperti air aki.
Aku berjalan menembus kerumunan. Orang-orang di sini punya tatapan mata yang sama. Kosong. Mereka semua pelit. Bukan pelit uang, karena memang tidak ada yang punya uang. Tapi pelit suara. Di dunia ini, suara adalah mata uang paling mahal. Satu kata salah ucap, kau bangkrut. Nol besar. Mati.
Tiba-tiba, rutinitas yang membosankan itu pecah.
Di dekat lapak rongsokan, seorang bocah laki-laki lari-lari kecil mengejar bola plastik yang kempis. Mungkin umurnya belum genap tujuh tahun. Dia tidak melihat ada tumpukan kaleng bekas yang tajam di depannya.
Srak!
Dia tersandung. Lututnya robek terkena pinggiran kaleng. Darah segar mengalir di kakinya yang kurus. Karena dia masih bocah yang belum paham betapa biadabnya aturan di kota ini, dia refleks memanggil ibunya.
"Mama! Sakit!"
Dua kata. Pendek. Sederhana.
Tapi di telingaku, itu terdengar seperti vonis mati yang dijatuhkan hakim paling kejam.
Seluruh pasar mendadak beku. Gerakan orang-orang berhenti serentak, seperti film yang di-pause. Semua mata tertuju ke pergelangan tangan si bocah. Angka putih di nadinya yang tadinya sisa dua, berkedip sekali, lalu berubah jadi merah pekat.
[000]
Bocah itu bahkan tidak sempat mengeluarkan air mata lagi. Mulutnya masih terbuka, mau lanjut nangis, tapi suaranya tidak keluar. Jantungnya berhenti berdetak di detik itu juga. Dia ambruk ke tanah seperti karung beras yang talinya putus.
Brak!
Kepalanya mengenai aspal, tapi tidak ada yang bergerak untuk menolong.
Ibunya berdiri cuma dua meter di sampingnya. Dia melongo. Matanya melotot horor. Tangannya gemetaran mau meraih anaknya, tapi dia tidak berani bersuara. Dia tahu hukumnya. Kalau dia berteriak histeris, dia bakal menyusul anaknya ke liang lahat saat itu juga.
Dia cuma bisa menahan napas sampai mukanya biru. Dia memeluk mayat anaknya dalam keheningan yang paling menyakitkan yang pernah aku lihat seumur hidup.
Aku membuang puntung rokokku. Aku menginjak apinya sampai padam.
Murah sekali, batinku sinis. Satu nyawa cuma seharga keluhan.
Aku memutuskan untuk pergi. Aku tidak mau ada di sana saat pasukan Algojo datang untuk mengangkut mayat sampah suara itu. Tapi saat aku mau belok ke gang tikus arah kontrakanku, langkahku tertahan.
Di gang sempit samping toko jam mati, ada pemandangan yang tidak masuk akal.
Tiga preman kelas teri sedang mengepung seorang perempuan. Mereka membawa pisau karatan yang ujungnya sudah hitam. Tipikal orang-orang yang nadinya sudah merah dan sudah putus asa mau mencari sumbangan kata dari orang lain.
Salah satu dari mereka menggerakkan tangannya kasar. Dia meminta kode rekening kata si perempuan atau dia gorok lehernya sekarang juga.
Perempuan itu berdiri di pojok gang. Dia tidak memakai papan tulis di lehernya. Dia juga tidak kelihatan takut. Dia malah kelihatan tenang. Terlalu tenang untuk orang yang ditodong pisau.
"Kalian butuh berapa?"
Aku nyaris tersedak ludah sendiri.
Suara itu jernih sekali. Tidak ada serak-seraknya. Tidak ada ragunya. Dia barusan mengucapkan tiga kata seolah itu cuma recehan yang tidak sengaja jatuh dari kantongnya. Aku refleks menengok ke pergelangan tangan kiri perempuan itu. Lengan bajunya agak tersingkap.
Mataku melotot sampai rasanya mau copot. Saraf di kepalaku berdenyut kencang.
Di nadinya, tidak ada angka digital. Tidak ada warna putih atau merah. Yang ada cuma simbol horizontal yang terus berputar pelan, seperti jam pasir yang tidak bakal pernah habis.
[ ∞ ]
Gila. Itu simbol tak hingga.