Mereka punya waktu tiga hari sebelum, menurut Ningrum, Pram memindahkan jadwal aktivasi pemicu berikutnya. Tiga hari untuk merencanakan penyerbuan yang seharusnya butuh berbulan-bulan.
Markas koalisi—sebuah gudang pelabuhan yang dipinjam diam-diam dari faksi Ardi—menjadi pusat komando. Peta Pusat terbentang di meja besar. Di sekelilingnya berkumpul mereka semua: Damar, Sekar, Lintang dan ibunya, Ardi dengan selusin perwira yang ia percaya, Ningrum, dan belasan Generasi Pertama yang sudah dibebaskan dari pengondisian—mereka yang Sekar sebut sebagai "yang bangun," kini menjadi inti gerakan perlawanan kecil itu.
"Pusat punya tiga lapis pertahanan," kata Ningrum, menunjuk peta. "Lapis luar: pertahanan konvensional. Pasukan bersenjata, sistem rudal pantai, sensor. Itu urusan kalian." Ia menatap Ardi.
Ardi mengangguk. "Faksiku bisa mengalihkan perhatian. Aku punya akses ke kapal dan beberapa pesawat tanpa awak. Kami buat keributan di sisi laut, menarik pertahanan luar ke sana. Bukan untuk menang—untuk membuka jalan."
"Lapis kedua," lanjut Ningrum, "garda elite. Generasi Pertama terkuat Pram, yang ia simpan untuk dirinya sendiri. Bukan yang dikondisikan—yang setia karena ideologi atau ambisi. Mereka jauh lebih kuat dari Baja, lebih dari Gelombang." Ia menatap kelompok GP yang bebas. "Untuk menembus mereka, kalian butuh kekuatan melawan kekuatan."
Salah satu GP bebas—perempuan yang dulu pernah penyembur api di salah satu fasilitas—mengangguk tegas. "Kami siap. Kami berutang itu. Mereka mengambil bertahun-tahun dari hidup kami."
"Lapis ketiga," kata Ningrum, suaranya menurun, "ruang inti. Pram. Dan apa pun yang ia simpan untuk pertahanan terakhirnya. Tidak ada yang tahu kekuatan penuh Pram. Bahkan aku, yang melayaninya bertahun-tahun, tidak pernah melihatnya bertarung. Ia selalu membiarkan orang lain bertarung untuknya." Ia menatap Damar. "Sampai sekarang."
Rencana mengkristal sepanjang malam.
Tiga gelombang. Ardi dan pasukannya menghantam pertahanan luar dari laut, menarik perhatian. Para GP bebas, dipimpin si penyembur api, menerobos lapis kedua, menahan garda elite. Dan inti tim—Damar, Sekar, Lintang—menyelinap di tengah kekacauan menuju ruang inti, tempat Damar harus mematikan pemicu Benih dari dalam.
"Kalian bertiga," kata Ardi, menatap mereka. "Sekar membungkam alarm dan sensor di lorong dalam dengan kesunyian. Lintang menekuk ruang untuk menutup pengejar dan membuka jalan. Damar mencapai inti. Sama persis seperti operasi penyelamatan kalian sebelumnya, tapi taruhannya seluruh dunia."
"Dan aku," kata Ningrum, "yang membuka gerbang Pusat untuk kalian."
Semua menoleh padanya.
"Aku masih punya akses," lanjutnya tenang. "Kode keamananku belum dicabut—Pram terlalu sibuk membersihkan barisannya untuk mencabut akses semua orang. Aku bisa masuk lewat pintu depan sebagai diriku sendiri, perekrut Sanggar yang kembali melapor, dan membuka gerbang dalam dari sisi mereka. Itu memberi kalian jalan masuk yang tidak dijaga ketat."
"Itu bunuh diri," kata Sekar pelan. "Begitu Pram tahu kamu membuka gerbang untuk kami, kamu mati."
Ningrum tersenyum tipis—senyum pertama yang Damar lihat darinya tanpa kelicikan di dalamnya. "Aku tahu."
Ruangan hening.
"Aku sudah hidup terlalu lama sebagai tangan Pram," kata Ningrum. "Kalau aku harus berakhir, aku ingin berakhir membuka pintu, bukan menutupnya." Ia menatap Damar. "Kamu menanam keraguan di hatiku, Damar. Sekarang biarkan aku menanam sesuatu yang benar untuk pertama kalinya dalam hidupku."
Damar menatapnya lama. Ia ingin menolak—ingin bilang ada cara lain, selalu ada cara lain. Tapi ia melihat peta itu. Tiga lapis. Tiga hari. Dan ia tahu, dengan kepahitan seorang teknisi yang membaca rangkaian dan tahu di mana arus harus mengalir, bahwa Ningrum benar.
"Kalau kamu buka gerbang itu," kata Damar pelan, "aku berjanji satu hal. Aku gak akan biarkan pengorbananmu sia-sia. Aku akan matikan Benih. Aku akan akhiri ini."
Ningrum mengangguk. "Itu cukup."
Di luar gudang, ombak pelabuhan memukul tiang-tiang beton, ritmis dan gelap. Esok malam, mereka akan berlayar ke pulau itu.
Untuk terakhir kalinya, Damar memandang ke arah utara—ke arah Klaten, jauh, tempat ibunya tidur tanpa tahu bahwa anaknya yang dulu pengangguran di kontrakan tiga kali tiga meter akan menyerbu jantung dunia esok hari.
"Buat Ibu," bisiknya pada angin. Lalu ia kembali ke meja.