Ide itu datang dari Lintang, meski Lintang sendiri tak menyadarinya.
"Kalau ada anak baru yang bangun kayak aku dulu," kata bocah itu suatu malam, "terus nggak ada yang ngajarin, terus ada Sanggar baru yang nemuin dia duluan—gimana?"
Pertanyaan itu menggantung di ruang makan pos koalisi selama beberapa hari. Damar tak bisa melepaskannya. Karena ia tahu jawabannya: anak itu akan jadi seperti Lintang dulu, dipaksa, disandera lewat keluarganya, diyakinkan bahwa kekuatannya hanya bisa menyakiti. Atau ia akan jadi seperti Damar di pagi yang salah itu—sendirian di kontrakan 3x3, panik, dengan pesan dari nomor tak dikenal sebagai satu-satunya tali.
Tidak akan selalu ada Sekar yang mengirim pesan tepat waktu.
Maka mereka membangunnya. Bukan markas. Bukan Sarang. Sebuah tempat yang sengaja dirancang menjadi kebalikan dari semua yang mereka lawan. Damar bersikeras pada detail-detailnya, dan setiap detail adalah penolakan terhadap masa lalu: tidak ada pagar listrik, hanya pagar kayu rendah; tidak ada menara pengawas, hanya beranda tempat orang duduk; tidak ada sel kering listrik, hanya kamar-kamar dengan jendela yang bisa dibuka; tidak ada pintu yang mengunci dari luar. Siapa pun boleh datang. Siapa pun boleh pergi.
"Kalau mereka bisa pergi kapan saja," tanya seorang sukarelawan, "bagaimana kita menahan mereka tetap di sini?"
"Kita tidak menahan," jawab Damar. "Itu seluruh idenya. Sanggar menahan orang. Kita menawarkan tempat orang mau tinggal. Begitu kamu harus menahan seseorang, kamu sudah jadi Sanggar."
Sekar mengurus jaringan—keahlian lamanya sebagai jurnalis kini dipakai untuk membangun saluran agar Generasi Pertama baru bisa menemukan tempat ini sebelum siapa pun yang berniat jahat menemukan mereka. Kabar dari mulut ke mulut, pesan terenkripsi, kontak para netral yang dulu hanya ingin sembunyi dan kini mau mengulurkan tangan. Mayor Ardi memastikan tempat itu legal, terlindungi hukum baru, tak bisa diserbu satuan mana pun tanpa proses.
Generasi Pertama pertama yang datang adalah seorang remaja yang tangannya tak sengaja membekukan apa pun yang ia sentuh—ketakutan, kelaparan, sudah seminggu tidur di kolong jembatan karena takut menyakiti keluarganya. Damar menyambutnya di gerbang kayu rendah itu, mengulurkan tangan tanpa ragu.
"Tanganku bisa bahaya," kata remaja itu, menarik tangannya. "Nanti kamu beku."
"Tanganku juga bahaya," kata Damar. Garis biru samar berpendar sekejap di pergelangannya, lalu padam. "Aku bisa menyerap apa pun, sampai kering. Tapi aku belajar—bahaya itu bukan kamu. Bahaya itu cuma kekuatan tanpa orang yang ngajarin cara megangnya." Ia tetap mengulurkan tangan. "Di sini kita saling ngajarin. Mulai sekarang kamu nggak sendirian."
Remaja itu menatap tangan terulur itu lama. Lalu, perlahan, ia menyambutnya. Sentuhan dingin merambat ke telapak Damar—dan tidak apa-apa. Damar membiarkannya. Tidak menyerap, tidak menarik. Hanya berjabat tangan, manusia dengan manusia.
Tempat itu tumbuh pelan. Lintang menjadi semacam kakak bagi anak-anak yang datang—ia tahu rasanya bangun dengan kekuatan yang menakutkan, tahu rasanya dipaksa memakainya untuk menyakiti, tahu jalan keluarnya. Ia mengajari mereka yang paling penting bukan cara mengendalikan kekuatan, melainkan cara memilih.
Suatu sore, Damar berdiri di beranda menatap halaman yang kini ramai. Anak penyembur api kecil belajar mengecilkan nyalanya jadi sebesar lilin. Remaja pembeku tadi membekukan air kolam jadi seluncuran, dan anak-anak tertawa meluncur di atasnya. Tidak ada yang bermata kosong. Tidak ada yang bergerak mekanis. Tidak ada Sarang.
"Kamu sudah jauh," kata Sekar, berdiri di sampingnya, menyandar ke tiang beranda. "Dari lelaki yang mau menjatuhkan helikopter malam itu."
"Aku masih bisa menjatuhkan helikopter," kata Damar. Lalu ia tersenyum, tipis. "Aku cuma nggak mau lagi. Itu bedanya, kan? Bukan kekuatannya yang hilang. Yang berubah cuma apa yang aku pilih untuk dilakukan dengannya."
Sekar menatapnya, bekas luka di alis kanannya terangkat. "Kamu tidak lari dari kekuatanmu lagi."
"Tidak," kata Damar pelan, menatap generasi berikutnya bermain di halaman tanpa pagar listrik. "Sekarang aku hidup dengannya. Itu jauh lebih susah daripada lari. Tapi cuma yang ini yang ada gunanya."