Musim penghujan sudah mulai datang menyapa, rintiknya selalu turun tanpa mengenal waktu. Pekatnya warna langit, dengan iringan gemlegar suara petir menjadi pertanda bahwa hujan akan turun membasahi bumi, walau tanda itu terkadang hanya tipuan.
Sore menjelang senja, Marshal dan rombongan KKN sedang terjebak derasnya hujan. Mereka terpaksa menepikan motornya, lalu berteduh di bawah gubuk tua penuh debu dan nampak beberapa laba-laba yang sedang menyulam kerajaannya di setiap sudut gubug tua itu.
Marshal melepas kuncir rambutnya, lalu mengibas-ngibaskan rambut lebatnya yang sedikit basah itu. Lalu ia rapikan sebentar dengan jemarinya dan membiarkan rambut gondrongnya tergerai.
"Kamu yakin San, ini jalan yang benar menuju Desa Awu Awe?," tanya Marshal pada Hasan sambil mengedarkan pandangannya ke luar gubug.
Dinding gubug tua itu terbuat dari tatanan lembaran kayu yang sudah lapuk, hanya tersisa dua lembar saja yang masih terhubung dengan tiang penyangga gubug itu. Mungkin sudah terjatuh atau habis dimakan hewan pengerat, sehingga gubug tua itu berlubang nyaris tanpa penutup.
Pemandangan jurang nan dalam menjadi jelas terlihat, siapa pun yang singgah pasti bisa melihat dengan jelas pemandangan curamnya jurang dan lebatnya hutan di belakang gubug yang terkadang mengeluarkan suara-suara hewan penghuni alam liar.
"Iya benar. Kemarin aku sama Imam sudah survey ke sini," jawab Hasan sambil merapatkan lipatan tangannya. Ia mulai kedinginan.
"Bener begitu Mam?," tanya Marshal mentaukidi jawaban Hasan.
"Iya bener. Jalan makadaman ini masih jauh. Kita baru setengah perjalanan," terang Imam sambil menyembulkan asap rokok dari mulutnya.
Dari jalan utama, kesepuluh mahasiswa itu sudah berjalan sekitar satu kilometer. Dan mereka harus menempuh jarak satu kilometer lagi untuk bisa sampai di desa Awu-Awe. Jalan bebatuan dengan sudut kemiringan hampir tujuh puluh derajat, menjadi hal yang sangat berat bagi Marshal dan teman-temannya. Pasalnya mereka adalah penduduk kota yang sudah terbiasa dengan jalan aspal yang mulus.
Apa daya mereka, mengikuti KKN adalah harga mati yang tidak boleh ditawar lagi oleh mahasiswa yang ingin mendapat gelar sarjana dari bidang jurusan yang mereka pilih. Mereka harus siap dilempar ke tempat terkucil sekalipun.
Rimbunnya pohon jati di sebelah kanan, menjadi satu-satunya pemandangan yang bisa mereka nikmati menuju desa Awu-Awe. Sesekali terdengar suara lengkingan hewan liar penghuni hutan yang kini menghilang bersama deru suara hujan.
Namun perjalanan mereka terpaksa harus berhenti, lantaran hujan yang tetiba saja menderas setelah alam memberi tanda lewat gumpalan awan hitam yang wara wiri di atas cakrawala.
Marshal melihat baju keenam teman perempuannya basah, hingga warna onderdil salah satu dari ketiga perempuan itu terlihat jelas dari balik kaos oblong berwarna putih yang dikenakannya. "Mungkin ia lupa membawa jaket," gumam Marshal dalam hati.
Tanpa berpikir panjang, Marshal melepas paksa jaket Hasan lalu menangkupkannya ke bahu perempuan yang bernama Aurelia itu. Gadis satu kampus dengan Marshal namun berbeda jurusan. Marshal memang ada maksud dengan Aurelia.
"Ke mana-mana jaketnya dipakai," ucap Marshal sambil berlalu meninggalkan gadis itu yang masih tertegun.
Marshal sempat melihat Aurelia memutar setengah badannya ke belakang, sebelum akhirnya ia kembali berdiri di samping Hasan dan Imam. sekilas ia menangkap raut muka datar tanpa ekspresi di wajah gadis itu. Marshal diacuhkan oleh Aurelia. Ia seolah bukan barang mahal di matanya, tidak seperti gadis yang lain yang sangat ingin dekat dengan Marshal, cowok Playboy tiada tandingan.
Dari tempatnya berdiri, Marshal melihat Aurelia merapatkan jaketnya lalu tertunduk tanpa menunjukkan reaksi berlebih seperti yang diharapkannya.
Sebelum datang ke Desa Awu-Awe, Marshal bersama kesepuluh teman kelompok KKN nya sudah beberapa kali mengadakan rapat di taman kampus. Membahas schedule dalam pelaksanaan KKN mereka. Termasuk enam gadis Yang kini turut tergabung dalam kelompoknya.
Dalam rapat pertemuan itu, dijadikan Marshal sebagai ajang mencari wanita baru yang akan memanjakan dirinya ketika jauh dari mama tercinta. Mata hatinya terus menyeleksi, mencari satu sosok yang klik. Dan mata Playboy Marshal memberi signal bahwa Aurelia lah gadis yang cocok, yang mumpuni untuk merawat dirinya saat jauh dari sang mama, lebih tepatnya sebagai ganti.
Marshal tidak mungkin mengatakan pada teman-temannya bahwa sang Playboy itu sebenarnya anak manja yang tidak bisa mengurus segala keperluannya sendiri, yang tidak bisa tidur tanpa mendengar suara ibunya berkidung jenaka. Semua tergantung mama.
Dan dirapat terakhir, Marshal pun sudah menyusun rencana untuk memikat Aurelia dan menjadikannya pacar semusim selama tiga bulan masa KKN. Setelah itu, ia akan meninggalkan Aurelia seperti pacar sesaatnya yang lain.
Beberapa saat yang lalu, Marshal sudah mulai melancarkan jurus pemikatnya untuk mendapatkan simpati dari Aurelia sebagai tahap awal. Ia pikir cukup dengan mengandalkan wajahnya yang tampan dan tubuh yang macho, Aurelia akan terpesona pada pandangan pertama. Namun ternyata pikiran Marshal salah, Aurelia mengacuhkan dirinya.
Hujan semakin deras, belum ada tanda-tanda bahwa rinainya akan mereda. Sementara hari sudah mulai gelap. Marshal melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kanannya, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.
Hari yang sedianya masih terang, terpaksa harus sedikit meredup sebab langit tertutup awan tebal. Jarak pandang di jalan juga kabur, sebab hujan terus menyerbu bumi tanpa ampun bersama pasukan air dengan jumlah ribuan. Sesekali suara petir juga turut andil dalam semaraknya hujan sore itu.
Marshal bersedekap, sambil sesekali memposisikan tangan kanannya dalam keadaan berdiri dengan ujung jari telunjuk bermain-main di puncak hidungnya yang mancung. Ia lakukan itu semata agar tidak kepergok sedang mencuri pandang ke arah Aurelia. "Apaan sih aku ini?," sergah Marshal pada dirinya sendiri. Ia mencoba menyadarkan dirinya sendiri untuk tidak terpikat dengan kecantikan Aurelia.
"Kalau hujannya sampai malam, apa iya kita harus menerobos hujan?," ucap Imam.
"Jangan," cegah Marshal dengan cepat. Ia takut tubuhnya akan demam tinggi dan pada akhirnya membuat dirinya kejang, sebab ia tidak bisa terlalu lama berada di dalam guyuran hujan. Sementara sang ibu sedang berada jauh di sana, tidak ada yang merawat. Tidak mungkin ia menyuruh ibu nya datang lalu merawat dirinya di tempat KKN. Akan terasa konyol seorang Playboy bisa sakit separah itu hanya karena terkena air hujan.
"Kenapa?, Kamu takut hujan ya?," Ledek Alma.
Marshal tidak menggubrisnya, ia memilih acuh sebab tidak ingin ketahuan bahwa dirinya yang sudah terkenal play boy itu ternyata tidak memiliki tubuh sekuat hatinya dalam menyakiti hati perempuan.
"Jangan sekali-kali punya pikiran untuk melanjutkan perjalanan ini." Sekali lagi Marshal memperingatkan teman-temannya untuk tidak nekad kembali menjalankan motor mereka ditengah derasnya hujan.
"Sepertinya kita memang harus menerobos hujan, sebelum hari benar-benar gelap Shal," ucap Imam.
"Benar."
"Benar."
"Benar."
Ucap teman-teman Marshal saling bersahutan, sementara Marshal masih berdebat dengan hatinya. Ia bukan pria penakut yang akan lari terbirit-b***t ditinggal sendirian di tengah hutan, lalu bertemu dengan segala jenis makhluk lelembut. Marshal hanya takut ia terlihat konyol jika tubuhnya kejang-kejang, apalagi di depan perempuan yang akan ia jadikan tumbal sifat Playboy nya.
"Kalian pergi saja kalau begitu, aku akan tetap di sini. Sekalipun hujan mereda tepat di jam dua belas malam." Marshal tetap bersih kukuh tidak mau melanjutkan perjalanan. Ia akan menunggu sampai hujan berhenti.
"Gila kamu Shal. Kita bisa kuat karena kita laki-laki, tapi mereka?," tunjuk Imam pada keenam teman perempuan mereka. Nada suara imam meninggi, ia mulai geram melihat sikap Marshal yang selalu mementingkan kesenangannya sendiri, tidak mau memikirkan akibat dari sikap dia yang egois. "Mereka perempuan Shal, tubuhnya tidak sekuat kita," ucap Imam kemudian, rahangnya mengeras.
"Tidak. Jawabanku tetap tidak," kata Marshal.
"Oke, kalau itu mau kamu. Ayo kawan, persiapkan diri kalian untuk melanjutkan perjalanan ini," ucap Imam mengkoordinir teman-temannya.
Marshal masih tetap berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding, ia melihat Aurelia mendekati Imam yang bejarak hanya satu meter dengan dirinya. Ia mendengar sangat jelas apa yang diucapkan gadis itu.
"Jangan terbawa emosi, kita di sini jauh dari rumah. Kita berada di tempat asing. Dan yang terpenting sekarang, kita sedang berada di hutan. Sejak kita berteduh di sini belum ada orang yang lewat. Jadi aku mohon kita harus saling membahu, saling memberi pengertian. Jangan bertengkar. Aku mohon," pinta Aurelia kepada Imam dan Marshal khususnya.
Sesaat suasana menjadi hening.
Marshal masih mencoba merayu hatinya, berdebat dengan otak kecilnya. Jika semua gadis itu adalah adiknya, ia tidak mungkin membiarkan orang yang ia sayangi semalaman tidur di dalam gubug reyot, berselimut udara malam yang sangat dingin. Hatinya tentu terasa lebih sakit, ketimbang sakit demam yang menyerangnya.
Marshal Playboy, tapi untuk urusan keluarga ia tidak main-main. Ia akan menjadi perisai yang kuat untuk adik dan mamanya. Hanya saja, untuk saat ini paradigma Marshal tentang perempuan selalu negatif. Kecuali pada ibu dan adiknya, sebab keduanya sama seperti dirinya hanyalah seorang korban.
Trauma masa kecilnya belum bisa hilang, kejadian dua belas tahun yang lalu sangat membekas di hati Marshal. Sebab itulah ia memilih menjadi Playboy sampai ia benar-benar bisa menemukan cinta sejatinya.
Marshal mengikat rambutnya yang sudah mulai kering, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Samar, ia melihat Aurelia berpindah tempat mendekatinya.
"Bagaimana?, Kita bisa melanjutkan perjalanan?. Kamu pakai saja mantelku." Aurelia mencoba bernegosiasi dengan Marshal.
Lelaki itu kaget mendengar ucapan Aurelia, ucapan perempuan itu sudah membuat Marshal terlihat semakin bodoh dan konyol di depan teman-temannya. Ia elaki, seseorang yang sedianya punya keberanian dan badan yang lebih kuat, dari pada perempuan yang punya keberanian bak lelaki perkasa yang menjadi pelindung untuk orang yang ia kasihi. Nyatanya, Aurelia lebih dulu bersikap bijak.
"Masih tetap di sini kamu?." Aurelia kembali mempertanyakan jawaban Marshal.
"Oke, kita lanjutkan perjalanan ini menuju desa Awu-Awe. Tapi, aku mau dibonceng," jawab Marshal.
"Oke, aku boncengin kamu hingga ke surga," celetuk Hasan.
"Hush jangan ngawur kalau bicara, ini hutan sudah surup. Kalau bicara yang baik-baik saja," sergah Aurelia.
Marshal memberikan kunci motornya pada Hasan. Sebentar ia berjongkok hendak menali kembali tali sepatunya yang terlepas beberapa saat lalu. Saat sedang menali, ia melihat langkah kaki Aurelia mendekati dirinya.
Segera ia mendongakkan kepalanya, melihat Aurelia yang menepati ucapannya untuk meminjamkan jas hujan miliknya pada Marshal. Gadis itu sempat mengucapkan sebuah kalimat, namun telinga Marshal tidak bisa mendengar dengan jelas. Suara Aurelia tenggelam bersama suara derasnya hujan. Marshal pun tidak berniat menyuruh gadis itu untuk mengulang perkataannya.
"Aku ada jas hujan di jok sepeda." Marshal langsung menolak tawaran Aurelia. Padahal ia butuh, sebab tak ada jas hujan di dalam jok motornya.
"Kalau memang ada jas hujan, kenapa tidak dari tadi kita melanjutkan perjalanannya?," tukas Alma sambil melirik Marshal.
Marshal sedikit kesal dengan ucapan Alma, ia merasa Alma telah mengejeknya. Seketika Marshal menghadiahi Alma sebuah bidikan tajam dari kedua matanya, dan membuat ikrar dalam hatinya bahwa keenam gadis itu pada akhirnya akan masuk dalam perangkapnya.
Marshal sudah merasa aneh dengan sikap gadis-gadis dalam kelompok KKNnya, pasalnya semua gadis itu terlihat sangat tidak suka dengannya. Dari awal rapat, semua gadis itu acuh. Tidak ada yang langsung berkirim pesan w******p setelah nomor ponselnya terpampang jelas di dalam daftar anggota.
Satu persatu, teman-teman Marshal pergi meninggalkan gubug yang sedari tadi melindungi mereka dari terpaan hujan lebat. Marshal sengaja mencegah Hasan untuk tidak menyalakan mesin motornya, agar berada di barisan paling belakang. Ia sudah terlanjur malu dengan menolak tawaran pinjaman jas hujan dari Aurelia, dan berbohong bahwa ia sudah membawa jas hujan padahal tidak ada di dalam jok motornya.
Setelah dirasa jaraknya sudah cukup jauh, Marshal pun memerintahkan Hasan untuk melajukan motornya. Belum juga Hasan menyalakan mesin, Marshal melihat seorang gadis berdiri di seberang jalan.
"Tunggu," cegah Marshal pada Hasan agar tidak lebih dulu menarik gas motornya.
Marshal melihat gadis itu berdiri di bawah payung hitam, ia memakai gaun berwarna ungu muda, dan membawa keranjang. Marshal tidak tahu pasti dari mana gadis itu datang.
Dibalik helm yang sudah tertutup rapat, Marshal mengedarkan kedua netranya. Ia mencari jalan setapak, atau mungkin kendaraan lain yang baru saja menurunkan gadis itu. Namun hasilnya nihil. Tidak ada jalan setapak di belakang gadis itu, atau mungkin kendaraan lewat yang sengaja menurunkannya di sana.
Marshal turun dari motor, dan hendak menyebrang jalan. Buru-buru Hasan mencegahnya dan menarik tangan Marshal, agar kembali duduk di boncengan belakang. Marshal menoleh ke arah Hasan, ia melihat mata Hasan memberi signal untuk tidak pergi ke mana-mana.
Marshal mengikuti saran Hasan. Ia simpan beberapa pertanyaan untuk Hasan. Apakah Hasan juga melihat gadis itu?. Apakah Hasan tahu dari mana datangnya gadis itu?. Apakah Hasan tahu bersama siapa gadis itu?. Apakah Hasan juga tahu sedang apa gadis itu berada di bawah rinai hujan yang sangat deras?.
Untuk pertanyaan terakhir, Marshal tidak terlalu banyak berharap akan mendapatkan jawaban. Sebab ia tahu, bahwa Hasan juga orang baru sama seperti dirinya.