Marshal terus mengikuti langkah teman-temannya di depan, meski hatinya marah dengan keadaan yang ia anggap sudah mempermainkan dirinya.
Ia mencoba mencari tahu di mana letak kesalahan yang sudah ia perbuat, hingga harus menanggung teror aneh yang tidak berkesudahan. Dari awal perjalanan hingga sampai di Desa Awu Awe, ia tidak merasa sudah melakukan hal yang melanggar norma yang tidak baik, juga tidak melakukan hal yang melanggar istiadat terlarang dari sebuah desa. Jika hanya tersebab rasa ingin tahu ia mendapat teror, maka bagi dirinya itu sangat tidak adil.
Ia marah, tidak ada tempat untuknya berbagi cerita. Ia hanya ingin ada seseorang yang bisa sedikit memberinya obat penenang dengan ramuan kalimat yang manjur. Hasan harapannya, namun ia ragu.
"Hai tunggu?."
Marshal kembali berteriak sambil membungkuk menopang kedua tubuhnya dengan tangan memegang kedua lutut, namun suaranya seolah terbungkus sesuatu. Ia seperti berada di ruang terpisah dengan teman-temannya.
"Hasaaaan. Tolong aku!," teriaknya lagi. Napasnya tersengal, sebab ia kerahkan seluruh tenaganya untuk memanggil siapa pun yang bisa mendengar teriakan suaranya.
Marshal merasa lelah, ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tidak peduli meski sudah tertinggal jauh, ia pikir pasti bisa menyusul teman-temannya. Ia hanya tinggal bertanya pada orang yang kebetulan lewat sana, atau meminta tolong sebentar pada orang itu untuk diantar ke rumah Pak Kades.
Jalan di depan adalah tanah lapang yang besar, tumbuh rumput nan hijau di antara bukit-bukit kecil. Banyak warga menggembala hewan ternak mereka di sana. Marshal tidak merasa cemas, ia hanya perlu bertanya pada orang-orang itu. Kemudian ia sandarkan tubuhnya di bawah pohon randu nan rindang, menikmati semilir angin melepas lelah lahir dan batinnya.
"Hai," panggil seorang gadis. Ia perlihatkan senyum merekah pada Marshal.
Marshal terhentak, ia lalu merapikan posisi duduknya yang setengah terbaring. Ia balas senyum gadis itu dengan menarik sedikit garis bibirnya.
"Tidurmu nyenyak?," tanya gadis itu.
"Iya, eh tidak."
Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul. Serpihan dari berbagai peristiwa janggal, membuatnya begitu lelah. Ditambah lagi ia harus menutupi semua kejadian itu dari teman-temannya, sehingga membuat Marshal gelagapan saat tetiba tahu ada seorang gadis duduk di sampingnya.
Satu-satunya teman yang bisa menjadi tempat berkeluh-kesah tentang teror ini adalah Hasan, namun sayang Hasan seperti menjadi orang lain di matanya. Marshal pun terpaksa memendam semua kegelisahannya sendiri.
"Kok bingung?," tanya gadis itu.
"Enggak. Kaget aja, mata melek eh ada cewek bening di depan mata," jawabnya sambil nyengir.
Marshal beraksi. Kali ini nyawanya sudah terkumpul semua, sehingga ia bisa tebar pesona menggunakan jurus andalannya, rayuan maut peluruh hati wanita. Akan sayang baginya jika tidak memanfaatkan moment itu.
Gadis itu tersipu, ia menunduk sambil menyelipkan sedikit rambutnya yang tergerai ke telinga dengan jari telunjuk.
"Nama kamu siapa?," tanya Marshal kemudian.
"Anisa. Kamu Marshal kan?," gadis itu langsung menodong dirinya dengan menyebut satu nama.
Kalimat itu sontak membuat Marshal kaget, dari mana gadis itu tahu namanya. Sedang dirinya belum ada dua puluh empat jam berada di Desa Awu Awe. Ia juga tidak merasa sudah berkenalan dengan warga desa, apalagi dengan seorang gadis.
"Kamu, tahu dari mana kalau namaku Marshal?," tanya Marshal penuh selidik.
"Asal ucap aja sih."
"Oh."
Marshal tidak mudah percaya begitu saja dengan pernyataan Anisa. Ia sebenarnya penasaran dengan gadis itu, apakah dia gadis yang sama dengan sosok gadis yang selama ini wara-wiri di depan pandangannya. Ia ingin sekali bertanya, namun terlalu lancang menanyakan hal itu. Baru juga bertemu, pertanyaan Marshal bisa saja membuat gadis itu merasa terintimidasi dan membuatnya tidak nyaman.
Marshal harus pandai membawa diri di rumah orang lain, ia membawa nama baik fakultas juga universitas tempatnya menimba ilmu. Ia tidak boleh bertindak gegabah yang bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.
"Kamu mau ke rumah Pak Kades kan?," tebak gadis itu.
Lagi-lagi Marshal dibuat tercengang dengan pertanyaan tak terduga yang keluar dari mulut gadis itu. Marshal menatap tajam ke arah gadis yang memiliki rambut panjang sepinggang itu. Tatapannya penuh selidik, mencari tahu apakah gadis itu benar-benar dari golongannya ataukah dari golongan mereka yang tak kasat mata.
"Bagaimana kamu juga tahu itu?. Apa itu juga asal ucap?," tanya Marshal dengan suara yang mulai serak dan gemetaran.
"Iya asal tebak aja. Kamu,"
Gadis itu tidak melanjutkan kalimatnya, ia melempar senyum kepada Marshal. Senyuman yang semula manis, lalu mendadak berubah menjadi senyum sinis yang menakutkan.
"Kamu...," Marshal pun demikian, tidak melanjutkan kalimatnya. Ia mulai ketakutan, tubuhnya menggigil namun frekuensinya masih kecil.
Tanpa dinyana, gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah Marshal. Tatapan mata mereka saling bertemu. Mulanya, Marshal membalas tatapan itu, namun karena merasa ada yang aneh segera ia menutup matanya. Dadanya berdetak semakin kuat, mewakili rasa takut yang mulai menjalar.
"Kamu, takut?," tanya gadis itu dengan raut muka tidak menyenangkan.
"Enggak," jawab Marshal tegas. Ia berusaha tenang, meski resah.
"Kamu sudah tertinggal kan dengan teman-temanmu?."
Marshal masih terdiam, tubuhnya membeku, tenggorokannya tercekat, ia tidak bisa berlari juga tidak mampu membuka bibir demi satu atau dua kalimat.
"Ayo aku antar ke rumah Pak Kades," gadis itu masih terus berbicara.
Marshal masih belum memberi respon setiap kalimat yang keluar dari bibir gadis itu. Sebenarnya tawaran itu sangat menguntungkan baginya, ia tidak perlu khawatir salah jalan karena sudah ada yang mengantarkan dirinya sampai ke rumah Pak Kades. Ia juga khawatir, takut gadis itu malah punya niat jahat pada dirinya, ia takut gadis itu malah menunjukkan jalan yang sesat.
"Kalau tidak mau, aku tidak memaksa. Aku pergi dulu ya."
Anisa lalu pergi, membiarkan Marshal dengan kebingungannya. Ia lalu berjalan perlahan dengan membiarkan bagian bawah roknya basah terkena sisa embun yang menempel di ujung rerumputan.
Marshal merasa lega bahwa gadis itu sudah pergi. Ia mengusap peluh yang membasahi seluruh area wajahnya sambil terus memantau kepergian gadis itu. Naas, Anisa tetiba saja menghilang tepat di depan matanya.
"Aarrgghh. Tolong!. Tolong!,"
Marshal berteriak sambil berlari ketakutan hingga menubruk beberapa ekor kambing. Tubuhnya hampir tersungkur, beruntung seorang penggembala bisa menahan berat tubuhnya yang hampir terjatuh di atas kotoran kambing yang berbentuk bulat dan berwarna hitam.
"Hei. Hati-hati Mas," ucap bapak itu.
"Oh iya pak. Terima kasih sudah menolong saya." napasnya tersengal. Bicaranya ngos-ngosan.
"Ini minum dulu." Bapak itu menawarkan air minum dari botol bekas air mineral.
Tanpa berpikir panjang, Marshal mengambil botol itu, lalu meminumnya hingga tersisa sedikit.
"Maaf Pak, isinya saya habiskan," ucap Marshal sambil mengelap mulutnya dengan ujung lengan baju.
"Kamu mau ke mana?," tanya Bapak itu kemudian.
"Saya mau ke rumah Pak Kades."
"Oh bersama dengan rombongan anak muda yang barusan turun itu ya?," tebak Pak penggembala.
"Barusan kata Bapak?."
Marshal sedikit kaget dengan 'BARUSAN' yang keluar dari mulut lelaki paruh baya dengan sarung yang melingkar di pundaknya.
"Iya barusan. Kamu kejar juga bisa. Kamu panggil juga mereka dengar. Kamu ke mana barusan kok tertinggal?," ucap bapak itu.
"Saya..., saya tertidur di bawah pohon itu Pak," jawab Marshal terbata sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah pohon randu.
"Tertidur apa melamun?," tanya Bapak itu lagi.
"Entahlah Pak,"
"Bapak cuma berpesan, jangan terlalu sering melamun. Bahaya. Kamu bisa saja bertemu dengannya. Kalau pun iya, hiraukan saja," pesan bapak itu tanpa menjelaskan siapa yang datang. Untuk apa dia datang. Dan pada siapa akan datang.
Ketika mendengar kalimat itu, pikiran Marshal tertuju pada sosok gadis yang tadi. Tubuh Marshal seketika lemas, namun ia tidak mengatakan pada bapak itu jika dirinya sudah bertemu bahkan mengobrol dengan seorang gadis yang menurutnya dari bangsa lelembut. Entah gadis itu yang dimaksud atau bukan.
"Baik pak. Saya pamit dulu."
"Iya. Sebelum tertinggal jauh oleh teman-temanmu," jawab bapak itu.
Marshal melangkahkan kakinya menuju tepian padang rumput yang ternyata ada sebuah tangga yang terbuat dari tatanan tanah yang dibuat oleh warga desa.
Benar saja, Marshal bisa melihat teman-temannya. Tanpa berpikir panjang, Marshal segera menuruni tangga itu, ia abai tentang kondisi tangga yang licin sebab susunan tangga itu yang terbuat dari tanah yang masih bercampur lumpur.
"Hasan," teriaknya pada pemilik tubuh jangkung yang kebetulan ada di barisan paling belakang.
Hasan menghentikan langkahnya, dan menoleh. Maka dengan penuh semangat, Marshal mendatangi Hasan yang terlihat sedang menunggunya.
"Hati-hati dodol. Kamu bisa jatuh," ucap Hasan sambil menepok jidat Marshal.
"Hasan. Kamu bener Hasan?. Kamu sudah kembali."
Marshal memeluk Hasan dengan erat. Pelukan itu seolah mengisyaratkan bahwa ia telah lama tidak bertemu dengan Hasan. Sikapnya itu, berhasil membuat semua temannya memandang aneh ke arah mereka berdua.
"La emang kamu kira aku hantu?," protes Hasan.
"Aku ingin bercerita tentang sesuatu," bisik Marshal di telinga Hasan sambil berjalan di pematang sawah yang berbentuk terasering.
"Aku juga," balas Hasan.
Marshal tersenyum lega, sebab ia benar-benar sudah bertemu dengan Hasan yang sebenarnya.