Marshal menyusul langkah Aurelia memasuki halaman rumah singgah yang sangat luas, ia berjalan tepat di belakang gadis itu. Langkahnya menyeiramakan dengan derap langkah Aurelia.
"Buk."
Tanpa sengaja tubuh Marshal menabrak tubuh Aurelia yang tetiba saja menghentikan langkahnya. Ia berjalan sambil menunduk, sehingga tabrakan itu tidak bisa dihindari lagi. Alhasil, Marshal mendapat omelan dari Aurelia.
"Hai, jalan itu selain pakai kaki juga pakai mata. Jalan yang bener. Badannya situ gedhe, kalau nimpuk aku, bisa kelar umurku," omel Aurelia.
Gadis itu memang mengomel, tapi bukan dengan kalimat yang terus bersambung seperti kereta berjalan dengan suara yang berisik. Aurelia berbicara dengan ritme yang sangat pelan penuh penekanan, serta suara yang sangat lirih lengkap dengan sorot mata yang penuh amarah.
"Maaf. Maaf. Maaf. Kakiku sudah terikat dengan kakimu. Mataku juga sudah tidak melihat hal lain kecuali dirimu. Jalanku sudah tertutup semua, yang masih terbuka adalah jalan menuju hatimu," goda Marshal.
Marshal semakin bahagia ketika tahu bahwa Aurelia terlihat sangat marah mendengar kalimat rayuan yang baru saja keluar dari mulutnya, ia memang sengaja melakukannya sebab gadis itu ibarat musuh yang susah dilumpuhkan.
"Tolong, berhenti berbicara denganku jika kamu masih seperti itu," ancam Aurelia.
Marshal hanya tersenyum dengan menyunggingkan bibirnya, ia bersumpah pada dirinya untuk mendapatkan hati gadis mungil itu, hingga hatinya adalah harga mati bagi Aurelia.
"Kenapa berhenti?," ucap Marshal dengan kalimat yang belum sempat ia tanyakan pada Aurelia.
Gadis itu langsung membalikkan badan, matanya menatap lurus ke depan. Kini, Marshal melihat Aurelia sedang termangu di depan bangunan tua yang masih berdiri dengan sisa kekuatan yang ada.
"Apa yang kamu pikirkan tentang rumah itu?," tanya Aurelia.
"Kamu bilang apa?, Aku gak denger."
Marshal sengaja mengeluarkan kalimat itu dengan dalih bisa berdiri sejajar dengan Aurelia, dan ia sudah mempersiapkan dirinya jika gadis itu memintanya mensejajarkan posisi.
Namun ternyata Marshal salah. Gadis itu hanya diam dengan mata tetap awas memperhatikan rumah yang mungkin sudah tua. Marshal pun mengikuti Aurelia, menatap dari jauh rumah bergaya belanda dengan dua tiang besar di bagian depan.
Lelah menunggu Aurelia yang tak kunjung melangkah, Marshal memutuskan untuk masuk ke rumah lebih dulu. Sayang langkahnya terhenti, gadis itu menarik mundur bajunya.
"Eit. Berubah pikiran nih. Yakin, mau menerimaku?," ucap Marshal tanpa menoleh ke belakang. Tetiba saja angin dengan volume sedikit kencang menerpa tubuhnya dari belakang.
Pikirannya tertuju pada gadis berbaju hitam yang membawa payung, saat terakhir kali bertemu Anisa, gadis itu pergi bersama dengan angin yang sedikit kencang.
Sadar bahwa Aurelia hanya terdiam, dan tidak bersuara mengeluarkan satu kata pun, Marshal segera menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya dia, langit berubah menjadi gelap.
Sementara Aurelia, tampak seperti bukan dirinya. Rambutnya yang panjang tergerai, dan beberapa helai dari rambutnya berkibar tersapu angin. Marshal semakin terperanjak melihat sorot mata Aurelia yang berapi-api, melotot seperti siap melahap dirinya.
Marshal tak mampu berlari, kakinya seolah tertanam di tanah. Ia takut, namun masih bisa menyembunyikan rasa takutnya bahkan ketika gadis di depannya itu tertawa lebar sambil bersuara "hihihi...hihihi...hihihi."
"Siapa kamu?," tanya Marshal masih dengan nada normal. Ia benar-benar tidak mengenali sosok Aurelia yang ada di depannya.
Halaman yang luas telah berubah menjadi tempat yang dipenuhi dengan pohon besar dengan akar yang menjuntai juga menjalar ke berbagai sudut. Warna langit yang semula terik juga sudah berubah menjadi gelap tanpa sinar bulan purnama dan tanpa kelip bintang sebagai pemanisnya.
"Aku ada di mana ini?," gumam Marshal dalam hati.
Sejengkal pun, Marshal tidak berani mengubah arah langkah kakinya. Jika memaksa berlari, ia hanya akan bertemu jalan buntu, tersesat pada dunia yang dianggapnya hanya ilusi.
"Katakan padaku, siapa kamu?."
Marshal kembali bertanya. Kali ini dengan suara lebih keras bercampur emosi yang menegangkan. Sosok di depannya itu hanya tertawa dengan lengkingan yang memekakKan telinga, percuma Marshal melempar tanya padanya.
Meski bukan inginnya, terpaksa Marshal menunggu sosok itu pergi meninggalkan tubuh Aurelia. Marshal masih tetap terdiam dan mematung. Hingga akhirnya tubuh Aurelia jatuh terhuyung ke tanah.
Gegas Marshal menangkap tubuh Aurelia namun terlambat, tubuh itu lebih dulu jatuh dan bersamaan dengan itu warna langit yang gelap telah kembali terang. Halaman yang tadi tumbuh rimbun akar juga telah kembali menjadi halaman yang terdapat beberapa tanaman mangga dan kelengkeng. Sorot mata Aurelia yang menakutkan, berangsur kembali normal.
"Rel, Aurel. Ayo dong bangun," panggil Marshal. Aurelia tetap tidak sadarkan diri.
Marshal edarkan pandangan matanya ke rumah itu, mencari jejak temannya yang lain untuk membantunya mengangkat tubuh Aurelia masuk ke dalam.
Tak satu pun, terlihat ada temannya berseliweran di rumah itu mungkin mereka semua sedang beristirahat sama seperti tujuan Marshal sebelumnya sepulang dirinya dari rumah Pak Kades.
Marshal terpaksa mengangkatnya sendirian. Tubuh Aurelia memang mungil, namun berhasil membuat Marshal ngos-ngosan ketika sampai di ruang tamu. Sebab ia tidak pernah olah raga.
"Tolong aku," ucap Marshal dengan napas tersengal.
Di ruang tamu hanya ada Nakula, entah ke mana teman yang lain. Gegas Nakula membantu Marshal merebahkan tubuh Aurelia di sana.
Seperti yang sudah Nakula lakukan pada Hasan, ia juga mengusap wajah Aurelia dengan air mineral yang sebelumnya sudah ia mantrai dengan doa.
"Hah, hah, hah. Tolong, tolong aku," ucap Aurelia gelagapan. Gadis itu seperti sudah mengalami mimpi buruk.
"Tenang, kamu sudah aman di sini," ucap Marshal berusaha menenangkan.
"Marshal, rumah ini..., rumah ini." Aurelia tidak meneruskan kalimatnya.
"Kamu tenang dulu, tidak usah berpikiran yang aneh-aneh, sehatkan dulu tubuhmu." Nakula juga berusaha menenangkan Aurelia.
Matahari semakin turun, warna langit sore berubah menjadi jingga yang sangat indah pertanda malam sudah waktunya bertugas. Marshal berdiri di depan papan nama yang tertanam di ujung halaman.
"Rongrawe, Rongrawe." Berkali-kali Marshal mengucapkan kalimat itu sambil memegangnya.
"Rongrawe."
Terdengar suara seseorang yang mengulangi kalimat Marshal. Lelaki tua berpakain rapi lengkap dengan kopyah lusuh di atas kepalanya, sudah berdiri di samping Marshal dengan melipat kedua tangannya di depan d**a.
Marshal terhentak, spontan ia langsung mengambil tangan lelaki itu dan menciumnya, sebagai bentuk rasa hormat dirinya terhadap orang tua.
"Ada apa Pak dengan nama ini?," tanya Marshal kemudian.
"Rumah ini sudah lama tidak bergejolak." Lelaki itu tidak menjelaskan dengan gamblang, misteri di balik rumah bernama Rongrawe.
"Maksudnya Pak?." Marshal kembali bertanya karena masih penasaran.
"Rongrawe artinya Lorong Awu Awe," ucap lelaki itu sambil berlalu pergi.
"Lorong Awu Awe?." Marshal mempertemukan kedua alisnya, mencari tahu hubungan kalimat itu dengan gambaran rumah yang tadi sempat muncul di depan matanya.
"Kenapa Lorong Awu Awe Pak. Pak, Bapak, Bapak." Marshal tidak melihat lelaki tadi pergi.
Ia masih sangat penasaran dengan semua kepingan misteri yang mungkin masih saling terkait. Marshal yakin, suatu saat pasti akan menemukan satu kunci untuk menarik garis simpulan atas semua kejanggalan yang menghampirinya.