Meski sadar sangat tidak mungkin ada seseorang bermain gamelan di dekat rumah yang ia tinggali sekarang, namun nyatanya suara gamelan itu terdengar begitu dekat. Seperti sedang ada pagelaran wayang di belakang rumah itu.
"Yakin, kamu tersesat karena mendengar suara gamelan?," tanya Marshal penuh selidik.
"Iya Marshal."
"Mungkin kamu salah denger kali Hasan."
"Aku orangnya memang suka bercanda, tapi percayalah aku berkata jujur," terang Hasan.
Marshal menyandarkan tubuhnya ke dinding yang dingin, menengadahkan kepalanya ke atas dengan kedua tangan memegang ujung handuk yang melingkar di tengkuk lehernya.
"Semoga saja, bunyi gamelan itu berasal dari warga desa yang sedang latihan, bukan kah tadi Pak Kades bilang akan ada acara mangkurawe?."
Marshal masih berpikir positif tentang bunyi gamelan itu. Akan menjadi rumit jika mengaitkan suara gamelan itu dengan beberapa peristiwa ke belakang.
Rumah Rongrawe, Anisa, Pak Kades, Mangkurawe semua nama itu berkeliaran di benak Marshal. Beberapa kemungkinan ini dan itu terus saja membuat Marshal menarik simpulan sendiri.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Marshal?," tanya Hasan penasaran.
"Semuanya Hasan," jawab Marshal setelah ia membuang paksa napasnya.
"Contohnya?. Kamu banyak berubah lo sejak di sini?," ucap Hasan yang masih duduk di atas kursi kayu dengan melipat ke atas kedua kakinya.
"Kejadian kita saat perjalanan menuju Desa Awu Awe, apa semua berasal dari sana?, Atau semua bermula saat aku melihat Anisa?," ujar Marshal dengan menatap kosong langit-langit dapur yang penuh sarang laba-laba.
"Anisa?. Tunggu tunggu kamu sedang kenapa?. Apa yang sudah kamu alami?. Aku tidak mengerti," tanya Hasan semakin penasaran.
Tentang Anisa, Marshal memang belum cerita pada Hasan. Ia hendak bercerita, hanya saja kedua belum ada kesempatan untuk bisa mengobrol dengan nyaman.
Begitu juga dengan keanehan yang ia lihat pada diri Pak Kades, Marshal belum cerita pada Hasan. Tentang Rumah Rongrawe, tentang Aurelia yang bisa dikatakan sedang kesurupan semua itu masih ia simpan rapat sendirian.
"Marshal, jangan bilang kamu sudah nggombalin anak gadis dari desa ini. Bener-bener playboy ya kamu. Belum juga sehari sudah dapat gebetan. Terus Aurelia mau kamu pepes?," seloroh Hasan.
"Hasan," panggil Marshal sambil menatap tajam ke arah Hasan. Ia tidak menanggapi ocehan Hasan yang menurutnya saat ini adalah hal tidak penting untuk dibahas.
"Kamu ingat, saat kita berteduh dan melihat seorang gadis yang berdiri di bawah gerimis?." Marshal mencoba membuka ingatan Hasan.
"Ingat. Kenapa?. Jangan jangan kamu sudah penasaran dengan gadis itu?," ucap Hasan dengan nada sedikit emosi. Pasalnya, waktu itu Hasan sudah memperingatkan Marshal untuk abai pada gadis itu dan jangan sekalipun penasaran padanya.
"Iya benar. Aku sudah penasaran sama dia. Bahkan sampai saat ini." terang Marshal yang masih bersikap santai.
"Wah, ini semua pasti gegara kamu," tuduh Hasan yang secara tidak langsung menyalahkan Marshal atas tersesatnya dirinya kemarin malam.
"Ya tapi kan itu spontan. Naluri manusia Hasan. Bayangkan. Seorang gadis, berdiri tidak jelas di pinggir jalan, saat hujan pula dan di sana benar-benar tidak ada lalu lalang kendaraan yang lewat karena memang bukan jalan utama yang besar. Apa yang kamu pikirkan ketika menyadari hal itu," ucap Marshal menggebu.
Sejenak Hasan berpikir. Mencari pembenaran dari kalimat yang keluar dari mulut Marshal. Ia memang tidak punya saudara perempuan, namun ia akan melakukan hal yang sama seperti yang sudah dilakukan oleh temannya Marshal. Hanya saja, waktu itu pikirannya sedang kacau setelah melalui peristiwa yang tidak masuk akal.
"Iya kamu benar. Lalu apa yang sudah terjadi denganmu Marshal?," tanya Hasan mulai penasaran.
"Entahlah, semuanya seperti halusinasiku saja. Entah itu nyata atau terkait dengan hal tak kasat mata." Marshal menundukkan kepalanya. Ia terlihat lelah.
"Menurutmu, gadis itu bernama Anisa?." Hasan mencoba memancing Marshal untuk bercerita.
"Iya," jawab Marshal.
"Dari mana kamu tahu?. Kalian sudah pernah bertemu?." Hasan terus saja mencerca Marshal dengan pertanyaan yang mewakili rasa penasarannya.
"Iya. Dia datang padaku saat kita melakukan perjalanan menuju ke rumah Pak Kades. Saat itu aku beristirahat sebentar di bawah pohon, tahu-tahu dia sudah ada di sampingku," ujar Marshal bercerita bagaimana ia tahu nama gadis itu.
"Kamu merasa ada yang aneh gak sih?." Hasan masih terus berusaha memancing Marshal untuk menceritakan semua kejadian yang sudah dialami oleh Marshal.
"Ah sudahlah. Aku tidak berani mengatakan banyak hal sebelum aku benar-benar tahu alasannya."
Marshal memangkas topik pembicaraan tentang Anisa dengan Hasan. Ia sedikit takut, jika ia salah bicara maka keselamatan teman-temannya yang menjadi taruhannya. Marshal tidak mau itu terjadi. Biarlah dirinya sendiri yang mencari tahu kebenarannya, tanpa melibatkan orang lain.
Tanpa sadar hari sudah semakin malam, belum larut namun karena berada di sebuah desa terpencil yanh jauh dari kota membuat malam di jam delapan tampak seperti sudah sangat larut. Suasananya sangat sepi. Ditambah lagi, rumah yang mereka tempati berada di tengah halaman yang sangat luas.
"Kalian masih betah di dapur?." Suara Aurelia tetiba saja hadir memecah keheningan diantara Marshal dan Hasan.
"Kami..." Hasan menghentikan ucapannya setelah Marshal melemparnya dengan handuk.
"Kami sedang menikmati sebatang rokok," jawab Marshal kemudian.
"Di sini?."
"Iya, di sini?."
"Kalian kan bisa di ruang tamu," ujar Aurelia.
"Hoam, ngantuk ah. Aku masuk dulu," ucap Hasan sambil menutupkan kelima jarinya ke mulut. Lalu ia pergi masuk agar Aurelia tidak meneruskan kalimatnya yang seperti sedang mengintrogasi dirinya dan Marshal.
Marshal pun mengikuti langkah Hasan. Sebenarnya saat itu adalah saat yang tepat untuk mengeluarkan jurus-jurus peluruh hati perempuan, namun suasana hatinya sedang abu-abu. Ia memilih menghindari Aurelia dulu, sebab ia tahu bahwa kemungkinan Aurelia juga punya rasa penasaran yang sama dengan dirinya, bahwa Aurelia juga mengetahui sepotong misteri.
"Tunggu," cegah Aurelia. Ia membelakangi Marshal dengan tangan kanan dalam keadaan menahan tangan Marshal.
Marshal lalu memundurkan langkahnya, berdiri di sisi kanan Aurelia. Marshal menatapnya tanpa bertanya apa yang ingin disampaikan.
"Apa yang terjadi padaku tadi, aku mohon kamu bisa merahasiakan hal itu. Jangan bercerita pada siapapun. Jika harus bercerita, maka aku sendiri yang berkata," ancam Aurelia dengan menatap tajam ke arah Marshal.
Keduanya saling berbalas tatapan. Sampai akhirnya Aurelia menarik mundur tatapannya dengan paksa sebab ia merasakan hal aneh di dalam hatinya. Aurelia mengibaskan kepalanya berkali-kali guna menyadarkan dirinya bahwa ia ke sini untuk memenuhi tugas kuliah bukan untuk terperangkap ke dalam hati Marshal.
"Kamu tenang saja. Aku berani bersumpah tidak ada orang lain yang akan tahu tentang kejadian yang menimpamu kemarin," ucap Marshal meyakinkan gadis itu.
"Aku pegang ucapanmu," ucap Aurelia tegas.
"Berani taruhan?."
Marshal memang cerdik. Ia bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Perjanjian yang baru saja distempel, bisa ia gunakan untuk mendapatkan Aurelia berada di sisinya. Urusan hati bagi Marshal itu belakangan, yang penting Aurelia berada dalam genggamannya.
"Tentang apa?," tanya Aurelia
"Jika aku kepergok bercerita tentang peristiwa yang kamu alami tadi sore, maka aku akan berhenti mengejarmu. Namun jika aku berhasil menyimpan rahasia itu, maka kamu harus menyerahkan hatimu. Bagaimana?," ucap Marshal dengan pembawaan yang tenang penuh keyakinan bahwa ia akan menang.
Sejenak Aurelia berpikir, lalu pada akhirnya ia menyetujui ide konyol dari Marshal. Sebab ia tahu dengan baik bagaimana perasaannya terhadap Marshal.
"Oke. Deal."
Marshal merasakan bahwa Aurelia sudah melepaskan tangannya setelah memberi jawaban atas tantangan yang sudah diajukan olehnya.
Marshal lalu masuk ke ruang tamu, mencari keberadaan Hasan dan hendak mengajak temannya itu untuk melanjutkan pembicaraan mereka yang terpotong.
"Maaf, tadi terpotong. Ada Aurelia. Aku hanya tidak mau Aurelia tahu semuanya dan menjadi masalah dikemudian hari," ucap Marshal sambil duduk di samping Hasan yang sedang duduk di teras depan.
"Hemm,"
"Hasan, aku mau bertanya sesuatu padamu."
Marshal celingukan, guna memastikan bahwa keadaannya sedang sepi. Tidak ada yang menguping atau bahkan ikut nimbrung.
"Kamu gak usah bertanya, aku akan bercerita. Kemarin, aku lari terbirit-b***t itu bukan tanpa sebab," ucap Hasan.
"Lalu?,"
"Sebenarnya kemarin malam, aku bukan melihat Imam, namun yang terlihat oleh mataku adalah sosok yang tinggi besar dengan rambut panjang dan bentuk telinga yang runcing," ucap Hasan bercerita.
"Lalu bagaimana kamu bisa meringkuk di balik gentong?," tanya Marshal penasaran.
Namun obrolan itu kembali terhenti, kala terdengar kembali bunyi-bunyian permainan musik gamelan. Bunyi-bunyi gamelan yang sangat menenangkan.
Marshal memejamkan matanya, menikmati alunan musik yang sebenarnya identik dengan alam tak kasat mata. Sambil terus berpikir apakah musik ini juga berkaitan dengan peristiwa yang lain.