Marshal berusaha menutupi rasa malunya itu dengan berdiri dan mendekati anak gadis yang sudah mengangkat tangannya untuk bertanya. Ia memberikan alat pengeras suaranya kepada anak itu, agar pertanyaannya bisa terdengar oleh yang lain.
“Apa nanti akan ada lomba-lomba kak?,” tanya anak itu dengan wajah polos.
“Oh iya tentu saja. Ada hadiahnya juga. Jadi kamu harus mengajak semua teman kamu ya?,” jawab Marshal.
Marshal tahu, sesuatu yang paling disukai anak-anak adalah hadiah. Maka dari itu ia sudah menyiapkan beberapa lomba dengan membidik usia anak-anak. Hadiah akan diberikan saat acara pelepasan mahasiswa KKN. Marshal juga sudah menyiapkan hadiah spesial untuk anak desa awu awe.
Tepat di jam dua belas acara sudah selesai, beberapa warga masih berkerumun di balai desa. Marshal senang melihat antusiasme warga yang menyambut positif kedatangan dirinya dan teman-teman.
Setidaknya mereka tidak anti dengan perubahan. Orang kota tidak mereka anggap sebagai perampas adat istiadat yang berlaku di desa mereka. Desa Awu Awe berada di desa terpencil, sulit dijangkau dengan kendaraan roda empat. Jika pun ada mobil, harus berjuang melewati jalan yang tidak bersahabat apalagi di musim hujan seperti sekarang.
Jalan berbatu dan berlumpur menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh sopir kendaraan roda empat. Belum lagi mereka akan bertemu dengan jalan yang tidak stabil ukuran serta kondisi jalannya, melewati jalan yang berukuran lebar, kondisi jalannya berbatu dan berlumpur. Sedangkan jalan yang berukuran sempit, Pak Sopir harus lebih berhati-hati lagi meski kondisi jalannya lebih rata sebab jalan itu berhimpitan dengan jurang dan juga sisi gunung.
Desa Awu Awe, sungguh desa yang belum sepenuhnya terjamah oleh modernisasi, alam masih memberinya aroma wewangian yang alami, alam juga masih memberinya nyanyian alam dari penghuni hutan yang mengelilingi desa itu. Desa yang sangat menenangkan, namun sayang menyimpan sebuah misteri, aura magis desa itu sangat terasa dan misteri sudah mengusik ketenangan Marshal.
Ibu, sosok itu yang saat ini sangat ia rindukan. Merindu pelukannya. Merindu aroma masakannya. Merindu belaiannya. Dan demi mengobati hati yang sedang merindu, Marshal ingin menatap wajah ibunya meski gambar di layar patah-patah karena signal yang lebih sering timbul tenggelam. Marshal tidak puas hanya dengan melihat foto ibunya, ia juga merindu dengan suara dari Sang Ibu.
Sudah hampir setengah jam, Marshal mengangkat tangan dengan menggenggam ponselnya. Berharap ada setitik harapan dalam satu garis signal. Tambah dua garis lagi ia merasa sangat bahagia, bisa ia manfaatkan pula untuk searching arti dari aksara jawa yang terukir di batang pohon bambu.
“Menyerah sajalah. Signal di sini dimakan gareng,” canda Imam.
“Aku mau berkabar dengan keluarga yang di rumah,” jawab Marshal asal. Ia masih sibuk membawa ponselnya ke sana ke mari bukan demi dua garis berwarna merah, tapi demi signal provider yang ia gunakan untuk menghubungi ibunya.
“Kamu?. Peduli sama keluarga?. Hahahahaha,” ledek Imam dengan berteriak
Di mata orang lain, Marshal memang terkesan sebagai lelaki yang tidak peduli dengan keluarga. Ia lebih mirip dengan pemuda yang tumbuh di tengah keluarga yang tidak harmonis. Padahal yang sebenarnya, ia sangat dekat dengan keluarga lebih tepatnya dengan Sang Ibu tapi tidak dengan Sang Ayah. Hal itu tidak diketahui oleh banyak orang. Marshal sengaja menyembunyikan itu kecuali pada Hasan, ia tidak mau citranya sebagai Playboy musnah.
“Eit jangan salah. Marshal justru sangat peduli dengan keluarganya,” seru Hasan sambil mengambil paksa kursi yang ada di tangan Imam.
“Marshal, sudah nanti saja nyari signalnya. Nanti aku bantu. Sekarang bantuin beres-beres dulu,” teriak Hasan yang melihat Marshal masih sibuk dengan signal.
Sebenarnya, signal adalah alasan nomer dua dia menjauh dari lobi Balai Desa. Alasan yang pertama adalah ia menghindari acara beberes lobi Balai Desa, sebab ia orang termalas untuk urusan kerapihan dan kebersihan.
“Iya bentar,” teriak Marshal sambil mengedarkan netranya ke lobi Balai Desa yang masih berserakan kursinya.
Marshal masih pura-pura sibuk mencari signal untuk ponsel pintarnya. Ia memutuskan berjalan ke belakang gedung, sambil berharap saat ia kembali nanti semua yang berserakan di lobi Balai Desa sudah bersih.
Ia terus melangkah hingga menjumpai taman kecil di belakang gedung Balai Desa. Di sana, tumbuh beraneka macam tanaman hias dengan beragam jenis, bentuk dan warna. Mata Marshal tertarik pada sederet tanaman di bagian sudut taman, ia menduga bahwa itu adalah tanaman obat herbal.
Marshal mengamati satu persatu tanaman itu. Dari semua jenis tanaman yang tumbuh di sana hanya dua tanaman saja yang ia ketahui namanya yakni bunga anggrek tanpa tahu jenisnya dan pohon serai, sudah itu saja. Selebihnya, Marshal hanya pernah melihat tanpa mengetahui secara mendasar nama dan jenisnya karena memang ia tidak tertarik dengan dunia tumbuhan.
Lagi-lagi Marshal menangkap sesuatu yang tidak asing berada di bagian paling ujung dari deretan tanaman di bagian sudut. Ia melihat sebuah pot berukuran sedang, di dalamnya tumbuh tanaman yang mirip dengan pohon bambu namun bentuknya sangat kecil, lebih mirip dengan miniatur pohon bambu. Lalu ada dua batang yang berdiri sejajar dengan ukuran yang lebih tinggi dengan yang lain. Seketika ingatan Marshal kembali ke pohon bambu yang berada di belakang rumah singgah.
“Iya benar. Tanaman di dalam pot ini sama persis dengan gambaran situasi yang ada di belakang rumah,” gumam Marshal pelan.
Rasa penasaran Marshal semakin besar, ketika ia berjongkok dan melihat lagi dengan jarak yang sangat dekat bahwa kedua batang pohon bambu itu sama persis dengan yang ia lihat tadi pagi. Perlahan ia menyibak rumput kecil yang menghalangi mata Marshal untuk melihat apakah di bawah batang pohon itu juga terdapat kalimat yang ditulis dengan menggunakan aksara jawa. Ia hendak memastikan agar segera tahu kebenarannya dan tidak membuatnya berasumsi yang salah.
“Sedang apa Nak?.”
Suara Pak Kades yang tetiba datang mengagetkan Marshal yang sedang fokus pada tanaman di depannya. Tangan Marshal berdarah, tergores duri tanaman yang tidak ia ketahui namanya. Namun ia tidak berani mendesis kesakitan di depan Pak Kades.
“Eh Pak Kades. Anu Pak, tadi saya sedang mencari signal,” jawab Marshal terbata.
“Oh, hati-hati ya. Jangan sampai semua tanamannya rusak,” ucap Pak Kades dengan memasang tatapan penuh kebencian.
Pak Kades seperti tidak suka ada orang lain masuk ke taman yang mungkin khusus untuk pegawai kantor desa itu. Wajar jika Pak Kades bersikap sinis pada Marshal ketika tahu bahwa dirinya sudah menyusup masuk ke taman tersebut.
Setidaknya itu yang ditangkap Marshal saat ia mendekati tanaman-tanaman itu, ia tidak yakin bahwa Pak Kades akan semarah itu demi tanaman yang belum ia sentuh, pasti ada sesuatu yang sudah disembunyikan Pak Kades di sudut itu. Bisa jadi tanaman itu dimiliki Pak Kades secara pribadi, orang nomer satu di desa awu awe. Ia hanya menitipkannya di kantor balai desa.
“Boleh saya bertanya Pak?,” tanya Marshal memberanikan diri.
Ia tidak akan bertanya tentang misteri-misteri yang sudah meresahkan dirinya, teror-teror yang sudah membuatnya tidak nyaman. Bagi Marshal itu terlalu buru-buru, ia harus bergerak pelan namun pasti agar tidak menyinggung perasaan Pak Kades khususnya dan umumnya menghormati kepercayaan serta istiadat warga desa.
“Kamu mau tanya apa?,” jawab Pak Kades dengan nada suara yang terdengar sangat berwibawa. Nada itu sangat berlawanan dengan beberapa menit yang lalu saat tahu Marshal hendak menyentuh tanaman yang ada di dalam pot. Ditambah lagi, Pak Kades dengan santai mengalungkan lengannya di pundak Marshal.
Ya, sikap Pak Kades itu cukup membuat dadanya sedikit longgar. Suasananya sedikit mencair bila dibandingkan beberapa menit yang lalu saat dirinya kepergok Pak Kades sedang memantau tanaman.
“Pohon apa ya Pak yang ditanam dalam pot di sudut itu?,” tanya Marshal sambil menunjuk pot yang berada paling ujung.
“Itu rumput liar biasa saja. Potnya sudah lama tidak terisi, jadinya ditumbuhi rumput liar seperti itu,” jawab Pak Kades asal. Ia tahu bahwa Marshal tidak mengharapkan jawaban itu.
“Oh. Baiklah kalau begitu Pak. Saya pamit ke depan dulu. Mau membantu yang lain,” pamit Marshal mengakhiri pertemuannya bersama Pak Kades dengan sedikit membungkukkan badannya.
Gamang di hati Marshal kembali mendera. Ia sangat yakin bahwa pohon kecil itu bukan sekedar pohon biasa, pasti ada kaitannya dengan pohon bambu yang ada di belakang rumah. Rongga dadanya penuh sesak memikirkan misteri yang terus bermunculan,semua itu seperti benang kusut yang susah terurai.
Rumah rongrawe adalah rumah Pak Kades, tanaman di pot itu juga disinyalir Marshal milik Pak Kades. Anisa juga disinyalir Marshal berkaitan dengan Pak Kades. Ia tidak boleh lagi menunda misinya untuk memecahkan misteri itu. Hal pertama yang harus ia lakukan saat ini adalah menyalin tulisan aksara jawa itu ke dalam kertas, lalu menterjemahkannya dengan bantuan gugel.
Jika signal masih tidak bersahabat, terpaksa ia harus meminjam buku kepada anak-anak yang tadi pagi melihatnya senam. Cara itu cukup efisien untuk mempercepat dirinya mengetahui arti bacaan dari aksara jawa tersebut.
Marshal mempercepat langkahnya agar bisa segera sampai di lobi balai desa, lalu pulang guna menyelesaikan tugas pribadinya.
“Bug.”
Tubuh Marshal menubruk seseorang hingga terhuyung dan terjatuh.
“Anisa?,” sapa Marshal kaget. Ia seolah tidak percaya bisa bertemu lagi dengan Anisa.
“Kamu?.”
Sama halnya dengan Marshal, Anisa juga kaget saat Marshal mampu dengan fasih mengucapkan namanya. Gadis itu lalu menundukkan kepala, ia tunjukkan rasa malu di depan orang lain termasuk Marshal.
“Hai,” sapa Marshal membuka percakapan. Mereka duduk di dekat gedung kosong yang terletak di depan gedung utama. Ia malah enak duduk di sana, bukan membantu teman-temannya beberes lobi.
“Hai,” jawab Anisa dengan suara yang lembut.
Marshal merasa ini Anisa yang berbeda, bukan Anisa yang bertemu dengannya di lapangan padang rumput. Juga bukan Anisa yang tadi sudah menampakkan diri dengan wajah penuh misteri dan menakutkan.
“Kamu Anisa kan?, Anisa yang sama, yang bertemu denganku di lapangan padang rumput?,” tanya Marshal penuh selidik. Ia tidak mau basa basi agar bisa sedikit menemukan fakta baru.
“Tidak, aku tidak pernah ke mana-mana?. hanya diam di rumah sambil menunggu tugas di group.
Jawaban itu secara tidak langsung kembali membuat Marshal berasumsi bahwa Anisa yang ada di depannya ini adalah Anisa yag berbeda dan ada dua Anisa.
“Lalu kamu tinggal di mana?,” tanya Marshal lagi.
Anisa sangat memahami konteks pertanyaan dari Marshal, namun ia tidak menjawab dengan gamblang. Marshal hanya mendapat jawaban singkat untuk pertanyaan yang terakhir.
“Aku tinggal di sana.” Anisa menunjuk ke suatu tempat yang tidak jelas
Marshal tidak mau bertanya lagi terlalu dalam, apa yang ditunjuk oleh Anisa sudahlah cukup baginya untuk mengerti bahwa Anisa yang ada di depannya adalah Anisa yang baik. Punya tempat tinggal. Gadis itu bukan Anisa yang dalam duganya adalah makhluk tidak kasat mata.
“Maaf ya, kita sudahi dulu pertemuan ini. Lain kali di sambung lagi,” ucap Marshal yang terburu-buru mengejar langkah temannya yang sudah mulai meninggalkan halaman kantor balai desa.
Entah kenapa, semua temannya itu seolah tidak melihat keberadaan Marshal di sana. Padahal mereka melewatinya, termasuk Hasan. Bahkan ketika Hasan celingukan mencari Marshal, ia juga tidak melihat lambaian tangan dari temannya itu.