Sejak di Desa Awu Awe Marshal dan teman-temannya jarang sekali keluar dengan memakai motor. Mereka lebih suka berjalan kaki, sembari menikmati kesejukan daerah pegunungan serta berbaur dengan alam.
Kehidupan mereka terlalu sibuk dengan teknologi. Saban hari selalu bergumul dengan polusi. Bisa menikmati udara yang sejuk di daerah yang begitu panas hanyalah menjadi mimpi kecuali mereka berlibur ke area pegunungan.
Imam melajukan motor dengan kecepatan empat puluh kilometer perjam, namun siang itu angin berhembus sedikit kencang. Sehingga Marshal memilih lebih banyak diam dari pada harus mengobrol sambil berteriak, karena angin telah menerbangkan sebagian bunyi yang keluar dari mulutnya.
“Marshal,” panggil Imam yang sedang memegang kendali motor.
“Apa?,” jawab Marshal datar.
“Menurutmu, Amora gadis yang bagaimana?,” tanya Imam. Suaranya hampir tidak terdengar karena bercampur dengan angin.
“Kamu suka sama dia?,” tanya Marshal dengan sedikit tersenyum.
“Kalau menurutmu baik, niatnya akan aku tembak dia setelah pulang KKN,” jawab Imam tersipu. Tapi Marshal tidak bisa melihat wajah Imam yang sedang memerah itu.
“Hahaha. Hahaha. Hahaha.” Marshal tertawa tanpa bisa berhenti, hingga membuat matanya berair dan perutnya terasa kaku.
Imam sangat terkejut. Dengan ketakutan ia menepikan motornya, lalu turun begitu saja tanpa sedikit pun menoleh ke arah Marshal.
Marshal bingung dengan sikap Imam yang mendadak berubah, ia pun menghentikan tawanya lalu berteriak memanggil Imam yang terus berjalan tanpa mendengar panggilannya. Ia khawatir, Imam mengalami hal yang sama seperti Hasan. Ia sangat takut jika Imam menjadi korban yang selanjutnya.
Keadaan baru saja tenang setelah beberapa saat yang lalu menegang akibat Hasan yang terkena serangan dari makhluk tak kasat mata. Imam yang selama ini terlihat tidak pernah ada masalah dengan hal-hal seperti itu, mendadak bertingkah aneh. Secara otomatis pikiran Marshal menjurus ke sana.
Ia tidak ingin, satu persatu semua temannya mengalami serangan yang sama dari makhluk yang tak kasat mata. Kata orang, sekali saja jiwanya mampu ditembus oleh makhluk tak kasat mata, maka seterusnya makhluk-makhluk itu akan lebih mudah memasuki jiwa yang sudah kosong.
“Imam,” teriak Marshal yang melihat Imam tak kunjung menghentikan jalannya.
Tanpa berpikir panjang, Marshal menarik tuas motornya dan menghadang langkah Imam ketika sampai di dekat temannya itu.
“Imam, kamu kenapa?,” tanya Marshal dengan nada bicara penuh kecemasan.
“Kamu?. Kamu?,” ucap Imam tergagap.
“Iya aku. Ini aku Marshal,” jawab Marshal meyakinkan Imam.
Imam merasa lega setelah memastikan bahwa sosok yang berada di depannya itu adalah Marshal. Benar-benar Si Playboy paling tersohor di kampusnya yang sedang KKN satu kelompok dengannya.
“Kamu benar Marshal kan?.” Imam mendekat dengan menepuk, mencubit bahkan sedikit menampar pipi Marshal untuk memastikan bahwa itu adalah temannya.
“Iya Imam. Kamu kenapa sih?,” tanya Marshal penasaran.
Sesuai dugaan Marshal, Imam masih trauma dengan kejadian kemarin dan tadi pagi yang menimpa dirinya serta Hasan. Temannya itu masih belum bisa mengkondisikan perasaannya, sekalipun Imam berusaha tenang tapi yang sebenarnya adalah tubuhnya terasa begitu tegang dan terbungkus rasa takut yang berlebihan.
Hal yang sama mungkin juga dirasakan oleh temannya yang lain. Kecuali Hasan, dan Aurelia yang memang sudah mengetahui dan mengalami hal ganjil dari desa itu. Pada Nakula, Marshal masih meraba apakah ia juga merasa bahwa ada kejanggalan dari desa yang menjadi tempatnya KKN itu.
“Ah, syukurlah. Aku kira kamu juga ikut kerasukan. Kemarin itu kamu tidur tindihan, dan itu sangat menakutkan bagiku,” ucap Imam sambil menaikkan tubuhnya diboncengan belakang.
Kini Marshal terpaksa yang membonceng Imam menuju ujung gang yang berjarak cukup jauh dengan rumah tempat mereka tinggal demi semangkok bakso yang begitu mereka idamkan.
“Kamu tadi kenapa tertawa Marshal?. Bikin bulu kuduk merinding saja,” protes Imam.
“Ya kamu pakai bertanya pendapatku tentang Amora. Kalau kamu suka, berarti dia baik di matamu. Kalau suka ya suka aja, gak usak tanya pada siapa pun. Diembat orang baru tahu rasa kamu,” jelas Marshal.
“Kamu kan paling jago milih cewek. Paling jago bikin cewek klepek-klepek jatuh ke pelukanmu. Paling jago bikin cewek mengiba padamu untuk menjadi pacar. Ya kan aku perlu berguru padamu Marshal,” celoteh Imam di boncengan belakang.
“Kamu pikir aku punya sejuta mantra untuk melumpuhkan hati perempuan. gitu maksud kamu?,” tutur Marshal.
“Ya kali aja kamu punya. Dan sini bagi-bagi sama temannya,” ucap Imam sambil terkikik.
“Was wus was wus…, tuh mantranya. Pakai langsung di depan anak gadisnya orang. Dijamin seratus persen kamu di tolak. Hahaha,” ucap Marshal sambil kembali tertawa lepas.
Marshal merasakan otaknya kembali segar. Dulu ia bisa bercanda seperti ini dengan Hasan, tapi sekarang Hasan pun ikut menjadi sasaran makhluk tak kasat mata. Terkadang terbesit rasa bersalah bergelayut di benaknya, karena dirinya, banyak teman yang terseret ke dalam teror yang tidak berkesudahan.
Hasan menjadi lebih sering menasehatinya. Ia menjadi sok berubah menjadi lebih dewasa, namun lebih sering melamun. Sahabat Marshal satu-satunya itu menjadi lebih sering berkata serius dari pada harus bercanda dengan dirinya.
Yang sebenarnya, Marshal sangat merindukan Hasan yang dulu. Hasan yang jiwanya belum terkena virus wingit dari desa Awu Awe. Tapi ia juga butuh sosok Hasan yang sekarang, yang mendukung dirinya menjadi pahlawan untuk desa kecil bernama Awu Awe.
Berkat Imam, ia bisa kembali tertawa lepas. Menanggalkan beban yang belakangan ini terasa begitu berat melilit pundaknya. Ditambah lagi ada bayang kerinduan terhadap Sang Ibu berpendar di pelupuk matanya.
Marshal merasa beruntung tidak ada signal di Desa Awu Awu, Ibu jadi tidak bisa lebih sering meneleponnya dengan mode video. Sehingga tidak perlu mengetahui detail keadaan dirinya selama jauh dari pelukan Sang Ibu. Namun hati ibu tidak pernah salah, anak terluka Ibu pasti resah.
Sampai di ujung gang, Marshal melongo melihat ramainya penjual di sana. Sebuah lahan yang ia sendiri tidak tahu berapa ukurannya, telah disulap menjadi tempat berkumpulnya semua penjual. Penjual makanan, penjual sayuran, penjual segala kebutuhan warga tersedia di sana. Tempat itu sudah seperti atmosfir perdagangan bagi desa Awu Awe. Kalau di kota mungkin hampir sama dengan jantung kota.
Ya, sejak mereka datang ke desa Awu awe, belum sekalipun mereka pergi jalan-jalan. Satu hal yang sudah mereka lakukan adalah menikmati hamparan padi nan hijau saat mereka melakukan perjalanan ke rumah Pak Kades.
“Marshal. Sesekali kita harus jalan-jalan ke sini. Rame-rame sama teman-teman. Menyegarkan pikiran kita setelah beberapa kali dihadapkan pada situasi yang mencekam. Bagaimana menurutmu?,” ucap Imam memberi saran. Ia menatap takjub keramaian yang terjadi di sana.
“Boleh. Nanti saja, setelah kita membantu Pak Kades melaksanakan acara Mangkurawe. Sepertinya itu waktu yang tepat,” jawab Marshal.
Marshal mengira, desa Awu Awe hanya desa kecil yang sunyi dan wingit. Namun ternyata pemandangan di depannya itu telah mematahkan prasangkanya, desa kecil itu juga bisa memperlihatkan sisi lain dari dirinya.
Di depan pintu masuk, Marshal dihadang oleh tukang parkir yang menyuruhnya untuk turun dan memarkir motornya terlebih dulu sebelum masuk ke area penjual. Seluruh pengunjung, diwajibkan jalan kaki ketika berkunjung ke sana.
Lagi-lagi Marshal dibuat takjub dengan masyarakat yang patuh dan tertib terhadap peraturan. Memang sudah tertulis di sebuah papan kayu PENGUNJUNG DIHARAP TURUN DAN BERJALAN KAKI SAAT BERKUNJUNG, namun Marshal sering abai dengan perintah tertulis seperti itu.
Masyarakat kota pasti acuh dengan tulisan di papan seperti itu, dan papan hanya sebagai syarat tertulis saja. Fungsi papan seperti itu bahkan bagi sebagian orang hanyalah sebuah informasi yang harus dilanggar bukan ditaati.
Peringatan di papan itu menjadi hal yang berbeda bagi masyarakat desa Awu Awe, tradisi yang kuat mungkin sudah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang desa Awu Awe. Taat pada sebuah peraturan, bukanlah budaya yang mudah untuk dilestarikan. Namun di sana hal itu seperti perihal yang sangat kecil.
Mau tidak mau, untuk sementara waktu Marshal dan semua temannya harus mengikuti istiadat yang berlaku ditempat tinggal mereka yang sekarang. Marshal lalu turun dari sepeda motornya, dan memilih berjalan sambil cuci mata.
“Ada dua penjula bakso. Keduanya sama-sama rame. Kita mau yang kanan apa yang kiri?,” tanya Marshal pada Imam. Ia bukannya tidak mau memilih, hanya saja ia tidak ingin disalahkan jika bakso yang mereka beli rasanya tidak sesuai dengan yang ada di kepala mereka.
“Mmm.” Imam tampak berpikir. Kedua matanya melihat secara bergantian ke arah penjual bakso.
“Ada jurus jitu untuk mengetahui bakso mana yang rasanya paling menggugah selera,” ucap Imam. Gayanya sudah sama persis dengan orang-orang yang ahli dalam bidang kuliner.
Kemudian ia berjalan perlahan mengitari tempat itu, sambil mengenduskan penciumannya ketika berada tepat di depan penjual bakso. Marshal yang berjalan di belakangnya, merasa geli melihat tingkah Imam, ia pun terkikik dibuatnya.
“Bagaimana?, sudah ketemu mana yang rasanya enak menurut hidungmu?,” tanya Marshal dengan tersenyum.
“Sudah,” jawab Imam sambil melangkah ke penjual bakso di sebelah kanan.
“Kalian warga baru?,” tanya seorang ibu yang sama-sama juga sedang antri bakso.
“Kami bukan warga baru Bu,” jawab Marshal dengan sopan.
“Oh tamu?. Tamunya siapa?.” Masih dengan ibu yang sama.
“Iya kami tamu di sini. Kami tamunya warga desa sini Bu.”
Marshal sengaja tidak menjawab pertanyaan ibu itu dengan jelas, agar ia tidak merasa canggung karena sedari tadi keberadaan dirinya dan Imam menjadi pusat perhatian semua orang.
Mungkin, bagi warga desa Awu-Awe dandanan Marshal dan teman-temannya terlalu berlebihan. potongan rambut yang rapih, warna kulit yang bersih serta aroma tubuh yang wangi mungkin membuat mereka seperti pajangan toko yang sangat elok.
“Waktu pertemuan di Balai Desa apa ibu tidak ikut?.” Masih dengan Marshal yang bertanya, sebab Imam terlalu asyik melihat cara Abang tukang bakso yang dengan cekatan meladeni pembelinya.
“Oh, jadi kalian ini orang kota itu?,” ujar Si Ibu yang memiliki bobot tubuh sekitar enam puluh lima kilogram. Ia melempar tatapan yang kurang menyenangkan.
“lebih tepatnya, kami adalah mahasiswa yang sedang KKN di sini Ibu,” ucap Marshal yang masih sabar merespon obrolan Si Ibu.
Selesai berbicara dengan Marshal, Si Ibu berbicara kasak kusuk dengan teman yang berada di sebelahnya. Marshal merasa sangat tidak nyaman berdiri tepat di sampingnya, ia memang tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang kedua ibu itu bicarakan. Samar terdengar olehnya, salah satu di antara mereka menyebut rumah Rongrawe.
“Aku duluan ya,” sapa Si Ibu yang sudah mendapatkan jatah pesanannya lebih dulu dari Marshal. Ibu itu lalu pergi meninggalkan Marshal yang hatinya sudah tercokol.
“Iya Bu, Silahkan. Hati-hati ya Bu,” ucap Marshal. Ia harus tetap bersikap sopan terhadap siapa pun di desa itu. ia sadar diri bahwa dirinya adalah tamu tidak lebih.
Karena sudah memilih, keduanya harus rela antri lebih lama dibanding beli di penjual bakso yang sebelah kiri. Antrian panjang tapi pelayanan cepat, kesan itu yang Marshal perhatikan dari Si Abang Penjual Bakso. Marshal dan Imam pun bisa dengan cepat mendapatkan pesanannya dan pulangnya juga bisa lebih cepat.
“Kamu yang boncengin ya Mam,” pinta Marshal. Ia merasa hatinya masih marah dan tidak nyaman bila harus membonceng Imam yang lebih banyak berbicara dari pada diam. Ia takut semakin tidak dan membahayakan mereka berdua.
“Oke siap,” jawab Imam.
Marshal bukan tipikal lelaki bermulut ember, ia tidak mungkin curhat pada Imam soal ibu tadi yang melihatnya dengan pandangan kurang menyenangkan. Ditambah lagi kalimat rumah rongrawe suda keluar dari mulut ibu yang sedari tadi berbicara dengannya.
Tatapan mata sinis dari Si ibu ketika menyebut rumah rongrawe, seolah ada hal yang menakutkan dari rumah itu yang harus dihindari banyak orang. Seolah rumah itu menyimpan sebuah kutukan sehingga tidak ada orang yang berani mendekatinya.
Faktanya, Marshal dan teman-teman merasa nyaman dan baik-baik saja meski terkadang beberapa penghuninya terkena serangan dari makhluk tak kasat mata. Lalu apa yang sudah membuat ibu itu begitu muak dengan rumah rongrawe?.