Sejak Marshal masuk ke dalam rumah Mbok Ra, perempuan yang setia memakai jarik itu merasakan aura hangat dari balik punggungnya. Namun Mbok Ra tidak bisa mengetahui dengan pasti apa yang ada di dalam rumahnya. Benda asing telah masuk ke dalam rumah, itu yang Mbok Ra rasakan.
Meski tahu ada sesuatu di dalam sana, Mbok Ra tetap tenang. Ia masih tetap mengobrol dengan Pak Kades. Dalam percakapan itu Mbok Ra sengaja tidak membuka semuanya, ia hanya berjaga bila memang ada seseorang yang sengaja menguping pembicaraan mereka untuk kepentingan pribadi.
Ia masih melindungi cucu mantan majikannya, anak yang dulu dirawatnya sejak kecil. Ya, Pak Kades dulunya bocah kecil bagi Mbok Ra. Bocah yang selalu di gendongannya ke manapun ia pergi. baginya Pak Kades adalah anak kandung, bukan anak majikan yang ia asuh. Semua kasih sayangnya tercurah untuk lelaki yang kini memegang penuh warisan kakek buyutnya yang melimpah ruah.
Demi bisa memberi Pak Kades kasih sayang berlebih, Mbok Ra tidak menikah. Ia tidak ingin berbagi kasih sayang dengan orang lain meski itu adalah anak kandung dan suaminya sendiri. Selain itu Mbok Ra juga sudah terikat janji dengan Sang Majikan, bahwa ia akan terus menjaga Pak Kades sampai makhluk tak kasat mata itu tidak lagi mengikat jiwanya.
Baik Mbok Ra maupun Pak Kades sudah tahu, bahwa semua keterikatan lelaki bernama Sokib itu akan mengurai berkat bantuan dari seseorang yang mampu mengucapkan mantra yang terdapat di rumah Rongrawe. Dan bagi mereka berdua, keberadaan orang itu masih misterius. Harapan Pak Kades sangat kecil tentang seseorang yang akan membantunya melepaskan ikatan itu serta mempertemukannya lagi dengan putri yang sudah lama ia rindukan.
Sebab Pak Kades tidak mempunyai cukup banyak informasi tentang seseorang tersebut, satu-satunya informasi adalah bahwa orang itu mampu membaca mantra yang ada di rumah Rongrawe. Sebenarnya Pak Kades punya banyak kesempatan untuk mendatangi dukun sakti yang bisa membantunya lepas dari jerat ikatan yang menyiksa batinnya itu. Namun ia enggan melakukan, dengan alasan tugasnya menjadi Lurah desa sangat menyita waktu padahal tidak.
Pak Kades hanya takut salah mengambil keputusan. Ia tidak mau warga desa yang tidak bersalah akan terseret menjadi korban keegoisannya. Bagi Pak Kades, warga desa adalah keluarga yang harus ia rangkul. Dan bukan benda yang diperlakukan dengan semena-semena apalagi untuk urusan hak dan kewajiban.
Puluhan tahun, Mbok Ra dan Pak Kades menunggu pahlawan itu datang namun nihil. Kebenaran tentang pahlawan itu seolah menjadi isapan jempol belaka. Terutama bagi Pak Kades yang sangat merindukan putri semata wayangnya. Sekian tahun Pak Kades ingin melupakan kenangan pahit itu, kenangan tentang kejadian bagaimana makhluk itu mengambil paksa bayi Pak Kades yang masih berumur sepuluh menit.
Bahkan istri Pak Kades tidak sempat mencium bayi itu demi memberinya tanda cinta dan kasih sayang untuk putri yang baru saja dilahirkannya. Apalagi memeluknya dengan erat, istri Pak Kades tidak punya kesempatan untuk itu. Hati perempuan mana yang tidak nelangsa, ketika bayi yang sudah dinantinya selama sembilan bulan itu hilang begitu saja dari pelukannya.
Keadaan itu sempat membuat jiwa istri Pak Kades terguncang, hingga ia tidak bisa mengurus dan berbagi kasih sayang dengan anak sulungnya yang kini tinggal bersama saudara laki-laki Bu Kades di kota. Baginya anak lelaki itu tidak ada. Karena mengalami depresi yang sangat berat menyebabkan sebagian memori Bu Kades hilang, Salah satunya memori tentang fakta bahwa ia mempunyai anak laki-laki.
"Mbok saya pamit dulu," ucap Pak Kades berpamitan. Ia menarik tangan Mbok Ra lalu mencium punggung tangannya, layaknya pada orang tua sendiri.
"Iya," jawab Mbok Ra tanpa memperhatikan Pak Kades yang hendak pulang itu.
Pak Kades melihat Mbok Ra penuh curiga. Ia pun mengikuti jejak Mbok Ra yang masih menolehkan kepalanya ke belakang. Matanya tidak menangkap sesuatu yang mencurigakan.
"Mbok," panggil Pak Kades ulang.
"Iya." Mbok Ra terhentak mendengar suara Pak Kades yang tidak terlalu keras itu.
"Saya pamit pulang dulu."
"Iya." Mbok Ra baru merespon.
Setelah mengantar Pak Kades pergi dengan terus berdiri di teras rumahnya, gegas Mbok Ra melihat sesuatu yang sedari tadi sangat menggangu pikirannya. Apalah Mbok Ra yang mesti tergesa ia tak mampu berlari untuk memeriksa rumahnya, usianya yang sudah senja terpaksa harus bersabar berjalan mengikuti irama tongkat yang ia pindahkan perlahan mengikuti langkahnya yang tidak lagi rancak.
Tidak banyak ruangan di rumah Mbok Ra. Hingga ia tidak perlu memeriksa terlalu lama area ruang tamu, kamar tidur yang berada tepat di samping dapur. Serta kamar mandi sederhana yang menyatu dengan dapur.
Mbok Ra tidak menemukan apapun, kecuali pintu samping dapur yang terbuka. Ia tidak menaruh curiga terhadap pintu itu sebab sudah menjadi kebiasaan dia yang lupa menutup. Mbok Ra menyadari kinerja organ tubuhnya sudah berkurang.
Ia bukan lagi perempuan yang dengan lincah momong Pak Kades kecil ke sana kemari. Ia bukan lagi perempuan tangguh yang mampu mengangkat berkarung-karung gabah dari pinggir sawah hingga naik ke atas truk. Ia juga bukan lagi gadis cantik yang mampu memikat hati setiap lelaki. Ia juga tak lagi muda, dengan tubuh bak gawai biola. Ia tak juga lagi mampu menghentakkan kakinya dengan irama yang penuh dengan dinamika siulan para bujang desa Awu Awe.
Kerutan di wajahnya cukuplah mewakili usia yang sudah menua. Kini Mbok Ra hanya tahu bahwa ia perempuan berusia panjang yang masih diberi Tuhan kesempatan untuk mencari tabungan akhirat.
Dengan sangat pelan Mbok Ra kembali menutup pintunya, ia tidak menemukan apa pun yang mencurigakan di rumahnya. Kemungkinan yang ia sangka adalah seekor tikus atau kucing liar yang memang sering masuk ke dalam rumahnya tanpa undangan.
***
Kali ini Marshal aman, ia sama sekali tidak kepergok sedang menyelinap masuk ke dalam rumah seseorang seperti pencuri. Tapi kenyataannya memang benar bahwa dia memang pencuri yang mengambil informasi tanpa izin dari orang lain.
Marshal takut, Mbok Ra dan Pak Kades melihatnya. Ia pun terus berlari ke dalam kebun pohon pisang milik warga. Hingga tanpa sadar ia tersesat di dalam kebun itu. Marshal tidak melihat ada jalan keluar di mana pun. Padahal ia yakin bahwa tadi ia tidak berlari terlalu jauh, ia juga yakin bahwa ia sudah melewati jalan yang sama seperti saat ia pertama kali masuk ke dalam kebun itu.
Seharusnya, Marshal hanya perlu membalikkan tubuhnya ke kanan, tentu ia akan bisa segera bertemu kembali dengan jalan raya yang semula. Tapi kini langkah Marshal seolah berjalan tak sesuai inginnya. Lagi lagi Marshal tersesat. Pikirannya yang kalut, membuat ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia disesatkan oleh pikirannya sendiri.
"Ah, aku tersesat lagi. Betapa sembrononya aku ini," gumam Marshal pelan. Napasnya tersengal. Bahunya baik turun menyeiramakan alunan detak jantung yang mewakili rasa lelah setelah berlari.
"Sepertinya, kamu hobi banget tersesat ya?." Suara Nisa mengagetkan Marshal yang sedang menyelaraskan antara tubuh, pikiran dan kinerja jantungnya.
"Ya ampun, Anisa. Kaget Lo aku."
Marshal tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Ia pikir mungkin itu sedikit menyinggung perasaan Anisa, tanpa berpikir panjang ia pun meminta maaf pada gadis yang selama ini sering menampakkan diri didepannya.
"Tak apa. Aku juga yang salah karena sering muncul dadakan. Datang tiba-tiba sesukaku, tanpa memberitahumu," ucap Anisa yang tak lupa melukis garis senyum di wajahnya.
"Ah iya kamu benar. Kamu yang salah, sering banget muncul dadakan hingga membuat jantungku hampir terbang kayak walang sangit," ucap Marshal penuh candaan. Keduanya lalu tergelak bersama.
"Kita duduk di dulu yuk," ajak Anisa.
Marshal tidak menolaknya. Gegas matanya memeriksa sekitar area tempat ia berdiri, mencari daun pisang kering sebagai alas untuk duduk. Ia sama sekali tidak merasa takut dengan sosok Anisa yang sebenarnya bahwa ia tahu gadis itu adalah sosok tak kasat mata.
Marshal merasa nyaman berada di dekat Anisa. Layaknya gadis itu yang mau berteman dengannya, ia juga menyambut baik jabat tangan Anisa untuk menjadi temannya. Ia masih penasaran dengan maksud Anisa mendekati dirinya. Tidak mungkin semuanya berjalan tanpa alasan, apalagi ia orang baru di desa itu.
"Udara di desa ini sangat sejuk Nis," ucap Marshal memulai percakapan.
Gadis itu hanya tersenyum, hingga Marshal kembali bersuara dengan memberanikan diri bertanya tentang suatu hal yang sedikit privasi.
"Ak, aku boleh bertanya?," ucap Marshal sedikit tergagap.
"Boleh. Bertanyalah sebanyak mungkin," jawab Anisa.
"Apa kamu tahu sesuatu tentang tulisan yang ada di pohon bambu itu?," tanya Marshal.
"Tahu. Tapi kalau aku menawarkan dirimu informasi tentang Mbok Ra dan Pak Kades, mana yang kamu pilih?," ucap Anisa memberi tawaran.
Marshal tercengang mendengar apa yanga keluar dari mulut Anisa. Gadis itu seolah tahu tentang banyak hal yang ada dipikirannya. Ia memang sudah berencana untuk bertanya pada Anisa tentang semua misteri yang terjadi di desa Awu Awe.
Marshal akan bertanya runtut, tidak serta Merta ia tanyakan secara langsung. Ia hanya merasa tidak enak dengan Anisa, ia juga tidak mau dianggap sebagai teman yang memanfaatkan temannya. Ia tidak mau itu. Berteman dengan Anisa adalah murni inginnya tanpa ada maksud terselubung, meski awalnya Marshal sangat penasaran dengan sosok tak kasat mata itu.
"Mbok Ra dan Pak Kades," jawab Marshal tegas.
"Informasi siapa dulu yang ingin kamu dengar?." Gadis itu masih memberi tawaran pada Marshal, dan berhasil membuatnya bingung.
Marshal sangat ingin mendengar cerita tentang Pak Kades, namun ia memilih nama Mbok Ra sebagai jawaban.
"Mbok Ra," jawab Marshal lagi dengan jawaban yang masih terdengar tegas.
Anisa membulatkan matanya, ia terkejut mendengar jawaban dari Marshal. Padahal cerita tentang keluarga Pak Kades jauh lebih menarik daripada cerita tentang Mbok Ra.
"Kamu yakin?," tanya Anisa meyakinkan.
Marshal menganggukkan kepalanya.
"Mbok Ra itu, dulunya yang mengasuh Pak Kades. Ia menyayangi Pak Kades layaknya anak kandung. Awalnya ia bekerja untuk kakeknya Pak Kades, lalu menurun ke orang tuanya Pak Kades," ucap Anisa.
"Apa Mbok Ra tidak menikah atau memiliki keluarga?," tanya Marshal mulai penasaran.
"Hidup Mbok Ra sebatang kara. Ia tidak menikah karena terlalu menyayangi Pak Kades yang bukan anak kandungnya," jelas Anisa.
"Bodohnya Mbok Ra," rutuk Marshal.
"Kalimat yang sama ketika aku tahu itu," ucap Anisa.
"Terus kenapa sekarang Mbok Ra tidak bekerja di tempat Pak Kades juga?," tanya Marshal kembali penasaran.
"Kan sudah tua. Kekuatannya sudah berkurang," jawabnya Anisa.
"Oh iya kamu bener. Oon amat pikiranku ini ya, kok Ndak mikir sampai ke situ."
"Mbok Ra diberi mandat oleh kakeknya Pak Kades untuk terus menjaganya, bahkan bila perlu membebaskan anak asuhnya itu dari ikatan kesepakatan antara kakeknya Pak Kades dengan Sumbrawe," jelas Anisa. Pada kata Sumbrawe, Anisa memberinya sedikit tekanan.
"Sumbrawe?," tanya Marshal penuh selidik.
"Mbok Ra harus mampu menyelamatkan hidup Pak Kades dari Sumbrawe, makhluk kejam yang terus meminta tumbal dengan imbalan harta kekayaan yang di dapat oleh kakeknya Pak Kades. Selama ini Pak Sokib tidak mampu meneruskan kesepakatan itu, hingga ia tidak bisa memberikan tumbal pada Sumbrawe. Lelaki itu tak sampai hati bila harus menghilangkan nyawa banyak orang yang tidak bersalah," jelas Anisa lagi dengan mata berkunang.
Marshal hanya melongo, mendengar fakta yang mengejutkan dari Anisa. Kini Marshal sudah tahu alasan di balik kedekatan Pak Kades dengan Mbok Ra.
Suasana hening, mendadak jadi melow. Marshal melihat gurat kesedihan di mata Anisa. Belum juga ia bertanya tentang kesedihan yang tampak di wajahnya, Anisa sudah berdiri lalu berpamitan pergi.
"Kamu jalan lurus saja ke depan, nanti kamu akan menemukan jalan yang semula kamu lewati. Ingat kamu hanya perlu berjalan lurus dari tempatmu duduk saat ini," ucap Anisa sebelum pergi meninggalkan Marshal yang masih punya banyak pertanyaan.