Marshal bergegas keluar dari kamar mandi setelah mendengar seseorang menggedor pintu, ia keluar hanya dengan menggunakan celana pendek se-lutut. Kaos beserta handuk berwarna birunya ia selampirkan begitu saja di pundak, agar ia bisa segera bergantian menggunakan kamar mandi dengan yang lain.
Tanpa dinyana, Amora berdiri tepat di depan pintu. Marshal susah untuk melangkahkan kakinya, karena Amora hanya diam terpaku sembari melayangkan tatapan tajam kepada lelaki yang rambutnya masih basah.
Marshal sudah berulang kali melayangkan kalimat permisi pada Amora, tapi gadis itu tetap terpanah kepadanya. Ada rasa bangga menyelinap di hati Marshal, sebab ia terlahir dengan kondisi fisik yang sempurna dan ideal untuk menjadi idola para gadis. Ia tersenyum penuh kemenangan, melihat kenyataan bahwa