Marshal turut panik dan gemetaran mendengar Hasan jejeritan yang berdiri tidak jauh dari motornya. Gegas ia turun dari motor tersebut, dan mendekati Hasan.
"Kamu kenapa San?," tanya Marshal yang juga turut memeriksa keadaan sekitar. Ia menajamkan penglihatannya, mencari sesuatu dalam kegelapan. Sesuatu yang mungkin dirasa ganjil oleh Hasan.
Nyala api dari obor di sepanjang jalan, membuat penglihatan menjadi samar. Sebab itulah Hasan berteriak kala melihat sesosok bayangan hitam yang menyembul dari balik salah satu rumah warga.
Bayangan itu semakin mendekat, namun Marshal mencoba untuk tetap tenang di saat Hasan sudah ketakutan dan hampir pingsan. Jantungnya berdebar sangat kencang, namun ia tidak bahagia sebab jantung itu terpompa di saat mencekam.
Tepat di hadapan Marshal dan Hasan, bayangan itu berhenti. Namun, Marshal masih tetap tenang sambil menetralisir debaran jantungnya dan bersiap untuk melakukan sesuatu.
"Satu, dua, tiga, hahahaha."
Marshal terbahak tanpa suara dengan sosok bayangan hitam yang ternyata adalah salah satu teman mereka dalam rombongan KKN di Desa Awu Awe.
Perlahan Marshal menurunkan sepuluh jari tangan Hasan yang menutupi wajahnya. Kedua tangan itu gemetaran, mewakili rasa takut dalam dirinya. Demikian juga dengan kedua matanya, masih tertutup rapat. Tidak punya cukup keberanian untuk membuka mata.
"Banci kamu San, begitu saja takut."
Dengan entengnya Marshal mengatai Hasan yang sedang ketakutan, tanpa memikirkan bagaimana perasaan temannya itu. Ia juga tidak berpikir tentang kejadian yang sudah dialaminya beberapa jam yang lalu, yang mungkin akan kembali menerornya.
"HA...SAN, HA...SAN."
Marshal semakin menjadi, ia menakut-menakuti Hasan yang masih menutup rapat matanya.
Hasan berlari terbirit-b***t mendengar namanya disebut dengan nada dan intonasi yang membuat bulu kuduk merinding, hal itu membuat Marshal dan temannya yang lain semakin tidak bisa menahan tawa.
Semakin jauh Hasan berlari dan menghilang dari pandangan mata Marshal, sama sekali tak terlihat rasa khawatir terpampang di raut wajahnya. Ekspresi wajah lelaki berambut gondrong itu tampak tenang, meski dirinya dan Hasan sempat mengalami serangan dari mereka yang tak kasat mata.
"Ini kenapa gelap begini?," tanya Marshal pada Imam.
"Tadi hore hujan deras campur angin, salah satu tiang listrik roboh. Jadinya gelap satu desa gini," ucap Imam menjelaskan.
"Kita jadi seperti berada di film-film kolosal ya Mam?."
Marshal masih tetap sama bersikap tenang, meski jalan di depan sangat gelap dan terlihat mencekam. Dengan menuntun motornya, ia terus saja mengobrol bersama dengan Imam. Tentu saja Marshal tidak bercerita soal kejadian sore tadi.
Ia tidak mau teman-temannya ketakutan, lalu memutuskan untuk pulang dan memilih mundur dari tugas KKN yang hanya berlangsung selama dua minggu itu. Jika mundur, maka secara otomatis kelulusan mereka juga tertunda.
Suasana kampung terasa sunyi, padahal angka di balik kaca jam tangan yang melingkar di tangan kanan Marshal belum menunjukkan bahwa malam telah begitu larut. Nyala obor di sepanjang jalan membalut malam yang dingin dengan penuh kehangatan.
"Dari jalan depan, ada empat rumah. Kenapa kita belum menemukan rumah lagi ya Mam?," tanya Marshal.
"Lima puluh meter lagi sudah ada rumah lagi kok," jawab Imam.
"Kalian tadi sampai sini jam berapa?," tanya Marshal.
"Jam berapa ya?, tadi gak sempet lihat jam sih. Yang jelas warna langit masih terlihat jelas," terang Imam.
"Belum adzan maghrib ya?," tanya Marshal menelisik.
"Belum Shal. Kenapa memangnya?."
Petanyaan sekaligus pernyataan Imam yang terakhir menunjukkan bahwa lelaki bertubuh kerempeng itu menangkap sesuatu yang ganjil dari kalimat terakhir Marshal.
Marshal belum mengucapkan kalimat lagi setelah pertanyaan terakhirnya. Ia mencerna informasi dari kalimat Imam, yang artinya jarak antara gubuk tempat mereka berteduh dengan Desa Awu Awe tidaklah jauh. Namun kenapa perjalanannya tadi bersama Hasan terasa begitu jauh, hingga memakan waktu begitu lama.
Benarkah dirinya dan Hasan terperangkap dalam dimensi lain?. Benarkah ia tersesat di dunia lain?. Benarkah ia mendapat serangan teror dari dunia lain?. Semua kalimat itu kemudian muncul di benak Marshal.
"Shal?. Kamu baik-baik saja?."
Hasan mencoba memanggil Marshal, memastikan dirinya dalam keadaan sadar.
"Eh iya Mam. Bagaimana?."
Benar saja, Marshal terhentak setelah Imam menepuk pundaknya. Kali ini ia benar-benar dibuat bingung dengan kejadian tadi. Ia ingin segera sampai di tempat tujuan, di rumah yang sudah disediakan untuk mahasiswa yang KKN.
Aroma wangi sabun mandi sudah mempengaruhi otaknya. Tubuh yang bersih dengan perut yang kenyang, lalu merebahkan diri di atas kasur dan meletakkan kepalanya di atas bantal adalah sesuatu yang sangat ia damba saat ini.
Marshal merasa perjalanan hari ini sangat melelahkan. Meski ia terlihat tenang, namun hatinya terus saja berdebar penuh keresahan. Demikian juga dengan pikirannya, terus saja berkelindan part demi part kejadian tadi. Semua itu dimulai dari saat matanya melihat sesosok gadis di bawah hujan gerimis.
"Mungkinkah semua ini bermula karena aku penasaran dengan sosok tadi?. Bukankah Hasan sudah mengingatkan agar aku tidak penasaran?. Ah entahlah, aku lelah," gumam Marshal dalam hati
"Hai, kamu melamun lagi?," gertak Imam
"Eh, iya maaf."
"Nah itu sudah ada rumah lagi. Sudah terlihat ada beberapa warga yang duduk depan rumah," ucap Imam.
Marshal merasa lega, sebab pada akhirnya ia benar-benar sudah sampai dengan selamat di Desa Awu Awe. Meninggalkan rentetan kisah mistis di belakang, tanpa membawa apalagi mengingatnya selama KKN di Desa Awu Awe.
Kedua netra Marshal masih samar melihat pemandangan yang ada di depan, warga yang sedang duduk bersantai di depan rumah belum terlihat olehnya. Perlahan ia mengucek matanya, mungkin ada yang salah dengan penglihatannya meski ia yakin matanya tidak sedang minus apalagi katarak.
Awalnya Marshal ragu untuk melanjutkan langkahnya menyusuri jalan remang di depan, namun saat kedua matanya melihat dengan nyata beberapa warga yang sedang duduk rempon di depan rumah, hatinya pun kini bisa membenarkan ucapan Imam. Dan Marshal pun bisa melangkah tanpa ragu.
"Mari Pak," Sapa Marshal. Diulangnya beberapa kali kalimat itu ketika ia berjalan tepat di depan orang yang ditujunya, namun sayang mereka tidak menanggapi kalimat sapaan itu. Mereka acuh pada kehadiran Marshal.
Lagi-lagi lelaki berusia dua puluh dua tahun itu berusaha bersikap tenang, meski pikirannya kembali kalut, hatinya mulai was was, dan kini tangannya pun mulai turut gemetaran.
Ia mengalihkan kedua manik matanya melihat wajah Imam, alangkah kagetnya Marshal melihat bibir temannya itu kering, berwarna putih, dan tampak pecah-pecah. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya, menyadarkan sebentar pikirannya yang goyah, meyakinkan hatinya bahwa apa yang dia lihat itu salah.
Kembali Marshal melihat wajah Imam, tidak ada yang salah dengan bibirnya. Semua normal seperti sedia kala. Ia tercengang dan sempat menghentikan langkahnya.
"Apa yang kamu lihat Shal?," tanya Imam tiba-tiba.
"Oh tidak ada. Kenapa orang-orang yang di sana tidak menyapa kita ya?," tanya Marshal penasaran.
"Menyapa kok. Mungkin kamunya saja yang melamun," terang Imam.
Marshal mengingat setiap langkahnya sejak masuk ke Desa Awu Awe hingga sampai di titik ia berdiri, ia yakin setiap langkah itu dilakukannya dengan sadar, ia tidak melamun.
"Iya mungkin ya," jawab Marshal tanpa mengelak, dengan dalih ia tidak ingin Imam khawatir.
Mereka terus berjalan, menuju rumah yang sudah dipersiapkan oleh Bapak Kepala Desa sebagai penginapan mereka selama KKN di Desa Awu Awe.
Baru beberapa langkah, Marshal terpaksa menghentikan langkahnya setelah seorang gadis berbaju hitam dengan membawa payung muncul dari balik cahaya obor.
Gadis itu menoleh sambil tersenyum ke arahnya, ia pun membalas senyuman itu sembari sedikit menundukkan kepala. Sejenak Marshal mengerutkan keningnya, ia seperti tidak asing dengan wajah gadis itu.
Kedua matanya masih awas memperhatikan gadis itu. Sedang dirinya, masih sibuk mencari sesuatu dalam memori yang ada di kepalanya. Memori sepotong gambar tentang gadis yang baru saja tersenyum padanya. Hasilnya, nihil.
"Ayo Mam, kita lanjutkan jalan!."
Hening
Nama yang dipanggil Marshal itu tidak merespon. Kali ini, ia memilih untuk bersikap masa bodoh. Ia tidak mau fokus kerja otaknya berkutat dengan hal hal mistis, yang mungkin bisa membawa pengaruh buruk pada agenda KKN-nya.
"Hai Marshaaal," teriak dari temannya yang lain, yang mungkin sudah menunggu kedatangannya.
"Akhirnya, kamu datang juga." Pelukan hangat ia dapatkan dari seseorang yang kini dengan erat membawa tubuhnya dalam dekapan.
Mulut Marshal melongo, matanya melotot. Ia seolah tidak percaya dengan siapa saat ini dirinya berpelukan. Dan dengan siapa dirinya tadi berjalan di antara nyala api dari obor yang terpasang di sepanjang jalan mintu masuk hingga ke sini.
Ya, lelaki yang sekarang berdiri di depannya adalah Imam. Lelaki yang tadi berjalan bersamanya juga Imam. Kepala Marshal terasa sangat berat, ia tidak mau pingsan. Malu dengan predikat dirinya sebagai Play Boy. Namun, apa dayanya kalimat tanya yang terakhir ia dengar, "Di mana Hasan?," tak mampu ia jawab.
Marshal merasakan kepalanya sangat berat. Jiwa raganya lelah. Pandangannya pun kabur. Kalimat -apa yang sebenarnya terjadi padaku?- terus saja berkelindan di benaknya. Ia pun tidak tahu lagi apa yang terjadi dengannya.