Gerimis Delapan
Suasana sedikit mencekam, padahal kokok ayam sudah terdengar saling bersahutan. Warna jingga di ufuk timur mulai tergambar, memandu laju matahari di tepi langit pagi.
"Hasan, kamu baik-baik saja?," tanya Marshal. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran.
"Kamu bisa khawatir juga Shal?," sahut Aurelia yang sejak awal bersikap sedikit dingin pada Marshal.
Dibanding dengan kedua teman perempuan yang lain, Aurelia mempunyai fisik sempurna untuk ukuran perempuan. Postur tubuh padat berisi, wajah mungil, rambut panjang berwarna hitam legam turut menyempurnakan kecantikannya.
"Iya lah. Apalagi sama perempuan. Hati-hati lo ya jatuh cinta sama aku," ucap Marshal sambil mencolek bahu gadis yang duduk di sisi kirinya.
"Ih, amit-amit. Aku bersumpah seumur hidup aku gak akan jatuh cinta dengan lelaki play boy sepertimu."
"Berani bertaruh?."
Marshal memberi tantangan pada Aurelia, sejalan dengan niat awal dirinya yang ingin menaklukkan hati gadis tersebut.
"Gak usah taruhan, aku gak bakal kena jebakanmu," gerutu Aurelia.
"Kalian bisa diam gak?, Bisa kita memikirkan kondisi Hasan saat ini?." Nakula mencoba menghentikan pertikaian antara Marshal dan Aurelia.
Kalimat Nakula berhasil membuat Marshal kembali fokus pada kondisi Hasan, ia mencoba membangunkan tubuh yang masih tidak sadarkan diri di depannya.
"Tolong ambilkan air minum di belakangmu?," perintah Nakula pada Marshal, sosok yang selama ini terkenal pendiam di antara teman yang lain.
"Ini?, Mau apa kamu?," ujar Marshal. Kalimat itu tak ubahnya seperti senjata yang siap membidik Nakula, jika ia tertangkap basah melakukan hal yang salah pada Hasan.
Sejak awal perjalanan ke Desa Awu Awe, Marshal sudah merasa senasib dengan Hasan meski mereka berbeda kelas dan jurusan. Pengalaman teror menyeramkan selama perjalanan, membuat hubungan mereka menjadi dekat. Saling menjaga dan terikat satu sama lain.
Marshal mengamati gerakan bibir Nakula komat kamit tanpa bersuara, sedang kedua tangannya memegang erat botol air mineral. Selesai membaca doa, Nakula menuang sedikit air ke dalam telapak tangannya, lalu mengusapkan air itu ke wajah Hasan.
"Coba bangunkan lagi," perintah Nakula yang masih tanpa ekspresi.
"Sekarang?," tanya Marshal.
"Tahun depan dodol," celetuk Imam.
"Kamu ini oon apa bagaimana sih Marshal?. Sudah jelas Nakula memberimu instruksi untuk membangunkan Hasan, malah nanyak kapan?," protes Aurelia.
Tanpa bertanya lagi, Marshal menepuk beberapa kali pipi Hasan. Dan benar saja, tubuh yang terbaring di lantai itu tersadar. Hasan Gelagapan, seolah terbebas dari ruang sempit tanpa fentilasi udara.
Marshal menepuk berkali-kali punggung Hasan yang sedang terbatuk, dan beberapa kali membuang napasnya dengan kasar. Napasnya tersengal.
"Kamu baik-baik saja?," tanya Marshal.
Pemilik tubuh yang masih lemas itu tidak menjawab, ia hanya melihat ke arah pintu dengan tatapan kosong, seperti melamunkan sesuatu. Sikap Hasan itu berhasil membuat temannya saling menatap, mereka kebingungan mencari perkara yang menjadi sebab tampak seperti orang linglung.
"Oke. Mari kita melanjutkan aktifitas. Karena hari sudah semakin siang. Para cewek, silahkan kalian pergi berbelanja. Dan untuk para cowok, mari kita bebersih rumah," perintah Nakula selaku kepala rombongan KKN.
"Oke. Aku setuju. Setelah itu baru kita silaturrahmi ke rumah Pak Kades," ucap Aurelia.
Gegas mereka melaksanakan tugas masing-masing sesuai jadwal yang sudah dibagi setiap harinya. Sedang Marshal?. Ia memang memegang sapu lidi, namun gerakan tangannya seperti mayoret drum band yang sedang beraksi memainkan tongkatnya.
Marshal menyapu secara asal, yang penting terlihat menggerakkan sapu. Beberapa kali ia berhenti, dan lebih sibuk menghisap rokok. Dibeberapa bagian, masih tersisa dedaunan dan ranting dari pohon rambutan yang ada di atasnya.
"Kamu, menyapu apa hanya pindah tempat merokok Marshal?," protes Imam.
"Keduanya Mam, hahahaha. Yang penting sudah disapu," ucap Marshal tanpa rasa bersalah.
"Kodok juga tahu kali Marshal, kalau itu tempat itu kotor," ledek Imam.
"Sayangnya, di sini gak kodok Mam. Hahahaha." Marshal kembali berkilah.
Marshal berlanjut menyapu halaman yang begitu luas, yang tumbuh rimbun pohon mangga dan rambutan. Beberapa kali ia berhenti membenarkan gulungan sarung yang melingkar di perutnya dan menghisap rokok.
Saat sedang fokus menikmati aroma dari sebatang rokok, matanya menangkap Aurelia sedang berdiri dan mengawasi dirinya di teras. Ia pun semakin memasang gaya, untuk memancing amarah Aurelia. Itu yang ia suka.
Marshal sengaja duduk santai menikmati udara pagi di bawah pohon rambutan, tetiba saja kejadian kemarin datang satu persatu mengisi otaknya. Ia teringat Hasan, gegas ia berlari dan masuk ke rumah mengacuhkan Aurelia yang sedari tadi berdiri di teras.
"Hasan, Hasan, Hasan," panggilnya dengan segera setelah ia tidak menemukan sosok Hasan di ruang depan.
Marshal pun berlari ke dapur, mencari Hasan. Ternyata di sana sepi, tidak ada orang. Husna dan Amira masih berbelanja. Ia hendak membuka kelambu kamar mandi, namun ia urungkan sebab ia mendengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi. Ia pun memutuskan untuk menunggu.
Sepuluh menit menunggu, ia tidak lagi terdengar suara gemebyur air dari dalam kamar mandi. Marshal pun memutuskan untuk memanggil nama Hasan, "Hasan, apa kamu ada di dalam."
Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, ruangan itu seolah memang tidak ada orang sebelumnya. Marshal mulai cemas. Ia pun memutuskan untuk membuka kelambu yang sudah, alangkah terperanjatnya ia setelah melihat kamar mandi itu kosong.
"Kurang ajar. Pagi-pagi sudah dikerjain," umpat Marshal.
Umpatan Marshal terdengar oleh Hasan yang baru saja masuk dari pintu samping, pintu sengaja dibuka oleh Aurelia untuk sirkulasi udara di dapur.
"Kenapa Marshal?," ucap Hasan.
"Hai Hasan dari mana kamu?," selidik Marshal setelah tahu bahwa teman yang ia cari itu ada di depannya.
"Menyegarkan diri," jawab Hasan sambil berjalan masuk ke ruang depan. Marshal lalu menyusul langkah lelaki itu dari belakang.
Mereka berdua menyatu dengan Nakula dan Imam sedang duduk bersantai di ruang depan, sambil menikmati secangkir kopi panas buatan Aurelia sebelum ia pergi menyusul kedua temannya berbelanja.
"Hari ini agenda kita hanya berkunjung ke rumah Pak Kades saja kan?," tanya Marshal.
"Iya benar," jawab Nakula.
"Meski hanya ke rumah Pak Kades, kita butuh tenaga yang prima untuk bisa sampai ke rumahnya," terang Hasan sebab dirinya yang sudah pernah bertamu ke rumah Pak Kades.
"Kenapa Hasan?," tanya Nakula.
"Rumah Pak Kades ada di bawah kampung ini. Sedang jalan menuju ke sana sangat licin dan curam. Akan sangat berbahaya bagi orang yang pertama kali datang ke sana seperti kita," terang Hasan lagi.
"Tidak adakah jalan lain?, biar kita bisa pergi bersama?," tanya Imam mencari solusi untuk rute perjalanan mereka agar lebih mudah.
"Adakah Hasan?," tanya Marshal menyambung kalimat Imam.
"Ada. Tapi memakan waktu hampir dua jam. Kita akan melewati rerimbunan pohon bambu, serta menyebrang sungai yang penuh dengan bebatuan besar," terang Hasan.
Hasan menjelaskan kondisi rute lain menuju rumah Pak Kades yang mungkin akan sedikit menyusahkan teman perempuannya, namun itu satu-satunya rute paling aman, bila di bandingkan harus menaiki motor munuruni jalanan curam nan licin penuh bebatuan.
Sejenak ruangan terasa hening. Marshal yang sedari tadi hanya mendengarkan sambil terus menghisap rokok yang ke sekian, matanya tertuju pada gerakan jemari tangan Hasan yang berbeda dari biasanya. Ia pun fokus pada cincin bermata ungu yang melingkar di jari manis Hasan.
Marshal baru tersadar, bahwa Hasan sudah menjadi pribadi yang berbeda dengan Hasan yang sudah tersesat dengannya semasa dalam perjalanan menuju Desa Awu Awe.
Hasan yang dikenal Marshal adalah, pribadi yang lucu, lebih suka bersikap serabutan, tidak pernah menanggapi suatu masalah dengan serius, semua dianggapnya enteng. Tapi Hasan sedikit penakut dengan hal-hal yang berbau mistis dan berhubungan dengan makhluk tak kasat mata.
Tetiba saja Marshal teringat akan bayangan hitam di sudut dapur, gegas ia pergi ke sana guna memastikan sesuatu yang hitam itu benda lain yang samar terlihat oleh mata dalam kegelapan ataukah hanya teror susulan dari mereka yang tak kasat mata.
Sampai di dapur, Marshal tidak perlu bertanya pada yang lain tentang apa yang baru saja dilihatnya. Ia cukup mengerti tentang bayangan hitam yang semalam hanyalah teror yang berkelanjutan.