“Brandon, bagaimana kabarmu?” Asmo menyapa temannya yang baru saja keluar dari lab penelitiannya. Temannya itu agak terkejut melihat kehadiran orang ini di laboratorium ini. Bukan apa- apa, dia yakin kalau Asmo pasti sedang sangat butuh sampai datang ke sini. Asmo lebih suka main ke club atau hotel dibanding ke sini.
“Apa maumu?” balas Brandon mengabaikan basa- basi Asmo.
Asmo hanya menghela napasnya mendengar balasan Brandon yang sama sekali tak bisa diajak berbasa- basi. Temannya ini terlalu serius dalam menanggapi segala hal. Ya, Asmo ingin suasanannya santai aja. Tapi, kalau sudah sama Brandon, dipastikan tak ada yang namanya santai. Jadi, dia harus langsung to the point saja.
“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu. Ada sesuatu yang tidak aku mengerti, dan kemungkinan kau bisa mengerti. Ya, teringat karena kau seorang ilmuan dan mungkin saja ada alasan ilmiah di balik kejadian ini,” jelas Asmo langsung pada tujuannya.
Brandon menatap serius kepada Asmo. Dia tak menduga, ternyata Asmo memniliki sebuah masalah yang sepertinya tak dapat dia pecahkan sampai bertanya kepada ilmuan. Brandon langsung melipat tangan di depan dadanya lalu duduk di sebelah Asmo. Dia berharap, ada sebuah masalah ilmiah yang benar- benar dimaksudkan oleh temannya ini.
“Kuharap, kau tidak bertanya, kenapa wanita bisa hamil.” Brandon berujar teringat kalau temannya ini adalah tipe orang yang suka main sana- sini dan tak tahu hati- hati.
“Bukan itu! Kalau yang itu, aku tak perlu menanyakannya padamu. Aku sudah tahu kalau yang itu! Ini mengenai menjelajah waktu!” balas Asmo langsung membuat Brandon menatapnya serius. Mendengar istilah menjelajah waktu, langsung timbul minatnya akan apa yang akan disampaikan Asmo.
“Begini, aku yakin kalau sebenarnya aku sudah berusia sekitar 27 tahun dan sudah menikah. Tapi, tiba- tiba aku kembali ke masa lalu, yang lebih tepatnya enam tahun sebelumnya. Menurutmu, apa yang sebenarnya terjadi?” Asmo mulai menjelaskan apa yang dipikirkannya.
Mendengar itu, Brandon langsung mengusap dagunya untuk berpikir. Dia berulang kali menatap temannya itu untuk memastikan kalau Asmo memang serius. Tatapan Asmo yang sangat mengharapkan jawaban darinya bisa dimengerti oleh Brandon, kalau temannya itu memang serius ingin mendapatkan jawabannya. Sebenarnya, ini agak di luar nalar menurutnya. Ini tidak sesuai dengan teori bahwa bumi terus berputar dan harusnya waktu itu bergerak maju, bukannya mundur. Tapi, dia teringat sebuah teori yang dulu pernah dia pelajari.
“Aku ingin bertanya dulu sebelumnya. Apa ada kejadian khusus sebelum kau kembali ke masa lalu?” tanya Brandon ingin mencocokkan segala sesuatu. Teori demi teori. Supaya semuanya cocok dan tak saling bertabrakan.
“Ada! Aku bercerai dengan istriku dan dia terbunuh. Aku menyesal setengah mati karena kematiannya dan bertekad untuk membahagiakannya jika ada kesempatan,” jawab Asmo membuat sahabatnya agak sedikit terbelalak.
Brandon kemudian berdiri, sambil mengisyaratkan Asmo untuk ikut dengannya. Mereka berjalan ke salah satu ruangan yang berisikan banyak data riset untuk penelitian mereka. Bisa disebut juga perpustakaan sebenarnya, tapi yang ada di sini hanyalah data untuk riset mereka. Asmo melihat banyaknya map yang berisikan data di ruangan ini. Dia mengerti, betapa seriusnya pekerjaan para ilmuan.
Brandon langsung mengambil beberapa map dari sebuah rak dan menyusunnya di meja. Dia membuka lembar demi lembar, seakan ingin mencari tahu jawaban dari kasus yang dialami oleh Asmo. Dipastikan, Asmo tak mengerti apa yang kini sedang dicari oleh Brandon. Dia tak mengerti soal tulisan- tulisan yang sedang dibaca oleh temannya itu.
“Dunia paralel!” Brandon berucap sambil menatap serius kepada Asmo.
“Apa itu… dunia paralel?” tanya Asmo tak mengerti maksud dari Brandon.
“Memang, ini adalah sesuatu yang tidak dapat dipastikan seperti apa bentuk ruang-waktu, tetapi kemungkinan besar -- datar dan membentang tanpa batas. Tetapi jika ruang-waktu berlangsung selamanya, maka ini bisa berulang pada suatu waktu karena adanya partikel yang terbatas dan dapat diatur pada ruang dan waktu.” Brandon menjelaskan dengan sangat serius kepada Asmo soal apa yang ditemukannya sesuai data yang diteliti oleh para ilmuan.
Mendengar itu, Asmo terus menatap Brandon sambil mengerjap- ngerjapkan matanya berulang kali. Dia juga ternganga mendengar penjelasan temannya itu. Bukan karena dia mengerti, tapi justru sebaliknya. Dia tak mengerti apa pun dari penjelasan Brandon karena penjelasannya dengan bahasa yang terlalu ilmiah. Kepalanya mumet dan mampet mendengar semua kata- kata yang dirangkai dengan sedemikian rupa itu. Inilah alasan kenapa dia tak mendalami Sains dan lebih suka berbisnis.
“Kau pasti tak mengerti!” tebak Brandon melihat reaksi temannya itu. Ya, namanya juga IQ mereka beda tempat. Kalau Brandon berdiri, maka Asmo tengkurap. Begitulah gambarannya.
“Singkatnya, seseorang bisa melihat menemukan versi lain dari diri mereka yang sebenarnya merupakan versi tak terbatas dari dirinya. Beberapa dari 'kembaran' ini mungkin akan melakukan apa yang Anda lakukan sekarang, sementara yang lain akan mengenakan pakaian yang berbeda pagi ini. Ada juga yang memilih untuk membuat keputusan berbeda dalam hidup seperti misalnya soal karier.” Brandon sekali lagi menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana menurutnya.
“Tunggu! Masih loading,” ujar Asmo mencoba mencerna kata demi kata dan menyambungkan tiap kata dengan kalimat. Brandon hanya diam menunggu temannya itu sampai mengerti penjelasannya. Setidaknya, untuk mengerti sebuah teori dibutuhkan waktu, apalagi untuk seorang seperti Asmo.
“Aku hanya menangkap, kalau kita punya kembaran?” Asmo akhirnya berujar setelah beberapa menit loading dengan penjelasan temannya itu.
“Simplenya gini, dalam teori dunia paralel, dipercayai kalau semua ini ada cerminannya. Mungkin, saat ini waktu tengah berjalan lebih lambat dan di cerminan sebenarnya waktu berjalan lebih cepat. Atau bisa juga, kau masuk ke dunia yang sekarang adalah karena ingin mengubah sebuah keputusan yang menurutmu salah sebelumnya,” jelas Brandon lagi supaya semakin membuat Asmo mengerti.
“Jadi, aku jatuh ke dunia yang sekarang ini adalah untuk bisa mengubah keputusanku yang salah? Atau, apa Tuhan memang memberikan aku kesempatan untuk berubah?” tanya Asmo sekali lagi memastikan.
“Bisa dibilang begitu.” Brandon mengangguk. Setidaknya, Asmo bisa mengerti penjelasannya walau menangkap sebagian dari teori itu. Sebenarnya, mengenai teori paralel ini masihlah dalam penelitian para ahli. Tapi, karena mendengar kasus yang dialalmi oleh temannya itu, Brandon semakin yakin kalau teori ini kemungkinan benar adanya.
“Kalau begitu, aku sangat berterima kasih kepadamu sobat! Akhirnya, aku bisa sedikit mengerti soal apa yang sudah terjadi,” ujar Asmo mengangguk- angguk paham setidaknya sepuluh persen dari teori dunia paralel itu.
“Ya, sama- sama! Berkatmu, mungkin aku bisa mengajukan agar teori ini bisa diteliti lagi. Kau akan kujadikan narasumber nantinya! Kuharap, kau bisa membantuku nantinya!” Brandon mengungkapkan keinginannya kepada Asmo dan sedikit mengharapkan bantuan dari Asmo.
“Ah, baiklah! Kalau begitu,aku harus kembali dulu ya!” Asmo mengiyakan saja sambil pamit untuk pulang. Dia sudah cukup puas dengan jawaban yang didapatnya dari Brandon.
Di sepanjang jalan, Asmo sudah merasa lebih lega karena sudah mendapat jawaban yang ilmiah. Setidaknya, dia takkan dikatai gila tatkala menjelaskan kepada Raymond. Saat sedang berkendara, tiba- tiba dia mengerem mobilnya ketika melihat sebuah air mancur. Dia kembali teringat sebuah kejadian soal kematian Shintike di tempat ini. Dia pun keluar dan turun dari mobilnya. Saat berjalan mendekat ke sana, kilasan bayangan tentang apa yang terjadi malam itu semakin jelas. Lagi- lagi, kepedihan itu terasa sangat nyata.
Bagaimana Keke akhirnya ditikam oleh orang jahat dan kemudian meninggal dunia. Dia sedikit menyesal kala mengingat, betapa dirinya tak peduli dan membiarkan Keke pergi begitu saja malam itu. Kalau saja, dia tak melepas Keke, semua ini takkan terjadi. Tapi di sisi lain, dia agak lega karena akhirnya dia mendapatkan sebuah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya kepada istrinya. Keke saat ini tidaklah mati, perempuan cantik masih hidup. Dan dia punya kesempatan untuk mendekati dan membahagiakannya.
“Kau?”
Sebuah suara mengalihkan perhatian Asmo yang masih terfokus dengan air mancur itu. Dia berbalik dan sedikit terkejut mendapati bahwa yang datang ke sini adalah Keke. Gadis itu itu juga kelihatannya tak menduga mereka bisa bertemu di tempat ini. Sebenarnya, Keke hanya sedang keluar sebentar untuk mencari angin. Rumahnya hanya setengah kilometer dari sini. Dan dia memang suka memandangi area sekitar air mancur beserta tamannya.
“Keke? Kenapa kebetulan sekali ya?” Asmo langsung mencairkan suasana. Pria itu langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena salah tingkah.
“Entahlah!” balas Keke dengan sangat cuek. Gadis itu mengalihkan perhatiannya dan melihat ke arah air mancur. Seketika, dia merasa sesak dan sedih. Tempat ini seperti membuatnya agak tersiksa. Langsung saja, Keke memilih untuk kembali ke rumahnya. Sungguh, dia tak mengerti apa yang kini dia rasakan di tempat ini. Padahal, sebelumnya semua biasa saja. Mungkin, ini adalah efek kehadiran Asmo. Tapi, apa hubungannya? Sungguh, Keke tak mengerti.
“Tunggu!” Asmo langsung menahan Keke supaya tak langsung pergi. Bukannya langsung menepis tangan pria itu, tapi Keke merasa semakin lemas.
Dadanya semakin sakit, sampai membuatnya tak sanggup berdiri. Gadis itu sampai kehilangan keseimbangannya dan terjatuh dalam pelukan Asmo. Tak sampai di situ saja, Keke bahkan sampai menangis. Dia tak mengerti, tapi air matanya mengalir begitu saja dan perasaannya sangat sedih. Kesedihan karena batinnya yang tersiksa. Dia tak tahu apa yang terjadi! Semuanya semakin menjadi- jadi setelah dia bermimpi buruk soal kematiannya.
“Kamu baik- baik saja, Ke? Aku antarkan pulang ya?” tawar Asmo memerhatikan keadaan Keke yang sepertinya sedang tak stabil. Dia juga agak terkejut melihat Keke yang tiba- tiba seperti ini.
“Ti- tidak perlu!” tolak Keke dan melepas pelukan pria itu. Asmo hanya diam dan membiarkan gadis itu pergi. Tapi tak lama, penglihatan Keke berbayang dan kepalanya teramat pusing.
‘BRUKK!’
Hampir saja, gadis itu terjatuh ke tanah kalau Asmo tidak menahannya. Pria itu langsung menggendong Keke dan memasukkan gadis itu ke mobilnya. Dia akan mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya. Mana mungkin, dia tega membiarkan Keke di sini sendirian. Sebelum menjalankan mobilnya, dia matap Keke sebentar. Gadis itu terlihat seperti seorang malaikat di matanya. Senyuman hangat langsung terulas di bibirnya setelah memandang wajah cantik gadis itu. Gadis yang dicintainya. Perempuan yang menjadi istrinya di masa depan. Dan dia ingin takdir berpihak padanya dan bisa memberi kebahagiaan kepada Shintike Theresia.
***
Seorang agdis tengah mondar- mandir di halaman rumahnya. Dia sedang menunggu seseorang yang pergi sekitar satu jam yang lalu. Dia sudah menghubungi orang itu, tapi ponselnya malah ketinggalan sehingga tak tahu bagaimana mengontak orang itu. Sangat jelas, dia sangat tak tenang dan khawatir akan keadaan orang itu, apalagi hari sudah malam.
“Ke, kamu ke mana sih?” gumam gadis itu bingung akan keberadaan adiknya.
“Aku harus mencarinya keluar!” putus Glasya langsung berjalan keluar dari rumah. Dia membuka pagar rumahnya dan saat akan keluar, dia dikejutkan dengan sebuah mobil yang berhenti tepat di depannya. Gadis itu bingung, karena dia sama sekali tak mengenal siapa pemilik mobil itu. Tapi, saat pintunya terbuka, barulah dia tahu siapa yang datang. Asmo datang ke sini, entah dengan tujuan apa.
“Kenapa kau datang ke sini?” tanya Glasya dengan nada agak galak. Gadis ini memang selalu bersikap demikian kepada orang yang tidak dia sukai. Terlebih lagi, Asmo Deus Pranata yang memiliki predikat buruk di matanya.
“Maaf, Glasya! Tapi, tadi Keke kehilangan kesadarannya saat kami bertemu di air mancur dekat taman. Aku tak melakukan apa- apa kepadanya. Kau tenang saja!” jelas Asmo sambil membuka pintu dan mengeluarkan Keke dari mobilnya.
“Keke! To- tolong masukkan dia ke dalam!” Glasya langsung berfokus kepada adiknya, bahkan meminta tolong kepada Asmo untuk memasukkannya ke dalam.
Asmo meletakkan Keke di ruang tamu dengan perlahan. Gadis itu masih belum juga sadar sampai saat ini. Melihat kondisi Keke baik- baik saja, akhirnya Glasya bisa menghela napas lega. Tak ada tanda- tanda kalau Asmo baru saja melakukan sesuatu yang jahat kepada adiknya. Walau tak ingin mengakuinya, Glasya bisa melihat tatapan Amso yang begitu khawatir akan kondisi adiknya. Tatapan yang sedemikian tulus dan penuh kepedulian.
“Terima kasih!” Glasya mengucapkan terima kasih kepada Asmo. Dia tak bisa membayangkan, kalau sampai adiknya dijahati oleh orang lain. Apalagi, ayah mereka sedang keluar kota untuk urusan pekerjaan.
“Sama- sama! Kalau begitu, aku pamit dulu. Oh iya, aku minta maaf karena membuat kau dan Keke khawatir. Tapi, aku sama sekalitak bermaksud jahat kepada kalian!” ujar Asmo sembari pamit untuk pulang. Glasya hanya mengangguk sebagai balasan.
Dia mengantar Asmo sampai ke pagar sambil memastikan pria itu pergi. Setelahnya, gadis itu mengunci pagar dan masuk lagi ke rumahnya. Dia masih tak mengerti tentang apa yang sudah terjadi. Glasya duduk di sebelah Keke sambil mengelus rambut adiknya itu. Entahlah, kebingungan masih melanda dirinya.