Lantai dansa di Club VVIP "Empire" yang terletak di pusat Gangnam bergetar dengan hebat. Denyut suara bass yang berasal dari sistem audio bernilai jutaan dolar itu seakan mampu membuat jantung manusia normal bergetar. Namun, bagi Choi Tae-jun, kebisingan ini adalah musik kemenangan baginya. Ia bersantai di sofa kulit premium, mendongakkan kepala seperti seorang raja yang baru saja menaklukkan dunia, meskipun yang ia kalahkan hanyalah hukum berkat kekayaan ayahnya.
Di tangannya, ia memegang segelas wiski single malt yang harganya cukup untuk menghidupi sebuah keluarga selama setahun, bercahaya di bawah cahaya laser. Di sekitarnya, para penjilat berpakaian desainer ternama tertawa terbahak-bahak setiap kali ia melontarkan kata-kata. Mereka mengaguminya seolah ia adalah pahlawan, bukan seorang penjahat yang baru saja selamat dari pengadilan.
"Untuk kebebasan raja Gangnam! " teriak salah satu sahabatnya, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
Tae-jun tertawa dengan bangga, tawa yang penuh kesombongan. "Hukum itu mudah, sahabat. Ia seperti anjing penjaga. Jika kau mengetahui merek makanannya dan memberinya cukup, mereka tidak akan menggigitmu. Mereka akan m******t tanganmu sampai kau merasa jenuh. "
Dengan sekali teguk, ia meminum wiski tersebut. Namun, saat cairan berwarna emas itu menyentuh lidahnya, ia merasakan sesuatu yang keras dan aneh. Ia tersedak sekejap, lalu mengeluarkannya kembali ke dalam gelas. Dahi Tae-jun berkerut. Di antara es yang mulai mencair, terlihat sebuah kelopak kecil berwarna merah cerah. Tae-jun mencelupkan jemarinya ke dalam gelas, menarik objek itu dengan ujung jarinya. Ternyata, itu bukan bunga asli yang biasa ada dalam minuman. Itu terbuat dari plastik. Kasar, kaku, dan terasa sangat murahan di tengah suasana yang mewah.
"Siapa yang menaruh sampah ini di minumanku?! " teriaknya. Suaranya menggema, mengubah momen itu menjadi sunyi. Ia menjatuhkan gelas kristal tersebut ke lantai hingga pecah berkeping-keping. "Pelayan! Segera panggil manajer kalian ke sini! Sekarang juga! "
Suasana meja tiba-tiba menjadi senyap. Para penjilat yang sebelumnya tertawa kini saling berpandangan dengan ketakutan. Tae-jun berdiri dengan marah, kepalanya berputar karena alkohol dan kemarahannya yang mendadak. Tanpa menunggu pelayan, ia melangkah dengan cepat menuju toilet untuk mendinginkan wajahnya dari perasaan terbakar harga diri.
---
Toilet VVIP itu bagaikan dunia yang lain. Tenang, dindingnya dilapisi marmer hitam berkilau, sangat berbeda dari keriuhan klub di luar. Tae-jun memutar keran emas, membiarkan air dingin membasahi wajahnya berkali-kali. Ia berusaha menenangkan napasnya yang tidak teratur, berusaha menjauhi ingatan tentang wajah seorang ibu tua yang pingsan di ruang sidang siang tadi. Ingatan itu terus kembali, seperti noda yang tidak bisa dihilangkan.
Ketika ia menatap cermin besar di hadapannya, jantungnya hampir berhenti. Di sana, terpasang sebuah mawar plastik merah yang tampak pudar dan sedikit berdebu. Letaknya tepat di hadapannya, seperti bunga itu menatapnya kembali. Di bawah bunga itu, terdapat sebuah kartu hitam yang tersembunyi di sela bingkai marmer. Dengan tangan bergetar, Tae-jun merobek kartu itu. Tertulis di sana dengan tinta putih yang tajam dan menghina:
"GHOST DISPATCH: Terima kasih atas pembunuhanmu. Ini bunga plastik untuk pemakamanmu yang tanpa doa. Kami ada di belakangmu. "
Darah di wajah Tae-jun surut seketika. Sindiran dalam kartu itu terasa lebih menyakitkan dari pisau bedah. Kalimat terakhir, 'Kami sudah ada di belakangmu', secara instingtif membuatnya menoleh dengan cepat. Kosong. Hanya bilik toilet yang tertutup rapat yang terlihat.
"Kurang ajar! Jaksa gila itu ingin bermain-main? " geram Tae-jun meskipun suaranya sedikit bergetar. Ia meremas kartu itu sampai hancur dan keluar dari toilet dengan langkah cepat. Ia tidak kembali ke mejanya, melainkan langsung menuju lift pribadi yang membawanya ke tempat parkir di lantai P4, di mana sedan Maybach -nya menunggu. Ia terus menekan tombol di ponselnya, mencari dua pengawalnya, Sang-kir dan Dong-hae.
"Angkat teleponnya, b******n! " teriak Tae-jun saat mendengar hanya suara mesin penjawab di ujung sana.
---
Parkiran di lantai P4 terasa lebih dingin dan lembap dari biasanya. Langkah Tae-jun bergema di atas beton yang luas, menciptakan suara tuk... tuk... tuk... seperti hitungan mundur. Lampu neon yang tergantung di langit-langit berkedip-kedip, seolah listrik di gedung ini sedang bermasalah. Sesampainya di depan mobil mewahnya, langkahnya terhenti. Kedua pengawalnya tidak tampak. Mobil itu berdiri sendirian di sudut yang gelap, namun pintu belakangnya terbuka lebar, seolah seseorang baru saja keluar atau sedang mengundangnya untuk masuk.
Tiba-tiba, aroma yang menyengat mengisi hidungnya. Bukan bau parfum mahal, tapi asap knalpot yang menyengat dicampur dengan bau oli panas. Aroma itu sangat ia kenal dari jalanan kumuh yang jarang dilaluinya.
"Sangkir! Dong-hae! Di mana kalian?! Aku akan memecat kalian jika ini lelucon! " teriaknya dengan marah.
Hanya suara tetesan air dari pipa bocor yang memberikan jawaban. KLAK. Lampu di ujung parkiran mati. KLAK. Lampu berikutnya juga padam. Satu per satu, lampu-lampu parkiran mati secara berurutan, mulai dari jauh dan mendekat di atas kepala Tae-jun. Kegelapan menyelimutinya seperti kain kafan yang ditarik erat.
"Kau bilang bunga plastik tidak akan layu," suara berat dan tenang terdengar dari kegelapan di belakangnya. "Begitu juga dengan dosa yang kau tanam di aspal malam itu. Dosa itu akan tumbuh subur di bawah kakimu, Tae-jun. "
Tae-jun berbalik dengan panik, mengayunkan tinjunya ke ruang kosong dengan mata membelalak. "Siapa kau?! Tunjukkan dirimu, b******n! Berapa kau dibayar? Aku akan membelimu, aku akan membeli seluruh keluargamu! Katakan harga yang kau mau! "
Sebuah bayangan bergerak lebih cepat dari kilat. BRAK! Sebelum Tae-jun bisa bereaksi, sebuah pukulan keras mendarat di dadanya, mendorong tubuhnya hingga menghantam kap mobilnya sendiri dengan suara dentuman logam yang menyakitkan.
"Ugh... " Tae-jun terbatuk darah. Sebelum ia sempat berteriak minta tolong, sebuah tangan kuat mencengkeram lehernya, mengangkat tubuhnya yang lemah sampai kakinya terayun di udara.
Dalam cahaya yang tersisa dari layar ponselnya yang terjatuh, Tae-jun bisa melihat sosok itu. Pria itu mengenakan jaket gelap dengan topi yang ditarik rendah. Bekas luka di alis kirinya terlihat sangat menakutkan dalam kegelapan. Matanya tidak memperlihatkan kemarahan. Hanya ada kekosongan yang menakutkan, seolah ia sedang menatap tumpukan sampah, bukan manusia.
"Turunkan... aku punya uang... aku punya segalanya! " rintih Tae-jun, air mata mulai mengalir di pipinya yang terluka.
Kang Tae-ha mendekati dengan wajahnya yang dekat, suaranya sangat dingin seperti es yang menusuk hingga ke tulang. "Kau bisa membeli hakim dengan uangmu, Tae-jun. Namun uangmu tidak akan bisa menyuap malaikat maut yang sudah ada di hadapanmu malam ini. "
Tae-ha tidak membiarkan Tae-jun mati dengan cara itu. Itu terlalu mudah baginya. Sebaliknya, ia melempar Tae-jun ke lantai beton seperti tumpukan beras. Dengan gerakan yang lambat dan penuh tekanan, Tae-ha mengeluarkan lagi kartu hitam Ghost Dispatch. Ia tidak memberikan kartu itu, ali-ali ia menusukkan kartu itu di antara jari-jari tangan Tae-jun yang bergetar hebat, sehingga ujung kartu itu sedikit mencakar kulitnya.
"Ini baru permulaan. Ini baru pembuka sebelum hidangan utama," kata Tae-ha sambil mengenakan helmnya lagi. "Mulai besok, dunia akan melihat siapa dirimu yang sebenarnya. Berlarilah, Choi Tae-jun. Berlarilah sampai kau berharap pada Tuhan agar mengambil nyawamu sendiri karena kau tidak bisa lagi menghadapi rasa takut ini. "
Tae-ha melompat ke motornya yang terparkir dalam kegelapan. Suara mesinnya menggeram, memantul di dinding parkiran seperti seekor monster yang lapar. Dia melaju pergi, meninggalkan jejak ban pada beton yang dingin. Sedangkan Choi Tae-jun tetap terduduk di sana, terkurung di samping ban mobil mewahnya. Tubuhnya bergetar tanpa bisa dikendalikan, dan di tengah kesunyian parkiran yang menakutkan, bau pesing mulai menyengat. Sang pewaris taipan tersebut kencing di celana, menangis terisak sendirian dalam kegelapan yang kini terasa seperti penjara tanpa jeruji.
Uang jutaan dolar yang dimilikinya tidak akan mampu menghentikan hantu yang tengah memburunya.