“Rinai.”
Suara Anya membuatnya harus terpaksa menoleh, tatapannya terpaku pada tangan Anya yang melingkar pada lengan Aiden. Sangat mesra, ah, bikin iri saja.
Stop! Jangan iri, jangan dengki.
“Halo, Coach. Wah, kebetulan sekali kita bertemu di sini.”
Anya bercerita baru saja dari boutiqe kesayangan mereka ketika dulu Aiden sebelum koma, membeli hoodie kembaran dan memang ingin dipakai saat liburan beberapa hari lagi.
“Ah, begitu rupanya. Have fun, Coach.”
“Of course. Kamu mau pulang? Nunggu taksi? Kebetulan sekali, tadi kami parkir mobil di sekitaran sini. Kamu mau ikut?”
Aiden berharap Rinai langsung menolaknya. Ia merasa tidak ditempatkan pada posisi yang nyaman apalagi Gadis itu pasti akan merasa sangat kesempitan harus berada diantara orang-orang yang pernah bermasalahkan