Mungkin karena suntuk dan kesal lantaran Aiden sama sekali tidak memanjakannya, Anya hilang kendali. Ia melahap rakus bibir Zein, pria itu bahkan sempat kaget dan langsung mendudukkan Anya di sofa. Mereka melanjutkan permainan yang lebih panas. Bahkan, Anya sampai harus repot-repot melepas jaketnya, lebih bertindak jauh lagi.
“Stop, Anya. Kamu sedang emosi. Aku bakalan turutin kemauan kamu tapi kamu harus tenang dulu. Right?”
“Ayolah, Zein. Baru kali ini kamu menolakku?”
No! Zein hanya ingin melakukan apa yang biasa mereka lakukan dengan rasa sama-sama suka. Aiden mungkin tidak pernah menyadari betapa berharganya Anya di mata pria lain.
Mereka berhenti dan sama-sama duduk dengan tenang, Anya mengatur napasnya. Ia kembali mendelosorkan tubuhnya, malas melakukan apa pun lagi. Pikiran