Sudah berkali-kali memastikan, akhirnya Aiden berpikir panjang. Selama ini, Zein tidak pernah sekalipun ikut konser setiap dia mengundangnya. Juga, Zein sangat sensi ketika Aiden dipuji begitu tinggi saat Felix memuji kemampuan Aiden yang memang patut dibanggakan.
Menilik dari banyaknya kejadian dan kalau diurut-urutkan, sepertinya memang Aiden salah menilai sahabatnya. Entahlah, setelah kejadian ini apakah dia akan menganggap Zein sebagai seorang sahabat?
Dia sedang mengamati perilaku Felix, tidak ada yang mencurigakan. Gurunya hany membersihkan beberapa penghargaan dan sesekali mengobrol dengan Felly. Aiden kembal mempertanyakan tuduhan Rinai.
Sttt!
Tubuh Aiden sudah berpindah lagi, dia mengamati sosok Rinai yang sedang bermalas-malasan mengamati piano.
“Kenapa gak ada semangat-semangatnya sama sekali?”
Hampir saja memejam, Rinai terpaksa membuka mata lagi. Dia sudah mengenali sumber suara. Ya, siapa lagi kalau bukan Aiden? Ada urusan apa pria itu datang menemuinya? Bukankah Aiden tidak lagi mempercayai kata-katanya?
Rinai tidak berniat mengangkat kepalanya, dia kembali memejamkan mata. Agak kaget karena suara denting piano, kadang-kadang Aiden memang bisa menggunakan kekuatannya.
“Katanya kemarin kamu mau menunjukkan sesuatu. Mana?” tagihnya.
Tidak dijawab. Ngapain harus mengkonfirmasi sesuatu yang tidak akan dipercayai? Malas. Buang-buang waktu saja bagi Rinai.
“Ayolah, Nai. Maaf soal kemarin, kata-kataku memang menyebalkan.
Coba deh bayangin, kamu berteman bertahun-tahun dan sekarang tahu kalau mereka lah dalang dari semua ini. Aku cuma nggak nyangka, benar-benar gak nyangka.”
“Terus, kenapa datang ke sini?”
Realistis aja sih. Rinai hanya akan mempercayai orang-orang yang mempercayainya. Tapi kan, Aiden bukan orang?
Dia mulai berputar dan menghadap ke arah Aiden. Pria itu tengah berdiri, tumben ganti baju. Sudah berbulan-bulan Aiden selalu mengenakan pakaian yang sama yaitu saat kecelakaan dialaminya. Dulu, saat pertama mereka bertemu, Rinai takut karena pria itu berlumuran darah di sekitar lehernya.
“Ini alamatnya. Aku tidak bisa setiap hari ke sana karena bisa saja, akan ada orang yang curiga padaku. Dia ada di ruangan rahasia, kamu pasti bisa menemukannya, tubuhmu kan tembus pandang.”
Rinai berdiri dan berlalu begitu saja. Malas untuk berdebat, sedangkan Aiden masih terpaku. Takut kalau kepercayaannya disalah gunakan, takut kalau pertemanan mereka yang awet selama bertahun-tahun hanyalah semu.
Tidak ada yang sadar kalau Anya sejak tadi menguping. Tubuhnya merinding saat tahu kalau Rinai sedang berbicara sendiri. Apakah perempuan itu gila?
(Bagian Kedua)
Ragu-ragu untuk datang, tetap saja Aiden datang. Ya, kini dia sudah berada di tempat di mana ada Zein dan Max di sana. Kalau sampai mereka lah dalang semua yang menimpa pada tubuh Aiden, sumpah Demi dewa Neptunus! Aiden tidak akan memberi ampun.
Aiden menyelinap masuk. Ada beberapa orang bertubuh kekar, pasti mereka adalah penjaga apartemen ini. Tapi, ini milik siapa?
Aiden mengitari seluruh ruangan dan akhirnya sampai di mana Zein dan Max berada. Tubuh mereka diikat dengan borgol besi. Tapi Ajun tidak pernah jahat ataupun memukul mereka. Saat jatahnya mandi, Zein dan Max akan bergantian. Makan tetap makan, hanya saja sudah lama sekali mereka tidak berpindah.
“Lebih baik aku dilahirkan jadi seorang pengemis daripada harus menjadi seperti ini, Zein. Sangat menyedihkan.”
“Sabar, bos pasti bakalan datang. Mereka belum tahu siapa kita.”
Sikap santai Zein lah yang membuat Max jengkel. Nasib mereka tidak ada perubahan sama sekali, apalagi Zein banyak omong dan tidak ada yang berbaik hati menolong mereka.
Max sudah bosan dikurung dengan minim oksigen. Tidak bisa membayangkan nanti akan seperti apa penampilannya, berat badannya.
“Kita bukan siapa-siapa, Zein. Kita lah yang menjadi orang yang melukai orang penting di agensi star. Tidakkah kamu sadar, kalau semenjak berurusan sama Aiden, hidup kita malah bergantung padanya. Aku ingin mandiri dengan caraku sendiri.”
Mendengar namanya disebut, Aiden tidak jadi pergi. Dia juga penasaran siapa bos mereka? Aiden kira, Zein sangat membencinya sampai bertingkah sampai sejauh ini.
“Tapi, kalau bukan karena menyingkirkan dia, sampai kapan pun Star akan pilih kasih. Selalu dia yang jadi nomer satu. Sialan memang!”
Bahkan Aiden melihat ada wajah yang tidak begitu dia kenal. Wajah Zein yang menahan kesal, teramat kesal. Kenapa, Zein? Kenapa!
Malas melanjutkan jadi pendengar, akhirnya Aiden memilih pergi. Max, Zein, lalu setelah ini siapa yang akan menjadi seorang pengkhianat berkedok sahabat dan teman baik?
Tidak tahan, Aiden langsung pergi dan menuju ke tempat Anya. Ternyata wanita itu baru saja terbangun dari tidur. Anya melihat jam dinding, masuk ke kamar mandi dan kembali melanjutkan tidur lagi. Apakah kekasihnya baru saja mimpi buruk?
Hanya sekali Aiden pernah ke sini saat Anya tengah sakit dan sangat membutuhkan perhatiannya. Tapi anehnya, foto mereka berdua yang dulunya ada di meja dekat ranjang tidak dipajang lagi. Kenapa?
Aiden mobat-mabit. Dia mengudara lagi, tidak punya tujuan. Tubuhnya terasa ringan tanpa beban, padahal penderitaannya tanpa berhenti semakin menyiksanya.
Tatapannya kembali tenang saat melihat Rinai yang sedang memeluk tante Rindu. Ya, dia tahu kalau Rinai sangat sering ke tempat mamanya saat sedang bosan di star agensi.
“Kupikir kamu sangat sibuk sampai lupa ke sini. Tahu gak, Nai, sekarang kedai makan ramai banget. Mereka selalu memuji kemampuan kamu, padahal kan kamu bilang, belum benar-benar terkenal.”
“Oh ya?” Rinai benar-benar terkejut. “Ada yang minta tanda tangan gak, Ma?”
Padahal tadinya Aiden sangat kesal sekali. Tapi mendadak memudar mendengar ucapan receh Rinai. Selalu perempuan itu yang berhasil membuatnya merasa baikan.
Rindu memukul ringan punggung putri semata wayangnya. “Sejak kapan jadi pede gini. Eh iya, kemarin Wintang cerita katanya kamu punya gebetan ya? Siapa ih, sama mama gak terbuka.”
What! Gebetan? Kenapa Aiden tidak tahu soal itu, padahal kalau dibilang dekat, orang yang sering mendengarkan curhatannya adalah Rinai. Tapi kenapa mereka tidak saling bertukar kisah masing-masing.
“Jangan percaya sama dia, Ma. Jangankan gebetan, aku aja gak pernah punya waktu buat balas chat mama kan saking sibuknya. Hampir setiap hari latihan, ada rutinitas juga tiap pagi. Gak ada waktu mikirin hal kayak gitu, buang-buang waktu, Ma. Udah ah, padahal kan Rinai mau ke sini gara-gara ingin melihat keadaan mama. Mau memberikan sesuatu sama Astri karena udah banyak membantu mama.”
Rindu sangat berharap Rinai tidak terlalu memikirkan keadaannya saja, juga memikirkan masa depan, masalah percintaan dan jangan sampai mencintai pria yang salah.
Usia Rinai sudah lumayan, tapi sampai sekarang belum juga terpecahkan. Apakah Rinai terlalu punya selera yang tinggi?
“Tapi, kamu kapan nikahnya dong kalau sama sekali gak ada pandangan.”
“Sama siapa pun yang berani datang dan berjuang sampai aku luluh, Ma. Bagiku, perjuangan bakalan kerasa berarti kalau beneran cinta.”
Iya juga sih, batin Aiden. Dia tidak sadar sudah jadi tukang nguping sejak tadi. Kadang, terbesit rasa kepo siapa pria yang diidam-idamkan Rinai karena selama ini, perempuan itu jarang membahas soal pria. Selalu tentang latihan, latihan dan latihan saja.