Dalam kamus kehidupan, kadang ada sebagian orang yang bisa membagi perasaannya dan mengurangi sesuai porsi. Entah dalam mencintai juga membenci, hal itu sedang terjadi pada Rose. Ia kagum akan sosok pria yang terlihat peduli, entah sebagai sesama manusia atau memang dalam aspek lain.
Melupakan mantannya yang memang berengsek, Rose percaya diri bahwa suatu hari nanti akan ada pria yang datang dengan tangan terbuka dengan niat baik pula. Ia mencoba membuka obrolan, sekadar basa-basi.
“Rinai pasti sangat ramah ya di agensi? Dia terkenal tidak pernah pandang bulu saat berkenalan dengan orang.”
Kalau dipikirkan, memang begitu adanya. Cara bicara, cara menanggapi, cara memberi empati dan simpati, semua yang ada pada Rinai memang hal baik bukan?
“Kenapa? Apakah anggapanku tidak benar? Ia selalu bersikap sama dengan semua orang, bahkan dengan orang-orang jalanan. Aku tidak memujinya di depan pria yang mungkin saja menyukainya lho.”
Tatapan bingung Ziao membuat Rose senang, setidaknya pria itu tidak punya perasaan pada sahabatnya. Mereka memang berjanji sampai kapan pun tak akan pernah punya masalah dengan satu pria, dan mungkin inilah saatnya Rose mendekati seseorang melalui Rinai.
“Banyak yang suka dengannya. Tapi it's not me, Rinai hanya murid. Dia murid yang baik, hanya itu saja. Di mana?”
“Belok kiri, nanti ada plang nama gedung apartemenku.”
“Oke. Kurasa aku pernah ke daerah ini, akhir bulan ini aku ingin bisa merasakan benar-benar kota Jakarta. Biasanya berapa sewa apartemen perbulan?”
Rose langsung menjelaskan keseluruhan. Mulai dari pemakaian listrik dan tempat seperti apa yang ingin dicari Ziao.
“Asal kita membayar tepat waktu pada induk semang, mau beberapa kali ngadain party gak bakalan ditegur. Jakarta masalah antara lu ya lu, gue ya gue. Gitu sih kurasa.”
Ngobrol pertama kali dengan sahabat Rinai lumayan nyambung. Sampai di depan gedung, Rose menawarinya masuk. Ini waktu yang tepat untuk bisa mencari dan mengecek satu persatu apart yang bisa saja membuatnya ingin pindah.
Mereka benar-benar berjalan seiringan. Tidak ada saling canggung satu sama lain, seperti kenalan lama. Mungkin memang harus seperti itu ketika mencari atau menginginkan sesuatu.
Sampai di depan kamar, Ziao merasa suka dengan lingkungan yang dulu pernah ditinggali Rinai.
“Inilah tempat di mana aku tinggal.”
Mata Ziao memutari seluruh ruangan. Satu kata, rapi sih meskipun ada beberapa sampah snack yang berhamburan, Rose sedikit malu dan meminta maaf. Bukan masalah besar, di China saja, dulu Zio hidup mengerikan lantaran selalu membuat kamarnya seperti gudang sampah.
Ia menatap banyak foto, di mana Rinai dan Rose sering sekali ke tempat wisata. “Kolase foto yang unik. Aku gak nyangka dia seaktif itu.”
“Dan juga aku, kan ada aku juga di gambarnya.”
“Ah, iya. Ada kamu juga.”
Mereka saling tertawa, entah menertawakan apa. Rose semakin yakin kalau Ziao adalah pria yang ia butuhkan selama ini. Lega bukan bertemu pria sukses, bisa musik dan dari luar negri pula. Meskipun dari kecil, Ziao sudah sangat menguasai bahasa Indonesia.
Karena tidak ingin membuat tamunya segera pergi, akhirnya ia membuat ramen. Siapa tahu Ziao suka, juga dengan orang yang membuatnya. Tak-tik jitu Rose dari dulu adalah mengajak pria yang ingin didekati dengan cara mengajak makan.
(Bagian Kedua)
Bukankah menatap seseorang yang begitu tampan apalagi menjadi idolanya adalah sesuatu yang membuat siapa pun akan sembuh? Ya, secara keseluruhan, itulah yang dialami oleh Rinai sekarang.
Tidak ingin mengganggu tidur pria itu, Rinai hanya diam. Ia tidak mengantuk sama sekali, lagi pula, siapa yang akan tidur ketika ada makhluk tampan di hadapannya?
Krieett..
Pintu terbuka, syukurlah mama dan Astri sudah datang. Mereka membawakan lauk pauk dan makanan, siapa sih yang doyan makanan tanpa rasa dari pihak rumah sakit? Perut Rinai merasa kekurangan.
“Woah? Itu Kak Aiden kan?” ucap Astri kegirangan.
Rinai menempelkan jari telunjuk di bibirnya, tanda agar Astri diam. Aiden baru saja tidur, jangan sampai pria itu bangun. Kasihan, batinnya.
Astri berjalan seperti robot, pelan sekalli dan terbata-bata. Mimpi apa semalam bisa melihat idolanya secara langsung? Live! Hendak mengambil gambar, Rinai cepat-cepat mencegahnya.
“Nanti kamu bakalan dapat masalah, As. Jangan.”
Baiklah. Ia bukan gadis primitif yang bakalan mendapatkan sesuatu dengan merugikan seseorang. Bisa saja nanti Aiden akan muncul di surat kabar tidur di rumah sakit menjaga seorang pasien, dan jika tahu siapa pasiennya? Seperti apa reaksi netizen? Pasti bakalan ramai dan menggelegar bukan? Ayolah! Selama ini Aiden selalu rapi mengemas masalahnya selama ini?
Akhirnya Rindu bisa lega ada yang menjaga anaknya. Ia tidak bisa kerja dengan perasaan tak khawatir. “Dia ke sini untuk menjagamu? Dia juga dekat denganmu?”
No! Rinai tidak ingin mamanya salah paham. Langsung dijelaskan secara detail kenapa Aiden bisa ada di sini.
“Pria yang baik.” nilai Rindu.
Ya, begitulah penilaian Rindu. Tak begitu dekat tapi sudi berbaik hati tidur meskipun itu hanya dalih saja. Rindu membuka satu persatu bungkusan yang ia bawa dan menawarkan makanan yang ia masak dengan Astri.
Rinai menunjuk salah satu dan mulai memakannya. “Kenapa banyak sekali?”
“Ini untuk pria yang sudah menolongmu. Dan ini, untuk dia.”
Rindu melirik ke arah Aiden. Setidaknya pria itu harus dikasih upah makanan. Hanya itu yang Rindu punya, tapi semoga suka.
Mereka saling ngobrol dengan volume kecil, jangan sampai Aiden terbangun. Baru kali ini Rinai melihat mamanya begitu sopan di depan orang yang tidur, biasanya Rindu akan menggeblak seseorang itu dengan sapu karena tidur di sembarang tempat, seperti Rinai misalnya yang suka tidur saat jam membantu mamanya menjaga di kedai.
Karena mereka akan belanja dan pulang lagi, lalu ke sini lagi, Rindu tak bisa berlama-lama. Ia pamit, berkali-kali menyadarkan Astri. Gadis itu sejak tadi bengong, seperti orang kesurupan melihat hantu. Ya, dulu Aiden memang hantu sih.
“Kak, kalau dia udah bangun beneran mintain tanda tangan ya! Dadah, Kak! Gws pokoknya!”
Astri dan Mama benar-benar pergi. Ruangan ini terasa begitu sepi, kedamaian yang mana membuat Rinai takut melakukan hal apa pun bahkan hanya mengambil sesuatu seperti minum.
Kaget. Ia hampir menumpahkan gelas karena tangannya bersentuhan dengan Aiden. Kapan pria itu bangun? Kenapa matanya tak sadar kalau Aiden sudah sadar dan berjalan ke arahnya?
“Kamu bisa minta bantuan semisal tidak bisa mengambilnya.”
“Ah, maaf. Ah, maksudku, terima kasih, Kak. Kapan kamu bangun?”
Aiden meregangkan otot tangannya yang terasa kaku. “Barusan. Enak juga, lumayan hilang rasa kesalku.”
“Kesal?” Rinai merasa aneh, kenapa kata itu terlihat ambigu?
“Maksudku pegal.”
“Tapi aku yakin kamu bilang kesal. Kesal dengan siapa?”
“Nggak ada. Aku hanya salah mengucap kata, bukankah semua orang juga bertingkah seperti ini ketika bangun tidur? Tak sadar.”
Oh, iya juga ya.