Venya jadi memperhatikan orang di depannya. Padahal saat makan sianh sudah selesai, dia tidak kunjung pergi juga dari sana. Padahal bangku lainnya sudah kosong. Venya melihat dia memakai earphone. Jadi kemungkinan dia di dengar sangat kecil. Maka dari itu, Veya hanya diam saja meskipun beberapa kursi sudah kosong dan kursi juga bangku lainnya sedang di bersihkan. Venya juga tidak merasa terganggu sama sekali. Lagi pula dia sudah selesai dengan penerbit. Mungkin dua hari lagi, dia menulis epilog untuk ceritanya.
Selanjutnya, Venya menuliskan bab untuk cerita lainnya di platform yang lain. Tapi sebelum Venya mulai menulis di sana, Venya melihat ada pemberitahuan di platform sebelumnya. Ada satu komentar yang bahkan Venya tahu betul oeang yang pertama kali berkomentar adalah orang yang sama juga yang menilai tulisan Venya sejak dulu.
Dia sedikit tersenyum kecil membaca kalimat yang diberikan oleh Aree141.
'sepertinya sudah pintar dengan situasi kafe yang ramai.', katanya di kolom komentar cerita milik Flora.
Venya tidak tahan untuk tidak membalasnya, "yep, lagi ada di lafe yang cukup ramai hari ini." Kata Venya membalas komentar tersebut dengan senyuman kecil di wajahnya.
Setelahnya, Venya beralih krpada buku kecil yang ia beli tadi. Kemudian menuliskan bebrapa point penting tentang kafe. Judul tulisannya aslah, 'suasana kafe ramai,' tulis Venya. Kemudian dia menuliskan beberapa hal yang menurutnya harus di ingat. Salah satunya adalah kafe kekurangan meja dan ada orang yang duduk di depannya karena tidak kebagian meja. Dimana Venya ingin memasukkannya ke dalam ceritanya nanti. Kelanjutan cerita yang bahkan belum di selesikan menulis outlinenya. Tapi Venya sudah ingin memggunakan adegan itu untuk memperluas masalah yang akan diberikan pada si tokoh utama. Dimana tokoh utamanya adalah orang dengan karakter yang mirip dengan Venya.
Entahlah, namun itu lebih gampang dibuat dari pada harus mengada - ngada untuk membuat suatu karakter atau penokohan yang jelas - jelas sama sekali bukan dirinya. Sulit tapi sering sekali dilakukan oleh Venya. Dia sering membuat karakter yang seperti itu.
Kadang Venya juga lupa karakter dari tokohnya sendiri. Untung saja Venya punya kebiasaan membaca bab sebelumnya sebelum menulis. Dimana Venya sering lupa ia akan mulai masuk lagi ke tokoh tersebut. Ribet memang, tapi, dari pada jatohnya plot hole? Kan ga lucu.
Venya mengetikkan lagi beberapa kalimat untuk bab selanjutnya. Sekali lagi, Venya menyaksikan orang di depannya benar - benar tersenyum kecil . Venya melihatnya dengan ujung mata. Tapi, Venya berfikir itu salah. Setidaknya, Venyabtidak kepedean karena diperhatikan orang di depannya.
Kemudian, ketika Venya larut dalam ceritanya, ponsel di atas meja Venya bergetar cukup lama. Venya bertatapan dengan orang di depannya. Dia merasa bahwa mungkin saja getaran teleponnya menganggu orang di depannya. Orang di depannyabjuga mmenatao Venya, lantas Venya tersenyum kecil dan juga berkata maaf tanpansuara. Hanya bibirnya saja yang berkata maaf. Suaranyabtidaknkeluar.
Lagian, orang di depannya pakai earphone di kedua telinganya. Venya jadi tidak bersuara karena percuma saja. Karena sama sekali tidaka akn terdengar oleh orang di fepannya. Jadi dia menggunakan gesture di mulutnya saja.
Orang itu mengangguk paham sambil tersenyum kecil saat Venya melakukan hal itu. Entah itu konyol di mataborang didepannya, Venya tidak terlalu perduli. Setidaknya, dia sudah bersikap sopan dan mungkin itu saja cukup.
Mata Venya kini beralih pada ponselnya. Dia nelihat nomor Gemma yang masuk meneleponnya. Venya sebenarnya agak risih harus menelepon dan mengangkat telepon di sini. Di depan orang yang tidak di kenalnya. Tapi, setidaknya orang di depannya menggunakan earphone. Kemungkinan tidak akan mendengarkannya dengan jelas.
Venya menatap laptopnya karena notifikasi platform lagi. Tapi, dia mengangkat teleponnya dulu, kemudian tangannyabmenyentuh mouse dan mengklik notifikasi itu. Lalu, diab nelihat Aree141 membalas lagi komentar yang sudah Venya balas tadi. Cukup membacanya sekilas.
'bagus, aku juga sedang ada di kafe." Tulis Aree141
"Halo," kata Venya setelah menempelkan ponselnya di telinga kirinya.
'lo dimana?' tanya Gemma setelsh Venya menjawab teleponnya.
Venya menarik nafasnya, "bukannya gue yang harusnya tanya?" Kata Venya.
Gemma menghembuskan nafasnya kasar. Sangat jelas terdengar di telingan Venya. 'balik dulu deh ke kosan. Gue ceritain semuanya di sini.' kata Gemma, 'lo ga lagi di panti asuhan kan?' tanya Gemma lagi.
Venya menggeleng kemudian mengambil.gelas vanilla latenya yang sudah mulai dingin. Kemudian menyeruputnya pelan, "engga. Kenapa?" Tanya Venya lagi.
'bisa ga lo pulang?' tanya Gemma, 'engga. Enggak.' kata Gemma cepat, 'gue jemput lo ke sana deh. Lo dimana?' tanya Gemma yang sudah membawa kunci mobilnya.
"Ga usah. Gue masih lama di sini." Kata Venya, "tunggu aja. Agak sorean gue balik." Kata Venya lagi.
Gemma diam, 'ya udah, gue tunggu.' kata Gemma.
"Iyalah, gue aja nunggu lo seharian. Jangan lupa kemaren juga." Kata Venya kemudian menutup ponselnya mematikan telepon dari Gemma.
Venya sedikit tidak mood lagi untuk menulis. Namun, komentar yang tadi cukup menarik untuk di balas.
"Benar? Kenapa tidak bertemu?" Tanya Venya di kolom komemtar itu.
Kali ini Venya benar - benar menangkap basah orang itu tersenyum kepada laptopnya tepat setelah Venya mengklik enter pda keyboard laptopnya dan membalas komentar. Venya benar - benar menangkap basah orang di depannya tersenyum sambil memainkan Laptopnya.
Kemudia, setelah orang itu tersenyum pada laptopanya dia mengetikkan beberapa kalimat jika terdengar oleh Venya suara ketikan pada keyboard Laptopnya. Tulisan dan ketikannya lumayan, sepertinya dia - orang di depannya juga sehing mengerik seperti Venya. Terlihat seperti orang yang sudah pro di bidang perkomputeran . Venya sendir merasa insecure karena hal itu. Bukan tentang ketikan yang super cepat yang dibuat oleh orang di depannya. Tapi lebih ke , orang berpendidikan duduk di depannya. Venya merasa bahwa dirinya sama sekali tidak ada apa - apanya jika di sandingkan dengan orang di di drpannya.
Lalu kemudisn, Venya menggelengkan kepalanya.
"Apaan sandingan - sandingan apaa, Ven." Gumannya.
Lalu matanya melihat lagi ads notifikasi komentar baru di platformnya, lalu Venya melihat orsng di depannya menyesap kopinya kemudian mengetik lagi.
Venya menarik nafas dan menghembuskannya lega. Setidaknya, tadi Venya sempat beranggapan jika orang di depannya adalah pemilik akun Aree141 karena benar - bensr tepat ketika Venya membalas komentar, dia tersenyum seperti senang mendapatkan komentar dari Venya.
Mungkin orang di depannya sedang chating dengan orang makannya di senyum - senyum. Dia sedang mengerjakan tugasnya dan ya, bukan Aree141 yang terpenting.
'mari bertemu ketika buku baru sudah di siapkan dan kamu mendapat waktu untuk fansign.'
Venya menghembuskan mafasnya. "Gue ga bakal mgadain fansign." Ucapnya pelan.