Venya dan Gemma sudha pulang. Mereka berdua memang sangat jarang bertengkar. Venya lebih memilih menghindari hal itu daripada menghadapinya. Dia sendiri lebih memilih selalu mengalah daripada berdebat. Namun, kemarin, Venya merasa ia harus meluruskan hal yang seharusnya lurus malah jadi bengkok. Venya juga merasa bahwa dirinya harus bisa memahami situasainya. Dimana situasi mereka sedang tidak baik. Situasi dimana menjadikan seorang Venya ikut berkomentar. Biasanya, dia tidak pernah seperti itu. Dia lebih memilih untuk mengangguk, diam dan selesai.
Namun, Venya merasa jika malam itu dia harus benar - benar menyelesaikannya walaupun harus dengan berdebat terlebih dahulu. Terbukti, ketika berdebat, Venya mengeluarkan segala aspek yang ia pelajari.
Selama perjalanan, Venya yang biasanya senang di ajak keluar malam kini malah terlihat bengong. Dia seperti banyak pikiran dan tentu saja membuat Gemma merasa aneh dan bersalah.
"Ven, gue minta maaf karena udah ngecewain lo." Kata Gemma, "ke depannya, gue bakal berusaha buat lebih baik lagi seperti yang lo bilang." Kata Gemma.
Seperti yang Venya bilang.
Kalimat itu lebih seperti tekanan untuk Gemma. Venya mendengarnya menjadi sedikit aneh. Sedikit canggung dan tentu saja lebih condong kepada bahasan dimana Venya yang memaksa Gemma untuk berubah.
"Kalo lo ngerasa terpaksa, ga usah berubah buat gue, Gem." Kata Venya pelan tanpa mengubah posisinya.
Dia masih diam di bangku penumpang dan Gemma di bangku supir di belakamg stir mobil yang sedang dikendarai oleh Gemma malam itu. Venya masih menatap ke depan dengan bersandar santai. Matanya hanya fokus ke depan tanpa menoleh ketika menjawab peenyataan Gemma yang menurut Venya sedikit memojokkannya.
Gemma menggeleng pelan kemudian menatap Venyanyang bahkan tidak menatapnya, "guenga terpaksa. Gue paham lo kecewa sama gue. Gue emang pacar yang ga berguna." Kata Gemma. "Gue ga ngehargain lo yang udah mau pindah ke sini atas permintaan gue." Kata Gemma lagi.
Venya menoleh sekarang, "maaf Gem. Tapi gue pindah bukan karena lo. Dan untuk masalah kenapa gue pindah ke sini, ke samping tempat tinggal lo, ke samping kosan lo, itu karena lo emang menunjukkan tempat yang gue mau." Kata Venya. "Yang gue mau, dimana gue bisa tenang buat ngetik cerita gue, dimana gue bisa duduk tenang tanpa gangguan dari luar, dimana gue bisa dapet makanan yang deket dan dimana gue bisa sama lo." Kata Venya.
Gemma menatap Venya lagi.
"Gue emang pengen deket sama lo karena gue ngerasa lo bisa di andelin. Jauh lebih bisa di andelin daripada siapapun di luar sana." Kata Venya, "jangan buat gue nyesel karena berfikir seperti itu sama lo, Gem." Lanjut Venya menegaskan apa yang ia ingin utarakan.
Katakan saja jika Venya egois. Mementingkan dirinya sendiri.
Benar adanya.
Venya sedang mementingkan dirinya sendiri. Dimana dirinya pernah membaca satu kalimat entah di novek yang mana. Kalimatnya berbunyi, 'jangan lupain lo dan diri lo sendiri. Lo berhak bahagian dengan keegoisan lo untuk kebahagiaan lo sendiri.'
Dan itu membuat Venya sadar.
Dia harus egois untuk kebahagiaannya.
"Gue bisa aja pindah bulan depan dari sini, Gem." Kata Venya kemudian menatap ke depan lagi. , "Tapi gue memilih bertahan." Lanjutnya.
Gemma masih diam di belakang stirnya. Dia bahkan tidak bisa berkata apa - apa setelah ucapan panjang lebar dari seorang venya untuknya. Bahkan jika bisa dikatakan bahwa Gemma tidak tahu berterima kasih memang dia orang seperti itu. Meskipun dalam diamnya, Venya masih berusaja memikirkan Gemma. Dimana dia masih bertahan samlai sekarang untuknya dsn tidak bisa lepas dari Gemma.
Lagi - lagi Gemma hanya berfikir dirinya sendiri. Dimana dia sendiri seharusnya lebih menghargai Venya. Lebih memperhatikannya dan jelas - jelas lebih memilih Venya daripada dunia luar yang kini sedang Gemma sukai.
Setidaknya, Venya bisa menghasilkan uang dan dunia luar hanya menghabiskan uang. Dengan Venya dia bisa memghasilkan uang lebih banyak lagi. Setidaknya itu adalah pemikiran Gemma harinini.
***
"Gue udah nulis buat hari ini. Jadi, malem ini gue mau tidur aja." Kata Venya ketika mereka berdua ada di depan pintu kamar milik Venya. "Gue pengen bangun siang juga." Ucap Venya lagi.
Gemma mengangguk.
Dari perkataannya, Venya mungkin ingin sendiri dulu. Dia bahkan menyebutkan hak itu secara tidal langsung demi mengjargai perasaan Gemma. Dan Gemma harus mengerti.
"Gue bawain makan pagi sama siang sekalian nanti." Kata Gemma.
Venya mengangguk, "gue duluan." Kata Venya kemudian membuka pintunya dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Selanjutnya, Venya terbaring di ranjangnya.
Venya merasa jika hari itu adalah hari terpanjang di hidupnya. Rasanya melelahkan sekali. Batin dan otaknya bertarung. Hatinya juga ikut andil dalam pertarungan itu. Bahkan Venya sekarang rasanya ingin mandi air dingin untuk setidaknya mendinginkan kepalanya sebelum ia mendinginkan hatinya karena rasanya seperti terbakar di dalam sana.
Dia benar - benar mandi malam itu. Rambutnya yang basah ia sengaja geraikan di halangi oleh handuk di antara punggung dan rambutnya. Dia duduk dan bercermin. Ada cermin ekcil di meja kerjanya. Lantas dia menatap dirinya.
"Bagus lo Venya." Katanya, "lo ga bisa idup tanpa dia tapi lo cari perkara sama dia." Ucap Venya lagi. Setidaknya venya mengukur dirinya.
Venya bergumam lagi, "lo tau lo ga bisa lagi ngebuka hati kalo bukan dia." Kata Venya, "tapi lo seperti menyuruhnya pergi kalo kayak gini." Lanjutnyaya.
Dia sering sekali memaki dirinya seperti itu di hadapan cermin. Dia bahkan kaddang - kadang mencakar wajahnya sampai memerah dan tentu saja Venya lebih sering memaki. Wajahnha mungkin tidak di kenal banyak orang. Namun, itu merupakan aset untuk Venya. Setidaknya dia punya wajah. Ada yang bahkan tidak memiliki waja. Harus di operasi itu dan ini utntuk menjadikannya sempurna. Menjadikan wajahnya sepeti yang diinginkan. Venya kadang tidak mengukur dirinya sendiri kalau dia sudah sesempurna ini.
"Kurang bersyukur lo, Venya." Kata Venya lagi memaki dirinha sendiri di hadapan cermin.
Lagi pula, jarang sekali Venya punya waktu seperti ini. Siklus hidupnya hanya itu - itu saja.
Pagi ia bangun pukul 9 hanya untuk makan. Lalu dia bisa duduk di meja kerjanua sampai sore atau bahkan melanjutkan tidurnya samlai sore. Kemudian dia bangun saat sore dan mulai bekerja untum menafkahi dirinha sendiri. Lalu jika sudah selesai menulis sore itu, Venya kadang mandi terlebih dahulu dan kadang juga makan terlebih dahulu. Gimana moodnua saja. Lalu setelah sore mandi, dia biasanya duduj kembali di kursi kerjanya dan lanjut bekerja samapi malam. Sisanya, dia lakukan untuk tidur. Bahkan makan malam mungkin kadang - kadang ia lewatkan.
Dia benae - benar tidak punya waktu untuk egois.