Siang itu baru Venya keluar membuka pintu kamar kosannya. Dia bahkan tidak berharap lebih kepada Gemma. Namun, saat Venya membuka pintu ada Gemma yang kebetulan membawa makan siang untuk Venya.
"Baru bangun, Ven?" Tanya Gemma ketika melihat Venya yang baru saja membuka pintu kamarnya dan baru saja kelihatan orangnya semenjak kemarin malam.
"Iya nih. Mau makan bareng?" Tanya Venya.
Sebenarnya, Venya masih ingin marah atau bahkan memberikan Gemma pelajaran jika dieinya menghilang bagaimana dia akan menjalani hidup Gemma sendiri. Bukan karena Venya percaya diri sehingga melakukan itu. Hanya saja, Gemma memang harus di berikan sedikit pelajaran. Dimana dirinya agar bisa menghargai keberadaan Venya. Namun, jika Venya melakukan itu bukankah terlalu egois?
Bahkan Venya merasa sangat jahat jika Venya melakukan itu.
Selanjutnya, Gemma mengangguk kecil. "Boleh." Katanya kemudian dia melangkah masuk mengikuti Venya ke dalam kamarnya setelah menganbil makanan yang pagi tadi semlat Gemma gantungkan di pintu kamar milik Venya. "Lo belom sarapan?" Tanya Gemma lagi.
Venya menggeleng. Dia memang tahu jika Gemma menggantungkan sarapan untumnya. Namun, Venya masih enggan. Dia tidak terlalu lapar dan memang tidak nafsu makan. Dimana Venya merasa mual akan kehadiran makanan dipikirannya. Entah kenapa, tapi Venya pernah mengalami hal ini ketika di panti asuhan dulu.
Venya tidak bisa amakan setelah kejadian pelece*han itu. Dimana Venya sangat mual ketika makan dan mengingat kejadian itu. Jadi, Venya memilih untuk tidak makan sama sekali. Ditambah lagi ketikal kejadian itu terjadi, Venya tidak punya teman yang bisa di ajaknya berbicara. Temannya yang mengajak Venya menonton futsal sampai akhirnya Gemma memacarinya dulu adalah teman kelas sebelah. Tidak terlalu dekat juga.
Venya tidak ingin pertemanan yang dekat banget karena dia malas sekali ketika sudah berurusan dengan laki - laki. Apalagi ketika Venya di kabarkan berpacaran dengan Gemma, seluruh sekolah bahkan bisa saja memusuhi dirinya dan tidak ada yang ingin berteman dengannya. Lagi pula, Venya memang tidak mengnginkan zona pertemanan yang bahkan bisa saja suatu saat nanti rusak dengan berbagai alasan. Maka dari itu, Venya tidak meniliki teman dekat yang bisa di ajaknya berbicara.
Rasa mual itu sama. Tidak berselera makan dan juga tidak enak diam. Venya harus banyak bergerak dan melupakan semuanya. Dia harus bisa seperti itu.
"Lo sakit?" Tanya Gemma kepada Venya yang terlihat pucat.
Venya menggeleng. "Enggak. Cuman lemes aja." Jawab Venya dengan pelan. "Makan dikit juga udah mendingan." Kata Venya semakin pelan. Dia duduk di atas karpet yang di gelarnya di dekat ranjang. Kemudian dia menyajikan makanan yang di bawa Gemma.
Gemma menyusul duduk di sana. Di hadapan Venya yang sedang menata makanan yang di belinya tadi, "mungkin lo .belum sarapan, jadi lemes." Kata Gemma unruk Venya.
Venya tersenyum kemudian mengangguk pelan, "iya kali, Gem. Tadi pagi gue keenakan tiduran, skrol skrol sosmed sama komenan di cerita gue di atform online berbayar itu." Kata Venya memberikan alasan yang tepat.
Gemma sekarang mengangguk, "makannya, jangan telat sarapan, Ven. Lo musti mikir soalnya." Kata Gemma lagi kemudian tangannya membawa makanan yang di sodorkan oleh Venya.
Lagi, Venya membalas dengan anggukan. "Tapi, biasanya gue ga sarapan kok." Kata Venya setelah lama diam dengan makanan yang dikunyah di mulutnya. "Gue kan biasa bangun siang tuh. Ga sarapan juga kan? Tapi ga lemes kok, biasa - biasa aja tuh." Kata Venya lagi melanjutkan kalimatnya yang tidak selesai tadi.
Sekarang Gemma diam. Benar juga. Sahutmya di dalam hari.
Gemma juga berpikiran jika meninggalkan sarapan membuat lemas, apalah dirinya yang bahkan jarang sekali sarapan. Mau di kosan ataupun di rumah. Dia sering sekali melewatkan sarapan dan biasa aja.
"Terus, kenapa lo lemes?" Tanya Gemma pelan kepada Venya yang sibuk mengunyah makanannya.
Lambat.
Kunyahan itu ditelan Venya, "ga tau juga." Balas Venya dia menggeleng pelan, "gue kayaknya kebanyakan tidur atau kurang tidur. Ga tau juga tapi emang hari ini lemes banget. Kayak yang ga mau ngapa - mgapain tapi pr nulis masih cukup banyak." Kata Venya.
"Lo ga bisa libur, gitu?" Tanya Gemma iseng.
Venya terkekeh, "Gem, sekarang gue hidup sendiri. Biaya kosan, makan dan juga jajan itu di tanggumg sendiri, walaupun kalo di panti asuhan juga sama sih." Kata Venya, "tapi setidaknya, gue bisa dan mampu begini gara -, gara nulis. Kalo gue ga nulis sama aja bunnnuh diri. Tau ga lo?" Tanya Venya kepada Gemma sekarang.
Intonasi Venya sudah seperti biasa lagi. Dan hal itu membuat Gemma cukup tenang. Venya sudah melupakan pertengkaran kemarin mungkin. Buktinya, Venya sudah biasa saja. Itu yang ada di dalam pikiran Gemma.
Beda lagi dengan Venya yang menganggap sikapnya seperti ini adalah salah satu cara agar dia tidak terlihat canggung. Dia sebenarnya tidak ingin bertemu dengan Gemma dulu. Tapi terpaksa karena dia lapar dan juga dia memerlukan makanan. Kebetulan juga Gemma sedang dalam perjjalanan mengantarkan makanan. Maka dari itu, Venya menyuruhnya masuk agar dia tidak selalu canggung ketika bertemu dengan Gemma.
Kenapa canggung?
Kemarin adalah pertengkaran pertama Gemma dan juga Venya. Hal itu membuat keduanya merasa aneh satu sama lain. Semalam juga, Venya harusnya makan enak. Namun rasanya tetap hambar. Karena di temani namun seperti berjalan sendiri. Dimana Venya dan Gemma memamng menikmati suasana itu tapi tidak dengan suasana hati mereka yang bahkan entah dimana dan entah kemana perginya. Venya dan Gemma sama - sama canggung.
Saat makan oun, Venya merasa jika dirinya bukan Venya yang dulu. Semua unek - unek di dalam hatinya mengenai Gemma sudah dinkeluarkan kemarin. Rasanya lega memang. Namun, ada rasa lain selain itu. Fimana Venya merasa bahwa dia sulit untuk melihat mata Gemma. Dia bahkan tidak berani sampai sekaramg.
Venya merasa sieinya ada bersalah kepada Gemma. Padahal, tidak ada yang slaah. Hati Venya seperti itu. Dan Venya harus menerimanya. Venya sudah menrluatkan semua unek - uneknya namun takut Gemma tidak menerimanya lagi. Tapi, menurut Venya, Gemma juga sudah biasa saja. Tidak mempermasalahkan apa yang sudah ia katakan waktu itu. venya juga rasanya hamlir tidak percayabdiri. Takut Gemma tidak menyukainya lagi. Takut Gemma tidak menyayanginya lahi kemudian Gemmapergi.
Walaupun Venya bisa saja tidak perduli jika Gemma pergi tetap saja. Mungkin nanti rasanya akanhampa tanpa Gemma. Akan hampa tanpa kehadiran Gemma dan juga akan hampa karena dia tidak ada yang mengurusi.
Bahkan, jika dikatakan dengan kasar, Venya tidak punya lagi pegangan. Dia tidak punya pacar yang menerimanya apa adanya. Dia tidaka akan punya laki - laki lagi yang menyayanginya seperti Gemma kepadanyam dan tentu saja, Venya harus mencari lagi yang lain walaupun dia sangat tidak membutuhkan seorang oacar. Tapi, tetap saja dia perlu seorang alki - laki untuk menemaninya.
***
Venya sedang menuliskan bab terakhir untuk penerbit yang kontaknya akan segera berakhir bulan depan. Dia bisa beristirahat atau sekedar membuat outline untuk ceritanya yang lain. Dia biss agak sedikit longgar namun tetap produktof di beberapa platform. Dimana dirinya menulis banyak sekali buku.
Terkadang, Venya memang ingin berhenti. Ingin rasanya dia berhenti satu bulan saja.
Tapi jika di pikirkan lebih lanjut. Sebulan adalah waktu yang lama. Akan menjadi apakah cerita yang di terlantarkan Venya? Bahkan sehari saja kadang - kadang Venya lupa karakter tokohnya seperti apa. Karakter tokoh lainnya kadang suka masuk ke dalam cerita yang lain. Bahkan terkadang suka terbalik dan tentu saja dia mendapat komentar pedas dari pembaca. Walaupun tidak sepedas samyang level 30 sih.
Tetap saja, komentar itu terkadang menjatuhkan motivasi Venya sebagai Flora di platform. Menjadikan dirinya sedikit tidak bernafsu lagi untuk menulis dan tentu saja tidak semangat untuk menulis dimanapun. Padahal hanya beberapa komentar yang mengangapnya jelek.
Syukurlah Flora yang lebih banyak penggemar dariapda haters atau pengeritik yang bahkan tidak paham nahasa penulisan yang baik dan benar. Mereka bisanya berkomentar negatif. Membuka koin, membaca dan berkomentar. Jika saja bukunya yang berkoin itu di gratiskan, mungkin Venya akan mecak - mecak memarahi komentar itu.
Memarahi komentar itu, bukan orangnya. Venya jarang sekali menbalas komentar jahat namun sering sekali memarahinya di dunia nyata sebagai Venya. Bukan Glora uang sering mebalas komentar baik.
Jika komentar yang jelek masuk ke dalam kolom komentar ceritanya, kadang Venya suka bersilat lidah. Dia mengumamkan atau bahkan meneriaki si akun yang memberi komentar itu. Jika bukunya masih gratis, Venya selalu mengluarkan jurus andalannya.
"Udah baca doang gratis, modal kuota doang, komentar macam anjjing menggonggong ke tembok. Dasar orang ga tau di untung."
Ya begitulah kira - kira komentar balasan Venya untuk yang berkomentar pedas atau bahkan mengkritik tulisannya habis - habisan. Dimana Venya selalu puas hanya dengan seperti itu. Jika Venya mengetikkan berbagai komentar yang membalas komentar jahat, pembaca atau bahkan si pengomentar itu akan lebih berkomentar lagi. Jadi, Venya yang mengalah. Dia membalasnya dengan omongan lagi bukan dengan tulisan komentar lagi.
Bagusnya hal itu, Venya selalu mndapat pujian sebagai Flora yang dikatakan tidak ingin ribut dnegan para pembaca.
Ya memang seperti itu maunya Venya. Lagipula, tidak ada penulis yang bahkan mau dikritik dengan pedas. Orang editornya saja mengkritik dengan bahasa yang halus dan juga bicara yang baik. Ini, dia siapa? Editor kelas atas? Bukan. Cuman pembaca modal kuota.
Venya bahkan menjadi kesal walaupun membayangkannya saja. .
Syukurlah sekarang Venya jarang sekali mendapat hukatan karena dia berfokus pada tulisannya. Menulis dengan baik dan juga belajar lebih giat. Setidaknya, akun Aree141 selalu meberikannya komentar positif. Wlaaupun dia mengkrotik tulisan milik Venya, dia selalu punya bahasa yang baik. Venya mensyukuri hal itu.
Komentar yang di kirimkan oleh Aree141 memang mengkritik tulisan, bahasa dan juga kalimat yang Flora gunakan. Namun, bahsanya masih bagus. Dia memohon maaf dan ijin bekomentar terlebih dahulu dan Venya menyukai attitudenya yang baik dan juga ramah.
Ngomong - ngomong tentanh atittude yang baik, Venha jadi ingat pria yang ditenuinya waktu di kafe itu.
"Dia sekolah dimana ya?" Tanya Venya untuk dirinya sendiri, "dia darimana? Jawa kah? Biasanha kan jawa terkenal banget smaa attitudenya yang sopan dan tentu saja diajarkan begitu." Katanya lagi.
Venya bahkan bertanya - tanya, jika dirinya bersanding dengan sang peia, mungkin akan di tendang habis - habisan. Venyabyang tidak bisa menjaga omongannya jika sudah kenal dekat. Atau bahkan Venya yang terkadnag membawa laptopnya kenkamar mandi hanya untum mendapatkan inspirasi.
Lalu dia menggelengkan kepalanya, '"ga cocok dah ga cocok." Kata Venya pelan, sia menepuk- nepuk pipinya, "sadar Venya. Kemungkinan cowok itu udah punya pacar, tunangan atau bahkan istri? Udha punya anak juga kali." Kata Venya ngeri.
Tapi sedetiknm kemudian Venya melamun lagi, "tapi dia kayak masih mudah, masih seumuran sama gue deh kayaknya." Kata Venya lagi, lagi- lagi Venya menggeleng pelan, "ya terus kalo seumuran sama lo, kenapa Ven? Ade - ade aje deh elo." Kata Venya lagi.