Venya dan Gemma masih berdiam diri. masalahnya adalah ketika Venya meminta Gemma untuk menghentikan kegiatan di dunia malamnya, Gemma tidak bisa langsung megiyakan permintaan Venya. Gemma malah memilih utnuk meminta waktu yang bahkan entah kapan bisa terlaksana dan juga bisa dilaksanakan oleh Gemma.
Selain itu, petanyaan yang di tanyakan oleh Venya tentang Gemma malah memperumit keadaan dan juga posisi Gemma yang seharusnya sudah aman dari semua hal yang dihindari olehnya sendiri. Pertanyaan Venya yang bahkan tidak bisa Gemma langsung jawab itu kini merembet ke pertanyaan lain. maka dari itu, Gemma mungkin bisa menghindarinya dengan menjawab pertanyaan sedari awal tadi. Kemungkinan besarnya, Venya tidak akan mempertanyakan apapun dari masa lalunya.
"Jadi, sekarang kita harus terbuka nih ya?" tanya Venya yang menjadi jebakan untuk diri Gemma.
sebelumnya, Gemma mempertanyakan Venya kemana uang Venya pergi selama ini. dan tentu saja itu adalah hal yang tidak perlu diketahui oleh Gemma. Kenapa juga Gemma ingin tahu tentang hal itu? bukan urusan dia juga. Setidaknya, Gemma dan Venya harus punya privasi tentang hidupnya.
Tapi, jika Gemma menginginkan untuk mengetahui kemana uang Venya selama ini pergi, tentu saja Venya tidak akan memberitahukan Gemma dengan gratis. ada hal yang ingin Venya ketahui juga dari Gemma. Mungkin itu adalah bayaran yang cocok untuk pertanyaan Gemma yang tadi itu.
Gemma menelan ludahnya susah payah. Bahkan dia mengangguki pertanyaan Venya untuk jawaban. dimana Gemma yang ingin tahu semua pemasukan Venya kini harus membongkar juga rahasianya yang bahkan bisa saja sampai rahasia di masa lalu milik Gemma. Bukan hanya rahasia, bisa jadi Gemma mulai membuka aibnya sendiri.
"Sialaaan, malah ngegali kuburan sendiri gue," runtuknya dalam hati.
"Okay, kita harus jujur untuk setiap pertanyaan yang di kasih sama lawan bicara kita. Deal?" tanya Venya kepada Gemma dengan sambutan tangan untuk bersalaman.
Setelah berfikir sedikit lama sambil menatap tangan Venya yang menjulur, Gemma kemudian menjabat juluran tangan Venya. Selain keuangan, ada satu hal lagi yang ingin Gemma ketahui dari diri Venya. Tentu saja, ini kesempatannya yang bagus untuk mencari tahu apa yang ingin Gemma ketahui sejak cukup lama itu.
"Okay, gue bakal jawab pertanyaan lo dulu mengenai kemana uang yang gue dapet." Kata Venya pelan. Dia menarik napasnya dulu sebelum menjawab, "jadi gue detailin penghasilan gue ya." Ucap Venya lagi yang langsung diangguki oleh Gemma, "penghasilan gue tahun lalu hanya di satu platform itu sekitar tiga puluh juta dalam setahun. Gue bayar cicilan rumah panti yang waktu itu dianggap hutang. Pada akhir tahun gue ngebut nulis sampai bisa menghasilkan sampai empat puluh juta tahun kemarin." kata Venya. "Gue pake buat bayar rumah sampai bulan maret tahun ini." ucap Venya lagi.
"Bukannya, uangnya udah di balikkin?" tanya Gemma.
Venya mengangguk, "tapi ga semua. setengahnya juga enggak. karena gue kan harus bayar ibu guru juga karena dia bantuin gue buat nalangin sisa hutang yang ada." kata Venya lagi. Gemma mengangguk menatap Venya, "setelah uangnya ada lagi di tangan gue, gue kasih setengahnya ke bunda Kori yang katanya mau ningkatin jualannya yang sekarang mulai ramai lagi. terus gue beli laptop, sama beliin adek - adek gue di panti baju baru sama lemari baru buat mereka naro baju satu orang satu lemari platik. biar ga ke tuker." kata Venya, "Sisanya ada di atm gue, kurang lebih sepuluh juta lagi. Gue mau tabung siapa tau ke depannya gue ada niat buat kuliah walaupun ada atau engga niatnya ga tau juga." kata Venya.
"Terus yang dari penerbit cetak? bukannya lo udah mau dua tahun kontrak kerja sama mereka?" tanya Gemma.
"You know me so well, Gem." kata Venya pelan yang memuji Gemma yang mengetahui apa adanya seorang Venya sampai - sampai penerbit aja dia tahu karena Venya selalu menceitakannya. Bahkan sampai bercerita detailnya. "Dari penerbit cetak gue beda bank. Uangnya buat gue nikah nanti." kata Venya.
Gemma mengerutan keningnya, "gue ga mau nikah dulu." katanya dengan secara langsung tanpa pakai mikir.
Venya mencemooh kemudian menoyor kening Gemma, "yeee, siapa juga yang mau nikah sama lo." kata Venya, "gue nabung buat gue nikah atau buat dana darurat aja sih. soalnya dari penerbit cetak ga sebanyak itu. makannya mending gue ga ambil juga uangnya. sayang aja, ga banyak tapi malah diambil buat kebutuhan hidup." kata Venya kemudian menggeleng pelan.
keduanya kemudian diam. lalu Venya menarik nafasnya, "sekarang, giliran gue." kata Venya, "lo udah siap buat pertanyaan gue yang harus lo jawab dengan jujur. ini bakal menyangkut aib lo juga, Gem." kata Venya menakut - nakuti Gemma.
Venya terkekeh melihat Gemma yang tegang.
"Apaan elah pertanyaannya, gue udah siap nih." kata Gemma memasang badannya seperti supermen.
Venya mengangguk, "jadi, gue sebenernya udah tau kalo lo suka keluar masuk club malam." kata Venya.
Pernyataan itu membuat Gemma kaget, "dari mana lo tau?" tanya Gemma langsung.
"Ini bakal jadi pertanyaan kedua lo yang harus gue jujur. apa lo mau gue jawab? lo cuman punya jatah 3 pertanyaan loh buat malam ini." kata Venya.
Gemma diam, "sejak kapan kita membatasi pertanyaan yang harus di jawab jujur? bukannya harusnya jujur terus kalo di tanya?" tanya Gemma.
"Diem sih lo. ini kan pertanyaannya HARUS di jawab jujur, kalo pertanyaan lain mah bisa aja bohong juga gapapa." kata Venya, "perhatikan moment dan waktunya, kali, Gem." kata Venya pelan.
Gemma mengangguk lagi, "okay - okay. Jadi, apa pertanyaan lo?" tanya Gemma, "nanti gue tanya yang dari mana lo tau gue sering masuk keluar club malam buat pertanyaan kejujuran nanti lagi." kata Gemma.
Venya diam, "ini cuman malam ini aja loh." kata Venya.
"Ga mau tau, harus ada lagi." kata Gemma memaksa.
Venya mengangguk, "okay dah okay." kata Venya pasrah, dia menarik napasnya mempersiapkan diri untuk bertanya dan mempersiapkan diri untuk mendapat jawaban dari Gemma yang sejujur - jujurnya, "kalo lo main ke club malam, gue yakin ga cuman minum sama joget - joget doang." kata Venya kemudian menjedanya, hal itu membuat Gemma sedikit gugup, "apa lo main cewek juga di sana?" tanya Venya.
Gemma terbatuk mendengar pertanyaan dari Venya yang bahkan langsung ke intinya, tanpa basa - basi dan tanpa arahan yang berputar dulu. Gemma terbatuk akibat ludahnya sendiri mendadak masuk ke tenggorokannya karena kaget dengan pertanyaan dari Venya barusan.
"Mau minum dulu sebelum menjawab?" tanya Venya mencoba mencemooh seorang Gemma.
Gemma menggeleng, "ga usah." Katanya kemudian berdeham pelan, "main cewek di sini maksudnya gimana?" tanya Gemma berbalik menanyakan apa yang dimaksud oleh pertanyaan Venya. dia butuh kejelasan.
Venya berfikir terlebih dahulu, "gue tau lo ga sepolos itu dan gue tau lo sangat jelas dan sangat mengerti apa yang gue tanyain." kata Venya pelan. "gue ga usah jelasin maksudnya apa dan gue yakin lo paham. Cepetan jawab." kata Venya memaksa Gemma untuk menjawab pertanyaan Venya.
"Main cewek ya." kata Gemma bergumam untuk dirinya sendiri. Setelah itu, Venya mengangguk. "gue sering main cewek. joget - joget. ada kalanya gue mabuk bahkan sampai ngelakuin skinship sama cewek - cewek itu. tapi ga sampai ciuman kok. gue paling banter ngendus - ngendus doang leher si cewek - cewek itu." kata Gemma menjawab pertanyaan dari Venya.
Sialaaan. Venya merasa tidak rela. walaupun tidak perduli tapi beda rasanya ketika mendengar langsung dari orang yang bersangkutan. Dimana laki - lakinya menyentuh - nyentuh cewek lain. Dan ada kemungkinan jika si cewek itu nakal atau ganjen. mungkin saja si cewek juga meraba - raba laki - lakinya itu. Siaalaan.
"Gue kan ga boleh skin ship sama lo. jadi gue butuh itu dan gue dapetin dari cewek - cewek yang dengan relanya mau skin ship sama gue yang bahkan gue ga kenal mereka dan mereka ga kenal gue." kata Gemma lagi.
"Masuk akal." kata Venya kemudian mengambil minumnya dan mulai meneguknya secara kasar.
"Kenapa, lo cemburu?" tanya Gemma.
Venya menatap Gemma yang menggodanya dengan nada bicara yang menyebalkan. lagi pula Gemma hanya menyentuh cewek - cewek itu. tidak sampai yang gimana - gimana.
Ketika memikirkan apa yang tidak ingin Venya bayangkan, Venya teringat satu foto yang bahkan masih ada di ponselnya sampai saat ini walaupun mungkin sudah tidak ada di ponsel milik Gemma. dia sudah megscreen shotnya dan mungkin akan di keluarkan di pertanyaan ketiga nanti.
"apa itu jadi pertanyaan kedua?" tanya Venya yang hanya ingin memastikan jika Gemma bertanya tentang kejujuran yang ingin ia dapatkan dari Venya.
Gemma diam dan berpikir. "Boleh. itu pertanyaan kedua." kata Gemma.
Venya diuat diam seribu bahasa, dia tentu saja bisa jujur jika dirinya memang cemburu kepada Gemma dan juga gadis - gadis yang sudah di sentuh oleh Gemma. setidaknya, Gemma adalah pacarnya. bukankah cemburu adalah hal yang wajar?
Anggukan dari Venya adalah jawaban untuk pertanyaan dari Gemma barusan. dimana Gemma senang melihat itu. "Lo beneran cemburu?" tanya Gemma lagi.
Venya menatap Gemma dengan tajam, "apa itu menjadi pertanyaan ke tiga?"
Gemma langsung menggeleng cepat. "engga, gue nyimpen pertanyaan yang paling baik di akhir." kata Gemma pelan, "sekarang giliran lo."
"Ini pertanyaan kedua gue." kata Venya membuat Gemma mengangguk, "sejauh apa lo skinship sama cewek? jujur, gue agak sedikit ga percaya kao lo cuman endus - endus doang itu leher si cewek." kata Venya, "lagi pula, lo bisa jadi mabuk dan ga sadar 'kan?" tanya Venya lagi, "dan ini, kenapa gue harus ngeliat ini?" tanya Venya sambil menunjukkan foto dimana foto lama Gemma.
Di dalamnya, ada foto Gemma tidak berpakaiann, atau bertelanjjang dadda yang sedang tertidur di kasur putih yang kebanyakan selalu dipakai di hotel - hotel mewah. Venya juga dapat melihat suasana di sana mirip hotel - hotel yang ada di aplikasi tra*veloka yang biasa hanya dilihat oleh Venya untuk sekedar menandai kemana dia harus pergi jika punya waktu luang atau sekedar mencari inspirasi yang baik untuk tulisannya nanti.
"Lo dapet dari mana foto itu?" tanya Gemma.
Venya menggeleng, "gue ga bakal jawab. lo yang harus jawab terlebih dahulu pertanyaan gue tadi, apa sejauh ini lo main sama cewek, Gem?" tanya Venya.
Gemma menggeleng, "gue ga bisa jawab." kata Gemma tegas.
Venya mengangguk, "okay. kalo gitu hal pertanyaan dan jawaban jujur sampai sini aja." kata Venya, "gue ga nyesel liatin foto ini ke lo. gue cuman penasaran, sejauh mana dan sampai kapan lo bakal nyembunyiin ini dari gue dan kenapa." kata Venya lagi, "kalo lo ga jawab, mungkin alasan di balik itu adalah ada seseorang yang mungkin di luar sana perasaannya harus lo jaga." ucap Venya dengan nada pelan dan sedikit menundukkan kepalanya.
kemudian, Venya menaikkan pandangannya dan bertemu dengan mata Gemma yang sedang menatapnya, "dan yang lo harus jaga perasaannya itu lebih penting daripada perasaan gue." kata Venya, "apa benar?" tanya Venya lagi.
Gemma diam menatap Venya yang bahkan tidak memalingkan pandangannya kemanapun. Venya menatap Gemma dengan tatapan yang sama. yang bisa dibaca oleh Gemma arti tatapannya itu adalah menanti jawaban. dan Gemma mungkin tidak bisa memberikannya itu sekarang. tapi, tatapan Venya kepadanya dengan penuh harap mmebuatnya buyar. dia bahkan tidak tega melihat Venya seperti itu.
"Okay. gue bakal jawab tapi lo harus janji sama gue satu hal." kata Gemma, "lo harus percaya sama gue dan lo boleh marah tapi lo harus percaya sama gue." kata Gemma lagi.
Venya diam lantas mengaggukkan kepalanya pelan.
dalam hati Venya, dia sudah mempersiapkah luka yang paling dalam. dia sudah harus bersiap merasakan tusukaan di hatinya yang akan sakit seketika suara Gemma nanti masuk ke gendang telingnya. Venya harus mempersiapkan itu dan tentu saja, dia tidak boleh terlihat tersakiti walaupun hatinya nanti mungkin akan sangat sakit dan tentu saja Venya tidak tahu bisa atau tidak menahannya.
"Gue selingkuh dari lo bahkan sampai sekarang." kata Gemma secara cepat.
apa yang dirasakan oleh Venya?
sakit? tentu saja.
Patah hati? Ya.
Apa yang harus Venya lakukan sekarang? Entah.
Badannya membeku seakan tidak bisa di gerakkan. rasanya hatinya bukan tertusuuk lagi. tapi langsung di pangkas. langsung dijatuhkan. lagsung di potong sampai rasanya tidak sakit. Rasanya hampa dan rasanya tidak bisa merasakan apa - apa lagi. Venya ingin pergi saja dari sana malam ini. dia tidak ingin bertemu lagi dengan Gemma untuk beberapa saat. Venya juga tidak ingin mendengar apapun lagi.
di sisi lain, Venya ingin mendengar penjelasan Gemma.
"Dari kapan?" tanya Venya pelan dengan suara sedikit serak.
Gemman meantap Venya yang masih menatapnya dengan tatapan yang bahkan sekarang susah di baca dan tidak bisa di artikan sama sekali oleh Gemma. Venya menatapnya dengan tatapan sangat dalam sampai Gemma hanyut dalam tatapan Venya.
"Sori, Ven." kata Gemma meraup jari jemari milik Venya.
"Sejak kapan?" tanya Venya lagi.